Komunitas River for ife

River for Life,  Menggugah  Kepedulian Pada  Sungai

KBR68H, 30 Maret 2011 

Sumber:http://riverforlife.org/

KBR68H, Jakarta – Kepedulian generasi muda untuk memulihkan kondisi sungai, khususnya di sekitaran Jakarta, ditunjukkan oleh komunitas River for Life. Mereka menganggap sungai juga punya hak hidup, dipelihara dan dipertahankan kehidupannya.

Visna Vulovik, dari kelompok Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Indonesia (Mapala UI), mengatakan, ide membentuk komunitas ini muncul dari kegemaran yang sama dalam berbagai kegiatan alam seperti arung jeram, naik gunung dan jalan-jalan. Saat arung jeram, mereka melihat banyak sampah berceceran di sungai. Dari situ muncul pemikiran untuk ikut menjaga kebersihan sungai.

Komunitas River for Life, tambah Iwam dari Seni dan Alam Institut Kesenian Jakarta (Sendal IKJ), punya tujuan menyebarkan ‘virus’ agar masyarakat kembali menghormati sungai. Caranya, tidak dengan mengomeli atau melarang orang membuang sampah ke sungai, tapi lebih mengenalkan fungsi dan peran sungai, sehingga masyarakat bisa makin sayang dan ikut menjaga.

“Karena kami pun terbentuknya dari itu, karena kami sering bergiat di alam, kita lihat kondisi sungai seperti apa. Ternyata sungai itu begitu unik dan hidup. Sebetulnya di Indonesia banyak budaya yang menghargai sungai. Dari kegiatan di alam, kami kenal dan sayang pada sungai, muncullah River for Life,” tambahnya.

Menyelamatkan sungai, ungkap Iwam, dimulai dari mengubah kebiasaan untuk tidak membuang sampah sembarang. Pemerintah bisa mendukung kebiasaan bersih ini dengan menyiapkan fasilitas-fasilitas pendukung, seperti tempat sampah dan sistem pengolahan sampah yang lebih baik.

Menyampaikan pesan-pesan perlindungan sungai, kata Zulbahri Julbe, harus dilakukan sejak usia dini. Caranya dengan mendongeng. Metode ini lebih menyenangkan dan mudah diterima anak-anak. Setelah itu anak diminta menggambar untuk mengetahui apakah pesan dari dongeng itu sampai ke mereka.

“Dari anak-anak itu kita harapkan orang tua ikut terlibat. Kalau kita bilang sama orang tua ‘pak, jangan buang sampah sembarangan’ mereka pasti bilang sok tau. Tapi kalau anak kita sendiri yang bilang rasanya lebih mudah diterima.”

River for Life sebetulnya sudah terbentuk sejak dua tahun lalu, namun baru serius membangun diri sebagai jejaring sosial sekitar dua bulan lalu. Meski usia masih muda, semua anggota komunitas optimistis bisa menyelamatkan nasib sungai-sungai di Jakarta.

“Kita tidak sendirian. Komunitas peduli sungai tidak hanya kita, ada Komunitas Peduli Ciliwung di Bogor, Komunitas Ciliwung di Condet. Ada Sanggar Akar juga yang bergerak di Sungai Ciliwung. Di Kali Pesanggarahan kita mengenal Bang Idin yang secara swadaya menanam pohon, kita optimistis,” kata mereka.

Optimisme ini didukung oleh temuan bahwa tidak semua sungai di Jakarta kondisinya memprihatinkan. Visna mencontohkan, di Lenteng Agung, Jakarta Selatan masih ditemukan sungai yang arusnya masih deras dan lumayan bersih, lahan sekitarnya juga masih hijau.

River for Life terbuka untuk umum dan biasa kumpul di jalan Lamandau, Jakarta Selatan serta Taman Ismail Marzuki (TIM). Aksi bersih-bersih, penyebaran informasi soal sampah dan kegiatan lainnya dilakukan sebulan sekali.

http://www.kbr68h.com/perbincangan/kabar-konservasi/4361-river-for-life-menggugah-kepedulian-pada-sungai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: