Sanggar Ciliwung

SANGGAR CILIWUNG

Sumber: http://ciliwungmerdeka.blogspot.com/ 

….Sebuah gerakan kemanusiaan yang diselenggarakan oleh komunitas kerja yang melibatkan anak, remaja dan warga Bukit Duri bantaran sungai Ciliwung (RT 04, 05, 06, 07, 08, RW 12, Kel. Bukit Duri) bersama para pendamping Jaringan Kerja Kemanusiaan CM. CM diselenggarakan untuk menghadapi tantangan kehidupan warga Bukit Duri, yaitu hambatan, kepungan dan ketidakadilan struktural-vertikal dalam bidang sosial-ekonomi-politik-budaya berupa proses pembodohan, pemiskinan dan ketidakpastian hidup di bidang pendidikan, pekerjaan dan lingkungan hidup.]

SANGGAR CILIWUNG

Jl. Bukit Duri I no. 21, RT 006 / RW12
Kel. Bukit Duri, Kec. Tebet.
Jakarta—12840

Tel./Fax : 021– 8308255
E-mail :
ciliwung@cbn.net.id
sandyawan@gmail.com

BCA Cabang Matraman– no.rekening : 342 258 2255
a.n : Santi Ermawati dan/atau I. Sandyawan Sumardi

Belajar Hidup di Kali Ciliwung 

Sumber:http://majalah.tempointeraktif.com/ 28 Agustus 2000

MUNGKIN inilah cara belajar yang praktis. Kalau mau jadi pemusik, tak perlu pusing menghafal hukum Archimides, petik saja gitar. Atau kalau mau berdagang sayur, lupakan saja persamaan aritmetika yang njelimet, belajarlah menghitung. Begitulah Sanggar Ciliwung mengajarkan anak jalanan untuk belajar hidup.

Menurut Romo Sandyawan, pendiri Sanggar Ciliwung, dia tidak bermaksud menggantikan peran sekolah formal. Di sanggar ini anak jalanan belajar menghadapi persoalan sehari-hari dan mencari penyelesaiannya.

Minggu dua pekan lalu sanggar di Bukitduri, Jakarta Selatan, ini memulai kegiatan rutinnya. Setiap sore, tak kurang dari 30 anak jalanan nongkrong di sana. Jumlah ini bisa berlipat tiga kali saat akhir pekan. Ruangan di rumah berlantai dua itu dipilah-pilah untuk belajar menyanyi dan musik, melukis, ada juga yang menekuni pelajaran sekolah.

Tentu saja mereka tak memakai “kitab suci kurikulum” seperti yang dipakai di sekolah umumnya. Anak-anak yang rata-rata berasal dari keluarga penjual sayur, barang kelontong, dan ayam potong ini diajari berhitung secara praktis. Misalnya menghitung harga paha dari seekor ayam potong, atau belajar menyusun kalimat bagi yang berminat menulis cerita.

Menurut Sandyawan, pendekatan itu dilakukan karena terbatasnya pilihan pekerjaan bagi anak-anak itu saat dewasa nanti. Rata-rata mereka memilih menjadi penyanyi, pelukis, penjual sayur dan ketoprak. Makanya, mereka akan lebih tertarik belajar ilmu yang bisa dipakai sehari-hari. “Asal tak jatuh jadi preman atau pengedar candu,” kata Sandyawan.

Sandyawan mengaku mencomot metode belajar Paulo Freire dengan “pendidikan untuk pembebasan”-nya. Dia menggabungkan ide Freire itu dengan pemikiran Romo Y.B. Mangunwijaya serta masukan dari para pendamping anak jalanan itu sendiri.

Mereka memilih bantaran Sungai Ciliwung karena lingkungannya yang kotor dengan fasilitas kesehatan yang sangat terbatas. Apalagi banjir tahunan selalu menyeret korban dan menyisakan sampah sebagai sumber penyakit. Belum lagi, daerah urban tersebut juga menjadi tempat peredaran minuman keras, obat terlarang, serta tawuran.

Menurut Sandyawan, satu-satunya cara memperbaiki kondisi itu adalah membentuk masyarakat yang peduli lingkungan. Nah, dipilihlah pendidikan sebagai kendaraannya.

Sanggar Ciliwung berperan sebagai terminal berkumpulnya anak jalanan dan pengembangan kemampuan mereka. Anak-anak diajak peduli pada masa depan mereka. Untuk itu, mereka harus dibebaskan untuk memilih jalan hidupnya dengan menumbuhkan rasa percaya diri. Sanggar bagi anak jalanan ini bukanlah yang pertama kali ada.

Dua tahun lalu pemerintah membuka program rumah singgah. Maunya, rumah singgah ini memberi pelajaran sekolah dan mengajarkan keterampilan. Setelah lepas dari rumah singgah, anak jalanan itu akan dicarikan pekerjaan sampai dapat. Namun, selama ikut program rumah singgah, pemerintah melarang anak-anak berkeliaran di jalanan karena kebutuhan makan mereka sudah dipenuhi. Sayangnya, setiap hari mereka hanya mendapat jatah Rp 2.000 dari pemerintah daerah. Akibatnya, mereka tetap mencari duit di jalan, sehingga konsep rumah singgah ini gagal.

Selain rumah singgah, di beberapa kota besar terdapat yayasan yang membantu anak jalanan. Beberapa yayasan mengajarkan materi dengan menggunakan modul yang sudah tertata rapi. Modul yang mengikat itu membuat tempat belajar ini tak berbeda dengan sekolah pada umumnya. Akibatnya, anak-anak itu semakin jauh dari kesehariannya sebagai pengamen, pemulung, tukang semir sepatu, dan semacamnya. Namun, bagaimanapun bentuknya, keberadaan lembaga yang mengurus anak jalanan itu menjadi penting setelah pemerintah membubarkan Departemen Sosial. Bahkan pemerintah hingga kini tak punya data akurat tentang jumlah anak jalanan.

Dua tahun lalu, Depsos memperkirakan jumlah anak jalanan di Indonesia mencapai 50 ribu orang, lebih dari separuhnya berada di Jakarta. Setelah krisis berkepanjangan, beberapa lembaga swadaya masyarakat yakin jumlah anak jalanan sudah meningkat dua kali lipat. Meski jumlah anak jalanan sudah membengkak, hingga kini belum ada upaya pemerintah untuk menyelesaikan masalah ini.

“Saya belum melihat program pemerintah yang menyentuh kehidupan mereka (anak jalanan),” kata psikolog anak Seto Mulyadi. Selama masalah ekonomi belum terpecahkan, Seto berharap pemerintah tidak melarang anak jalanan untuk mencari tambahan uang.

Sayang, pemerintah hanya bisa malu melihat jalanan dipenuhi anak-anak. Bagaimana memberikan harapan bagi mereka, itu tak pernah dilakukan. Karena itu, upaya seperti Sanggar Ciliwung ini sangat berarti. Agung Rulianto, Iwan Setyawan, Dwi Wiyana

Sanggar Ciliwung, Ruang Kreatif Warga Bukit Duri

Kompas,  23 April 2004 

Sumber:   http://elokdyah.multiply.com/ 

SOLIDARITAS itu ternyata masih ada di Jakarta. Sepenggal kisahnya dapat dijumpai di bantaran Kali Ciliwung di Bukit Duri. Di sanalah Sanggar Ciliwung berada. Sebuah sanggar kecil di mana masyarakatnya, mulai dari anak-anak, remaja, sampai orang tua, bisa beraktualisasi secara kreatif.

SAAT menyusuri Jembatan Tong Tek menuju sanggar itu dari arah Terminal Kampung Melayu, tampaklah beragam perkakas bekas, seperti lemari, meja, dan kursi kayu, di kanan kiri jembatan. Dari gang kecil di samping Pos Polisi Bukit Duri Sektor Metropolitan Tebet di ujung jembatan tampaklah permukiman padat Bukit Duri yang diapit Kali Ciliwung dan rel kereta api Stasiun Manggarai.

Suasana gang amat riuh. Anak-anak kecil berlarian sepanjang gang, sementara warga Bukit Duri yang umumnya tinggal di rumah- rumah petak  berukuran sempit, Selasa (20/4) siang itu, duduk mengobrol di depan  rumah.

Kawasan itu dulu dikenal sebagai kawasan bramacorah,  kawasan “hitam”, yang setiap tahun ada saja rumah warga yang hanyut  dibawa banjir. Penduduk dengan cepat mengenali orang yang baru  pertama bertandang ke sana. “Cari Sanggar Ciliwung ya? Itu di sana,  pokoknya rumah kayu di kiri jalan,” kata laki-laki yang lengan  kanannya bertato.

SANGGAR yang berdiri persis di tepian Kali Ciliwung itu berupa  rumah tingkat berpagar kayu. Sanggar berukuran 7 x 8 meter itu  sebagian besar menggunakan kayu kamper dengan dinding batu bata yang tidak dilapisi semen. Lantai satu yang merupakan ruangan luas menjadi arena belajar dan bermain anak-anak, sekaligus tempat warga berkumpul. Dari teras belakang tampak derasnya arus Kali Ciliwung.

Lantai dua menjadi ruang tamu, perpustakaan, ruang kerja, dan dapur. Lantai tiga yang memanfaatkan ruang kecil di atap antara lain menjadi tempat sembahyang para relawan Sanggar Ciliwung dari berbagai kalangan: Islam, Buddha, Kristen, maupun Katolik. Ruang lainnya di lantai yang sama dimanfaatkan untuk menyimpan barang-barang bantuan banjir atau sablonan kaus.

Bangunan Sanggar Ciliwung resmi berdiri pada 13 Agustus 2000, diawali dari cuti sabatikal mantan Direktur Institut Sosial Sandyawan Sumardi SJ tahun 1999 ketika kejenuhan mulai mengimpitnya. Ia memilih “menyepi”, merefleksikan aksinya, dan mendalami spiritualitas dengan mengontrak rumah yang nyaris roboh, di gang yang dikenalnya saat membantu korban banjir.

Karena Sandyawan sangat menyukai anak-anak-bahkan anak-anak di gang tersebut ada yang pernah ikut di institut sosialnya-rumah kontrakannya segera dipenuhi tawa canda anak-anak. “Mereka datang sendiri,” kata Sandyawan.

Begitu ada aktivitas, rumah kontrakan yang dapurnya hanyut saat banjir itu pun dibeli Sandyawan dari honor berceramah dan menulis kata pengantar buku. Ketika seorang teman berniat membantu pembangunan rumah, Sandyawan berkonsultasi dengan warga sekitar.

Dengan persetujuan warga, rumah itu lalu menjadi arena berkumpul anak-anak dan remaja Bukit Duri. De facto, inilah ruang publik terbesar di
kawasan itu.

Program-program pendidikan pun mulai disusun untuk anak-anak warga Bukit Duri. Setiap hari, seusai pulang sekolah-dari Senin hingga Minggu-anak-anak diajar menggambar, matematika, sastra, bahasa Inggris, olah vokal, seni kriya, menulis buku harian, bermain musik, membaca dan mendongeng, juga bermain teater.

Pendamping tetap di sanggar ada 12 orang, separuh di antaranya adalah anak-anak warga di sana. Yanti (22), salah seorang pendamping, bahkan sudah “ikut” Sandyawan sejak umur 12 tahun. Pendamping tidak hanya mengurus anak-anak, tetapi juga membantu para dokter yang datang setiap hari Rabu dan Jumat di sanggar tersebut. Setiap Rabu dr Budi memberikan pelayanan gratis akupunktur bagi warga, sedangkan hari Jumat giliran dokter umum yang “praktik” di sana.

SANGGAR Ciliwung benar-benar menjadi rumah terbuka, menjadi tempat warga berkumpul mendiskusikan persoalan hidup mereka, bahkan menjadi posko banjir dan kebakaran. Solidaritas warga pun makin mengental. Saat banjir tahun 2002 menghanyutkan 46 rumah di kawasan
itu, warga bahu-membahu membangunnya kembali.

“Dengan bantuan teman-teman, saya bisa kumpulkan bahan material untuk membangun 14 rumah. Warga sekitar bersedia bergotong royong membangun. Bahkan, seorang ibu, koordinator koperasi di sini yang akan mendapat bantuan, justru menolak. Dia bilang, bantuan dikumpulkan saja supaya bisa didistribusikan dengan benar. Rumahnya sudah hanyut tenggelam, namun ibu itu masih memikirkan orang lain,” kata Sandyawan.

Atas bantuan arsitek-arsitek muda, mushala pun turut diperbaiki dan menjadi cantik di tengah “kumuhnya” perkampungan. Tiga sarana mandi cuci kakus (MCK) besar dengan masing-masing empat kamar mandi juga diwujudkan dengan saling bekerja sama.

Ibu-ibu pun tidak mau kalah. Sejak Ibu Safril-pendiri koperasi di Malang yang memiliki 8.000 anggota-datang dan berbicara tentang pentingnya koperasi, mereka tergerak membentuk Koperasi Tanggung Renteng di Bukit Duri yang sampai saat ini sudah ada sembilan kelompok. Koperasi simpan pinjam yang kini beromzet Rp 16 juta itu sangat membantu kehidupan warga yang umumnya bekerja di sektor informal.

Tak hanya mengelola koperasi, ibu-ibu pun mengelola beasiswa untuk 150 anak warga Bukit Duri. Beasiswa itu diperoleh dari donasi yang diterima Sandyawan. Setiap bulan, masing-masing anak mendapatkan biaya sekolah sebesar Rp 50.000-Rp 70.000. “Ibu-ibu itu sangat teliti karena itu untuk kepentingan anak-anak mereka,” ujar Sandyawan.

Bukit Duri yang semula dikenal sebagai daerah preman, daerah laki- laki bertato dan sangar, perlahan mulai pupus. Remaja-remaja bertato itu kini rajin menyablon. Home industry sablon atau membuat kertas daur ulang mulai terlihat di beberapa rumah.

“Mereka yang bertato itu dulu minder. Tetapi, setelah saya libatkan menjadi relawan untuk membantu musibah longsor di Sukabumi dan mengurusi warga Madura yang mengungsi saat kerusuhan Sampit,  mereka kini menjadi lebih percaya diri daripada remaja karang taruna,” kata Sandyawan.

Dengan membantu orang lain, ternyata harga diri mereka tumbuh. Mereka merasa berguna dan memiliki arti hidup karena dapat berbuat sesuatu untuk sesamanya. Kalau saja sanggar-sanggar yang “menggarap” masyarakat basis seperti ini muncul di wilayah lain di Indonesia, alangkah tenteram dan sejahteranya warga. Apalagi, kuncinya sederhana: memanusiakan manusia.(ELOK DYAH MESSWATI)

Dunia Ceria Bocah Sanggar Ciliwung

P. Hasudungan Sirait

Sumber:  http://laklakliklik.wordpress.com/2011/06/14 

Air kali Ciliwung sedang tinggi. Melihat airnya yang coklat pekat dan sampah terapung yang lajunya kencang kita bisa memastikan arusnya sedang deras. Di hulu pastilah habis hujan besar. Kalau tidak di kitaran Puncak setidaknya di terusannya, Bogor. Penampakan air kali ini jelas dari teras bangunan Sanggar Ciliwung yang berada di tepinya.

Sanggar Ciliwung terletak di bilangan Bukit Duri. Kalau dari Terminal Kampung Melayu masuk saja ke arah Bukit Duri. Setelah jembatan susurilah kali. Di kiri-kanan jalan berkapasitas dua mobil kecil bangunan darurat berjejal. Kios barang rongsokan, warteg, warung kopi, rumah tinggal itu antara lain fungsi bangunan serba kumuh. Lokasi sanggar agak di dalam. Mudah mencari sebab, selain warga sekitar umumnya bisa kita tanya, bangunannya besar sendiri: gedung berlantai dua dengan arsitektur ramah lingkungan. Dindingnya bata tak berplester.

***

Lima anak masuk dan langsung saja mengambil tempat di teras belakang sanggar. Kali Ciliwung tidaklah menarik perhatian mereka. Bisa jadi karena mereka, tiga perempuan dua lelaki, sudah bosan melihatnya. Sedang bercanda mereka.Tapi hanya empat saja yang aktif; yang seorang lagi, lelaki bertubuh lebih kecil, hanya menonton saja sembari sesekali tergelak dan berujar tak jelas.

Empat orang dewasa mendekat. Satu dari mereka, perempuan berusia 30-an tahun, menyapa dan memperkenalkan diri. Mereka tamu rupanya, sedang menunggu pimpinan sanggar, Romo Sandyawan Sumardi. Sebentar saja dia sudah akrab dengan kanak-kanak itu. Ia menepis jarak psikologis dengan mengatakan punya anak perempuan sebaya mereka. Ketiga anak perempuan menyebut nama dan kelas mereka saat ditanya. Nama dua teman mereka juga mereka sebut. Anak yang sejak tadi menonton saja itu, menurut mereka, agak terbelakang mentalnya. Balik anak-anak itu menanya nama keempat tamu.

Menyanyikan pelbagai lagu anak-anak itu yang kemudian mereka lakukan. Sang perempuan dewasa ikut serta. Mereka lantas bercakap ihwal sanggar Ciliwung. Dengan lancar ketiga anak perempuan itu menjelaskan sembari saling melengkapi. Terkadang berebutan mereka berkisah.

Anak Sanggar Ciliwung mereka. Teman-teman mereka nanti selepas makan siang (saat itu pukul 11.00) akan bergabung. Tak ada kelas hari itu, cuma mau main saja. Biasanya sepulang sekolah dan makan, mereka akan ke sana. Atau setelah mengaji. Kalau tak ada kelas ya bermain. Di kelas pelajarannya antara lain belajar mendongeng, sastra, menggambar, bernyanyi, matematik, dan bahasa Inggris. . Anak-anak ini kelihatan percaya diri betul. Mereka jawabi pertanyaan dari para tamu dengan tegas tanpa malu-malu. Bertanya balik laksana wartawan menjadi kebiasaan mereka. Ketika diminta mendongeng salah satu dari mereka usul mengusulkan agar kisahnya yang terbaru saja dan disampaikan bergantian oleh mereka berempat. Sepakat. Perkisahan dimulai, ihwal si anak miskin yang menemukan cincin raja yang hilang di pemandian. Awalnya memang estafet mereka berceita. Namun selanjutnya saling meluruskan dan cenderung berkejaran.

Seusai cerita cincin hilang anak lain menawarkan kisag Laskar Pelangi. Mereka, seluruh anak sanggar, pernah menonton filmnya di bioskop. Salah seorang dari tamu mengusulkan tak usah menceritakan semuanya, cukup sisi-sisi paling menariknya saja. Karakter sejumlah tokoh (Lintang, Mahar, Ikal, Bu Mus, dan Pak Harfan) berikut beberapa adegan (yang jenaka, sendu-pilu, mendebarkan, dan bahagia) mereka paparkan. Serba spontan dan saling melengkapi mereka.

Setelah perkisahan tamu perempuan tadi bertanya apa cita-cita mereka. Menjadi guru, dokter, dan polisi, itu jawaban ketiga anak perempuan. Yang ingin menjadi guru dan dokter mengatakan nanti akan membantu anak-anak kitaran Ciliwung yang umumnya miskin. Yang bercita-cita menjadi polisi nanti akan menangkapi orang-orang jahat terutama yang selama inimenyusahkan warga ciliwung. Adapun laki-laki si periang bilang belum tahu mau jadi apa. Seorang dari anak perempuan ini balik bertanya apa cita-cita anak ibu itu. Penyanyi, kata ibu itu.

Jelas anak-anak ini tak seperti yang kebanyakan. Cerdas, percaya diri, dan punya rasa ingin tahu yang besar mereka. Kalau mendengar cara berpikir dan berbicaranya kita tak akan menyangka bahwa mereka baru kelas 3 SD. Paling tidak ya kelas 5. Mereka berlima orang Betawi, tinggal di sekitar sanggar. Pagi mereka bersekolah di SD negeri di kitaran juga, siang belajar atau bermain di sanggar. Kakak-kakak mereka pun demikian dulu. Juga anak-anak tetangga. Sanggar sudah seperti rumah kedua bagi mereka. Di tempat ini kakak-kakak (sebutan mereka untuk para pembina) mengajari mereka pelabagai pengetahuan dan ketrampilan. Semuanya serba cuma-cuma. Pendekatannya, seperti kata mereka, asyik karena serba fun. Berbeda dengan yang di SD.

***

Lulusan Sanggar Ciliwung sudah banyak. Beberapa pembina di sanggar termasuk. Kalau tak melanjutkan sekolah, seperti kata Romo Sandyawan, ya bekerja. Yang terakhir ini lebih banyak. Mudah dimengerti karena orangtua mereka umumnya miskin. Ada juga remaja dan pemuda yang pernah berlatih ketarmpilan sablon dan membuat kertas daur ulang di sanggar. Salah seorang yang pernak berlatih sablon, misalnya, telah menjadi pebisnis. Orang itu berbisnis sablon di rumah yang bersebelahan dinding dengan sanggar. Melihat para pekerja yang selalu sibuk di sana tentu bisnis ini lancar.

Sepereti telah disebut, orang-orang Ciliwung-lah yang menjadi peserta sanggar. Jadi umumnya Betawi dan Islam. Tidak ada urusan agama di sanggar. Urusannya satu saja: kemanusiaan. Tak heran bahwa selepas dari sana mereka tetap Islam, bukan menjadi Katolik.

Bangunan sanggar Ciliwung berdiri tahun 2000. Seperti dikisahkan Romo Sandyawan, sebelumnya ia sendiri mengomtrak di sana. Sengaja kawasan kumuh yang dikenal sebagai sarang kaum kriminal sebagai tempat untuk refleksi. Tak asing ia dengan tempat ini sebab selain kerap membantu warga setempat yang langganan banjir beberapa anak jalanan binaan Institut Sosial (waktu itu ia direkturnya) tinggal di sini. Rumah kontrakannya pun menjadi tempat bermain anak. Inilah awal berdirinya sanggar. Dari pendidikan, kegiatan sanggar meluas ke ranah kesehatan, lingkungan, dan ekonomi. Klinik murah dibuka. Saat ini klinik ditangani beberapa dokter termasuk spesialis. Kalau semula sanggar berkonsentrasi di Bukit Duri dan Kampung Pulo, sekarang mereka telah melebarkan ke sayap termasuk ke Bogor. ###

Film Lingkungan ala Anak-anak Ciliwung 

Sumber: http://berita.liputan6.com/ 14 Maret 2010 

Liputan6.com, Jakarta: Selama ini, warga bantaran Kali Ciliwung hanya muncul di media ketika banjir tiba. Tapi, sebenarnya mereka juga bisa berprestasi. Sejumlah anak yang menamakan diri mereka Dewan Anak Ciliwung mulai aktif memproduksi film-film pendek bertema lingkungan.

Dua tahun lalu, anak-anak yang tinggal di bantaran kali ini sudah membuat film tentang pengolahan sampah. Nah, tahun ini Dewan Anak Ciliwung membuat film tentang kompos.

Di bawah arahan instruktur dari Sanggar Ciliwung Merdeka, tim yang terdiri dari enam remaja itu menentukan alur cerita. Setelah berbagi tugas, saatnya turun ke lapangan. Ada yang bertugas sebagai camera person, dan ada pula sebagai reporter. Untuk melengkapi film karyanya, mereka juga ditugasi mewawancarai warga sekitar.

Lalu apa yang menarik minat mereka? “Pengalaman baru, bisa nambah ilmu juga,” ujar Pretty, salah seorang anggota Dewan Anak Ciliwung.

Film tentang kompos ini akan digunakan sebagai sarana pendidikan bagi warga bantaran kali di kawasan Bukit Duri dan Kampung Pulo. Menurut Ratman dan Doan, Koordinator Audio Visual Ciliwung Merdeka, hasil film tersebut secara berkala diputar ketika ada acara dilingkungan warga ataupun acara sanggar. “Kita juga upload di internet,” kata Ratman.

Dengan bekal kreativitas di usia muda, remaja-remaja ini membuktikan warga bantaran Kali Ciliwung juga bisa berkarya dan berprestasi.(TES/AYB)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: