Komunitas Ciliwung Depok

Gelar Upacara Hari Pahlawan di Pinggir Ciliwung

Sumber: http://www.indopos.co.id/11 November 2013

d1-620x400

Sejumlah anggota Komunitas Ciliwung Depok menggelar peringatan hari Pahlawan di bantaran Sungai Ciliwung, Depok, kemarin (10/11). Pemilihan di bantaran sungai itu dilakukan karena lokasi aliran air itu semakin hari terus tercemar dan mengkhawatirkan. Urban City |

DEPOK – Ada yang unik dalam peringatan Hari Pahlawan, 10 November di Kota Depok. Sejumlah anggota Komunitas Ciliwung menggelar upacara memperingati pertempuran hebat di Surabaya tersebut di pinggir Sungai Ciliwung. Pemilihan tempat itu dilakukan karena sungai terbesar di Depok ini kian hari semakin tercemar dan rusak akibat pembuangan sampah dan pengurukan perumahan. Koordinator Komunitas Ciliwung Kota Depok Taufik DS me nyatakan, upacara di pinggir sungai dilakukan untuk menggugah kesadaran masyarakat dalam menjaga kelestarian Sungai Ciliwung.

Di mana, selama ini pembuangan sampah dan pencemaran lingkungan dibantaran sungai terus saja dilakukan masyarakat. “Pesan pahlawan pun harus menjaga lingkungan dan bukan negara saja. Kalau ditelaah lagi jika rusaknya lingkungan akan berakibat pula dengan kerusakan negara. Jadi kami pilih upacara di Sungai Ciliwung karena hal itu bukan yang lain,” tegasnya kepada INDOPOS, usai melaksanakan upacara, kemarin (10/11).

Selain melaksanakan upacara, lanjut Taufik, mereka dan Mapala UI bersama anggota Komunitas Ciliwung Bogor melakukan kegiatan menyusuri sungai tersebut. Kegiatan rutin ini dilakukan untuk memantau tingkat kerusakan serta pencemaran yang terjadi. Tak hanya sampai di sana, kegiatan mendongeng pun dilakukan komunitasi ini kepada anak-anak dibantaran kali tersebut.

“Harus dipantau agar dapat ditentukan mana lokasi yang harus diperbaiki. Hampir satu kali seminggu kami laksanakan kegiatan mengarung. Kami ingin menularkan edukasi menjaga lingkungan kepada generasi penerus,” ujarnya. Pria rambut gondrong ini menambahkan, kegiatan upacara itu juga dilakukan serentak oleh empat segmen Komunitas Ciliwung dari hulu ke hilir.

Tujuan upacara itu, kata dia, juga membawa misi menggungah pemerintah setempat untuk ikut berpartisipasi melestarikan ekosistem Sungai Ciliwung. Seperti, memberikan teguran pada perusahaan yang membuang limbah. “Pemerintah daerah juga harus ikut bertanggungjawab akan kerusakan sungai ini. Yang pasti kami ingin sungai ini bersih dan tidak rusak dan tercemar.

Di tempat ini banyak potensi sejarah yang bisa digali,” bebernya. Sementara itu, salah satu anggota Komunitas Ciliwung Depok, Yanzahari, 25, mengaku, baru kali pertama melakukan upacara Hari Pahlawan di pinggir Sungai Ciliwung.

Di mana tiang bendera yang digunakan adalah batang bambu. Menurutnya, kesederhanaan dan makna dari peringatan Hari Pahlawan dibantaran kali itu dapat menimbulkan kesadaran pelestarian lingkungan. “Aneh saja kok ada upacara di sungai ini. Ini pertama kali seumur hidup, saya ikut upacara tidak di lapangan. Pengalaman yang saya dapat adalah menjaga kelestarian lingkungan juga sama dengan menghargai jasa pahlawan,” tuturnya.

Di tempat yang sama, Dian Widyan ti, 22, menyatakan, sengaja ikut upacara itu dilatarbelakangi pada alam terbuka. Di mana kesulitan menaikan bendera dengan arus sungai yang deras dan dipenuhi sampah terjadi. Hal itu pula yang membuatnya bangga bisa menjadi penggerek bendera sekali dalam seumur hidup di bantaran sungai yang berarus kencang tersebut.

“Ada keunikan dan pengalaman baru bagi saya. Ternyata susah juga menaikan bendera di tengah deras arus air. Dari sini saya tahu jika susahnya pahlawan memerdekan bangsa ini sama dengan susahnya menjaga lingkungan agar tidak tecemar,” pungkasnya. (cok) –

Pelepasan Komunitas Ciliwung Dalam Rangka Clean Up dan Rally Ciliwung

Sumber:http://www.depok.go.id/ 26 April 2014

foto-ciliwung-595x446

Berpusat di bawah jembatan Grand Depok City (GDC), komunitas peduli Ciliwung berkumpul dalam rangka “Clean Up dan Rally Ciliwung” pada Sabtu (26/04/14) pagi tadi. Kegiatan ini juga melibatkan orang-orang yang peduli akan kebersihan sungai seperti karang taruna GDC, beberapa utusan orang asing dari kedutaan besar (kedubes), dan LSM terkait.

Kegiatan ini bertujuan untuk membersihkan sungai Ciliwung dari GDC sampai ke Ciliwung Condet, agar sungai Ciliwung menjadi lebih baik dari sebelumnya dan menghimbau masyarakat yang tinggal di bantaran sungai agar tidak membuang sampah sembarangan. Acara puncak akan berlangsung pada esok hari, minggu (27/04) yang dirangkai acara deklarasi clean up di Ciliwung Kampung Melayu.

Di Lokasi, komunitas Ciliwung Depok bertugas mengantarkan beberapa anggota sampai perbatasan Ciliwung Depok dan Pasir Gunung Selatan, Jakarta dan kurang lebih menghabiskan waktu sekitar 5 (lima) jam dari pemberangkatan di bawah jembatan GDC.

Dalam paparan Taufik selaku anggota komunitas Ciliwung, berharap dengan seringnya Ciliwung dilalui oleh komunitas, masyarakat akan sadar dengan sendirinya dan dapat merubah mindset bahwa sungai Ciliwung merupakan suatu kekayaan alam yang harus dijaga dan dilestarikan.

“Diharapkan komunitas peduli lingkungan, terutama peduli ciliwung yang sudah berdiri sejak 25 tahun yang lalu, mampu aktif kembali dalam berbagai kegiatan dan Ciliwung akan terus terjaga kelestarian dan kebersihannya,” tandas Taufik. Nita/ Diskominfo.

Kedubes Amerika Undang Komunitas Ciliwung Depok Buka Bersama

Sumber: http://depoknews.com/ 8 Juli 2014 

Kedubes-Amerika-Undang-KCD-Buka-Bersama

depoknews.com | Komunitas Ciliwung Depok (KCD) berserta anak Pustaka Air sebanyak 30 anak yang berasal dari Kelurahan Ratujaya, Kecamatan Cipayung dan kelurahan Kalimulya, Cilodong mendapat kesempatan Berbuka Puasa Bersama di Kedubes Amerika Serikat.

Anggota Komunitas Ciliwung Depok,Hidayat Al Ramdani mengatakan, kesempatan buka puasa bersama di kedubes AS melalui pendri Pustaka Air. Yaitu taman bacaan yang berada di tepian Sungai Ciliwung.

“Dari ka Resha kami mendapatkan info berbuka puasa di kedubes AS. Ka Resha itu pendiri pustaka air atau taman baca, ” kata Hidayat dan juga menjabat ketua Lembaga Pemberdaya Masyarakat (LPM )Ratu Jaya kepada depoknews.com pada, Selasa (8/7/14).

Pada kesempatan ini Anak Pustaka Air Ciliwung yang juga bagian dari Komunitas Ciliwung Depok menampilkan karya seni musik “BAMBUNG”(Bambu Bergaung).

“Jenis musik bambu yang baru di temukan oleh pekerja seni Kang Rahmat. warga asli Ratujaya yang memang sehari – harinya terus berinter aksi dengan Sungai Ciliwung, ” ujarnya.

Ketua LPM Ratu Jaya menambahkan, buka puasa bersama, di hadiri wakil kedubes AS Kristen F Bauer dan para staff beserta pelajar AS.

“Meraka yang mengikuti pertukaran pelajar AS- Indonesia. Jadi orang anak-anak AS yang sekolah di indonesia, kami juga berbagi cerita, ” pungkasnya.

Komunitas Ciliwung Gelar Upacara Kemerdekaan

Sumber: http://www.tempo.co/17 Agustus 2014 

316218_620

Petugas upacara komunitas Sungai Ciliwung mengibarkan bendera merah putih di tengah Sungai Ciliwung, Depok, Ahad, 17 Agustus 2014. Pengibaran bendera ini untuk memperingati hari Kemerdekaan Reuoblik Indonesia yang ke-69. TEMPO/Ilham Tirta

TEMPO.CO, Depok – Ratusan aktivis Ciliwung melakukan upacara Hari Kemerdekaan Republik Indonesia Ke-69 di bantaran Sungai Ciliwung, Depok, sekitar 100 meter dari jembatan Grand Depok City, Ahad, 17 Agustus 2014. Upacara kemerdekaan ini merupakan pertama kalinya dilakukan komunitas tersebut, dengan tujuan membuat Ciliwung lebih diperhatikan.

“Ini kedua kalinya kita mengibarkan bendera Merah Putih di Ciliwung. Sebelumnya, upacara 10 November Hari Pahlawan di Bojong Gede tahun lalu,” kata aktivis Ciliwung Institute, Sudirman Asun, di tengah upacara, Ahad, 17 Agustuas 2014.

Upacara pengibaran bendera ini diikuti sekitar 20 komunitas Ciliwung dari setiap daerah yang dilalui sungai itu. Komunitas Ciliwung Depok sebagai panitia lokal meminta Kepala Dinas BLH Kota Depok Kania Parwanti menjadi pembina upacara. Sedangkan palaksana upacara adalah siswa SMA Negeri 3 Kota Depok.

Upacara berjalan dengan hikmat, dimulai pukul 8.30 hingga 9.30 WIB. Tiga pengibar bendera dan satu pemandu lagu kebangsaan dibawa oleh sebuah perahu karet yang dinakhodai tiga orang. Mereka meluncur dari atas Sungai Ciliwung menuju tiang bendera yang terpancang di tengah sungai. (Baca: 69 Tahun Merdeka, Indonesia Harus Berantas Korupsi)

Dalam sambutannya, pembina upacara, Kania Parwanti, menuturkan harapannya agar Ciliwung tetap terjaga. Keberadaan kegiatan seperti itu, ujar dia, akan membangkitkan semangat nasionalisme untuk menjaga air sebagai aset bangsa. “Saya merasa bangga. Semoga membangitkan kecintaan kita terhadap lingkungan hidup secara umum.”

Kania mengatakan setidaknya ada dua aspek penting yang harus diperbaiki di Sungai Ciliwung: sungai harus kembali seperti dulu dan kualitas air yang harus terjaga. “Sekarang Ciliwung sudah banyak ditutupi bangunan,” katanya. Untuk kualitas air Ciliwung Depok, Kania mengaku sering mendatangi perusahaan di Depok agar tidak membuang limbah perusak di sungai itu.

Adapun mahasiswi Universitas Bina Nusantara semester VII, Hilda Ummi, 20 tahun, mengaku sengaja mengikuti upacara karena tertarik dengan isu Ciliwung. “Dapat info dari panitia, jadi pengen ikut,” tuturnya.

Wanita berjilbab tersebut mengaku terkesan dengan jalannya upacara. Meski tertarik dengan komunitas Ciliwung, Hilda mengaku belum memutuskan untuk menjadi anggota. “Kalau masuk kominitas, belum dulu.”

Upacara ini juga menarik perhatian masyarakat Kota Depok. Mereka berbondong-bondong mendekati tempat upacara dan ada juga yang melihat dari jembatan GDC.

Menilik Kemerdekaan Ekosistem Sungai Ciliwung

Sumber: http://www.kotahujan.com/

pengibaran-bendera-di-Ciliwung_by-Entis-Sutisna

Pengibaran bendera merah putih di Sungai Ciliwung Depok yang dalam upacara kemerdekaan RI yang dilakukan oleh Komunitas Ciliwung. Foto: Sutisna Rey

Depok|Kotahujan.com – Sejumlah pemerhati sungai yang tergabung dalam Komunitas Ciliwung memperingati Hari Ulang Tahun ke-69 Kemerdekaan Republik Indonesia dengan upacara bendera di tengah aliran Sungai Ciliwung, Minggu (17/8). Bertempat di dekat jembatan Kota Kembang, Kelurahan Depok, Kecamatan Pancoran Mas, Kota Depok, sekitar 100 orang dari berbagai kalangan mengikuti upacara dengan khidmat, lengkap dengan pengibaran bendera merah putih dan pembacaan teks proklamasi. Lokasi tersebut juga menjadi titik awal susur Ciliwung dalam kegiatan bertajuk “Jelajah Kemerdekaan Ciliwung 2014”.

“Momentum hari kemerdekaan ini hendaknya juga digunakan untuk melihat sebuah kemerdekaan ekosistem sungai”, ujar Azhar Malik, ketua pelaksana kegiatan Jelajah Kemerdekaraan Ciliwung 2014.

Komunitas Ciliwung Depok yang memfasilitasi pelaksanaan peringatan upacara bendera menyediakan 7 buah perahu karet yang digunakan untuk menyusuri Sungai Ciliwung dari Depok hingga Pondok Cina. Kegiatan ini melibatkan beberapa komunitas Ciliwung yang berasal dari Bogor, Bojong, Depok, dan Jakarta. Beberapa perwakilan warga serta anggota Badan Lingkungan Hidup Kota Bogor juga ikut serta dalam susur Ciliwung. Susur Ciliwung bertujuan untuk memantau perkembangan sempadan Ciliwung. Hasil pengamatan kelak akan disampaikan kepada dinas dan lembaga terkait di Kota Depok.

“Ciliwung mengalami kehancuran, hak sempadannya di cabut. Tapi Pemerintah tutup mata terhadap pelanggaran yang terjadi”, ujar Taufq D. S., koordinator Komunitas Ciliwung Depok.

Pernyataan tersebut bukan tanpa alasan. Berulang kali Taufiq dan rekan-rekannya menyampaikan sejumlah hasil pengamatan lapangan kepada pemerintah Kota Depok, namun konversi sempadan masih terus terjadi. Pelanggaran sempadan sungai nyata-nyata terjadi di depan mata. Namun sampai saat ini tidak ada sanksi yang diberikan. Hasil pengamatan Komunitas Ciliwung tahun 2013 yang menunjukan catatan terhadap pelanggaran terhadap sempadan Ciliwung. Mulai dari Bojong Gede, Kabupaten Bogor sampai dengan Lenteng Agung, Jakarta, tercatat 215 titik gunungan sampah, 94 titik bangunan yang melanggar sempadan, dan 127 titik sumber limbah cair.

Serangkaian masalah tersebut menyebabkan daya tampung air sungai menurun. Demikian pula dengan kualitas air Sungai Ciliwung yang semakin buruk. Taufiq menilai Ciliwung sebagai aset alam yang menjadi bagian dari proses hidrologi perlu mendapat perhatian dan dikelola dengan benar. Menurutnya, memelihara dan memperbaiki sungai perlu mengadopsi semangat juang pahlawan Indonesia dalam merebut kemerdekaaan. Persatuan menjadi kunci keberhasilan pencapaian kemerdekaan, demikian pula untuk urusan sungai.

“Kunci kesuksesan pengelolaan sungai harus dilakukan bareng-bareng”, tambah Taufiq.

Penulis: Indri Guli

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: