I. Sandyawan Sumardi

Romo Sandyawan: Membangun Survival Masyarakat

Sumber: http://www.tabloidkampus.com/

Sebagai relawan, hampir separuh usianya dihabiskan untuk membantu korban bencana alam atau tergusur akibat kebijakan pemerintah yang tidak terarah. Keberadaan dan aktifitasnya kini banyak dihabiskan di Sanggar Ciliwung bersama masyarakat sekitar.

Di antara ratusan bangunan semi permanen di bantaran Kali Ciliwung, Kampung Bukit Duri, Jakarta Timur, keberadaan Sanggar Ciliwung terasa sekali manfaatnya bagi masyarakat sekitar. Terbukti saat Tabloid Kampus berkunjung, terlihat beberapa bocah, dengan ditemani seorang pengasuh, asik bermain di lantai bawah. Di lantai dua, beberapa remaja putra dan putri asik dengan aktifitas masing-masing. Ada yang sibuk di depan komputer dan ada juga yang serius membaca di ruang perpustakaan.

“Di Kampung Bukit Duri, rumah ini adalah ruang publik terbesar. Bangunan 7×8 meter ini sering kali digunakan untuk kegiatan masyarakat sekitar. Mulai dari tempat penitipan bocah-bocah kalau pagi karena orang tuanya harus bekerja, tempat belajar, tempat rapat warga sampai posko kalau lagi banjir,” papar Romo.

Keberadaan pemukiman kumuh di tengah kota dan terhimpit gedung-gedung pencakarlangit serta pusat bisnis itu memang kerap menjadi langganan banjir. Maklum saja, selain berada di bantaran kali Ciliwung, dataran di situ juga rendah. Maka, meski Jakarta tidak hujan, jika ada kiriman air dari Bogor, jalanan dan rumah terendam hingga satu meter. Sebagai penduduk yang tinggal di daerah langganan banjir, Romo bersama penduduk setempat akhirnya terbiasa. Dengan kesadaran, mereka berlatih dan membentuk semacam tim regu penolong.

“Kami juga membentuk semacam tim rescue. Jadi kalau banjir datang mereka yang akan memberitahu warga lainnya serta memberikan pertolongan serta mengamankan harta benda masyarakat. Bahkan kalau ada orang kaya atau instansi yang datang memberikan bantuan, mereka juga yang akan mengaturnya. Kadang mereka sendiri tidak mencicipi bantuan tersebut, sebab bantuan itu mereka distribusikan ke kampung lain. Dan itu seperti satu kebanggan tersendiri,” jelas Romo.

Keberadaan tim rescue itu memang terasa manfaatnya. Terbukti, imbuh Romo, mereka telah beberapa kali melakukan aksi solidaritas di daerah bencana dan konflik sosial. Seperti ketika terjadi konflik sosial antara etnis Madura dan Dayak, mereka mengirimkan puluhan relawan serta bantuan lima truk sembako ke Madura. Bukan itu saja, saat terjadi musibah tsunami, mereka juga memberangkatkan tim relawan.

“Waktu tsunami di Aceh kita berangkatkan tim relawan. Setelah pulih dan normal, ada bekas korban tsunami itu datang ke kampung ini dan mereka nangis. Mereka bilang, ternyata dugaan kami salah. Mereka mengira yang menolong mereka orang kaya atau mampu. Tapi waktu melihat keadaan di sini mereka bilang ternyata kehidupan di sini lebih sengsara dari kehidupan mereka dii Aceh sana,” kenang Romo.

Aktifitas Romo di lingkungan masyarakat marjinal bukan terbilang baru. Sejak tahun 1979 dia berpindah-pindah tempat tinggal. Ia pernah membantu pemulung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantar Gebang yang digusur oleh pemerintah DKI. “Saya sengaja tinggal di sini karena saya ingin tahu, bagaimana cara untuk memfasilitasi masyarakat dalam membangun sistem tata bangkit atau bagaimana sistem survival masyarakat di tengah penderitaan dan kesusahan,” ungkapnya.

Dalam satu kesempatan, Romo pernah menguji empati dan reaksi masyarakat di kampungnya. Waktu itu, saat berjalan di pasar Jatinegara dia menjumpai seorang ibu dengan dua orang anak yang masih kecil yang menangis meraung-raung akibat ditinggal bapaknya yang ternyata kawin lagi. Melihat itu, Romo kemudian membawa mereka ke tempat tinggalnya.

“Waktu itu saya ingin tahu, bagaimana warga menthreat orang itu. Ternyata sederhana sekali. Anaknya ditolong, diberi pakaian dan disediakan ruangan,” jelas Romo. Menurutnya, hal itu tidak akan terjadi kalau orang itu dibawa ke gereja yang kaya. Mereka pasti akan dipandang dulu. Paling-paling yang membantu orang suruhan karena orang-orang itu tidak pernah merasakan. “Maka dari itu saya yakin, orang miskinlah yang bisa membantu dirinya sendiri,” tambah Romo.

Menurut Romo, ia kerasan dan dekat dengan mereka di lingkungan marjinal karena masyarakat miskin merupakan pekerja keras yang rajin dan tingkat solidaritasnya tinggi. ”Kalau ada yang mengatakan orang miskin malas saya akan membantah itu. Saya lihat dan rasakan sendiri bagaimana para pemulung di Bantar Gebang. Mereka bekerja memulung sampah yang baunya gak bisa anda bayangkan mulai dari pagi hari dan baru istirahat pagi dini hari berikutnya. Coba kalau orang kaya, jangankan berdiri di atas sampah, mencium baunya aja sudah muntah. Kok sudah begitu dibilang malas kan gak mungkin,” papar Romo.

Lebih lanjut ketika ditanya apa pendapatnya tentang kemiskinan, Romo menjelaskan, “kemiskinan terjadi akibat teralienasinya akses-akses sosial, politik, ekonomi dan budaya masyarakat. Hingga pada akhirnya mereka termarjinalkan dari lingkungannya. Juga sulitnya orang miskin dalam mengakses pendidikan.”

Menurutnya, perlu gerakan agar generasi penerus atau anak-anak yang ada dikampung miskin tidak selamanya terpuruk. Selama ini, pendidikan non formal kebanyakan didanai oleh yayasan/organisasi sosial atau keagamaan. Dana pemerintah hanya dialokasikan pada sekolah yang jelas wujudnya. Padahal pendidikan sekolah dengan kurikulum yang banyak, ternyata tidak sesuai dengan realitas mereka sehari-hari, terang Romo.

Sanggar Ciliwung, tempat Romo Sandy tinggal saat ini juga digunakan untuk sekretariat Paguyuban Warga Anti Penggusuran (Pawang). Ribuan masyarakat korban penggusuran yang ada di sekitar wilayah DKI Jakarta tergabung di organisasi ini untuk mensikapi kebijakan pemerintah. Seperti rencana penggusuran Kampung Bukit Duri untuk dijadikan rumah susun karena kawan tersebut dianggap tidak layak huni. Namun, rencana itu ditolak oleh masyarakat karena rumah tinggal yang rata-rata berukuran 2×3 meter itu selain menjadi tempat tinggal juga dijadikan tempat usaha.

”Coba anda lihat mulai dari gang depan sana, itu bisa anda saksikan bahwa lahan sempit yang dimiliki warga itu yang atas buat tempat tinggal yang bawah menjadi tempat usaha. Ada yang untuk jualan minyak, mengolah hasil pulungan sampai yang hanyut di sungai atau julan kelontong. Nah kalau di bangun rumah susun, bagaimana mereka membayar sewa atau membelinya, lantas bagaimana juga dengan usaha yang menjadi mata pencarian mereka. Jadi rumah susun bukan solusi,” tegas Romo lagi.

Bagi Romo Sandyawan, meringankan penderitaan korban menjadi perjuangan yang tak pernah selesai. Hidup dengan kaum marjinal serta merasakan kesulitan hidup menjadikan perjuangan untuk mengajarkan sikap survive semakin menggelora. Ia yakin, bukan orang lain yang akan menolong kaum seperti mereka, namun mereka sendiri. (tung/sbck)

One Comment on “I. Sandyawan Sumardi”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: