Abdul Kodir

Pencinta Lingkungan dari Condet

Oleh M CLARA WRESTI 

Sumber:  http://nit8nit.multiply.com/ 20 Januari 2009

Dulu, Condet, Jakarta Timur, terkenal akan salak dan dukunya. Kini, kawasan itu dikenal sebagai kawasan yang padat, macet, menjadi pusatnya rumah kos dan penampungan tenaga kerja. Istilah Betawi-nya, semek atau semerawut.

Keputusan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menjadikan Condet sebagai kawasan cagar budaya tahun 1974, ternyata justru mendorong daerah itu kehilangan jati diri sebagai cagar budaya.

Ketika itu, kawasan Condet yang hijau, kantong orang Betawi, dan buah-buahannya yang beragam, memang pantas menjadi pertimbangan pemerintah sebagai cagar budaya. Pemerintah lalu mencegah pembangunan di kawasan ini dengan menerapkan koefisien dasar ruang 80:20. Ruang terbuka hijau 80 persen, sedangkan ruang yang boleh dibangun 20 persen saja.

”Akibatnya harga tanah menjadi murah karena untuk mendapatkan IMB (izin mendirikan bangunan) susah sekali. Orang luar kawasan Condet lalu berduyun-duyun datang,” kata Abdul Kodir, tukang ojek yang peduli pada lingkungan di Condet.

Lelaki yang biasa disapa Diding ini prihatin dengan kondisi Condet belakangan ini, apalagi Sungai Ciliwung yang melintas di kawasan ini juga parah kondisinya. Sampah plastik yang dibuang ke sungai setiap hari bertumpuk di pinggir sungai membuat kawasan Condet semakin kumuh dan tak sehat.

”Ketika saya masih kecil, setiap kali malam takbiran, warga kampung Condet Balekambang melakukan tradisi mandi dan mencuci bersama di sungai. Dengan kondisi sungai yang sakit seperti ini, tradisi itu pun hilang,” ceritanya.

Kawasan Condet telah berkembang menjadi tempat hunian yang padat. Beragam pohon buah-buahan asli Jakarta, yang hingga tahun 1990-an masih memenuhi kawasan ini, makin tersingkir ke pinggir sungai. Di pinggir sungai pun saat banjir melanda, pohon-pohon tersebut tergerus.

Hilangnya pohon salak dan buah-buahan khas Jakarta membuat sarjana pertanian ini merasa khawatir. Dia lalu mengumpulkan satu per satu bibit dan ditanam di halaman rumahnya. Ia tak tertarik bekerja di lapangan kerja formal. Diding justru berkeliling kampung, mencari sesuatu yang khas Condet dan masih bisa diselamatkan. Ia telah mengumpulkan 10 jenis salak yang dulu ada di Condet.

Tak masuk akal

Apa yang dilakukan Diding itu dinilai tak masuk akal oleh orangtuanya, HM Amin (almarhum) dan Hj Sunayah (70-an). Keduanya ingin putra mereka kerja kantoran, apalagi Diding mengantongi ijazah sarjana. Namun, dia malah terjun mengurus tanaman dan membersihkan Sungai Ciliwung. Sesekali, kalau butuh uang, Diding menjadi tukang ojek.

Ia juga mengajak anak-anak di kampungnya belajar tentang tanaman. Tanaman yang mulai langka dia perkenalkan kepada anak-anak. Mereka diajari menanam, merawat tanaman, membersihkan lingkungan, dan mengambil sampah yang menyangkut di sungai.

”Di buku pelajaran mereka diajarkan biji monokotil dan dikotil. Tetapi, biji berkeping tunggal seperti apa? Mereka tak tahu. Nah, di sini mereka tahu seperti apa biji monokotil, contohnya salak, sedangkan yang dikotil seperti nangka,” ujar Diding yang mendirikan Komunitas Ciliwung Condet.
Para murid itu juga dikenalkan pada ekosistem dan hewan yang ada di lingkungannya. Di Condet setidaknya ditemukan 35 jenis burung dan tujuh jenis kelelawar. Ini belum termasuk berbagai jenis ikan dan hewan-hewan kecil lain.

”Namun, ekosistem di Condet banyak yang sudah rusak dan berubah. Dulu, jenis ikan di Sungai Ciliwung banyak sekali, antara lain ada ikan berot, gabus, baung, keting, lele, mas, mase, tawes, lempalung, senggal, julung-julung, sisik melik, dan lopis. Tetapi sekarang, Sungai Ciliwung didominasi ikan sapu-sapu,” kata Diding.

Keberadaan ikan sapu-sapu, yang juga melahap telur-telur ikan jenis lain, membuat ikan jenis lain tersingkir dan hilang. Maka, di aliran Sungai Ciliwung dari kawasan Pasar Rebo hingga ke hilir, dikuasai oleh ikan sapu-sapu. Ikan ini juga merusak dinding sungai karena mereka membuat liang di pinggir sungai. Akibatnya, dinding sungai mudah longsor.

Ikan sapu-sapu itu banyak dijaring warga di sekitar sungai untuk diambil dagingnya. Mereka menjual daging ikan itu dengan harga sekitar Rp 8.000 per kilogram untuk dijadikan penganan berbahan dasar ikan.

”Memperlihatkan pada anak-anak apa yang terjadi di sungai, dari yang tadinya ada, lalu hilang. Dari yang tadinya tidak ada, sekarang menjadi ada. Ini tentu menjadi pelajaran yang berharga,” katanya.

Diskusi

Murid Diding berjumlah sekitar 20 orang. Mereka adalah siswa SD dan SMP di sekitar Condet. Mereka boleh datang kapan saja untuk berdiskusi tentang tanaman dan sungai.

”Dengan menanamkan kecintaan terhadap lingkungan kepada anak-anak, mereka bisa menjadi duta kampanye untuk lingkungan bagi orang-orang di dekatnya,” kata Diding berharap.

Koleksi tanaman Diding sekarang sudah ribuan jenis. Dari salak dengan beragam varietasnya, duku, kemang, sukun, kapuk, melinjo, pucung (kluwek), sampai jengkol. Selain itu, dia masih mempunyai 4.000 bibit salak siap tanam yang tidak tahu akan dia apakan.

”Inginnya, saya tanam di sini, tetapi saya tidak punya lahan lagi. Ini saja saya memakai lahan tetangga di pinggir sungai,” kata Diding yang mengelola lahan seluas 2 hektar itu.

Tetangganya bersedia lahannya dikelola Diding karena lahan itu selalu bersih. ”Kalau lingkungan bersih, warga jadi enggan buang sampah, berarti ini ada yang punya. Tetapi, kalau lahan didiamkan saja, warga tidak merasa bersalah membuang sampah di sungai,” kata anak ketujuh dari 10 bersaudara ini.

Diding mengakui, sampah yang tersangkut di pohon dia bersihkan bersama anak-anak didiknya, lalu dibuang kembali ke sungai. Dia tahu, apa yang dilakukan itu salah. Namun, tak mungkin sampah itu dibuang ke tempat penampungan warga karena jumlahnya sangat banyak. Selain itu, ia juga tak mempunyai alat untuk mengangkut sampah dari sungai lalu naik ke permukiman warga.

Persoalan Condet dari masalah peruntukan lahan, sampah di sungai, hingga ekosistem yang berubah, menjadi keprihatinan buat Diding. Dia berharap, jika semakin banyak orang yang peduli pada lingkungan, ekosistem setempat akan semakin baik, sehat, dan bermanfaat bagi semua penghuninya.

Menjaga Titipan Anak-Cucu

Sumber: http://ip52-214.cbn.net.id/22 Oktober 2007

………..

Di belahan timur Jakarta, Abdul Kodir berjuang mewujudkan impian serupa: menghijaukan bantaran Sungai Ciliwung yang membelah tanah kelahirannya, Condet. Putra asli Betawi ini juga punya cita-cita mengembalikan ke te duhan kawasan Condet yang terkenal dengan pohon salak dan duku. Dia prihatin, kawasan yang ditetapkan sebagai cagar budaya buah-buahan pada 1975 oleh gubernur masa itu, Ali Sadikin, makin tergerus pembangunan gedung.

Lihat saja, sepanjang jalan raya Condet yang salah satu ujungnya berhadap an dengan Pusat Grosir Cililitan penuh dengan bangunan rumah dan toko. Hampir tidak ada lahan kosong tersisa. “Padahal pada 1970-an daerah sini masih hutan dan banyak monyetnya,” kata lelaki 40 tahun ini. Salak condet, yang ditetapkan sebagai maskot Jakarta bersama burung elang bondol, juga makin terkikis. Lahan hijau tinggal tersisa 20 persen dari luas 582.450 hektare luas Condet. “Kasihan nanti anak-anak cuma bisa dengar cerita kelezatan salak dan duku condet,” katanya.

Merasa bertanggung jawab pada ke lestarian alam, pada pertengahan 1990-an Kodir mulai bergerak. Tanah orang tuanya seluas 6.000 meter persegi di Jalan Munggang, Kelurahan Balekembang, persis di bibir Kali Ciliwung, menjadi sasaran eksperimen. Saban hari Kodir keliling kampung, mulai dari Bale Kembang, Batu Ampar, sampai Kampung Te ngah mencari bibit-bibit tanaman khas Condet. Dia juga memetakan daerah mana saja yang masih terdapat galur murni atau bibit tanaman asli salak dan duku condet. Tak jarang dia sampai mengorek-ngorek tempat sampah. “Soalnya, banyak pohon salak berusia ratus an tahun yang tertimbun sampah tapi tetap hidup,” katanya.

Akibatnya, tak sedikit tetangga yang menganggapnya sakit jiwa. “Ibu saya malah sering menangis melihat tingkah laku anaknya yang dianggap kurang kerjaan,” tuturnya. Tapi semangat Kodir tak pernah kendur. Bukan cuma kebun orang tua yang ditanami tapi juga seputar bantaran Kali Ciliwung seluas dua hektare. Itu yang baru dapat dikerjakannya.

Sekarang lahan yang sempat terbengkalai itu menjadi rimbun seperti hutan. Semua tanaman khas Condet termasuk salak, duku, melinjo, dan kluwek, tumbuh subur di sana. Tetangga pun banyak yang betah berlama-lama ngadem. Kontras dengan lahan-lahan di sekitarnya yang kebanyakan jadi tempat penumpuk an sampah.

Nah, soal sampah ini Kodir mengaku pusing. Soalnya sampai sekarang warga masih saja tak peduli. Padahal gara-gara tumpukan sampah yang diguyur hujan, setengah ruas jalan tak jauh dari rumahnya longsor. Aparat kelurahan diam saja. “Jalan longsor hampir setahun itu tak pernah diurus,” kritiknya.

Daripada berharap tanpa hasil, Kodir lebih memilih langsung bertindak. Setiap ada kesempatan mengobrol de ngan tetangga, dia berusaha menularkan kepedulian soal lingkungan. Dia juga sering mengajak anak-anak menyu suri kali sejauh tujuh kilometer, sembari memunguti sampah. Tak lupa dia mengajak anak-anak usia sekolah dasar itu menanam pohon. “Mereka biasanya sangat senang,” kata Kodir, yang bekerja serabutan termasuk jadi tukang ojek motor. Ketertarikan anak-anak terhadap tanaman diharapkan bisa merembet ke orang tua mereka. Kodir pun tak segan memberikan tanaman gratis untuk mere ka bawa pulang.
……….
Nunuy Nurhayati, Bayu Galih Wicaksono

Abdul Kodir, Pelestari Lingkungan di Bantaran Ciliwung 

Sumber: http://berita.liputan6.com/ 01 Februari 2009 

Liputan6.com, Jakarta: Hampir setiap tahun banjir menggenangi permukiman di bantaran Kali Ciliwung. Banjir terjadi lantaran rusaknya lingkungan di bantaran kali karena tak bisa menahan derasnya air kiriman dari Bogor, Jawa Barat. Selain lingkungan, sampah juga dituding jadi penyebab banjir. Warga di sekitar bantaran kali hanya bisa pasrah dan mengeluh.

Tapi tidak bagi Abdul Kodir. Warga asli Jakarta yang tinggal di bantaran kali ini tidak mau berdiam diri. Sudah 13 tahun lamanya Kodir merintis penghijauan di bantaran Kali Ciliwung di kawasan Condet, Balekambang. “Banjir pada 1996 menghancurkan semua tanaman. Hanyut terbawa air dan tertimbun sampah,” kata Kodir.

Pepatah sedikit bicara banyak kerja sepertinya telah melekat pada pria 42 tahun ini. Semua berawal dari niat yang kuat untuk membersihkan dan menghijaukan lingkungannya. Mulanya dari sepetak lahan kini sudah hampir dua hektare bantaran Ciliwung Condet berhasil dihijaukan.

Berkat kerja keras Kodir, kini kawasan Balekambang Condet telah menjelma layaknya hutan buatan di tengah kota. Buah-buahan seperti pisang, salak, pucung, dan duku juga kembali menghiasi kawasan Condet. “Kalau di bantaran sungai, saat ini yang paling ekonomis adalah pisang batu,” ujar Kodir.

Kesadaran lingkungan juga sudah mulai ditularkan pada anak-anak di seputar bantaran Kali Ciliwung. Setiap akhir pekan kawasan hijau ini menjadi ajang belajar anak-anak. Di tempat ini anak-anak diajarkan untuk mencintai lingkungan, mulai dari hal yang kecil, seperti memisahkan sampah. “Cari ilmu dan membantu menanam pohon,” kata salah seorang anak.

Meski telah membuahkan hasil positif usaha Kodir masih belum mendapatkan dukungan dari pemerintah. Mimpi untuk membuat program penghijauan yang lebih besar masih belum bisa terwujud. Memang sangat disayangkan, tapi Kodir masih menyimpan harapan.

Dari segi pendidikan Kodir memang hanya memegang ijazah sekolah menengah atas dan belum mempunyai pekerjaan tetap. Namun langkah kecil yang dilakukukannya telah memberikan hasil besar. Pasrah terhadap bencana banjir yang datang tiap tahun harus dihentikan. Masih ada langkah dan harapan untuk memperbaiki lingkungan.(IAN)

Belajar Mengelola Lingkungan dari Aktivis Ciliwung

Sumber: http://kotahujan.com/  1 October 2011  

Dramaga|Kotahujan.com-Berbicara tentang budaya, maka berbicara pula tentang sejarah, aset keilmuan, flora-fauna, dan masyarakat. Begitu pula jika kita bicara masalah lingkungan, semua eleman tersebut merupakan elemen-elemen yang berkaitan satu dengan yang lain dan menjadi kekuatan bagi elemen tersebut.

“Kegiatan konservasi tidak selaknyaknya meninggalkan faktor yang terkandung dalam lingkungan tersebut, karena merupakan panduan dalam kegiatan perawatan”, tutur Abdul Kodir, aktivis Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) Condet, ditemui usai menjadi pembicara dalam acara MIPA Go Green 2011 IPB, Sabtu (1/10).

Kawasan Condet mempunyai keunggulan flora, yang mempunyai peluang untuk dibudidayakan, tetapi keadan ini terhalang dengan kegiatan revitalisasi alih fungsi lahan yang berkembang saat ini di Jakarta. Keadaan ini membuat Komunitas Peduli Ciliwung Condet bergerak untuk melakukan konservasi pada flora-flora tersebut. Mereka melakukan pengamanan di titik–titik yang masih kaya akan flora. Aksi mereka tersebut merupakan suatu langkah konkret yang dilakukan KPC Condet dalam menjaga lingkungan dibantaran Ciliwung.

Tidak berbeda dengan teman kelompok peduli Ciliwung yang lain, KPC Condet juga melakukan gerakan untuk mengatasi sampah yang berada di bantaran kali Ciliwung. Pembuatan kawasan hijau merupakan suatu cara yang mereka lakukan,agar masyarakat sekitar bantaran sungai enggan dan tidak membuang sampah lagi ke daerah tersebut. Hal ini masih menuai dilema karena KPC Condet harus berpikir keras untuk menemukan tempat pembuangan sampah yang baru. Maka tidak heran pembuangan sampah yang baru masih terkesan liar.

Semua orang harus lebih kreatif untuk mengajak masyarakat dan menitikberatkan pada nilai budaya.

“Saya optimis sungai Cilwung dapat pulih kembali, hanya kesadaran yang dapat diaplikasikan secara konkret yang harus dikuatkan”, tandas tokoh yang akrab disapa Kodir.

Sementara itu, Ketua Panitia Mipa Go Green IPB 2011 Yoyok Hariyanto mengungkapkan, dirinya mengajak semua peserta yang ikut dalam kegiatan ini untuk lebih mencintai lingkungan. Peserta dalam kegiatan ini adalah siswa-siswi SMA dan mahasiswa dari kalangan IPB.

“Untuk hari kedua ini acaranya berbentuk seminar, pembicara dari KPC dan juga dari alumni IPB yang pernah mengikutin Eagle Award untuk film dokumenter tentang lingkungan,” ujarnya di sela acara.
Laporan Kontributor : Rinenggo Siwi dan R Maeilana

Maret 2012

Abdul Kodir, ‘Pendekar’ Konservasi dari Condet 

Written by Safari Sidakaton

Sumber: http://m.tnol.co.id/ 01 Maret 2012 

Semangatnya untuk menjaga lingkungan begitu besar, terutama kawasan konservasi Condet yang dialiri Sungai Ciliwung. Bersama rekan-rekannya, Kodir pun bak ‘pendekar’ yang selalu siaga…

Abdul Kodir menjadi penggagas konservasi kawasan Condet/ Foto-foto: Safari TNOL

BANYAK hal positif yang diperoleh jika melestarikan lingkungan dan menghindarkannya dari berbagai macam kerusakan. Diantaranya adalah hidup nyaman, tanpa harus ketakutan akan terkena berbagai bencana seperti banjir atau polusi udara. Selain itu, lingkungan yang terpelihara juga bisa menjadi ajang belajar bagi siapapun.

Karena, akan terdapat banyak makhluk hidup seperti satwa, tanaman dan lainnya yang hidup di lingkungan tersebut yang bisa dipelajari.

Berbagai macam manfaat inilah yang membuat Abdul Kodir (42), lelaki asli Betawi yang melestarikan kawasan Condet sebagai konservasi alam. Bersama kawan-kawannya, ia juga membentuk komunitas pelestari lingkungan dengan nama Komunitas Ciliwung Condet (KCC) yang dibentuknya pada tahun 2005 lalu.

Dan, hingga saat ini, sedikitnya sudah sepuluh komunitas yang peduli dengan lingkungan bergabung dengan KCC untuk menggelar berbagai kegiatan agar mencintai lingkungan.

Menjaga lingkungan menjadi bagian hidupnya

Setiap harinya, anak ketujuh dari sepuluh bersaudara ini juga selalu bersentuhan dengan berbagai macam tanaman dan buah-buahan yang ada di kawasan Condet yang memiliki luas satu hektar tersebut. Kesibukannya diisi dengan membudidayakan tanaman seperti menanam dan merawat Salak Condet yang pernah menjadi ikon Jakarta.

Ia juga membudidayakan buah duku asli Condet yang mempunyai rasa yang berbeda dengan duku pada umumnya. Buah tersebut memiliki rasa manis yang mencolok, sehingga terasa lezat ketika sampai di lidah. Pohon lain yang dirawatnya adalah pohon pucung yang sudah masuk kategori sebagai pohon langka. Pohon pucung ini, buahnya dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk membuat berbagai macam masakan pindang.

Selain itu, kegiatan lain yang dilakukannya setiap hari adalah memunguti sejumlah sampah yang berserakan di sungai Ciliwung. Biasanya, ketika memunguti sejumlah sampah ia ditemani oleh kawan-kawannya. Dengan menggunakan rakit bambu, setidaknya setiap hari ia bisa mengumpulkan enam kantong sampah yang tertambat dan berserakan di pinggiran sungai Ciliwung.

Mengembangkan tanaman Salak Condet

“Kita melestarikan kawasan Condet karena apa yang menjadi gagasan, isu atau persoalan di dunia semua ada di sini,” ujar Abdul Kodir kepada TNOL, kemarin.

Kodir mengakui, sangat mencintai kawasan Condet karena mewarisi ayahnya Haji Muhammad Nuh (almarhum). Oleh karena itu, ia bersama kakaknya Abdul Basit mengupayakan kawasan Condet harus tetap dilestarikan agar bermanfaat untuk orang lain. Apalagi, tanaman yang ada di kawasan Condet juga memiliki nilai ekonomi yang tinggi untuk masyarakat sekitar.

Dari kesepuluh saudaranya, hanya ia dan Abdul Basitlah yang mewarisi profesi ayahnya sebagai tukang kebun.

“Banyak motif kalau kawasan Condet ini kita lestarikan. Ini bisa menjadi upaya menghidupkan pola-pola bersilatuhrami di masyarakat. Seperti silaturahmi lingkungan sebagai anggota masyarakat. Makanya, ayo kita bangun bareng agar bermafaat untuk semua orang. Karena dari flora dan fauna semuanya ada di sini,” jelas lelaki peraih gelar Sarjana Pertanian dari Universitas Borobudur ini berharap.

Bersama rekan-rekan aktif menjaga lingkungan dan kawasan Condet dari sampah dan kerusakan

Selain itu, sambung Kodir, berbagai makhluk hidup di kawasan Condet jika dikonversikan ke dunia pengetahuan juga akan menjadi bahan kajian tersendiri. Jika ditarik benang merahnya, Condet atau Sungai Ciliwung yang mengalir di kawasan Condet akan mengundang banyak pihak yang ingin mengetahuinya, baik dari sejarah, keilmuan, flora-fauna, lingkungan dan aspek tata air.

Karenanya, berbagai macam mahluk hidup yang berada di kawasan Condet harus diketahui oleh masyarakat umum dan bagaimana mengorientasikannya untuk masa mendatang. Hal itu, diperlukan mengingat kawasan Condet juga merupakan penopang infrastruktur bagi Ibu Kota Jakarta. Upaya yang dilakukannya juga sebagai upaya agar masyarakat lebih bersifat adil, obyektif dalam masing-masing segmen masyarakat.

Pohon Pucung, ikut dibudidayakan

 “Istilahnya kalau kita sudah punya dasar-dasar yang kuat untuk berbicara tentang pengetahuan silakan diberikan ke masyarakat sebagai bentuk edukasi. Kegiatan ini juga sebagai salah satu upaya advokasi lingkungan.

Kita memberikan informasi tentang kondisi sungai, flora fauna yang butuh perhatian siapapun untuk mencari tahu. Kalau dari kalangan akademisi, daya pendukungnya apa yang bisa kita gunakan untuk mengelola itu,” jelas lelaki kelahiran Jakarta, 9 September 1970 ini.

Oleh karena itu, jika sudah mengetahui konsepnya, maka masyarakat Jakarta yang sangat heterogen tersebut bisa saling melengkapi.

Jadi, semuanya harus berorientasi ke lingkungan secara menyeluruh dan dinamis. Sehingga diperlukan keterpaduan, karena dari keterpaduan tersebut nantinya bisa menjadi basis bentuk pengelolaan lingkungan.

Kodir juga mengembangkan tanaman Duku Condet

  Padahal, banyak manfaat jika mengkonservasi kawasan Condet, seperti bisa memberikan berbagai informasi kepada pihak lainnya. Kawasan Condet juga bisa digunakan sebagai ajang saling belajar, karena berbagai pihak yang datang ke kawasan Condet juga akan membawa informasi. Dari informasi tersebut akan dibawa ke luar dengan kemampuan intelektualnya, sehingga, ketika nantinya datang kembali, akan membawa manfaat yang lebih besar bagi masyarakat.

Selain itu, tambahnya, anak-anak dari tingkat pendidikan dasar juga bisa menikmati kawasan Condet dengan bermain, membaca buku dan meriset berbagai tanaman atau makhluk lainnya yang hidup di kawasan Condet.

“Banyak yang kita gagas. Nantinya di kawasan Condet akan membawa manfaat dan saling bersinergi dalam gagasan keilmuan,” tandas Kodir sembari berpesan untuk menyempurnakan hari dengan menanam, menyempurnakan hari dengan lingkungan dengan cara menyiram tanaman. (Sbh)

Ingat, Ciliwung Masih Merana

Sumber: http://megapolitan.kompas.com/ 26 Maret 2012 

Apa yang nyaris tidak berubah di Jakarta? Boleh jadi jawaban yang benar adalah kondisi Sungai Ciliwung. ”Setidaknya sejak saya fokus berkecimpung di Ciliwung, tahun 2005 sampai sekarang, saya tidak melihat perubahan berarti menuju upaya revitalisasi sungai ini secara signifikan,” kata Abdul Kodir (44). Neli triana

Abdul Kodir adalah pencetus gerakan Komunitas Ciliwung Condet (KCC), upaya swadaya masyarakat menumbuhkan kepedulian warga terhadap Sungai Ciliwung untuk bersama-sama menyelamatkannya. Gerakan warga itu berpusat di Pangkalan Bambu, Jalan Munggang, Condet Raya, Jakarta Timur.

Di lahan seluas 7.000 meter persegi yang dikelola KCC tumbuh subur salak asli Condet, duku, pohon pucung (keluwak), dan berbagai tanaman lain. Suara kicauan burung terdengar kapan saja. Kupu-kupu berukuran lebih besar dari telapak tangan orang dewasa, Jumat (23/3), hinggap di salah satu dahan pohon. Menjorok ke bawah sekitar 30 meter, Ciliwung berwarna kehijauan bersih mengalir. Lahan hijau ini jelas pemandangan langka di bantaran Ciliwung.

Sepanjang 30-40 kilometer aliran Ciliwung di Jakarta, sebagian besar bantarannya telah diokupasi untuk berbagai keperluan. Dari permukiman legal dan ilegal hingga pabrik menyesaki tepiannya, bahkan sampai menguruk badan Ciliwung.

Bantaran yang kebetulan tak berpenghuni atau tebing-tebing yang curam jadi sarang sampah.

”Ciliwung sudah jadi tempat pembuangan segala macam kotoran. Sudah menumpuk bertahun-tahun tanpa ada upaya pembersihan, apalagi antisipasi. Lokasi tumpukan sampah yang besar-besar saja di sepanjang Ciliwung ini jumlahnya bisa belasan,” kata Abdul.

Abdul gundah karena meskipun KCC telah menyita banyak perhatian warga dan pemerintah setempat, kalangan swasta, dan masyarakat di luar Jakarta, upaya penyelamatan Ciliwung masih dirasa jalan di tempat.

”Di sekitar lahan hijau KCC ada puluhan ribu meter persegi lahan bantaran yang berpotensi dikembangkan menjadi lahan hijau. Namun, selalu ada halangan untuk memperluas lahan hijau,” katanya.

Abdul juga menyatakan, tidak semua bantaran Ciliwung penuh permukiman padat seperti di Kampung Melayu. Di Condet hingga ke arah hulu Ciliwung di Depok dan Bogor masih banyak bantaran yang belum beralih fungsi dan berpotensi menjadi lahan hijau. Namun, karena kurangnya pengawasan, kecenderungan bantaran berubah menjadi permukiman mulai terjadi.

Di sisi lain, warga yang berminat menanam pohon di bantaran kali pun terhadang Ciliwung yang bisa sewaktu-waktu meluap saat musim hujan tiba. Tak hanya air yang membanjiri bantaran, tetapi juga sampah.

”Harus dibersihin dulu lumpur dan sampahnya yang kotor dan mungkin juga membawa racun. Kalau tidak, tanaman tidak bisa tumbuh lagi. Kondisi ini yang membuat warga ragu bercocok tanam di bantaran Ciliwung,” papar Istohari, relawan KCC.

Selain banjir dan sampah, pemilik terkadang menjadikan lahannya di bantaran sungai sebagai tabungan dan kelak di sana dibangun rumah bagi anak cucunya atau dikontrakkan demi mendapatkan penghasilan.

KCC selama tujuh tahun terakhir bisa mengembangkan lahan hijaunya sendiri karena sebagian besar lahan tersebut milik keluarga Abdul. Ada juga sumbangan dari relawannya.

”Selama ini, saya dan keluarga masih bisa bergantung secara ekonomi dari sumber lain. Selain itu, sudah ada ketetapan dari kami untuk mendedikasikan lahan ini demi Ciliwung yang lebih baik. Namun, saya paham jika warga lain tidak bisa seperti ini,” kata Abdul.

Istohari dan Abdul mengatakan, pemerintah sebenarnya bisa memberikan insentif seperti pengurangan bahkan pembebasan pajak bagi warga yang mau menggunakan lahannya di bantaran sebagai lahan hijau. Abdul juga berangan- angan Dinas Pertanian DKI Jakarta bekerja sama dengan lembaga penelitian profesional dalam upaya menghijaukan tepi Ciliwung.

”Mungkin bisa ditemukan cara agar pohon buah bisa terus berbuah sepanjang tahun. Pohon-pohon khas Ciliwung, seperti pucung, kemang, atau bintaro, bisa dibiakkan lagi. Tentu akan ada nilai ekonomi yang bisa diperhitungkan warga. Saya yakin pelan-pelan keseimbangan alam, termasuk kehilangan 92 persen jenis ikan seperti hasil penelitian LIPI, bisa dipulihkan lagi,” ungkap Abdul.

Alokasi dana yang cukup besar memang dibutuhkan untuk usulan Abdul. Namun, dana itu diyakini akan membawa berkah nyata daripada uang ratusan juta rupiah ludes untuk acara seremonial pejabat naik perahu karet dan bersih-bersih Ciliwung. Padahal, faktanya Ciliwung tetap saja merana.  (ANDY RIZA HIDAYAT)

Abdul Kodir: Selamatkan Salak Condet Segera!

Tabloid Nyata edisi 1908 

Sumber: http://merahituindah.wordpress.com/ 17 Januari  2008 

Spanduk bertuliskan Hutan Pertahanan Akhir Negara yang dibentangkan di tembok rumah penduduk tampak lusuh. Sebuah tanaman rambat menutupi sedikit tulisan itu.

Di atas spanduk itu, tertancap potongan kayu bertuliskan Selamatkan yang Tersisa !!! Sedangkan di bawah spanduk, terbentang sebuah bendera merah putih yang warnanya sudah pendar.

Di samping kiri spanduk, berdiri sebuah green house. Bentuk bangunan ini agak tidak terurus. Dinding yang terbuat dari kain kasa hijau banyak berlobang di sana sini. Plastik polykarbonat yang digunakan untuk atap pun sudah beberapa yang rusak.

Begitu masuk melalui pintu, langsung terlihat sebuah spanduk bertuliskan Wisata Lingkungan Sungai Ciliwung yang dibentangkan di antara tiang besi penyangga bangunan. Spanduk ini pun sudah tampak lusuh.

Di dalam bangunan itu, keadaannya tampak tidak tertata. Kursi dan meja kayu sederhana diletakkan di tengah lantai tanah. Rak-rak kayu yang ditempel menutupi dinding sebelah kiri dipenuhi kotak-kotak dari kayu yang letaknya tak beraturan.

Di dinding kanan, tertempel peta daerah konservasi Indonesia. Di sampingnya, ditempel foto-foto tanaman lokal Condet yang sudah buram. Di samping kanan pintu, sebuah whiteboard tergantung.

Sederhana dan cenderung apa adanya. Itulah markas Wahana Komunitas Lingkungan Hidup (WKLH). Tapi jangan salah. Meski markasnya biasa saja, namun komunitas ini sangatlah luar biasa.

Komunitas ini tak pernah berhenti untuk melestarikan lahan hijau di wilayah Condet, Jakarta Timur. Lahan hijau yang semakin lama semakin habis digantikan perumahan.

Hanya berbekal semangat baja, komunitas ini mengupayakan bantaran Sungai Ciliwung yang membelah daerah Condet menjadi kawasan hutan kecil. Memang belum semuanya, tapi di beberapa titik sepanjang Sungai Ciliwung, tampak banyak pohon berdiri kokoh.

Yang layak diacungi jempol dari sepak terjang komunitas ini adalah penyelamatannya terhadap Salak Condet (Salacca Zalacca). Salah satu jenis tanaman buah yang hampir punah keberadaannya di daerah Condet.

Padahal dulu, daerah Condet sangatlah terkenal dengan hasil buah-buahan terutama Salak dan juga buah duku (Lancium).

Menurut Abdul Kodir (41), salah satu penggagas WKLH, saat ini hanya tinggal 20 % lahan di daerah Balekambang yang ditanami Salak. Di dua kelurahan yang lain, Kampung Tengah dan Batu Ampar malah hanya tinggal segelintir orang yang mempunyai pohon Salak.

Bersama Elang Bondol, Salak Condet menjadi maskot Jakarta dan TransJakarta. Bahkan, keduanya juga menjadi lambang Jakarta Timur. Patungnya pun tegak berdiri di perbatasan Jakarta Timur – Bekasi.

“Sayangnya, kepunahannya sudah mulai ada. Dan tidak ada upaya konstruktif untuk ke sana, baik itu dari LSM atau pemerintah, semuanya tidak mempedulikannya. Makanya ada kemungkina besar akan punah,” ujar Abdul Kodir saat ditemui di markas WKLH, Balekambang, Condet, Jakarta Timur, Rabu (16/1) lalu.

Yang lebih menyedihkan, kini tidak ada lagi, penjual salak yang menjajakan dagangannya di pinggiran Jalan Raya Condet. “Padahal keistimewaannya banyak macemnya,” ucap Abdul Kodir.

Sambil menghisap rokok kreteknya, ingatan lelaki yang megaku bekerja serabutan ini melayang pada saat dirinya kecil. Waktu di mana, daerah Condet masih asri dan teduh. Pohon-pohon besar tumbuh di mana-mana.

“Condet itu kalau seusia saya sekolah sekitar tahun 80-an sangatlah teduh. Setiap saya pergi sekolah itu kanan kiri ya pohon salak. Kebun semua. Bukan hanya salak aja. Istilahnya tumpang sari ya. Ada pohon duku, pucung, melinjo dan banyak lagi,” kenang Abdul Kodir.

Lelaki asli Condet ini menuturkan, setiap pulang sekolah, ia bersama teman-temannya selelu memetik salak langsung dari pohonnya. Abdul Kodir kecil pun bisa bermain-main di antara pohon duku atau pucung. “Saya bahkan bisa naik akar-akar pohon yang banyak tumbuh di sini,” ucap Abdul Kodir.

Saat siang hari yang terik, ia bersama teman-temannya bisa berenang di Sungai Ciliwung yang masih jernih. Ia bisa puas bermain air tanpa takut gatal-gatal.

“Dulu, airnya sangat jernih. Habis makan salak kita biasanya main air di sungai. Bahkan, sungai ini dulu banyak batunya. Jadi banyak yang mandi dan mencuci,” kata Abdul Kodir.

Namun, kenangan itu tinggalah kenangan. Kondisi Condet dahulu lain dengan Condet sekarang. Banyak lahan yang dulu diperuntukkan untuk kebun berganti dengan rumah-rumah.

“Sekarang kalau saya jalan ke luar rumah, kana kirinya sudah rumah semua. Kebun salak sudah minim. Terlebih lagi, Sungai Ciliwung sudah dipenuhi sampah dan airnya pun sudah cokelat,” kata Abdul Kodir.

“Kalau dibiarin dengan kondisi ini, Condet tak jauh beda dengan kota Jakarta lain. Yang banyak perumahan, banyak pemukiman. Condet mempunyai kekhasan tersendiri, dimana tanamannya agak spesifik. Seperti tanaman buah duku dan salak,” jelas Abdul Kodir yang lahir pada 10 September 1967 ini.

“Sekarang ini tanaman yang asli Condet sudah jarang. Malah hampir tidak ada. Yang ada bukan lokal asli. Kalau tanaman umurnya di atas 50 tahun, kemungkina sifat lokalnya masih ada. Yang sudah tidak ada di Condet adalah duren. Salak menyusul,” jelas Abdul Kodir.

Lahan hijau di daerah Condet hanyalah berada di bantaran Sungai Ciliwung. Itupun hanya tersisa sekitar 20%. “Itu pun sudah terpetak-petak. Ada yang hanya 100 m2 atau 200 m2. Kalau dulu kan hamparan. Tidak ada tembok. Batas rumah hanya tanaman,” jelas Abdul Kodir.

Laki-laki yang mengaku masih bujangan ini merasa miris bahwa di masa datang, anak-anak Condet tidak akan tahu bagaimana rasa Salak Condet atau Duku Condet. “Itu lumayan. Nah, kalau anak-anak tidak tahu bentuk pohon salak. Itu kan parah,” terang Abdul Kodir.

Oleh karena itu, Abdul Kodir dibantu teman-temannya berusaha untuk menyelamatkan Salak Condet. Sekitar tahun 1995, Abdul Kodir mengawali dengan merevitalisasi lahan milik orangtuanya seluas kurang lebih 7000 m2.

“Saya tidak mempunyai alasan prinsip yang khusus. Karena yang saya lakukan ini juga dilakukan oleh teman-teman lain. Saya lahir di sini dan tahu kondisi perkembangan di sini. Karena apa yang rasa dan yang saya alami itu sudah banyak perubahan. Dulu jalan keluar aja takut, masih banyak monyet. Pohonnya masih rindang. Kalau sekarang udah tidak ada,” ujar Abdul Kodir.

Lahan yang terletak di bantaran Sungai Ciliwung itu, ia sulap menjadi sebuah perkebunan kecil. Lahan itu ia tanami salak, duku, pucung, gandaria, pisang maupun tanaman rambat.

Dengan sedikit pengetahuannya di bidang pertanian, Abdul Kodir berhasil melakukan budidaya 10 dari 15 varietas Salak Condet. Itu ia lakukan dengan bantuan teman-temannya para pemuda asli Condet.

Budidaya itu bisa dilihat di kebunnya, 10 varietas Salak Condet itu sudah mulai berbuah. Dilihat dari kualitas, Salak Condet tidak jauh dari Salak Pondoh.

Karena hanya dilakukan secara swadaya, perjuangan Abdul Kodir bersama teman-temannya banyak menemui kendala. “Saat itu, kami tidak mempunyai tempat untuk pembibitan,” kenang Abdul Kodir.

Sampai suatu ketika, perjuangannya mulai dikenal oleh masyarakat. Abdul Kodir pun mendapatkan hibah dana untuk pembangunan green house sebagai tempat pembibitan.

Tak hanya itu, Dinas Pertanian DKI Jakarta pun memberikan bantuan material untuk usaha pembibitan. “Tapi itu dulu. Sekarang hampir tidak ada. Saya tidak mengerti kenapa,” ujar Abdul Kodir.

Tapi Abdul Kodir terus berjuang. Ia tidak peduli meski tidak ada yang membantunya. Abdul Kodir yakin usahanya melestarikan Salak Condet akan berhasil.

“Kita sistemnya kerja bakti. Setiap minggu melakukan penggarapan di lahan yang berbeda. Sedikit demi sedikit pasti akan berhasil,” terang Abdul Kodir.

Ada yang menentang? “Kayaknya kalau bicara masalah lingkungan itu tidak ada yang nentang. Semuanya teriak peduli. Tapi pada kenyataannya lingkungan tetap aja rusak. Tidak semuanya disertai tindakan,” ucap Abdul Kodir.

Tanah leluhurnya itu kini sudah sangat rimbun. Hampir tidak ada sinar matahari yang menyentuh tanah. Padahal, di luar cuaca sangatlah panas. “Mending kan di sini. Adem, tidak panas seperti di luar,” ungkapnya bangga.

Tak hanya rimbun, di antara pohon-pohon salak itu, banyak beterbangan capung yang juag sudah sulit ditemui di Jakarta. “Kadang-kadang ada burung atau tupai,” kata Abdul Kodir.

Berbagai usaha untuk mengkampanyekan program tanam pohon dilakukannya. Salah satunya dengan membentuk program Wisata Lingkungan Sungai Ciliwung.

Program ini mengajak anak-anak sekolah untuk lebih mencintai tanaman. Khususnya mencintai tanaman Salak dan Duku Condet. Di lahan milik Abdul Kodir dijadikan semacam outbound training.

Sayangnya, program itu kini tidak terorganisir dengan baik. Sisa-sisa flying fox masih terlihat. Beberapa potongan kayu-kayu persegi panjang yang dulunya dipakai untuk tangga menuju atas pohon masih menempel di batang pohon.

“Kurang dana. Kita masih mengupayakan untuk menjadikan wisata itu hidup lagi. Ini yang sulit, sangat sulit untuk mencari yang peduli. Tapi kita tidak akan menyerah,” ujar Abdul Kodir mantab.

Banjir Besar

Hari menjelang senja, Abdul Kodir masih bercerita. Rokok kretek itu dihisapnya dengan cepat. Keluk asap yang dihembuskannya langsung lenyap ditelan angin.

Ceritanya sampai pada suatu peristiwa yang sempat membuat hatinya terguncang. Sebuah peristiwa yang membuat dirinya menangis. Itu terjadi pada tahun 1996, di mana sebuah banjir besar melanda Jakarta. Condet pun tak luput dari musibah besar itu.

Bantaran Sungai Ciliwung yang melintasi daerah Condet dilibas banjir setinggi dua meter. Hasil jerih payahnya dan juga teman-temannya yang sudah dirintis mereka selama bertahun-tahun terkena imbasnya.

Berbagai tanaman baik buah-buahan maupun perdu yang ditanam Abdul Kodir bersama teman-temannya di sepanjang bantaran Sungai Ciliwung rusak diterjang banjir.

“Banjir itu sudah menghilangkan jerih payah kami. Habis semua itu. Tanamannya tumbang tertimpa lumpur sama sampah. Hati ini sangat nyesek melihatnya. Semuanya lenyap hanya dalam beberapa menit. Padahal sepanjang bantaran sudah kami tanami sebanyak 60%,” terang Abdul Kodir yang mimiknya berubah sedih.

Masalah banjir, menurut Abdul Kodir memang tidak bisa dipisahkan dari penghijauan yang dilakukannya di bantaran Sungai Ciliwung. Abdul Kodir sendiri mencatat telah tiga kali mengalami musibah ini.

“Tahun 1996, tahun 2002 dan tahun 2007. Tapi tidak ada yang mengalahkan perihnya banjir tahun 1996. di dua tahun itu, tanaman salak sudah tidak sebanyak tahun 1996,” ungkap Abdul Kodir.

Dikatakan Abdul Kodir, selain banjir, ada satu hal yang membuat lahan untuk Salak Condet semakin tersisih adalah perkembangan perumahan.

“Lahan yang ada ini kan kebanyakan punya keluarga. Suatu saat kan ada warisan, jual beli. Itu kan repot. Okelah kita tanam dari sekarang. Taruhlah nanti 5 tahun ke depan kita mau bikin rumah. Karena kita tidak mampu beli. Maka lahan yang ada kita gunakan. Itu gimana?” kata Abdul Kodir.

Perkembangan inilah, yang membuat Abdul Kodir kuatir perjuangannya bersama teman-temannya akan segera usai seperti halnya Salak Condet yang mungkin punah.

“Masih kuatir karena pertambahan penduduk semakin pesat. Istilah nilai ekonomi tanah berbeda. Ini ibukota lho. Pertambahan penduduk dari luar, bahkan masyarakat Condet sendiri beranak-pinak. Itu semua membutuhkan lahan. Membutuhkan tempat tinggal. Tidak menutup kemungkinan lahan itu akan habis,” ujar Abdul Kodir.

Lantas apa yang sebaiknya dilakukan? “Yang pertama ya habitatnya harus diselamatkan dulu. Areal khususnya yang terhindar dari ancaman perumahan dan juga banjir. Harus diprotect khusus tidak bisa diganggu gugat,” ucap Abdul Kodir.

“Saya harap pemerintah punya action. Hanya pemerintah yang bisa. Pemerintah punya program yang konstruktif untuk menanggulangi permasalahan-permasalahan ini. Ini yang belum ada,” imbuh Abdul Kodir.

Yang lebih membuat Abdul Kodir heran, dari tahun 1974 sejak daerah Condet diresmikan Ali sadikin, gubernur Jakarta waktu itu menjadi sebuah cagar budaya, malah tidak ada penangganan yang khusus soal kelangsungan Salak Condet.

“Lembaga yang menangani lingkungan kan banyak. Organisasi lingkungan banyak. Masak tidak ada yang peduli dengan Salak Condet. Sejak tahun 1974 lho. Aneh kan?” ucapnya penuh keheranan.

Memang perjuangan Abdul Kodir belum selesai. Ia masih mempunyai impian. Sebuah impian tentang kembalinya kejayaan Salak Condet. Mimpi yang mungkin masih panjang, tanpa adanya peran serta pemerintah untuk melestarikannya.

“Saya ingin, kami ingin Condet menjadi daerah seperti saya kecil. Penuh dengan pohon dan juga penghasil salak dan duku. Sebutan Salak Condet bukan hanya sebatas sebutan tapi ada daerah penghasilnya,” kata Abdul Kodir sambil mematikan rokoknya. /// (dipublikasikan di Tabloid Nyata edisi 1908)

Optimis Jadikan Sungai Ciliwung Objek Wisata

Sumber: http://www.108csr.com/  23 Juni 2011

108CSR.com – Siapa yang tidak kenal dengan Sungai Ciliwung ? Ya, mungkin pada tahun 1970 sungai ini masih bersih dan menjadi sumber utama kebutuhan air bagi masyarakat sekitar untuk sarana mencuci, mandi, bahkan bisa jadi diminum. Namun dengan perkembangan kota yang terus bergerak menjadikan sungai utama dari 13 sungai di Jakarta ini makin tercemar limbah sampah rumah tangga maupun pabrik sehingga terkesan jorok, kumuh, dan berbau. Tapi Komunitas Ciliwung Condet punya cita-cita besar yaitu menciptakan Tahun Kunjungan Wisata Ciliwung 2011.

Komunitas yang dimotori Abdul Kodir Muhammad (44), warga Jalan Munggang No.6, RT 10/RW 04, Condet Balekambang, Kramat Jati, Jakarta Timur, ini mengaku optimis menjadikan sungai Ciliwung menjadi salah satu objek tujuan wisata yang menjadi kebanggaan Jakarta. Meskipun sebagian warga sekitar merasa pesimis cita-cita itu bakal terwujud mengingat Sungai Ciliwung sudah sangat tercemar. Belum lagi, pembangunan di kawasan itu terus berkembang dengan berbagai tawaran cukong tanah yang cukup menjanjikan untuk membangun ruko.

“Untuk mempertahankan kawasan ini tetap hijau dengan jutaan pohon yang masih ada tidak mudah. Pasalnya, masing-masing warga sini kan memiliki kebutuhan hidup yang berbeda-beda. Kami tidak bisa memaksa, hanya beberapa saja yang masih memiliki visi misi sama mempertahankan keasrian kawasan ini. Oleh karena itu, saat ini hanya 2 hektar lahan tersisa yang masih dipenuhi pohon,” jelas pria kelahiran asli Condet 10 September 1967 ini, Kamis (23/06) di kediamannya.

Dengan berbagai upaya bersama pemuda-pemudi Condet yang masih memiliki rasa kepedulian dan kecintaanya terhadap tempat kelahiran mereka di bantaran Sungai Ciliwung untuk terus melestarikannya tetap hijau maka terbentuklah Komunitas Ciliwung Condet yang digagas Abdul Kodir Muhammad dan Budi Setija bersama para pemuda lainnya yang memang tinggal di bantaran sungai Ciliwung.

“Bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 5 Juni lalu, kami menggagas Tahun Kunjungan Wisata Ciliwung 2011. Meskipun ini sebagian orang menganggap mission imposible. Namun, kami optimis bakal terwujud dengan tekat bersama, yang penting bagaimana mengkomunikasikan gagasan ini ke pemerintah maupun stake holder lainnya agar dapat terealisasi,” jelas pria yang masih melajang ini.

Ia menjelaslan, awal Juni lalu, gong pertama Tahun Kunjungan Wisata Ciliwung ditetapkan ditandai dengan menanam pohon produktif di lahan seluas 2 hektar yang masih ditanami pohon salak, dukuh, buni, gandaria, dan sawo kecik ini. Sedangkan, Kodir, demikian sapaan akrabnya memiliki 3000 m2 lahan kosong yang masih dipertahankan ditanami pohon produktif bertepatan berada di sisi Sungai Ciliwung. “Ini adalah tanah keluarga besar, saya hanya diberikan tanggungjawab mengawasi dan mengelolanya saja,” kata Kodir saat mendampingi manajemen Astra Group yang menggelar aksi 1000 tanam pohon di Condet, kemarin.

Selain tetap mempertahankan penghijauan di bantaran Sungai Ciliwung, sambung Kodir, juga aktif mengkampanyekan warga sekitar bantaran sungai untuk tidak membuang sampah di sungai. “Kami juga kerap menggelar kampanye Stop Nyampah di Kali misalnya memberikan pendidikan pada anak-anak melalui dongeng “Si Encus Membuang Sampah di Kali”. “Soalnya daya ingat anak-anak masih sangat kuat. Jadi ketika orang tuanya membuang sampah di sungai maka anak-anaknya bisa mengingatkan, sehingga orangtuanya malu jika membuang sampah lagi di sungai,” jelas pria alumni Universitas Borobudur ini.

Ia memaparkan, keberadaan Sungai Ciliwung mempunyai potensi yang bagus untuk menjadi objek wisata. Meskipun diakuinya banyak pembenahan, khususnya menyingkirkan sampah yang terlanjur memenuhi sungai. Namun dengan kerja keras warga sekitar, pemerintah, dan kepedulian dunia usaha sedikit demi sedikit Sungai Ciliwung yang berada di kawasan Bale Kambang Condet sudah mulai bersih.

Abdul Kodir dengan semangat menceritakan potensi wisata tersembunyi yang ada di Sungai Ciliwung sepanjang hampir 120 kilometer ini yaitu salah satunya adalah olahraga air atau Arung Ciliwung. Olahraga air bisa dilakukan dengan menempuh waktu tiga jam dari tepi Ciliwung di Jalan TB Simatupang hingga ke Kalibata.

“Dengan perahu karet, kano, maupun perahu sampan, kami ajak melihat dari dekat kondisi Sungai Ciliwung dengan pemandangan hutan kebun sepanjang bantaran sungai mulai dari jembatan TB. Simatupang hingga jembatan Kalibata,” katanya.

Selain itu, sambung Kodir, potensi lain yang akan dikembangkan adalah ekowisata misalnya dibuatkan laboratorium pendidikan maupun observasi lingkungan. Paling tidak kawasan Bale Kambang Condet ini bisa didokumentasikan sejarah Ciliwung, tatanan kehidupan warga bantaran kali, maupun di balik sampah-sampahnya itu sendiri bisa menjadi pembelajaran berarti.

”Tidak ketinggalan pula potensi agrowisata-nya. Karena di sini juga menjadi tempat budidaya puluhan tanaman buah lokal, salah satunya salak Condet, dukuh, gandaria, buni, gowok, maupun sawo kecik. Malah dahulu Gubernur DKI Jakarta pertama Ali Sadikin menetapkan Condet sebagai kawasan Cagar Budaya,” jelas Kodir yang masih setia berkebun salak Condet sejak tahun 1990 lalu.

Lebih lanjut diungkapkannya, kuliner khas sepanjang Kali Ciliwung juga bisa menjadi wisata makanan yang tidak kalah dengan lokasi lain. Sebut saja, panganan dodol Betawi, deplak, tape uli, bir pletok, maupun panganan khas Betawi lainnya bisa menjadi daya tarik sendiri saat berwisata alam perkebunan di kawasan Bale Kambang Condet. “Kami juga menyediakan jajanan kuliner yang khas di bantaran Sungai Ciliwung. Bahkan kawasan kebun ini juga bisa dipakai untuk berkemah,” tambah Kodir.

Komunitas Ciliwung Condet yakin betul akan potensi wisata di sepanjang sungai tersebut. Hal itu diungkapkan Purwantari, warga Condet yang juga dari Komunitas Bumi Tanam mengatakan, menjadikan Ciliwung sebagai tempat wisata bisa ikut memulihkan kondisi sungai.

“Inisiatif warga dari sedikit bisa diberdayakan dan disadarkan bahwa ini penting menjaga lingkungan. Selain menambah bersih asri bisa juga dimanfaatkan untuk pemberdayaan masyarakat sekitar setelah nanti banyak warga dari daerah lain berdatangan ke sini untuk berwisata,” jelasnya.

Kendala Sampah

Namun demikian, masalah besar yang harus segera diatasi adalah sampah. Sampah juga yang jadi penyebab banjir ini kerap membuat para Komunitas Condet Ciliwung patah semangat. Apalagi saat banjir bandang pada tahun 2007 lalu, banyak pohon yang baru ditanam hanyut tergerus banjir. Belum lagi lumpur dan sampah bawaan dari hulu.

Belum lagi, warga menilai pemerintah dianggap abai terhadap nasib Ciliwung. Hal itu diungkapkan sesepuh Condet, Haji Sofyan (80) yang mendesak pemerintah untuk ikut bergerak memajukan wisata Ciliwung. “Seharusnya pemerintah yang punya gagasan bukan masyarakat. Kan mereka yang menikmati hasil dari iuran pembangunan. Masyarakat sudah memulai, cobalah dukung upaya warga ini agar terwujud Tahun Kunjungan Wisata Ciliwung 2011 ini,” kata kakek asli warga Condet ini. Namun demikian, Sofyan mengaku pesimistis Ciliwung bisa diubah jadi tempat wisata. Pasalnya, pemerintah berencana membangun jalan di tepian sungai Ciliwung, seperti yang sudah dilakukan di sepanjang Jalan Manggarai, Matraman hingga Kwitang.

Sementara itu Juru Bicara Pemprov DKI Jakarta, Cucu Ahmad Kurnia mengatakan, setelah gagalnya program transportasi air atau waterway pada 2006 lalu, potensi lain dari Ciliwung belum akan digarap. “Sekarang ini kalau Ciliwung belum dipakai untuk objek wisata karena banyak kekurangannya. Seperti tadi sampahnya masih banyak. Kalinya kurang dalam. Kalau pakai rakit kalau airnya tak ada repot juga nyangkut mulu. Kita kan pernah coba dulu, Pak Sutiyoso bikin water way, akhirnya lebih banyak nyangkutnya karena sampah,” kata Cucu.

Kampanye kebersihan Ciliwung 

Saat ini 300 ribu keluarga yang tinggal di bantaran kali. Sebagian besar dari mereka masih menjadikan Sungai Ciliwung sebagai tempat sampah raksasa. Langkah yang akan dilakukan adalah menerapkan sanksi bagi warga yang kedapatan buang sampah ke sungai. Hal itu diungkapkan Kepala Bidang Penegakan Hukum Kantor Lingkungan Hidup (KLH) DKI Jakarta, Ridwan Panjaitan mengatakan, tindakan tegas itu adalah bagian dari program “Stop Nyampah di Kali.

“Kemudian tahun depan rencana kita tak lagi edukasi dan tak lagi hanya sekedar teguran simpatik. Tapi kita akan terapkan perda itu secara utuh. Yang melanggar sanksinya antara Rp 100 ribu sampai Rp 20 juta, dan paling lama kurungan 3 bulan. Katakanlah hanya Rp 100 ribu tetapi hukum itu diterapkan. Kemudian kita sudah melakukan persiapan, masayrakat pemerintah dan dunia usaha. Dari masyarakat tumbuh forum-forum seperti GIBAS, Karang Taruna dan segala macam. Menurut kita, mereka mau melakukan penanganan sampah dan mereka pula yang diharapkan melakukan pengawasan,” kata Ridwan.

Kembali ke Markas Komunitas Ciliwung Condet. Sepanjang Juni ini, langkah-langkah awal Tahun Wisata Ciliwung disiapkan. Jalan masih panjang. Sampah masih menumpuk, banjir masih mengintai, begitu juga persoalan sosial dengan warga yang tinggal di bantaran kali. (jek/joe)

One Comment on “Abdul Kodir”


  1. kalau mai ikutan gabung kegiatan seperti ini gimana ya ?? mhon konfirmasi nya .. terima kasih ..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: