Artikel Ikan Ciliwung

KPC: Spesies Ikan Asli Sungai Ciliwung Hanya Tersisa Duapuluhan Jenis Saja

Oleh Ridzki R. Sigit, September 17, 2012 

Sumber: http://www.mongabay.co.id/ 

Dari 33 spesies ikan yang teridentifikasi hidup di sungai Ciliwung, maka spesies ikan asli di sungai Ciliwung saat ini hanya tinggal sekitar 20 jenis saja. Jenis ikan yang sudah hilang dari sungai Ciliwung diantaranya adalah ikan gobi seperti yang dilaporkan pada literatur Smithsonian 1907, dan jenis ikan yang semakin sulit dijumpai seperti ikan arelot, ikan soro, ikan berot hingga ikan belida yang sekarang dilaporkan hanya dapat ditemukan di sungai Cisadane saja.

Ruby Vidia Kusumah, aktivis Komunitas Peduli Ciliwung (KPC-Bogor) sekaligus peneliti pada Balai Riset Budidaya Ikan Hias (BRBIH-Depok), menyampaikan kepada Mongabay.co.id (15/9) bahwa data ini diperoleh dari sampling pengkoleksian yang dilakukan oleh KPC dan BRBIH selama periode 2009 – 2011 di 18 titik pengamatan di sepanjang sungai Ciliwung

Jumlah ini jauh menurun drastis dari data yang pernah dihimpun oleh Biologi LIPI yang menyebutkan pada era 1910-an jumlah ikan spesies ikan yang hidup di sungai Ciliwung diperkirakan mencapai 187 jenis.

Berdasarkan hasil wawancara tambahan dengan warga, jumlah spesies ikan dapat bertambah dengan jenis ikan gobi kecil atau menga, ikan bawal, ikan patin, ikan gehed (sejenis ikan mas), sili, baung lilin, baung kuning, gurame dan buntal air tawar. Adapun ikan bawal (Colossoma macropopum) merupakan salah satu spesies asing yang diintroduksikan ke sungai Ciliwung.

ikan-beunter-Ruby-crop-600x434

Ruby Vidia Kusumah memegang plastik berisi Ikan beunteur (Puntius binotatus). Beunteur adalah salah satu jenis ikan asli sungai Ciliwung yang potensial dapat dikembangkan. Foto: Ridzki R. Sigit

Keberadaan ikan-ikan asing ini akan menyebabkan kompetisi di habitat dengan ikan-ikan alami yang ada. Kompetisi yang terjadi adalah dalam kompetesi sumberdaya untuk mencari makanan dan tempat hidup, potensi penyebaran penyakit, menjadi predator ikan maupun telur ikan asli.

Demikian pula, salah satu spesies ikan asing, seperti ikan sapu-sapu (Pterygoplichtys pardalis) membuat ancaman erosi karena kesenangannya membuat lubang-lubang sepanjang pinggiran bantaran sungai. Spesies ikan lainnya seperti gapi liar, yang dulu digunakan untuk mengusir nyamuk dan ikan hias, sekarang menjadi ikan predator yang memakan telur-telur ikan asli.

Menurut Ruby, saat ini belum banyak ikan-ikan asli Ciliwung yang sebenarnya dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk dapat memberikan nilai tambah ekonomi maupun menjadi spesies khas dari sungai ini. Beberapa jenis yang dapat dikembangkan baik untuk olahraga memancing maupun untuk ikan konsumsi diantaranya senggal (Hemibagrus cf. nemurus), soro (Tor soro), beunteur (Puntius binotatus), paray (Rasbora aprotaenia), berot (Macrognathus maculatus), betok (Anabas testudineus), bogo (Channa striata), hampal (Hampala macrolepidota), hingga ikan lubang (Anguila bicolor).

Di luar sebagai potensi konsumsi, maka jenis-jenis ikan seperti paray, beunteur dan cupang dapat dikembangkan sebagai ikan hias yang potensial.

Berdasarkan kagetorinya, identifikasi jenis ikan yang masih hidup di Ciliwung dapat digolongkan menjadi famili Cyprinidae (24,2%), Cichlidae (12,1%), Poeciliidae (9,1%) dan Osphronemidae (9,1%). Sedangkan ikan asing yang terintroduksi ke sungai Ciliwung berasal dari famili Cichlidae (4 spesies), Cyprinidae (3 spesies), Poeciliidae (3 spesies), Osphronemidae (1 spesies) serta Loricariidae (1 spesies).

ikan-berot-copy-600x450

Ikan berot (Macrognathus maculatus), salah satu ikan asli sungai Ciliwung yang hidup di bawah permukaan batu sungai. Berot merupakan jenis ikan yang semakin sulit ditemukan. Foto: Ridzki R. Sigit

Ancaman ekologis kerusakan sungai Ciliwung

Daerah aliran sungai Ciliwung, yang mengalir dari daerah Puncak di Jawa Barat hingga bermuara di Jakarta, saat ini mengalami ancaman yang sangat nyata. Kondisi lingkungan kualitas air yang menurun diakibatkan oleh pencemaran limbah domestik dan industri dan siklus hidrologis yang fluktuatif.

Padatnya pemukiman dan peruntukan industri di sepanjang aliran sungai ini, telah menyebabkan saat ini sangat sulit dijumpai lokasi-lokasi bagi sungai untuk melakukan sistem pulih dirinya sendiri. Salah satu lokasi ‘sistem pulih diri’ sungai Ciliwung adalah ketika aliran sungai melintas di Kebun Raya Bogor. Lokasi ‘sistem pulih diri’ ini sekaligus merupakan lokasi reservat yang baik yang secara layak dapat menjadi habitat bagi spesies-spesies biota yang ada di Ciliwung.

Kondisi memburuknya kondisi sungai ini, telah mendorong KPC secara swadaya untuk membuat upaya penyelamatan secara eks situ (di luar habitat aslinya). Upaya ini dilakukan dengan cara mengambil ikan-ikan asli dari sungai Ciliwung untuk kemudian diselamatkan dan dipijahkan. Salah satunya adalah upaya eks situ untuk menyelamatkan ikan beunteur (Puntius binotatus), yang merupakan kerjasama KPC dengan swadaya masyarakat lainnya dan Balai Riset Benih Ikan Hias di Depok.

Kedepannya kelompok ini berupaya untuk mengangkat agar ikan-ikan asli itu dapat menjadi andalan komoditas lokal yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Diantaranya untuk spesies ikan baung dan ikan soro yang secara potensial dapat dikembangkan sebagai ikan konsumsi.

“Ikan soro (Tor soro), sejenis ikan yang masih sekeluarga dengan ikan batak, merupakan spesies asli yang merupakan spesies potensial untuk dikembangkan sebagai komoditas konsumsi, namun keberadaan ikan tersebut semakin sulit dan rentan terhadap kematian dalam upaya budidayanya” demikian Ruby menambahkan.

Dengan memperkenalkan berbagai jenis spesies biota asli sungai Ciliwung termasuk jenis-jenis ikan asli ini, KPC berharap hal ini akan menggugah kepedulian warga, agar kedepannya warga semakin peduli terhadap potensi dan keanekaragaman hayati yang ada di sungai Ciliwung ini.

Spesies Ikan Ciliwung Terancam Punah

ILHAM TIRTA , May 28, 2012

Sumber: http://tirtamizan.wordpress.com/2012/05/28/spesies-ikan-ciliwung-terancam-punah-17/  

Depok- Siapa yang tidak pernah mendengar sungai Ciliwung, sebuah sungai di Pulau Jawa yang relatif lebar. Pada sekitar pertengahan abat kedua puluh sungai Ciliwung dapat dilayari oleh perahu kecil pengangkut barang dagangan. Panjang aliran utama hampir 120 kilometer dengan daerah pengaruh seluas 387 kilometer persegi.

Masa itu, sungai Ciliwung tidak hanya memberikan kesejukan bagi manusia yang hidup di atasnya, namun sungai ini juga memberikan berkah yang melimpah. Setidaknya 187 spesies ikan hidup di sungai ini, mulai dari berbagi jenis lobster, kepiting, Ikan Mas, Mujair, Nila,Tawes, Tempalung, Melem, Baung, Belut, Sili, Lele, dan belut. Bahkan, Penyu dan Kura-kura pernah menjadikan Ciliwung sebagai pembiakan populasi mereka.

Sungai Ciliwung yang sangat bening membuat ikan-ikan tersebut kelihatan, malam hari mereka mengkilat-kilat di permukaan air. Namun, semua telah berubah, keramain penduduk di ibu kota Jakarta dan dua kota penyanggahnya Bogor dan Depok membuat Ciiwung tercekik, menyusut, dan sesak. Ciliwung memang melintasi tiga wilayah besar tersebut. Dari penelitian LIPI tinggal 20 spesies ikan yang tersisa di Sungai Ciliwung dan mereka terancam punah.

“Dulu air bening seperti kaca, ikannya banyak, dan penuh dengan batuan tempat ikan-ikan sembunyi atau berteduh,” kata, H. Amsir, 64 tahun, warga Rt 3 Rw 5 Pondok Cina, Depok kepada Tempo di Bantaran Sungai Ciliwung Pondok Cina, Sabtu, 10 Maret 2012.

Amsir adalah satu-satunya saksi hidup perubahan Ciliwung. Dari kakeknya, Pa Niman (Almarhum) kemudian Ayahnya, H. Dulman turun temurun mewasiatkan pekerjaan yang sampai sekarang ia tekuni, yakni menunggu Jembatan Deret di Sungai Ciliwung Pondok Cina, Depok. Jembatan Deret terbuat dari Bambu yang diikat menyerupai rakit sepanjang 8 meter dengan lebar 1,5 meter. Untuk menyeberang sungai pengemudi tinggal menarik tali yang telah diikat dengan tali kawat yang membentang sungai Ciliwung.

Untuk nyeberang dengan jembatan ini, penumpang harus menarik 1 perak pada jaman kakeknya Amsir dan untuk saat ini Rp 2 ribu dari saku celananya. Jembatan itu digunakan oleh orang yang ingin menuju Kecamatan Cimanggis dan Kelapa Dua.Selain itu, Amsir juga menjala ikan di sekitar jembatannya dengan pukat. “Jembatan Deret ini sudah ada sejak jaman Jepang dibuat oleh kakek saya turun temurun,” kata Amsir.

Menurut lelaki beranak sepuluh ini, pada tahun 65 sampai 80an Ciliwung memberikan kehidupan bagi masyarakat sekitarnya. Air sungai Ciliwung diguanakn untuk minum, mandi, cuci beras, mencuci pakain, dan segala kebutuhan air lainnya saat musim kemarau. Tidak ada sampah plastik dan limbah industry, bahkan warga tidak membuang hajat di Ciliwung untuk menjaga kebersiahannya. “Sungainya sangat bersih. Dipinggir-pinggirnya tidak ada sampah,” katanya.

Amsir mengaku saat kecil sekitar tahun 70-an ia dan teman-temannya menjadikan sungai sebagai lapangan sekaligus kolam permainan mereka. Mulai dari bermain rakit bambu, rakit batang pisang, mancing, sampai berenang menyusuri Ciliwung di sekitar kampungnya. Kalau mancing mereka bisa mendapatkan satu ember dalam dua sampai tiga jam. mereka memancing dengan umpan cacing tanah yang dipotong sebesar kail. Ikan juga dengan gampang mereka lihat karena kebeningan air sehingga mereka dengan mudah saja memberikan umpan kepada ikan yang besar. “Sepuluh menit kita lempar kailnya, ikan langsung makan. Dulu kita lempar kotoran saja ikan akan mengerumuninya, tapi yang sebesar dua jari,” kata Amsir.

Satu kali mancing, Amsir biasanya mendapatkan beberapa jenis ikan yang berbeda, diantaranya ikan Mas, Tawes, Tempalung, Melem, Baung, Belut, Sili, Lele, dan kebanyakan Mujair. Selain memancing Amsir mencari ikan dengan tangannya di sela-sela batu, biasanya di balik batu yang agak besar dia menemukan rumah ikan dan menangkapnya dua sampai tiga ekor sekaligus, sementara di batu kecil ia sering mendapatkan udang. Ia juga sering mengikuti kakek atau bapaknya menjaring ikan dengan pukat. “Sekarang ma susah. Airnya keruh dan kadang hitam karena limbah,” katanya.

Dulu sungai Ciliwung Pondok Cina dikelilingi oleh kebun dan sawah petani. Orang memberi nama Pondok Cina karena saat itu yang petama bermukim adalah pedagang Cina. Mereka mendirikan pondok-pondok di lahan kosong pinggiran karena kebanyakan lahan di Depok dikuasai oleh orang Belanda. “Sekarang orang Cina tinggal beberapa orang saja,” katanya.

Kerusakan Sungai Ciliwung Pondok Cina, menurut Amsir dimulai dengan pengangkatan batu-batu yang ada di sungai untuk banguanan oleh perusahaan PT Asian Jeam di Jakarta pada tahun 1975. PT Asian Jeam menyewa pekerja setempat untuk menjadi kuli yang mengeluarkan batu tersebut, kemudian PT Jeam mengirim truk untuk mengangkut bukit-bukit batu itu. “Karena PT Jeam mengambil batu, mulai saat itu kejernihan air berkurang. penyu, kura-kura dan udang juga jarang kelihatan,” katanya.

Saat ini, keadaan sungai Ciliwung Pondok Cina sangat memperihatinkan. Sepanjang pinggir sungai dipenuhi dengan sampah plastik, sampah kain dan kaleng. Belum lagi limbah keluarga dari rumah yang berjejer sekitar dua meter dari tebing sungai. Warga memang dilarang membuang sampah dipinggir sungai, namun tetap saja ada sampah yang tertibun kecil di pinggir sungai. “Kadang masih ada saja yang buang sampah, tapi kami bakar supaya tidak masuk sungai,” kata Sutopo, 39 tahun, warga RT 2 RW 20 Pondok Cina.

Faktor utama yang menyebabkan pencemaran adalah limbah dari Perumahan PT Pesona yang berseberangan dengan Pondok Cina. Limbah yang dibuang bisa menyebabkan warna air berubah hitam selama dua sampai tiga jam. Kalau sudah hitam akan terlihat ikan yang hilang timbul karena mabuk. Tidak sedikit ikan mati karena selain hitam limbah tersebut mengeluarkan bau menyengat. PT pesona biasanya membuang limbah tersebut saat hujan dan banjir datang agar warna air tidak kelihatan. “Kalau hujan tidak datang, apalagi musim kemarau airnya bisa hitam berjam jam,” kata Sutopo.

PT Pesona membuat semacam anak sungai selebar lima meter untuk membuang limbah tersebut. Anak sungai itu langsung membuat semacam pertigaan kecil dari sekitar 20 meter ruas kali Ciliwung Kemiri Muka, sekitar satu kilo meter dari atas Ciliwung Pondok Cina. Limbah yang keluar dari anak sungai akan dibawa arus yang agak deras karena dipertigaan itu tidak terlalu dalam sekitar satu meter. Keadaan tersebut sudah sepuluh tahun meracuni ikan sejak perumahan itu dibangun.

Pembangunan perumahan PT Pesona juga telah meyebabkan longsor ditepian Ciliwung RT 2 RW 20 Pondok Cina pada kisaran tahun 2000. Akibatnya tebing seberang sungai turun dan menimbun sekitar 10 meter lebar sungai. Di titik sepanjang 25 meter ini lebar sungai hanya 10 meter dengan kedalaman lima meter sehingga aliran air cukup deras. Melewati titik ini sungai kembali lebar 20 meter dengan kedalaman mencapai sekitar 15 meter. “Kalau musim kemarau, batu-batu kelihatan dan kita bisa melompat saja kalau mau ke seberang. Sepuluh tahun lalu banyak orang mancing di sini, tapi karena sungainya telah sempit, mereka memilih tempat yang lain,” kata Sutopo yang rumahnya tepat di tebing sungai yang berseberangan dengan longsor tersebut.

Menurut Sutopo, warga pernah melakukan unjuk rasa ke keluarahan Pondok Cina agar menuntut PT Pesona memperbaiki kembali tebing yang rusak, terutama limbah yang baunya sangat mengganggu kehidupan warga. Menanggapi unjuk rasa, Pihak Kelurahan berjanji akan membicarakan masalah itu ke pengelola PT, namun realisasi dari janji itu tidak pernah kelihatan. Saat ini, warga yang tidak bisa berbuat apa-apa hanya menerima perubahan sungai itu sebagai hadiah dari perkembangan jaman.

Upaya pelestarian dan kebersihan Ciliwung Pondok Cina juga sempat dilakukan oleh RT. Tahun 2000 an RT membuat semacam kelompok remaja Karang Taruna yang akan mengambil sampah di setiap rumah warga. Hal itu dilakukan agar warga tidak membuang sampah di Ciliwung. Terlihat papan besi larangan buang sampah 80×50 Centi meter berdiri dengan dua tiang yang telah dicor dan ditanam dalam tahah “Dilarang Membuang Sampah Sembarangan Disungai.” Ada juga keterangan “Perda No.13 THN 2001, Denda Rp 1.500.000/Kurungan 3 Bulan. Pada tahun 2000 Kelurahan juga membagikan Tong penampung tinja berkapasitas 500 liter. Bersama tong dikasih juga obat penguarai jika tinja penuh. “Pada saat itu kelurahan sering memantau keadaan sungai. Sampai saat ini kami masih menggunakan bak itu walaupun WC-nya kami beli sendiri,” ujar Sutopo.

Saat ini warna air sangat keruh mengandung tanah karena musim hujan, tidak ada lagi aktivitas mandi, mencuci beras, pakaian, bahkan meminum air Ciliwung. Masyarakat setempat menganggap air tersebut sudah tidak steril lagi untuk menopang kehidupan masyarakat. Pencemaran Ciliwung oleh limbah membuat warga menghindari sungai, padahal jika warga dekat dengan sungai, secara tidak langsung mereka akan merawatnya. Hanya saja kebiasaan memancing warga belum berubah di Ciliwung Pondok Cina tersebut. “Sebenarnya mereka mancing hanya karena Hobby. Dari pagi sampai sore kalau untung mereka hanya bisa bawa tiga ekor ikan. Itupun kalau ada,” kata Amsir sang penjaga sungai.

Kalau bukan karena hobby warga Pondok Cina tidak akan mancing lagi di sungai Ciliwung. Untuk mendapatkan ikan mereka harus berpindah tempat duduk puluhan kali dan menunggu berjam jam. Kebanyakan mereka hanya pulang dengan kailnya tampa ikan seekorpun. Yang beruntung hanya mampu membawa kurang dari lima ekor ikan. Biasanya ikan yang mereka dapatkan adalah Mujair, kadang dapat Mas dan Tawes. “kalau sekarang banyak gak dapatnya, Cuma iseng doang ” kata Sutopo yang telah memancing selama empat jam di Sungai Ciliwung. Hari ini Sutopo tidak mendapat seekor ikan pun. Sutopo biasa memancing mulai dari pukul 12.00 WIB hingga menjelang Magrib.

Ternyata selain limbah PT Pesona, ikan di sungai ini pun kerap diracuni pakai potan. Tidak ada yang tahu siapa pelakunya, tiba-tiba ikan pada sakarat dan mati. Kadang warga setempat mengambil ikan yang sakarat oleh potan untuk dimakan, namun kebanyakan ikan yang mati dibiarin membusuk di sepanjang Sungai Ciliwung. Kegiatan meracun ikan ini tidak bisa dipastikan kapan akan dilakukan, warga hanya melihat akibatnya secara tiba-tiba.

Sementara Yasin, 53 tahun, yang biasa pukat ikan di sungai Ciliwung hanya mendapatkan dua ekor ikan kecil, Mujair dan Cupang. Yasin telah memukat selama tiga jam, sejak pukul 13.00 WIB. Warga RT 2 RW 25 Sugu Tani, kelurahan Bhakti Jaya, Kecamatan Sukma Jaya ini mengaku dari kecil sudah mencari Ikan di Ciliwung Pondok Cina yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Selain mencari ikan Yasin juga berkebun di bantaran sungai Ciliwung tersebut.

Kepada Tempo, Yasin pun menceritakan masa jayanya pada tahun 80 an. Masa itu, ia selalu membawa pulang ikan dengan karung yang mencapai satu ember. Ikan itu ia jual untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. “Saya ingin kembali ke massa dulu. Walaupun makan nasi jagung, tapi enak sekali tidak ada pencemaran,” katanya.

Ikan yang banyak, air yang bening seperti kaca, dan tempat mandi yang asyik sekarang sudah hilang. Ratusan jenis ikan sekarang tinggal sisa yang menunggu kepunahan oleh limbah perumahan dan pabrik industry. Sang penunggu sungai, Amsir terakhir melihat penyu dan kura-kura di sungai Ciliwung pada tahun 80-an. Ia mengaku tidak ingat pasti kapan terakhir kali ia melihat berbagai jenis lobster, kepiting dan belut yang dulu berserakan. “Harapan saya sungai ini kembali membawa berkah seperti dulu.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: