Pejuang Ciliwung

Pejuang-Pejuang Ciliwung

  1. Abdul Kodir
  2. Hapsoro

Para Pejuang Ciliwung

Sumber: http://kbr68h.com/12 September 2011 

Sungai Ciliwung di bilangan Condet, Jaktim

KBR68H – Beragam cara dilakukan warga untuk merawat dan melestarikan Sungai Ciliwung. Mereka bekerja tanpa banyak bicara atau menunggu bantuan pemerintah. Seperti yang dilakukan Hapsoro, dari Komunitas Peduli Ciliwung, Bogor. Sejak dua tahun silam, pejuang sosial itu berinisiatif memulung sampah di bantaran sungai. Sementara dari Condet, Jakarta komunitas serupa berupaya menjaga kekayaan flora setempat agar tak tergerus banjir besar Ciliwung. Paguyuban yang dipimpin Abdul Kodir ini, tak bosan menyuarakan keprihatinan atas tercemarnya sungai tersebut. Berikut laporan Reporter KBR68H Taufik Wijaya yang dibawakan Eka Juli.

Pemulung Pelestari Ciliwung 

Cuaca terik Kota Bogor akhir Agustus silam tak menghalangi langkah Hapsoro. Kening lelaki 40 tahun itu mulai basah oleh keringat. Bersama Reporter KBR68H Taufik Wijaya, Koordinator Komunitas Peduli Ciliwung itu berjalan menuju tepi Sungai Ciliwung. Persisnya di Lebak Kantin, Kelurahan Sempur, Kecamatan Bogor Tengah, Jawa Barat.

Musim kemarau membuat volume air Ciliwung menyusut. Batu-batu sungai berbagai ukuran berserakan di bantaran.

Hapsoro. Koord. Komunitas Peduli Ciliwung, Bogor di Sungai Ciliwung Kota Bogor

Meski hanya memakai sandal jepit, Hapsoro tangkas menginjak batu sebagai pijakan.

Sepanjang jalan yang kami lewati, berbagai jenis sampah ditemui. Kondisi Sungai Ciliwung yang tercemar oleh sampah dan limbah pabrik kata Hapsoro, sudah terjadi sejak di hulu.

“Jadi saat kami telusuri Sungai Ciliwung dari titik 0, dari hulunya. Salah satu titik 0 itu di Cagar Alam Telaga Warna, di Puncak Pass. Ternyata gak sampai 1 km, air itu sudah tercemar. Karena sungai itu melewati kebun teh. Ada pestisida, bahan kimia dsb. Dan setelah lewat kebun teh, di kampung pertama, Desa Tugu Utara sudah banyak tumpukan sampah.”

Saban akhir pekan Hapsoro dan rekan-rekannya di KPC memulung sampah. Kegiatan ini dilakoni sejak dua tahun silam.

“Yang ada di hadapan kita saat ini kantong plastik hitam, kulit durian, kulit kelapa, styrofoam, kardus jus, tinggal sebut saja, pasti ada di sini. Supermarket sampah (tertawa). Nah, ini semua sampahnya kita angkat. Kecuali yang organik seperti kulit buah, itu tak diangkat. Jadi yang diangkat seperti plastik, kain, logam misalnya.”

Komunitas Peduli Ciliwung juga menanam benih pohon Beringin dan Nyamplung di bantaran sungai. Kegiatan ini lahir secara spontan. Sebagai warga Kota Bogor, Hapsoro mengaku malu dan prihatin melihat sungainya tercemar.

“Memang jadi aneh karena kaya orang gila sih ngumpulin sampah. Apa memang kita mampu membersihkan sampah itu? Tapi setelah dipikir-pikir lagi gak apa-apa juga. Minimal kan kalau kita membersihkan sampah, kalaupun tidak semuanya. Minimal ada upaya kita membersihkan. Siapa tahu ada yang melihat ada yang mengikuti jejak kita. Jadi dari hal yang sederhana itu akhirnya berjalan.”

KPC menetapkan 11 titik lokasi pemulungan sampah. Mulai dari Kelurahan Katulampa sampai Kelurahan Sukaresmi. Saban Sabtu, KPC bersama warga Bogor yang tergerak hatinya, memunguti sampah secara bergantian.

Tak ada syarat khusus dalam kegiatan sukarela ini. Siapapun boleh ikut. Kembali Hapsoro

“Hanya niat saja. Karena yang kami siapkan itu hanya karung. Selebihnya tak ada. Karena kami tak mempersulit kegiatan memungut sampah ini menjadi kegiatan yang ribet. Misalnya dengan sarung tangan, sepatu bot, dengan alat pengangkut sampah. Kalau ada sepatu bot ya pakai sepatu bot kalau tak ada yang telanjang kaki misalnya seperti itu.”

  Sampah yang mereka pungut lantas dipilah. Selanjutnya diangkut mobil milik Pemerintah Kota Bogor ke tempat pembuangan akhir. Sebelum pemkot membantu, Hapsoro dan rekannya patungan untuk sewa mobil 100 ribu rupiah.

Namun kegiatan mulia KPC ini belum didukung seluruh warga. Hanya segelintir yang mulai sadar pentingnya melestarikan Ciliwung.

Shanty, warga Bogor, “Gak tahu ya. Masing-masing ya. Jadi kesadaran sendiri ya. Ada yang buang sampah di tempatnya. Ada juga yang masih buang sampah di situ.”

Aloy, juga warga Bogor, “Harapan saya jangan putus asa. Kalau bisa seterusnya (aksi mulung sampah). Mungkin sekali warga dikasih contoh liat, gak sadar. Karena sering melihat lama lama akan sadar.”

Pemkot Bogor sampai pemerintah pusat, kritik Hapsoro belum serius memperbaiki Ciliwung. Situasi ini diperparah dengan prilaku warga yang ogah merawat sungainya.

Namun, KPC tak mau bergantung kepada pemerintah. Ia yakin upaya kecil yang mereka lakukan suatu saat dapat menggugah kesadaran warga.

“Kalau ingin melakukan sesuatu perubahan tak usah berpikir bagaimana perubahan itu bisa dilakukan. Ikuti saja kata hati. Kalau bisa melakukan mungut sampah ya mungut sampah. Buat perubahan tak perlu rumit, tak perlu penuh diskusi dan perdebatan. Perubahan bisa dilakukan dengan yang paling sederhana. Seperti ini membersihkan lingkungan. Tak usah berpikir kita tunggu bantuan dari mana-mana.”

Dari wilayah Bogor, pencemaran Sungai Ciliwung mengalir sampai ke Condet, Jakarta Timur. Ceritanya bisa Anda simak sesaat lagi.

Limbah Ciliwung Mengalir di Condet 

Reporter KBR68H Taufik Wijaya tengah menuruni tangga berundak dari tanah di areal Komunitas Ciliwung, Kelurahan Balekambang Condet, Kramat Jati, Jakarta Timur.

Di sekeliling jalan beragam jenis pohon tumbuh lebat. Sebut saja diantaranya pohon cempedak, pisang, dan tentu saja tanaman khas daerah ini, salak.

Abdul Kodir, Pendiri Komunitas Ciliwung Condet Jkt

Setibanya di tanah datar terhampar kebun salak. Dua buah bale bambu berukuran besar ada di sudut kebun. Di atas bale, seorang lelaki duduk bersila tengah berbincang dengan tiga orang.

Nama lengkapnya Abdul Kodir, pendiri Komunitas Ciliwung Condet. Lelaki 40 tahunan itu tengah menemani tamu dari salah satu kelompok pecinta alam. Mereka ingin menanam pohon di bantaran kali, dan berkonsultasi dulu dengan Kodir.

Penanaman pohon di bantaran Ciliwung adalah salah satu program sosial yang dilakukan komunitas ini. Kegiatan lain menjaga kelestarian tanaman lokal yang terancam punah akibat banjir sungai Ciliwung.

Pada 1997 dan 2002, kata Kodir, banjir memusnahkan sebagian tanaman khas daerah ini seperti duren dan salak.

“Kemudian saya mulai merevitalisasi tanah yang terkena banjir, dari sampah dan belukar. Dan kemudian saya bersama teman-teman menyosialisasikan pentingnya menjaga warisan orang tua, titipan orang tua.”

Selain banjir, sampah dan alih fungsi lahan yang mengancam kelestarian Ciliwung, komunitas ini sangat prihatin dengan terus mengalirnya limbah industri.

Sampah di bantaran Ciliwung, Condet, Jaktim

“Tapi kita tak bisa bicara tanpa data. Ini perlu penelusuran. Perlu semacam obeservasi yang lebih mendalam lagi. Karena kita lihat dari hari ke hari tingkat perubahan warna itu sudah jelas sekali. Ini bukan air semata tapi sudah bercampur limbah. Kadang-kadang hitam, kuning, merah. Kita pernah jumpai hal-hal semacam itu.”

Pegiat Komunitas Ciliwung Condet, Sudirman Asun mengajak Taufik Wijaya melihat langsung kondisi air sungai yang diduga tercemar limbah.

Di tepi sungai terlihat ragam jenis sampah mulai dari sampah rumah tangga sampai berangkal sisa bangunan teronggok begitu saja.

Siang itu air Ciliwung tak terlalu deras mengalir. Telunjuk Sudirman lantas menunjukan aliran air yang keruh.

“Ciliwung beberapa hari ini agak hitam warna air sungainya. Kalau tak terkena limbah, warna air jernih. Pagi tadi warna airnya lebih pekat.”

Agar tak diketahui aparat yang berwenang, limbah diduga dibuang pada malam hari.

Akibatnya mudah ditebak. Kerusakan salah satu sungai terbesar di Indonesia itu, semakin parah. Secara sederhana Sudirman, jelaskan indikator alaminya.

“Ini keberadaan cacing merah, sebagai bio indicator bahwa sungai sudah rusak.”

Indikator lainnya kata Abdul Kodir dengan punahnya ikan khas Ciliwung.

“Banyak spesies ikan yang sudah jarang kita lihat. Kalau dulu kita masih sering melihat orang menjala itu dapat ikan Bawung, Lempalung, Tawes, sampai ikan Senggal. Sekarang sudah tak ada. Malah sekarang ikan sapu-sapu yang menjadi raja. Karena dengan kondisi air seperti ini cocok. Dengan tingkat kekeruhan air seperti ini dia cocok hidup.”

Sudirman mengaku masalah pencemaran Ciliwung sudah disampaikan kepada pejabat di Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Jakarta.

“Saya pernah bertemu Rusman Sagala dari Sekretariat Ciliwung Bersih, BPLHD. Saya pernah tagih sudah data-data perusahaan yang diklaim telah ditindak. Tapi dia ngeles, dan beri no telepon atasannya.”

Abdul Kodir mengingatkan pemerintah agar tidak cuek dengan masalah ini.

“Yang sudah jelas ini merugikan semua orang, merusak lingkungan. Kalau memang tujuannya merusak, silahkan ditindak. Pada pihak yang terkait tegakkan semuanya. Tak ada sanksi dan peringatan yang kita lihat. Proses perusakan lingkungan terus terjadi. Ini sudah mati hukum.”

Tentu saja upaya penegakan hukum, harus diimbangi dengan kesadaran warga merawat Ciliwung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: