Moersidik dan Rahma Widhiasari

LOAD CAPACITY STUDY OF CILIWUNG WATERSHED

Moersidik1, Rahma Widhiasari2

1Head of The Environmental Science Program, Graduate Program, University of Indonesia, Head of Center For Research of Human Resource and The Environment University of Indonesia, email: smoersidik@yahoo.com

2 Center For Research of Human Resource and The Environment University of Indonesia, email: rahmaferry@yahoo.com

Download file: 47881535-Daya-Tampung-Beban-Pencemaran-DAS-Ciliwung

Abstrak

Kualitas air DAS Ciliwung mengarah pada peningkatan beban pencemaran dan penurunan daya tampung. Perhitungan beban pencemaran dan daya tampung menggunakan metode Streeter Phelps. Dengan program QUAL2Kw, dapat mendeskripsikan kondisi kualitas air DAS Ciliwung melalui profil BOD dan DO. DAS Ciliwung diwakili stasiun pengamatan Atta’awun-Ancol, dibagi menjadi 14 ruas dan 6 segmen. Dari simulasi BOD diperoleh estimasi beban pencemaran 1.724,11-20.674,66 kg/jam, dengan beban tertinggi di segmen 6 (Manggarai-Ancol). Hasil estimasi daya tampung beban pencemaran diperoleh keenam segmen tidak memiliki daya tampung untuk baku mutu kelas I dan II. Segmen 1 dan 2 masih memiliki daya tampung untuk baku mutu kelas III. Segmen 3- 6 tidak memiliki daya tampung pada kelas III. Segmen 1-5 memiliki daya tampung untuk baku mutu kelas IV, tapi segmen 6 tidak memiliki daya tampung pada kelas IV. Konstanta reaerasi di hilir semakin kecil, daya purifikasi di hilir semakin kecil. Nilai daya tampung segmen 1-segmen 6, berkisar antara 350.58-2318,23 kg/jam.

Abstract

The water quality of Ciliwung Watershed leads to increased pollution load and decrease in capacity. The calculation of pollution load and the capacity use Streeter Phelps method. Software QUAL2Kw used in this research, which able to describe water quality conditions, with profiles of BOD and DO. Ciliwung represented by observation station, which is Atta’awun-Ancol, it divided into 14 segments and 6 segments. The simulation BOD’s curve result that, the highest pollution load was in the segment 6 (Manggarai-Ancol). The estimated pollution load capacity, result that the sixth segment has no capacity for quality standard Grade II  and I. Segments 1 and 2 still have the capacity to Class III standard. Segments 3-6 have no capacity at Class III. Segments 1-5 has the capacity for standard class IV, but segments 6 are not have the capacity in the fourth grade. Coefficient of reaerationt in downstream was smaller; it shows that self-purification in downstream was smaller. Load capacity in segments 1-6, ranged 350.58-2318,23 kg/hr.

Keywords: Ciliwung Watershed, load Capacity, QUAL2Kw

1. Pendahuluan

Daerah aliran sungai (DAS) Ciliwung memiliki fungsi sosial dan fungsi ekonomi. DAS Ciliwung yang melintasi wilayah Ibu Kota DKI Jakarta, adalah DAS urban yang memiliki arti strategis dalam konteks nasional, yang perlu dikelola secara khusus. Panjang sungai Ciliwung dari bagian hulu sampai muara di pesisir pantai Teluk Jakarta adalah ± 117 km, dengan luas DAS Ciliwung sekitar 347 km2. DAS Ciliwung mencangkup areal mulai dari bagian hulu di Tugu Puncak (Kabupaten Bogor) sampai hilir di Teluk Jakarta (Jakarta Utara). Kegiatan pembangunan di DAS Ciliwung, baik di hulu maupun di hilir tergolong sangat intensif dan pertambahan penduduk cukup tinggi. Perubahan penggunaan lahan, serta bertambahnya kawasan pemukiman di Ciliwung hulu, tengah dan hilir berimplikasi terhadap masuknya polutan ke DAS Ciliwung. Sumber pencemaran Sungai Ciliwung berasal dari limbah domestik, limbah industri, limbah pertanian, dan limbah peternakan.

Hasil pemantauan BPHD (2007) menyebutkan bahwa kualitas air Sungai Ciliwung semakin tercemar pada bagian hilir yaitu berada pada kondisi kelas IV, artinya air Sungai Ciliwung hanya dapat digunakan untuk menyiram tanaman. Hasil penelitian Fadly (2007) mengungkapkan bahwa kualitas air Sungai Ciliwung yang memasuki Kota Jakarta yaitu bagian hilir telah berada di atas baku mutu air sungai KepGub DKI Jakarta No.582 Tahun 1995, yang artinya telah tercemar. Keberagaman kegiatan di sepanjang DAS Ciliwung menimbulkan buangan limbah, yang berkontribusi terhadap peningkatan beban pencemaran di DAS Ciliwung. Badan air memiliki kemampuan untuk memulihkan diri dan melakukan pembersihan diri dalam batas-batas tertentu. Namun beban pencemaran yang terus meningkat dapat menurunkan kemampuan pemulihan diri sungai. kemudian berdampak pada penurunan kualitas air sungai. Kualitas air DAS Ciliwung semakin tercemar dan mengarah pada peningkatan beban pencemaran. Oleh karena itu, perlu diketahui informasi mengenai daya tampung beban pencemaran di DAS Ciliwung, yang kemudian menjadi dasar pengelolaan pengendalian pencemaran di DAS Ciliwung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya beban pencemaran di Sungai Ciliwung dan mengetahui besarnya daya tampung Sungai Ciliwung..

2. Metode Penelitian

Pendekatan penelitian ini adalah kuantitatif. Perhitungan estimasi beban pencemaran dan daya tampung menggunakan metode Streeter Phelps (Program QUAL2Kw), menggunakan data primer berupa data kualitas air sungai (tahun 2004-2008), data hidrologi sungai dan data curah hujan. DAS Ciliwung diwakili stasiun pengamatan Atta’awun-Ancol, dibagi menjadi 14 ruas dan 6 segmen.

Gambar 1. DAS Ciliwung dan Pembagian Segmen (Sumber; KLH, 2008)

Pengolahan dan Analisis Data

Beban pencemaran atau load (L) adalah konsentrasi bahan pencemar (C)
dikalikan kapasitas aliran air atau debit air (Q) yang mengandung bahan
pencemar.

L = C. Q ……….………..…………………….…….(1)

Menurut versi KEPMENLH No.110 Tahun 2003, tentang Pedoman Penetapan Daya Tampung Beban Pencemaran Air pada Sumber Air perhitungan kandungan oksigen, BOD adalah sebagai berikut:

Dengan CR = konsentrasi rata-rata konstituen untuk aliran gabung; Ci = konsentrasi konstituen pada aliran ke-i; Qi = laju alir aliran ke-i; Mi = massa konstituen pada aliran ke-i.

Pemodelan QUAL2Kw mengaplikasikan proses pengurangan oksigen terlarut (deoksigenasi) akibat aktivitas bakteri dalam mendegrasikan bahan organik yang ada dalam air dan proses peningkatan oksigen terlarut (reaerasi), Chapra (1997).

Kemudian, dengan menyesuaikan kedalaman dan kecepatan aliran Sungai
Ciliwung, maka tipe aerasi yang digunakan adalah persamaan O’Connor-Dobbins.  Reaeration Coefficient atau K2 dengan menggunakan persamaan O’Connor- Dobbins(K2):

 Dengan : H = ketinggian air (m); U* = Kecepatan rata-rata (m/dtk), dihitung dengan menggunakan persamaan yaitu:

U* = √gHS …………..….…………..(4)

Debit aliran (Q) dipertoleh dengan mengalikan kecepatan aliran (V) dengan luas penampang melintang (A):

 Q = A.V…………………………..….(5)

Dengan : Q = debit (m3/dt); A = luas penampang basah (m2); V = kecepatan aliran (m/dt).

Kecepatan aliran (V) yang diperoleh biasanya bukan kecepatan aliran ratarata, tetapi kecepatan aliran maksimum dalam sungai, maka kecepatan yang mendekati keadaan sesungguhnya arus dikalikan dengan angka tetapan (konstanta). Konstanta dimaksud adalah 0,75 untuk keadaan dasar sungai yang kasar atau 0,85 untuk keadaan dasar sungai yang lebih halus. Menurut Hewlett (Asdak, 2004) debit sesungguhnya adalah 20-25% dari debit hasil perhitungan dengan persamaan (2.7). Bentuk persamaan Manning (Asdak, 2004) adalah untuk memperoleh angka kecepatan pada saluran terbuka, yakni:

Dimana: V = kecepatan aliran (m/dt), r = jari-jari hidrolik (m); s = kemiringan permukaan air, n = angka koefisien kekasaran Manning.

3. Hasil Analisis dan Pembahasan

Estimasi Daya Tampung Beban Pencemaran

Perhitungan estimasi beban pencemar menggunakan metode Streeter-Phelps dengan program QUAL2Kw. Penggunaan program QUAL2Kw dapat mengestimasi nilai beban pencemaran pada tiap ruas sungai. Pemodelan dengan menggunakan software QUAL2Kw terlebih dahulu dilakukan pembagian ruas (reach), jarak dan batas sungai. Gambar sketsa Sungai Ciliwung dan pembagian ruas dapat dilihat pada Gambar 5.4. Pada Gambar 5.4 menunjukkan bahwa Sungai Ciliwung dari hulu hingga hilir terbagi menjadi 14 ruas (reach), dan 6 segmen sesuai dengan wilayah administrasinya.

Tabel. 1 adalah pembagian reach di Sungai Ciliwung. Dalam penelitian ini, aliran sungai Ciliwung yang akan dihitung beban pencemarannya adalah mulai dari Atta’awun yang diasumsikan sebagai hulu Sungai Ciliwung, sampai dengan hilir di stasiun pengamatan Ancol. Kemudian, berdasarkan pembagian ruas di atas dibuatlah gambar sketsa Sungai Ciliwung dan pembagian ruas. Sketsa sungai ini sekaligus mendeskripsikan point source dan non point source yang berpotensi memasukan beban di tiap ruas sungai. Berdasarkan batasan wilayah lokasi pemantauan kualitas air sungai, maka peneliti menetapkan pembagian segmen di DAS Ciliwung, sesuai dengan batas administrasi pemerintahan sepanjang aliran Sungai Ciliwung. DAS Ciliwung terbagi menjadi 6 segmen berdasar kajian KLH. Segmen 1 merupakan daerah hulu Sungai Ciliwung, sedangkan segmen 2, segmen 3, dan segmen 4 adalah bagian tengah Sungai Ciliwung, serta segmen 5 dan segmen 6 adalah bagian hilir Sungai Ciliwung. Peneliti mengacu pada hasil penelitian KLH dalam pembagian segmen berdasarkan wilayah administrasi.

Langkah selanjutnya adalah mengidentifikasi point source dan non point source. Berdasarkan pembagian ruas tersebut di atas, peneliti mengidentifikasi point source yang memasuki Sungai Ciliwung. Dimulai dari bagian hulu, peneliti mengidentifikasi apakah terdapat industri yang membuang limbah ke Sungai Ciliwung, yang berada di ruas Atta’awun hingga Cisampai. Identifikasi point source juga dilakukan pada ruas Cisampai-Cisarua. Demikian seterusnya hingga ruas ke-14. Sumber pencemaran dari point source adalah sumber titik yang menunjukan buangan polutan yang ditimbulkan oleh sumber spesifik, atau lokasi tertentu. Peneliti menelusuri data point source dari hulu (data diperoleh dari BPLHD Jawa Barat) dan hilir (data diperoleh dari BPLHD DKI Jakarta). Dalam perhitungan menggunakan Program QUAL2Kw dimasukan pula data kualitas air Sungai Ciliwung, data kualitas air sungai yang digunakan adalah data hasil pemantauan tahun 2008. Data tersebut bersumber dari BPLHD Provinsi Jawa Barat, BPLHD Provinsi DKI Jakarta, serta dari Asdep Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) KLH. Parameter kualitas air yang dimasukkan ke dalam program adalah temperatur, pH, konduktivitas, TSS, BOD, COD dan DO. Perhitungan data dengan menggunakan QUAL2Kw mempergunakan data rata-rata (mean), data hasil pengamatan maksimun dan data hasil pengamatan minimum.  Tabel 2. adalah data rata-rata beberapa parameter kualitas air, di 15 stasiun pengamatan pada pemantauan tahun 2008.

 

Setelah tahap pengisian data diselesaikan, program QUAL2Kw akan dapat dijalankan. Selanjutnya, secara otomatis akan membuat lembar kerja (work sheet) WQOutput, yang merupakan hasil output secara teks atau angka. Selain hasil perhitungan berupa angka, program QUAL2Kw juga menampilkan grafik sebagai output program. Setelah semua data diinput ke dalam program QUAL2Kw dan dilakukan simulasi dengan point source dan nonpoint source, hasilnya adalah kualitas sungai Ciliwung berdasarkan pendekatan model untuk parameter BOD. Dalam penelitian ini, program QUAL2Kw digunakan permodelan untuk mensimulasikan kadar BOD di sepanjang Sungai Ciliwung, sehingga dapat diketahui beban pencemaran di tiap segmen. Penggunaan pemodelan adalah untuk menyederhanakan suatu kejadian agar dapat diketahui kelakuan kejadian tersebut.

Pada penelitian ini, permodelan dengan menggunakan Program QUAL2Kw digunakan untuk mengetahui kondisi BOD sepanjang sungai. Dengan demikian, dapat dilakukan tindakan selanjutnya, seperti kebijakan IPAL industri yang ada di sepanjang sungai, yang hanya diperbolehkan membuang limbahnya pada beban tertentu, atau pun kebijakan jumlah industri di suatu lokasi.

Gambar 2. adalah hasil permodelan profil BOD dari hulu hingga hilir dengan Program QUAL2Kw. Berdasarkan hasil grafik pada Gambar 2 menunjukan bahwa BOD model dan BOD hasil pemantauan memiliki pola grafik yang sama, yakni konsentrasi BOD semakin tinggi di hilir sungai (kilometer 0). Dari hasil grafik dapat dilihat bahwa peningkatan BOD terjadi semakin menuju ke hilir sungai, peningkatan konsentrasi BOD terjadi dimulai pada kilometer 55, yakni sekitar ruas Pondok Rajeg-Jembatan Panus. Ruas Pondok Rajeg-Jembatan Panus berada di bagian tengah DAS, di lokasi tersebut terdapat beberapa industri yang potensial memasukan beban limbah cair ke Sungai Ciliwung, diantaranya adalah industri tekstil, keramik dan terdapat pula rumah sakit (RS Cibinong). Konsentrasi BOD ini terus meningkat hingga hilir sungai, yakni ruas PIK- ncol. Hal ini dapat disebabkan karena meningkatnya beban pencemar yang kemudian terakumulasi di titik tersebut. Berdasarkan observasi lapangan, aliran air di PIKAncol relatif diam, debit air sangat kecil, bahkan mendekati nol. Konsentrasi oksigen terlarut yang sangat minim mengakibatkan terjadinya respirasi anaerob. Peneliti berpendapat di ruas PIK-Ancol, dimana konsentrasi BOD yang tinggi serta debit air yang mendekati nol, serta rendahnya konsentrasi DO, mengakibatkan beban pencemar terakumulasi di titik tersebut.

Berdasarkan nilai estimasi beban pencemaran pada Tabel 3 dapat diketahui perkiraan beban pencemar terbesar adalah di segmen 5 dan segmen 6 (DKI Jakarta), yakni mencapai 16.772,14 Kg/jam dan 20.674,66 Kg/jam. Nilai estimasi  beban pencemaran di atas dapat dimanfaatkan sebagai acuan masing-masing wilayah administrasi dalam pengendalian beban pencemaran.

Gambar 3. Profil Oksigen terlarut di Sungai Ciliwung Hasil Analisis QUAL2Kw

Keberadaan beban pencemar di perairan dipengaruhi oleh kadar oksigen terlarut di perairan. Jika ketersediaan oksigen terlarut tinggi di peraian maka dapat mendukung proses swa purifikasi (self purification). Self Purification adalah kemampuan air untuk membersihkan diri secara alamiah dari berbagai kontaminan dan pencemar. Keberadaan oksigen terlarut di perairan dibutuhkan oleh bakteri di perairan untuk melakukan proses dekomposisi bahan organik. Namun, jika oksigen terlarut konsentrasinya rendah atau bahkan nol maka proses dekomposisi yang terjadi adalah proses respirasi anaerob. Peningkatan BOD terjadi seiring dengan penurunan konsentrasi oksigen. Konsentrasi oksigen terlarut mencapai titik minimum dan sering terjadi dekomposisi secara anaerob pada  perairan berlumpur yang menimbulkan bau mengganggu. Gambar 3
adalah gambaran konsentrasi oksigen terlarut di sepanjang Sungai Ciliwung. Berdasarkan hasil Gambar 3 menunjukan bahwa DO di bagian hilir mendekati nol. Hal ini dapat disebabkan karena meningkatnya beban pencemar yang kemudian terakumulasi di titik tersebut, sehingga oksigen terlarut diperairan tersebut terus-menerus digunakan untuk proses dekomposisi, hingga konsentrasi DO menurun drastis. Peningkatan BOD terjadi seiring dengan penurunan konsentrasi oksigen terlarut. Pada Gambar 2, mendeskripsikan profil BOD di Sungai Ciliwung), peningkatan BOD terjadi di kilometer 55. Kemudian, pada Gambar 5.6. dapat dilihat penurunan konsentrasi oksigen terjadi dimulai pada kilometer 50, yakni sekitar ruas Pondok Rajeg-Jembatan Panus. Konsentrasi DO ini terus menurun hingga hilir sungai , yakni ruas PIK-Ancol, dimana DO minimal hampir 0 mg/l. Sementara, konsentrasi DO saturasi pada Gambar 3 adalah menunjukkan korelasi DO dengan temperatur.

Gambar 4. Grafik Perubahan Debit Air di Sungai Ciliwung

Gambar 4 adalah grafik yang menunjukan hasil pemantauan debit Sungai Ciliwung di stasiun pengamatan Ratujaya (Depok) dan di stasiun pengamatan Katulampa. Pada grafik di atas menunjukkan bahwa, debit di stasiun pengamatan Katulampa relatif lebih tinggi dibandingkan di stasiun pengamatan Depok. Debit air di stasiun pengamatan Katulampa berkisar antara 0,71-14,52 m3/detik. Sedangkan debit air di stasiun pengamatan Depok berkisar antara 0,72-12,13 m3/detik. Pada kedua stasiun pengamatan, debit air rendah pada bulan Juni hingga Oktober, hal ini dapat dikarenakan faktor musim kemarau.

Gambar 5 Grafik Profil Debit Sungai Ciliwung dari hasil Analisa QUAL2Kw

Gambar 5 adalah grafik profil debit di Sungai Ciliwung berdasarkan hasil analisa QUAL2Kw, yang menunjukkan rendahnya debit air pada bagian hilir. Debit air semakin menuju ke hilir semakin rendah, di bagian hilir sungai, nilai debit 0,30 m3/detik. Kecilnya nilai debit di beberapa ruas yang merupakan wilayah DKI Jakarta, dapat dikarenakan karena faktor limbah padat (sampah) yang terdapat di hilir Sungai Ciliwung.

Berdasarkan pemantauan lapangan, Sungai Ciliwung di daerah Manggarai,
Gunung Sahari dan PIK, volume sampah meningkat yang mengakibatkan aliran air melambat atau bahkan berhenti. Oleh karena itu debit air di wilayah tersebut nilainya 0,30 m3/detik. Selain itu di bagian hilir, sedimen dari hulu yang terbawa aliran air akan terakumulasi di bagian hilir sehingga memperlambat aliran air. Di sisi lain, angka curah hujan di bagian hilir (DKI Jakarta) relatif lebih rendah dibandingkan dengan curah hujan di bagian hulu (Kabupaten Bogor). Faktorfaktor tersebut adalah beberapa penyebab rendahnya nilai debit air di bagian hilir.

Rendahnya nilai debit di hilir, mengakibatkan besarnya beban pencemaran di hilir, hal ini dapat dilihat pada profil BOD Sungai Ciliwung (Gambar 2.) Berdasarkan hasil penelitian Irianto (2002), terdapat korelasi yang signifikan antara kadar BOD, COD dan debit sungai. Nilai debit air ini berkorelasi dengan beban pencemaran (BOD, COD) dan berperan dalam pengenceran beban pencemar. Oleh karena itu nilai beban pencemaran di hilir DAS Ciliwung semakin tinggi, kemudian hasil analisa QUAL2Kw pun menunjukkan debit air di hilir pun semakin rendah. Salah satu penyebab besarnya nilai beban pencemaran di bagian hilir adalah rendahnya nilai debit air di bagian hilir. Nilai debit air mengintepretasikan kecepatan aliran air per luas penampang sungai. Dengan demikian jika kecepan air tinggi maka nilai debit air pun tinggi, kemudian aliran air ini berperan dalam sirkulasi oksigen terlarut di perairan. Tingginya konsentrasi  BOD di bagian hilir yang tidak diimbangi suplai oksigen terlarut di perairan dapat mengakibatkan tingginya beban pencemaran dan terjadi proses respirasi anaerob.

Berkaitan dengan debit air Sungai Ciliwung, salah satu faktor yang  mempengaruhi besar kecilnya debit air adalah faktor curah hujan. Curah hujan  adalah salah satu parameter meteorologi yang sangat mencolok fluktuasinya.  Angka curah hujan merepresentasikan intensitas hujan, yakni besaran curah hujan  dalam skala waktu jam/harian/bulanan/tahunan, yang bervariasi secara spasial/  ruang atau berfluktuatif. Berdasarkan Tabel 4.5 terdapat luasan 16105.94 hektar  dari DAS Ciliwung yang memiliki curah hujan 13,6 – 20,55 mm/hari. Curah hujan  yang tinggi berkontribusi terhadap meningkatnya kadar oksigen terlarut di dalam air, yang kemudian mendukung daya purifikasi di badan air.

Dari hasil simulasi QUAL2Kw, perhitungan beban pencemaran dengan simulasi  model parameter BOD diperoleh beban pencemaran tertinggi berada di segmen 6  (Manggarai-Ancol) yakni sebesar 20.674,66 kg/jam, sedangkan di segmen 5  (Kelapa Dua-Manggarai) sebesar 16.772, 14 kg/jam. Beban pencemaran Sungai  Ciliwung, dari hulu ke hilir meningkat signifikan di bagian hilir yakni di wilayah  DKI Jakarta. Kemudian, pada profil DO di hilir sungai Ciliwung memperlihatkan  bahwa DO di hilir sangatlah rendah, bahkan mendekati nol, sehingga kurang mendukung daya purifikasi di hilir sungai.

Estimasi Daya Tampung Beban Pencemaran

Pada sub bab ini akan dikaji estimasi daya tampung pada masing-masing segmen.  Pendekatan model untuk parameter BOD, dapat pula digunakan untuk  mendapatkan estimasi nilai daya tampung beban pencemaran untuk pengelolaan  DAS Ciliwung. Berdasarkan Keputusan KNLH No. 110 Tahun 2003, tentang  Pedoman Penetapan Daya Tampung Beban Pencemaran Air pada Sumber Air,  bahwa QUAL2E adalah salah satu program yang dapat menghitung daya  tampung beban pencemaran, program QUAL2Kw yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah turunan yang diperbarui (upgrade) dari program QUAL2E .

Dalam penentuan daya tampung menggunakan program QUAL2Kw, terlebih  dahulu peneliti menentukan target kelas masing-masing segmen. Kemudian,  ketika melakukan simulasi, beban pencemar yang sebenarnya diturunkan hingga  mencapai konsentrasi BOD sesuai dengan target baku mutu masing-masing   segmen. Ketika konsentrasi BOD yang disimulasi telah sesuai dengan BOD target  maka dapat ditentukan nilai daya tampung, yang dapat menjadi target pengelolaan  pada masing-masing segmen. Penggunaan baku mutu adalah sesuai dengan PP  No.82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas air dan Pengendalian  Pencemaran air. Dalam penentuan daya tampung ini ditargetkan Sungai Ciliwung  untuk segmen 1 adalah kelas I, segmen 2, 3 dan 4 adalah kelas II, serta segmen 5  dan segmen 6 adalah kelas III, maka dapat dibandingkan kualitas air Sungai Ciliwung menurut kelas sasaran parameter BOD.

Tabel. 4 Estimasi Daya Tampung DAS Ciliwung

Tabel. 4 adalah nilai estimasi daya tampung beban pencemaran di Sungai
Ciliwung, berdasarkan pendekatan parameter BOD dengan mempergunakan  Program QUAL2Kw. Setelah dilakukan simulasi dengan mengurangi beban  pencemaran BOD pada semua sumber point source dan non point source,  sehingga BOD model mendekati BOD pada WQdata. Konsentrasi BOD pada  WQdata adalah nilai konsentrasi BOD yang diinput sesuai dengan baku mutu nilai konsentrasi BOD pada masing-masing kelas.. Nilai daya tampung segmen 1 hingga segmen 6 berkisar antara 350,58-2.318.23kg/jam.

Gambar 6 Perbandingan Konsentrasi BOD dengan Baku Mutu Kelas II, III dan IV

Hasil perhitungan konsentrasi BOD berdasarkan metode neraca massa, dengan  program QUAL2Kw, menunjukkan bahwa BOD di segmen 1 hingga segmen 6  telah jauh melampaui baku mutu kelas 1 dan kelas 2, artinya keenam segmen  tidak memiliki daya tampung untuk baku mutu kelas I dan kelas II. Pada baku  mutu kelas III, segmen 1 dan segmen 2 masih memiliki daya tampung untuk baku  mutu kelas III, pada ruas Kedung Halang-Pondok Rajeg (segmen 3), telah  melampaui daya tampung untuk baku mutu kelas III. Jadi, segmen 3 hingga segmen 6 sudah tidak memiliki daya tampung untuk baku mutu kelas III. Jika  konsentrasi BOD dibandingkan dengan baku mutu kelas IV, segmen 1 hingga  segmen 5 masih memiliki daya tampung untuk baku mutu kelas IV. Pada ruas  Kwitang-Ancol (segmen 6), telah melampaui daya tampung untuk baku mutu  kelas IV. Jadi, segmen 6 sudah tidak memiliki daya tampung untuk baku mutu  kelas IV, ini dapat dilihat pada Gambar 6. Daya tampung di segmen 6, sebesar 2.318.23kg/jam telah jauh melampaui beban pencemar di segmen tersebut

Daya tampung beban pencemaran dipergunakan untuk pemberian ijin lokasi,  pengelolaan air dan sumber air, penataan ruang, pemberian ijin pembuangan air  limbah, penetapan mutu air sasaran dan program kerja pengendalian pencemaran  air. Beban pencemaran tertinggi adalah di segmen 5 dan segmen 6, yang telah  melampaui jauh dari nilai daya tampungnya. Sesuai dengan pembagian wilayah  administrasi, pengendalian beban pencemaran di segmen 5 dan segmen 6 adalah  tanggung jawab Provinsi DKI Jakarta.

Gambar 7. Profil Konsentrasi BOD dan DO di DAS Ciliwung

Konsentrasi DO dan BOD yang dibandingkan pada Gambar 5.12 adalah  konsentrasi BOD hasil analisis neraca massa dengan perangkat lunak QUAL2Kw.  Kenaikan konsentrasi BOD mulai terjadi pada ruas Sempur-Kedunghalang (Km.  73), yakni konsentrasi BOD sebesar 7,29 mg/l. Peningkatan konsentrasi BOD  terus berlangsung dari segmen 3 hingga segmen 6, dan konsentrasi BOD tertinggi  adalah di segmen 6. Sedangkan konsentrasi DO tertinggi adalah pada segmen 1,  khususnya di ruas Atta’awun-Cisampai (Km.86), konsentrasi DO mencapai 9,78-  9,66 mg/l. Konsentrasi DO menurun pada ruas Kelapa Dua-Condet (Km.44),  konsentrasi DO di ruas tersebut adalah yakni 4,73-4,09 mg/l. Konsentrasi DO  terus menurun hingga ruas PIK-Ancol 3,36-3,24 mg/l. Rendahnya konsentrasi DO  di segmen 6 menunjukkan bahwa daya purifikasi di segmen 6 pun menurun, daya  purifikasi di segmen 6 dapat dikatakan terendah dibandingkan daya purifikasi di  segmen 1 hingga segmen 4. Hal ini mendukung hasil analisis sebelumnya bahwa segmen 6 sudah tidak memiliki daya tampung untuk baku mutu kelas IV.

4. Kesimpulan

DAS Ciliwung semakin ke hilir beban pencemarnya semakin tinggi. Dari hasil  perhitungan beban pencemaran BOD, diperoleh beban pencemaran tertinggi  berada di segmen 6 (Manggarai-Ancol) yakni sebesar 20.674,66 kg/jam. Beban  pencemaran DAS Ciliwung, dari hulu ke hilir meningkat signifikan di bagian hilir yakni di wilayah DKI Jakarta, dengan nilai beban pencemaran 1.724, 11 –
20.674,66 kg/jam. Dari hasil perhitungan daya tampung beban pencemaran BOD,  didapatkan bahwa, segmen 1 hingga segmen 5 masih memiliki daya tampung  untuk baku mutu kelas IV, namun segmen 6 sudah tidak memiliki daya tampung  untuk baku mutu kelas IV. Nilai daya tampung yang segmen 1-segmen 6, berkisar antara 350.58-2318,23 kg/jam.

Daftar Acuan

——–, 2008. Laporan Pemantauan Kualitas Air Sungai Ciliwung 2008 BPLHD DKI Jakarta. Jakarta

——–, 2008. Data Swapantau Sumber Instansional Di Propinsi DKI BPLHD DKI Jakarta. Jakarta

——–, 2003. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 110 Tahun 2003 tentang  Pedoman Penetapan Daya Tampung Beban Pencemaran Air Pada Sumberdaya Air. Jakarta

Asdak, Chay. 2002. Hidrologi dan Pengelolaan DAS. Edisi Revisi. Gajahmada University Press. Jogjakarta.

Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumber daya dan Lingkungan Perairan. Kanisius. Yogyakarta.

Chapra, Steven C., Surface Water-Quality Modeling, McGraw-Hill Int. 1997

Fadly, N. Aliefia. 2008. Daya Tampung dan Daya Dukung Sungai Ciliwung serta Strategi Pengelolaannya. Tesis. Program Studi Tehnik Sipil. Uni versitas Indonesia. Jakarta

Fardiaz, S. 1992. Polusi Air dan Udara. Kanisius. Yogyakarta.

Fair, GM., 1956, Sewage Treatment, New York, Willey.

Harihanto. 2001. Persepsi, Sikap dan Perilaku Masyarakat terhadap Air Sungai  (Kasus di DAS Kaligarang, Jawa Tengah) [Disertasi]. Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Hariyadi, S. 2004. BOD dan COD sebagai Parameter Pencemaran Air dan Baku  Mutu Air Limbah. Makalah Pengantar Falsafah Sains. Sekolah Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor

Kusmana, 2003. Laporan Akhir Rencana Pengelolaan DAS Terpadu DAS  Ciliwung. Balai Pengelolaan DAS Citarum-Ciliwung Departemen Kehutanan bekerjasama dengan Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Linsley, RayK., Joseph B. Franzini. 1995. Water Resources Engineering. McGraw-Hill. International.

Mays, L.W.(Editor in Chief) 1996. Water resources handbook. McGraw-Hill. New York. p: 8.27-8.28.

Metcalf F & Eddy, Inc. 1991. Wastewater Engineering: treatment, disposal,  reuse. 3rd ed. (Revised by: G. Tchobanoglous and F.L. Burton). McGraw-Hill, Inc. New York, Singapore. 1334 p.

Miller, G. Tyler. 2003. Living in The environment. Twelfth Edition. Thompson Learning, Inc. Kanada.

Miller, G. Tyler. 2006. Environmental Science: Problem, Concept and Solution. Fifteenth Edition.Thompson Learning, Inc. Kanada.

Notohadiprawiro, T. 2006. Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Program  Penghijauan. Makalah Kuliah Penataran Perencanaan Pembangunan  Pedesaan dan Pertanian. Departemen Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM). Yogyakarta

Odum, E.P. 1998. Dasar-Dasar Ekologi. Tj. Samigan. [Penerjemah]; Srigandono  [Editor]. Terjemahan dari: Fundamental of Ecology. Edisi Ketiga Gajah Mada Press. Yogyakarta.

Soerjani, M, A. Yuwono. 2007. Lingkungan Hidup (The Living Environment). Institut Pendidikan dan Pengembangan Lingkungan (IPPL). Jakarta.

Sugiyono. 2002. Statistika untuk Penelitian. CV Alfabeta. Bandung.

Sule, A., Tjiptasmara, Dadan Suherman, Delinom, R. Ade Tatang, Hehanusa,  P.E., 1988, Potensi dan Kualitas Sumberdaya Air di Hulu Ciliwung. Puslitbang Geoteknologi LIPI. Jakarta.

Sastrawijaya, A. T. 2009. Pencemaran Lingkungan. Penerbit Rineka Cipta.  Jakarta

Sparling, M. 2005. Biological wastewater treatment in warm climate regions, Jilid 1. IWA Publishing.

Tugiyono. 2008. Studi Daya Tampung Beban Pencemaran Air di DAS Way  Seputih. Prosiding Seminar Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Unila. Lampung

One Comment on “Moersidik dan Rahma Widhiasari”

  1. luftan Says:

    Maaf mengganggu, saya luftan mahasiswa s1 teknik pengairan universitas brawijaya. saya mau bertanya tentang qual2kw karena kebetulan tugas akhir saya tentang qual2kw. kalau bapak berkenan apa bisa membantu?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: