Badri Ismaya

November 2008

Badri Ismaya Penyelamat Hulu Sungai Ciliwung

Sumber:http://www.mediaindonesia.com/ 30 ovember 2008   

SEPAK terjang Badri Ismaya dimulai pada 1975. Pada waktu itu, ia masih berusia 25 tahun dan baru saja menikah. Akibat desakan kebutuhan ekonomi, ia memulai hidupnya sebagai seorang penebang liar di hutan sekitar Cisarua, Bogor.

Sejak saat itu, ia bersama seorang rekannya, rutin menebang pohon dan mencuri kayu di hutan. Dalam sebulan, dengan peralatan seadanya, satu hinga dua pohon ditebangnya dan dijual kepada penampung.

Pada suatu Jumíat di akhir 1979, Badri dan rekannya menjalankan aktifitas seperti biasa, mencuri kayu. Ia yang beragama Islam seharusnya melaksanakan shalat Jumíat berjamaah di masjid. Namun, ia justru memilih tetap mencuri kayu di hutan. Pada pukul 12 siang, Badri dan temannya menurunkan kayu yang telah mereka tebang. Di dalam perjalanan, setetes air jatuh ke kepalanya dan langkah Badri pun terhenti.

“Airnya memang setetes, tapi membuat badan saya segar dan letih saya hilang. Saya heran, dari mana air itu jatuh. Ternyata dari akar pohon. Saya lalu merenung hingga pukul 5 sore di tempat itu. Lalu saya sadar, pohon adalah sumber kehidupan. Kayu yang saya bawa, saya buang ke jurang. Sejak saat itu, saya bertekad akan menanam pohon di manapun,” kenang Badri.

Sejak saat itu, Badri benarbenar membuktikan tekadnya. Ia dan rekannya tidak pernah kembali ke hutan untuk menebang kayu. Setiap harinya, Badri menyempatkan diri untuk menanam pohon di sepanjang hulu sungai Ciliwung.

Pada 1980, hulu sungai Ciliwung yang yang dimulai dari Kampung Telaga, Cisarua, Bogor sangatlah gersang. Tidak ada pohon besar di sepanjang sungai. ‘’Saya berpikir, jika tidak saya tanami, maka tidak lama lagi kekeringan dan erosi serta banjir akan benar-benar terjadi. Itulah mengapa saya menanam di sepanjang daerah aliran sungai Ciliwung. Alhamdulillah, sekarang hulu sungai Ciliwung terlihat hijau,” ujar Badri kepada Media Indonesia sambil menunjukkan hulu sungai Ciliwung yang membelah Jakarta.

Perjuangan Badri bukannya tanpa tantangan. Di awal-awal pengabdiannya, setiap pohon yang ia tanam selalu dicabut oleh pemilik tanah. Sebab, Badri menanam di mana saja, walaupun itu bukanlah tanah miliknya. Asalkan di sekitar sungai dan tandus, langsung ia tanami. Namun Badri tidak pernah putus asa. Setiap kali pohon yang ia tanam dicabut, setiap kali pula ia menanam kembali. “Malahan yang putus asa yang mencabut tadi. Ia capek dan akhirnya membiarkan pohon yang saya tanam tumbuh.”

Pohon yang ditanam di sepanjang sungai Ciliwung umumnya adalah kayu manis, cemara dan pinus. Namun ada juga pohon yang menghasilkan buah seper ti alpukat dan sirsak. Benih dari pohon yang ia tanam awalnya disemai sendiri di rumahnya. Setelah cukup besar barulah dipindahkan ke sekitar sungai.

Setelah sukses di sekitar kawasan Cisarua, Badri mulai menanam ke tempat yang lebih jauh. Namun tetap fokus di sepanjang sungai Ciliwung. Sampai saat ini, Badri telah menanam hingga keperbatasan Depok, Jawa Barat.

Saat ini Badri lebih mudah mendapatkan bibit pohon. Pemerintah sangat membantu dalam hal bibit. Tapi tantangannya tetap ada. Dia pernah diancam preman ketika menanam di daerah Cibinong, Bogor.

Mereka mengancam Badri dengan pisau agar jangan menanam di situ. ‘‘Saya katakan, silahkan saja bunuh saya. Saya akan tetap menanam pohon. Mati hanya sekali dan nyawa milik Allah, bukan preman. Akhirnya mereka yang pergi,” kata Badri Kendala yang paling utama dalam menghijaukan daerah aliran Sungai Ciliwung adalah besarnya pengaruh uang. Para pemilik modal dari Jakarta datang berbondong-bondong ke Bogor dan membangun vila, rumah atau tempat penginapan di sekitar sungai. Anehnya, pihak pemerintah sendiri seperti membiarkan hal itu terjadi.

Dia pernah dipukul gara-gara menggagalkan transaksi jual beli tanah di sekitar Tugu Utara, Cisarua, Bogor. Kepada calon pembeli, Badri mengatakan izin mendirikan bangunan (IMB) tidak akan dikeluarkan untuk tanah itu. Makelarnya marah, lalu dia dipukuli hingga babak belur.

‘‘Tapi saya tidak marah dan tidak lapor polisi. Memang butuh waktu untuk membuat msyarakat sadar akan linkungan.”

Selain menanam, Badri juga memberi penyuluhan kepada siapapun tentang lingkungan. Bahkan rumahnya dijadikan sebagai tempat penyuluhan. Tidak sedikit mahasiswa S2 dan S3, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, mengadakan penelitian di tempat Badri. Terutama mengenai pengukuran debit air sungai dan pengaruh pohon terhadap erosi dan lainnya.

‘Murid-murid’nya dari berbagai kalangan. Dari petani sampai Doktor. Tidak sedikit juga dari luar negeri. ‘‘Saya juga pernah diajak untuk tinggal di Malaysia dan menerapkan ilmu saya di sana, tapi saya tidak mau. Padahal gajinya sampai puluhan juta.”

Saat ini Badri hanya berharap, pemerintah benar-benar menegakkan hukum. Daerah aliran sungai seharusnya dibersihkan dari bangunan dan perkebunan. Itu bukan tidak mungkin dilakukan. Jika itu tidak dilakukan, setiap tahun, banjir di Jakarta dan sekitarnya akan semakin tinggi. Cadangan air bersih juga akan semakin sulit didapat. Kalau Pemerintah tidak serius, maka tinggal tunggu waktunya.

“Saya sudah sampaikan ini ke DPR, Gubernur DKI, Menteri bahkan Presiden. Tapi belum ada perubahan”. (M-2)

andrian@mediaindonesia.com

Menjadi Petani Ramah Lingkungan

SETELAH memutuskan untuk tidak lagi menebang dan mencuri kayu di hutan, Badri kemudian beralih menjadi seorang petani. Tanpa bekal ilmu dan uang, ia bertekad memulai hidup dengan bercocok tanam. Badri lalu menukarkan celananya dengan bibit sayuran. Ia bercocok tanam di lahan-lahan kosong yang bukan miliknya.

“Selama saya mencuri kayu, terbukti saya tidak kaya. Saya tidak punya tanah dan rumah hanya menumpang. Saya punya dua celana hitam yang kemudian saya tukar dengan bibit sayuran. Sejak itu saya belajar bercocok tanam,” kenang kakek dari 4 cucu itu.

Guna memenuhi kebutuhan sehari-harinya, ia mencari kayu bekas pohon teh untuk dijual sebagai kayu bakar. Pekerjaan menjual kayu bakar dijalaninya selama 10 tahun. Namun di selasela pekerjaannya, ia tetap menanami daerah aliran sungai Ciliwung dengan berbagai pohon.

“Saya juga pernah menjadi kuli bangunan di Padang, Sumatra Barat. Saya menjadi kuli hanya untuk membeli televisi dan aki (baterai cair). Sebab anak saya pernah diusir ketika menonton televisi di rumah tetangga. Saya bertekad, saya harus bisa membeli televisi untuk anak saya. Setelah uangnya terkumpul, saya kembali ke Bogor dan menjadi petani lagi”.

Profesinya sebagai petani tidak dijalani dengan setengah hati. Berbagai upaya ia lakukan untuk meningkatkan produk pertaniannya. Hingga pada suatu ketika, berbagai pupuk dan obat-obatan ia beli agar hasilnya meningkat.  Hasilnya, bukan produksinya yang meningkat, buruh taninya terkena iritasi kulit yang akut.

Sejak saat itu, Badri tidak pernah lagi menggunakan bahan kimia untuk pertaniannya. Ia mulai belajar membuat kompos dan insektisida alami dari tumbuhtumbuhan. Ia juga mengampanyekan penggunaan kompos kepada petani-petani lain. Sekarang, ia menjadi salah satu produsen kompos di wilayahnya.

“Saya pernah diteror dan diancam karena mengampanyekan penggunaan kompos kepada petani. Akibat kampanye saya, penjualan pupuk dan obat-obatan kimia untuk pertanian di wilayah saya menurun drastis. Tapi saya tidak perduli. Sebab kompos sama sekali tidak merusak alam dan baik untuk kesehatan,” ungkap Badri.

Selain itu, Badri juga berhasil membudidaya jamur di daerahnya. Dari hasil budidaya jamur tersebut, Badri sukses meningkatkan ekonomi masyarakat. Saat ini, terdapat 130 petani hidup dari budidaya jamur.

“Saya pertama sekali melihat dari televisi. Itu sekitar 1990-an. Saya coba-coba tapi gagal. Kemudian sekitar 1995, saya mendengar di Kuningan, Jawa Barat, terdapat sentra budidaya jamur. Saya ke sana dan belajar. Lalu saya kembangkan di daerah saya. Sekarang daerah saya malah menjadi sentra budidaya jamur”.

Ilmu yang dimiliki Badri tidak hanya dikembangkan di wilayahnya saja. Tidak sedikit, petanipetani dari berbagai daerah datang untuk belajar dan menginap di rumahnya. Semua itu dilakukan tanpa memungut biaya.

(Hnd/M-2) 

Desember 2008

Badri Relawan Konservasi Cilwung Hadiri BUMN Tanam Pohon

Sumber:  http://p3bjawabali.pln.co.id/19 Desember 2008 

Jika diamati pada Kegiatan BUMN Jabar dan Banten Tanam Pohon yang digelar di Pinggir jalan tol Cipularang km 103, Kamis Pagi (18/12) ada seorang berkaos hijau dengan penampilan sederhana duduk dideretan depan bangku undangan. Duduk bersebelahan dengan Dirut Jasa Marga Frans S. Sunito, pria paruh baya sejak awal acara selalu mendapat ucapan selamat dari para direktur BUMN. Deputi Meneg BUMN Agus Pakpahan disela-sela persiapan acara juga asyik berdiskusi dengan pria ini. Dia adalah Badri,Relawan Koservasi alam. Yang dengan modalnya sendiri berusaha menghijaukan Derah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung.

Ketika ditanya Frans, Badri menyebutkan dirinya mampu menanam sebanyak 200 pohon setiap hari. Jika dihitung-hitung sudah jutaan bibit tanam ditanamnya disepanjang kali Ciliwung.

Badri pernah tampil di program Kickandy yang ditayangkan Metro TV pada tanggal 28 November lalu. (bias diakses di http://www.kickandy.com) episode “Hutan Riwaratmu Kini”. Diceritakan, Badri adalah seorang penjarah hutan, yang bertahun-tahun menghidupi keluarganya dengan menebang pohon di hutan dan menjual kayu-kayunya ke pasaran. Itu masa dulu, karena kini perkerjaannya sudah 180 derajat berubah. Badri kini sudah menjelma menjadi seorang penyelamat lingkungan dan mengabdikan diri untuk penghijauan dan pelestarian alam. Hingga kini ia telah berhasil menghijaukan tanah di sekitar sungai Ciliwung. Apa yang menyebabkan seorang penjarah bisa jadi penyelamat lingkungan?

“Saat saya mencuri kayu di siang bolong, tiba-tiba setetes air jatuh menimpa kepala. Dari situ saya sadar bahwa pohon itu sumber air,” ujar Penjarah yang pernah kabur dari kejaran polisi ini.

Dari pengalamanlah kemudian Badri menjadi sangat memahami tentang konservasi alam. Dan ia menularkan ilmunya dengan berbagai kalangan yang sering datang mengunjungi rumahnya.

Satu hal yang patut dicatat, beberapa kali Badri mendapat tawaran untuk tinggal di luar negeri memajukan pertanian di Negara Malaysia, Perancis dan Korea. Namun ia menolaknya. “Saya masih harus menjaga lingkungan di Indonesia ini,” tegasnya.

Kegiatan BUMN tanam Pohon diikuti 20 BUMN se Jawa Barat dan Banten. Diantara BUMN yang turut serta adalah PT KAI, PT Jasa Marga, PLN, PTP VIII, Perhutani, Pindad, Angkasa Pura dan Bio Farma.

Nampak hadir dan memberikan sambutan, Bupati Bandung Barat Abu Bakar dan Muspida setempat. Dari PLN diwakili Deputi Direktur PLN pada Direktorat Kontraksi dan Strategis Hengky Wibowo (mewakili Dirut PLN), GM PLN P3B JB Nur Pamudji, Manajer Bidang Umum PLN P3B JB Affandi dan Manajer RJBR Jemjem Kurnaen. Sebanyak 50 pohon ditanam pada acara tersebut dari 2000 pohon yang akan menghijaukan tol Cipularang.

Pada acara yang juga dihadiri Deputi Meneg BUMN Agus Pakpahan ditanam sebanyak 1200 pohon.

Badri Ismaya, dari Pembalak Liar ke Pecinta Lingkungan

Sadar setelah Setetes Air Jatuh di Kepalanya

Radar Bogor,  24 Desember 2008

Sumber: http://www.mail-archive.com/ 

Pada 2002, Badri Ismaya menerima apresiasi istimewa dari presiden dan  dianugerahi penghargaan Kalpataru sebagai sosok yang peduli terhadap kelestarian lingkungan. Bogor pun ikut harum di kancah nasional. Siapakah Badri Ismaya itu?

SELAIN Frans Manansang, Au Bintoro dan Elang Gumilang, Badri Ismaya  menjadi salah seorang yang mendapat penghargaan Radar Bogor Urang  Bogor Boga Prestasi pada HUT ke-10 Radar Bogor. Malam penghargaan  Radar Bogor di IPB International Convention Centre (IICC), Rabu  (17/12) malam lalu menjadi salah satu bukti kepedulian Radar Bogor terhadap Badri Ismaya yang sudah mengharumkan Bogor.

Eksistensi dan konsistensinya terhadap pelestarian lingkungan hidup  dan penghijauan tetap terjaga hingga sekarang. Badri mempunyai cerita  yang cukup panjang dan berliku. Badri bahkan tidak pernah bermimpi  menjadi seorang pelestari lingkungan karena dulu seorang pembalak liar.

Rumahnya sekarang seperti rumah pohon. Ada ratusan jenis bibit jamur  dan pepohonan yang berjejer hingga menghiasi jalanan. Kediaman Badri berada di tengah-tengah pegunungan teh Gunung Mas Puncak.

Rumah mungil di Kampung Kaliwung Kalimuncar Desa Tugu Utara Kecamatan  Cisarua Kabupaten Bogor itu menjadi saksi bisu perjuangannya  melestarikan lingkungan. Di kampung itulah Badri berjuang memerangi  pembabatan hutan dengan melakukan penghijauan di sepanjang daerah  aliran sungai (DAS), khususnya Sungai Ciliwung. “Padahal dulu saya ini  tukang nyuri kayu di hutan, kalau istilah sekarang mah pembalak liar,” katanya mengenang.

Masa lalunya memang kontras dengan sekarang. Dulu sekitar 1975 saat  usianya 25 tahun dan baru saja menikah, Badri muda menjadi pembalak liar di hutan-hutan Bogor demi mencukupi kebutuhan hidupnya.

Itu adalah saat-saat kelam Badri menjalani kehidupan. Kakek bercucu  empat itu menjadi jagoan di hutan belantara. Bersama rekan-rekannya membabat pepohonan alias mencuri dan merusak lingkungan hidup.

Dalam sebulan Badri bisa membabat puluhan pohon dengan peralatan  seadanya, seperti kampak dan golok. Lalu, dijual dan uangnya untuk  kehidupan sehari-hari. “Pohon-pohon itu kan milik semua orang, sebab  tumbuh dengan sendirinya karena tidak ada yang merawat hutan. Itu pendapat saya saat itu,” sambungnya.

Profesinya sebagai pembalak liar makin menjadi, entah sudah berapa  banyak pohon yang ditebang. Sampai akhirnya Tuhan menunjukkan suatu  pertanda yang tidak akan pernah dilupakan seumur hidup. Saat itu, kata  dia, tepat Jumat, 6 Oktober 1979, saat orang lain salat Jumat dirinya malah mencuri kayu.

Tapi itulah awal dari semuanya. Pukul 12:00 WIB di pundaknya ada  sebatang pohon yang baru saja dicuri. Dalam perjalanan tiba-tiba  setetes air jatuh ke kepalanya. Saat itu pula Badri terhentak dan terdiam.

Saat matahari bersinar terik dan tepat berada di atas kepala ada  kesejukan dan kesegaran yang dirasakannya dari percikan air itu, rasa  letihnya seketika hilang. “Saya sempat tertegun dan heran darimana air  itu bisa jatuh. Setelah saya perhatiakn air itu ternyata keluar dari akan pohon yang saya curi,” ungkapnya.

Kejadian dan rupanya sangat membekas. Badri merenung hingga sore hari  memikirkan apa yang sudah dirasakannya dan tersadar pohon adalah  sumber kehidupan. “Kayu yang saya bawa langsung dibuang. Sejak saat itu, bertekad akan menanam pohon di manapun. Alhamdulillah saya  mendapat penghargaan dari presdien dan menerima Kalpataru tahun 2002 lalu,” ujarnya.

Saat ini, entah sudah berapa banyak pohon dan berapa luas lahan yang  sudah dihijaukan Badri. Menanam pohon jadi hobi dan kebiasaannya  setiap hari. “Sekarang saya selalu menyempatkan waktu untuk menanam  pohon di sepanjang Sungai Ciliwung dari hulu sampai hilir. Sekarang  saya semakin tahu bahwa selalu ada hikmah di balik sebuah pristiwa. Kita harus banyak berenung dan berpikir,” kata Badri.

Setiap hari Minggu sanga kakek ini mempunyai kesibukan mengajak anak-anak SD untuk menanam pohon demi pelestarian alam. Cikal bakal  perjuangan sang ayah pun rupanya menurun ke anak-anaknya. Bukan saja Badri yang suka menanam pohon tapi juga anak-anaknya.(*)  (Hendra Sudrajat )

Januari 2009

Menanam untuk Sempurnakan Hari

Oleh Ratih P Sudarsono;  Kompas, 19 Januari 2009  

Sumber: http://permalink.gmane.org/  

”Untuk menanam pohon itu, terutama yang diperlukan adalah niat orangnya. Di mana saja, sebenarnya kita dapat menanam. Perhatikan  sekitar rumah atau lingkungan kita, pasti ada tempat untuk ditanami pohon,” kata Badri Ismaya.

Badri Ismaya adalah pelopor penghijauan di lereng- lereng bukit di  kawasan Puncak yang rusak akibat penjarahan besar- besaran pada awal  era reformasi tahun 1998. Warga Kampung Caringin, Desa Tugu Utara,  Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, ini nyaris setiap hari  ke luar dari rumah. Ia berkelana dari satu lereng ke lereng lain untuk menanam pohon.

Bagi laki-laki berkulit gelap ini menanam adalah hal yang mudah. Ia  hanya perlu berbekal ”senjata” kecil yang disebutnya coredan. Dengan  coredan, Badri membuat lubang kecil di tanah dan merobek kantung  plastik (polybag) berisi bibit. Bibit pohon itu lalu ditekannya hingga  melesak masuk ke dalam lubang. Tangan sedikit kotor, tetapi itu juga  bagian dari asyiknya menanam. ”Sehari saya menanam sepuluh pohon, lama-lama lahan terbuka itu ketutup juga,” katanya.

Demikianlah yang dipraktikkan Badri dalam keseharian hidupnya. Dia  terus menanam pohon sejak 1975. Badri akan merasa pusing dan tak  sempurna menjalani hari jika ia tidak menanam pohon. Bahkan, ketika dia benar-benar sakit, menanam pohon adalah obatnya.

Ke mana pun pergi, ketika diundang desa tetangga atau institusi lain  sebagai pembicara, Badri sengaja membawa bibit pohon untuk ditanam di  tempat itu. Ia bahkan memiliki peta kawasan penanaman pohon, hasil dari penjelajahannya di sekitar Puncak saat menghijaukan lahan rusak.

”Semoga Allah memberi saya panjang umur dengan badan sehat. Masih  banyak lokasi di Cisarua ini yang ingin saya tanami. Anak bungsu saya  kayaknya mengikuti jejak saya, dia suka menanam. Dia suka menemani  saya menanam. Kadang dia pergi sendiri membawa bibit, entah menanam di mana,” katanya.

Ia merasa bersyukur, masalah penghijauan tidak asing lagi bagi  masyarakat meski tingkat partisipasinya masih rendah. Menurut Badri,  pada acara seremonial gerakan menanam akan lebih bermakna jika para  tokoh panutan masyarakat benar-benar memperlihatkan cara menanam, mulai dari menggali lubang sampai menutup bibit pohon dengan tanah.

”Kalau sekarang kan lubang sudah disediakan, bahkan sekitar lubang  diberi karpet agar sepatunya tidak kotor. Bukan begitu mencontohkan cara menanam,” katanya.

Namun, Badri tak mau menyalahkan. Ia justru berusaha memahami dengan  berpikir mungkin proses kesadaran menanam saat ini baru sebatas  seremonial. Ia yakin suatu saat nanti menanam akan menjadi kebiasaan masyarakat.

Ini sama seperti proses panjang yang Badri alami sampai dia dikenal  sebagai penyelamat lingkungan hulu Sungai Ciliwung dan mendapat berbagai penghargaan atas usahanya melestarikan lingkungan.

Ditegur pohon

Badri bertutur, ia pernah jadi perusak hutan kawasan Puncak. Dulu,  demi menghidupi keluarga, ia bersama beberapa teman suka masuk hutan  dan menebangi pohon untuk dicuri kayunya. Semua itu dilakoninya tahun 1975-1979 sehingga ratusan pohon musnah di tangannya.

Dia berhenti merusak alam setelah mendapat teguran halus dari ”korbannya”, sebatang pohon yang ditebangnya pada Jumat, 6 Oktober 1979. Pada tengah hari bolong itu, Badri seharusnya melaksanakan shalat Jumat, tetapi ia justru sibuk menebang pohon.

”Setetes air jatuh di kepala saya. Hanya setetes, tetapi membuat badan  saya segar. Keletihan saya menebang dan memikul kayu langsung hilang.  Saya cari-cari dari mana asal tetes air itu, ternyata dari akar pohon  yang saya tebang. Saya terkejut. Saya duduk terdiam, merenungkan tetes air itu,” tuturnya.

Sejak Jumat itu dia menjadi gundah. Selama satu tahun kemudian, Badri  masuk-keluar hutan sekadar membuktikan bahwa pohon benar-benar  menyimpan air. Ia korek bagian bawah pohon untuk menemukan akarnya.  Dia potong sedikit akar itu untuk melihat air yang keluar dari ujung akar yang terpotong.

”Akar-akar itu memang mengeluarkan air. Ada yang sedikit, ada yang  banyak. Saya tampung air yang keluar dari akar dengan kantung plastik.  Sejak tahun itu pula saya berjanji tidak lagi menebang pohon dan akan  terus menanam pohon sampai ajal menjemput,” kata laki-laki yang memiliki empat anak dan tiga cucu ini.

Keputusan Badri itu tentu saja mendatangkan masalah. Dahlia, sang  istri, sempat marah karena penghasilan Badri menjadi tak efektif untuk  membiayai rumah tangga. Bukan itu saja, Badri juga kerap dianiaya  biong (spekulan) tanah dan para penjaga keamanan vila-vila di kawasan  Cisarua. Sebab, dia akan menanam pohon apa saja di lahan kosong atau  telantar yang ternyata ”milik” atau diincar biong tanah. Bahkan, Badri pernah disekap di pos keamanan sebuah vila.

Namun, Badri tak kapok. Lambat laun, setiap orang di sekitar dia, yang  dulu memusuhi dan keberatan dengan pilihan hidupnya, belakangan ini justru menggebu-gebu dukungannya.

Ia sering mendapat kiriman buah yang ternyata hasil dari pohon yang  bertahun-tahun lalu ditanamnya. Dari menanam jamur merang, ia mendapat  kucuran rezeki. Kebahagiaan pada usia senjanya ini ditambah dengan  lulusnya dua dari empat anaknya sebagai sarjana komputer dan sarjana kimia.

”Saya tidak pernah memaksa orang lain untuk menanam pohon. Saya hanya  ingin menanam pohon sebab saya yakin pohon adalah sumber kehidupan.  Saya ingin menyempurnakan hari-hari yang saya jalani ini dengan menanam pohon, sesuai janji kepada Tuhan,” katanya.

Sumur resapan

Selain menjadi pelopor penanam pohon di lahan kritis sekitar Cisarua,  Badri juga yang memulai pembuatan dan penggunaan sumur resapan di  kawasan itu. Sekitar 1985, saluran air yang berada di sisi jalan di atas kampung tersumbat. Airnya membanjiri rumah Badri.

Ia lalu berinisiatif membuat lubang di halaman rumah dan diisinya  dengan bebatuan, ijuk, dan material lain. Air buangan selokan dia  arahkan masuk ke sumur resapan tersebut. Setelah itu, banjir tak datang lagi.

”Sejak itu mulailah para tetangga ikut membuat (sumur resapan). Saya  juga sering dipanggil ke daerah lain, seperti Jakarta sampai  Palembang. Saya diundang untuk bicara di Malaysia dan Singapura tahun  2001, juga ke Filipina pada 2005,” kata Badri yang senang berbagi pengalaman dengan siapa pun yang menginginkannya. (NELI TRIANA/ J WASKITA UTAMA)

Badri 

 Oleh:Goenawan Mohamad 

 Sumber: http://majalah.tempointeraktif.com/ 26 Januari 2009 

Setitik air menetes ke kepalanya, dan sejak saat itu Badri seakan-akan dilahirkan kembali. Ia jadi seseorang yang baru.

Kisahnya saya baca dalam Kompas 19 Januari yang lalu. Kisah itu membuat saya percaya bahwa ja-ngan-jangan ada mukjizat, kata lain dari sesuatu yang menakjubkan. Mukjizat dalam versi ini tak datang ke dunia secara spektakuler. Ia menyusup dalam berkas-berkas kecil.

Badri tinggal di sebuah kampung yang merupakan bagian dari Desa Tugu Utara, di Kecamatan Cisarua, Bogor. Bertahun-tahun lamanya, lelaki yang kini berumur 60 tahun itu jadi tukang babat hutan. Bersama beberapa temannya, ia keluar-masuk kawasan Puncak yang waktu itu rimbun dan sejuk. Dengan gergaji dan parang mereka tebangi pohon-pohon untuk dipotong-potong dan dijual sebagai kayu bakar. Empat tahun lamanya, sejak tahun 1975, sejak ia berumur 36 tahun, Badri mendapatkan nafkahnya dengan merusak hutan.

Tapi sesuatu terjadi di sebuah hari di bulan Oktober tahun 1979.

Siang itu ia tak pergi bersembahyang Jumat. Sejak pagi ia terus saja menebangi pohon. Di tengah hari, ketika siang jadi terik, ia beristirahat sejurus. Ia duduk. Mendadak, katanya, seperti dikutip Kompas, setetes air jatuh ke kepalanya.

“Hanya setetes,” katanya, “tetapi membuat badan saya segar. Keletihan saya menebang pohon dan memikul kayu langsung hilang.”

Ia pun melihat ke sekeliling, mencari dari mana tetes air itu datang. Ternyata, butir bening yang sejuk itu jatuh dari pokok yang baru ditebangnya. “Saya terkejut,” kata Badri. “Saya duduk terdiam, merenungkan tetes air itu.”

Sejak hari itu-ia ingat tanggalnya dengan persis, 6 Oktober 1979-ia gundah. Ia kembali masuk-keluar hutan, tapi kali ini tidak untuk menebang, melainkan untuk membuktikan bahwa pohon-pohon memang me-nyimpan air di tubuh mereka, di akar mereka yang masuk ke tanah. Setelah ia menemukan kenyataan itu sendiri, ia pun yakin. Ia pun bertekad. “Sejak tahun itu pula saya berjanji tidak lagi menebang pohon,” tuturnya. Bahkan ia bersumpah akan terus menanam sampai akhir hidupnya.

Maka hampir tiap hari ia membawa coredan, alat pembuat lubang kecil di tanah tempat akan dipendamnya bibit. Hampir tiap hari, dengan tubuhnya yang tua, kurus tapi liat, dilapisi kulit yang hitam legam terbakar matahari, Badri mengembalikan ke bukit-bukit di Puncak daun dan dahan dan akar hutan tropis. Ia menebus. Ia memulihkan. Ia tak mau lelah. Kakek itu menampik sakit.

Janji itu tak mudah. Ia kehilangan sumber nafkahnya: sang pencuri kini jadi sang pemberi. Istrinya marah. Hidupnya sendiri tak selamanya aman. Badri menciptakan musuh. Beberapa kali ia ditangkap dan dianiaya para spekulan tanah dan petugas keamanan vila-vila di kawasan Cisarua. Sebab ia tak ragu untuk menanam pohon apa saja di tanah kosong mana saja-yang tak jarang kepunyaan orang tapi dibiarkan telantar atau sedang dibidik untuk diperjualbelikan.

Ia melakukan itu sejak 1979. Sampai sekarang: sebuah kesetiaan non-institusional. Yang mengarahkannya bukanlah satu program, satu lembaga, atau ajaran, melainkan sebuah “kejadian”.

Kata “jadi”-sebuah kata dalam bahasa Indonesia yang tak mudah diterjemahkan-menggambarkan perubahan yang-potensial ke dalam yang-aktual, yang-belum ke dalam yang-sudah. “Kejadian” juga mensugestikan se-suatu yang tak rutin dan terkadang menakjubkan. Jika yang dialami Badri dan yang membuat dirinya berubah kita sebut sebuah mukjizat, itu karena semuanya berlangsung di sebuah masa ketika hal demikian sungguh tak lazim. Inilah masa ketika orang berbuat segala se-suatu konon dipacu oleh kepentingan-diri.

Kita bayangkan Badri: tetesan air itu membuatnya terguncang, tapi dengan segera jadi sebuah tekad, pada 6 Oktober 1979 itu. Dengan itu Badri tak merasa perlu bertanya untuk siapa dia menanam pohon tiap hari selama tiga dasawarsa.

Ia seorang militan. Tapi seorang militan lain mungkin akan mengorbankan dirinya untuk sesuatu yang tertutup, misalnya kaum atau pihaknya sendiri. Militansi Badri tidak demikian: ia bekerja untuk sesuatu yang tak berpuak. Ia menjangkau sesuatu yang secara universal terbuka. Pohon-pohon itu tumbuh dan hutan itu akan kembali rimbun untuk siapa saja, bahkan untuk manusia dalam geografi dan generasi yang tak akan ia kenal.

Mungkin orang akan mencemooh Badri: ia naif. Ia tak berpikir bahwa bila Puncak jadi hijau kembali, bila hutan tumbuh dan menyimpan air, yang akan menikmatinya terutama orang yang berduit dan berkuasa. Pendeknya, niat untuk menjangkau sesuatu yang universal itu bodoh, melupakan bahwa “sesama” tak pernah “sama”, kecuali sebagai angka statistik.

Tapi saya tak akan mencemooh Badri. Ia mungkin tahu tapi mungkin juga tidak bahwa orang-orang kaya di Jakarta adalah perusak hutan yang lebih buas ketimbang para pencuri batang pohon seperti dia sebelum 1979. Orang-orang berduit dan berkuasa membangun vila dan membedah lereng, memakai mobil dengan karbon di-oksida yang paling ganas, dan mengkonsumsi sandang–pangan dengan rakus hingga segala yang alami dikorbankan. Tapi salahkah Badri bila ia terus menanam pohon di bukit itu?

Saya kira kita perlu melihat bahwa kisah orang ini, yang bernama lengkap Badri Ismaya (dan “Ismaya” adalah Semar dalam wayang, jelata yang juga dewata), adalah sebuah cerita penebusan yang lebih mendasar: di zaman yang dibentuk oleh keserakahan manusia, Badri memberikan dirinya. Ia ingin kita tak bunuh diri, karena saling menghancurkan dan putus asa setelah melihat diri sebagai unsur yang keji di atas bumi. Saya kira Badri -ingin manusia jadi seperti pohon hutan: makhluk yang luka tapi layak diberi ucapan terima kasih.

Desember 2011 

Our Green Inspiration: Badri Ismaya, Pohon Sumber Kehidupan

Sumber: http://riaupos-forus.blogspot.com/05 Desember 2011 

Meski jasadnya telah terkubur. Tapi semangat seorang Badri Ismaya dalam menyelamatkan lingkungan masih terasa hingga sekarang. Ia adalah salah seorang tokoh penting dalam upaya penyelamatan daerah aliran sungai Ciliwung Hulu dan juga penghijauan kawasan Cisarua.
Bahkan masa lalunya yang cukup kelam yakni sebagai mantan penjarah kayu, tak menutup kemungkinan ia untuk bisa berbuat baik terhadap lingkungan. Dulu karena desakan kebutuhan ekonomi ia sempat berprofesi sebagai seorang penebang pohon liar di hutan sekitar Cisarua, Bogor.

Tapi akhirnya Badri bertobat pada akhir tahun 1979. Ketika itu ia baru pulang dari menjarah kayu di hutan pada hari jum’at. Dalam keadaan yang letih itu tiba-tiba ada setetes air yang jatuh ke kepalanya. Tanpa sadar air yang hanya setetes itu bisa membuat letihnya hilang. Ternyata air itu berasal dari akar pohon. Dari kejadian itu ia pun merenung dan sadar bahwa pohon adalah sumber kehidupan. Dan sejak saat itu pun Badri bertekad untuk menanam pohon dimanapun ia berada.

Lalu, ia pun mulai menanam pohon di sepanjang daerah alirah Sungai Ciliwung. Ini dilakukannya karena ia melihat gersangnya sungai ciliwung di daerah hulu sekitar tahun 1980.

Sejak saat itu ia juga banyak melakukan penyuluhan di wilayahnya. Bahkan berbagai kalangan pun mulai datang dan belajar padanya. Ia pun juga sempat ditawarkan untuk tinggal di Malaysia dan Prancis. Namun, ia menolak karena merasa Indonesia masih memerlukannya.

Bahkan dulu dalam sehari Badri sanggup menanam seratus hingga lima ratus pohon. Luar biasanya lagi biaya operasionalnya pun ia tanggung sendiri meski sesekali ada mendapat bantuan dari pemerintah atau organisasi lainnya. Dan meski menerima uang untuk proyek penanaman, tidak sepeserpun diambil oleh Badri. Semuanya murni untuk penanaman pohon. Sedangkan untuk kehidupannya, Badri lebih memilih untuk bertanam jamur.

Kini jika melewati kawasan puncak maka bisa dilihat pohon-pohon yang telah ditanam oleh Badri. Ia menanam dimanapun ada tanah kosong dan lahan-lahan kritis di kawasan Puncak. Tidak peduli panas dan hujan setiap hari ia akan menanam.

Meski begitu Badri juga sempat menghadapi rintangan dalam melestarikan lingkungan. Ia sempat dipukuli para makelar tanah di kawasan Puncak karena Badri melarang cukong membangun bangunan di Puncak karena tidak ada IMB-nya. Tapi, itu tak meruntuhkan niatnya untuk melestarikan lingkungan.

Selain menjadi pelopor penanam pohon di lahan kritis sekitar Cisarua,
Badri juga memulai pembuatan dan penggunaan sumur resapan. Sekitar 1985, saluran air yang berada di sisi jalan di atas kampung tersumbat. Airnya membanjiri rumah Badri. Ia lalu berinisiatif membuat lubang di halaman rumah dan diisinya dengan bebatuan, ijuk, dan material lain. Air buangan selokan dia arahkan masuk ke sumur resapan tersebut. Setelah itu, banjir tak datang lagi. Lalu, tetangganya pun akhirnya ikut juga membuat sumur resapan.

Karena kegiatannya ini Badri juga sering dipanggil ke daerah lain untuk menjadi pembicara. Bahkan ia juga pernah diundang untuk menjadi pembicara di Malaysia dan Singapura pada tahun 2001. Juga ke Filipina pada tahun 2005. Tak ketinggalan Kalpataru pun pernah diraihnya pada tahun 2002. Juga penghargaan keteladanan dari Presiden pada tahun 2007.

Dan meski Badri Ismaya telah berpulang pada tanggal 10 Februari 2010 lalu. Semangatnya masih terasa hingga sekarang melalui pohon-pohon yang ditanamnya.(afra-gsj/int/new)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: