Basir Baesuni

 September 2011

Basir Baesuni, Warga Cisarua Penyuluh Kehutanan dengan Dua Satya Lencana (1)

Bentuk Kurikulum Pendidikan Berbasis Lingkungan

Sumber: http://www.radar-bogor.co.id/ 03 September 2010

LAPORAN: Yudha Marhaena Setiawan

Pengabdian Basir Baesuni, warga Kampung Cijulang, Desa Kopo, Kecamatan Cisarua kepada lingkungan, sudah tak perlu diragukan. Bahkan, berkat dedikasinya melestarikan lingkungan, ia mendapat tanda kehormatan Satya Lencana dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Menanam pohon bukan hanya menjadi kebiasaan Baesuni, tapi sudah menjadi bagian hidup ayah dua anak ini. Sebagai anak petani, memegang cangkul dan bergelut dengan tanah merupakan “makanannya” sehari-hari.

Hobinya menanam pohon ia terapkan dengan membentuk kelompok tani pada 1988, sesaat setelah ia lulus Madrasah Aliyah Miftahul Huda di Megamendung. Kelompok tani yang dinamakan Paseban tersebut berada di Kampung Paseban. Untuk meningkatkan keilmuannya tentang pertanian, ia meminta penyuluh kehutanan dari Kementerian Kehutanan untuk terus mendidik seluruh anggota kelompok tani Paseban.

Pergaulannya di dunia pertanian, mau tak mau menyeretnya untuk bergabung dengan komunitas Gerakan Peduli Sekitar Kita pada 2003 yang digalang warga Tionghoa yang mempunyai vihara di Desa Megamendung.

Berawal dari gerakan tersebut, Baesuni menciptakan dunia pendidikan yang digabung dengan pendidikan lingkungan. Ia terus menyosialisasikan kurikulum pendidikan lingkungan hidup di SMP Terbuka Amerta milik komunitas Tionghoa tersebut.

Hasilnya sangat luar biasa. Remaja yang putus sekolah karena keterbatasan ekonomi itu kini memiliki semangat untuk terus belajar kembali. Apalagi, kurikulum pendidikan lingkungan di SMP tersebut tak dikenakan biaya alias gratis.

“Saya menerapkan kurikulum pendidikan berbasis lingkungan agar para pemuda di Megamendung mengerti dan paham betapa pentingnya lingkungan untuk kehidupan manusia,” ucapnya saat ditemui di markas kelompok tani di Kampung Cijulang, RT 03/05, Desa Kopo, Kecamatan Cisarua.

Gerakan pendidikan berbasis lingkungan tak hanya diterapkan di lingkungan sekolah. Pada 2006, Baesuni prihatin atas kondisi lingkungan di Jalan Raya Puncak yang gersang tanpa ada pepohonan.

Tanpa diperintah Pemkab Bogor, ia beserta 48 siswa didiknya di SMP Amerta menanam pohon akasia, mahoni dan jati putih di sepanjang jalan raya tersebut.

Perjuangannya menanam pohon di pinggir jalan bukan tanpa kendala. Baesuni berusaha meminta izin menanam pohon kepada Pengelola Sumber Daya Air (PSDA) di Jalan Paledang, Kota Bogor. Ia sempat dipingpong, disuruh ke Bandung. Kesal karena tak didukung, ia nekat kembali menanam pohon di pinggir jalan tanpa izin siapa pun. (*)

Basir Baesuni, Penyuluh Kehutanan Peraih Dua Satya Lencana (2-Habis)

Gigih Perbaiki Lingkungan, DAS Ciliwung pun Ditanami Pohon

Sumber:  http://www.radar-bogor.co.id/ 04 September 2010 

Upaya untuk memperbaiki lingkungan di kawasan Puncak terus dilakukan. Setelah menanam pohon di pinggir Jalan Raya Puncak, Basir Baesuni mengalihkan perhatiannya kepada aliran Sungai Ciliwung.

LAPORAN: Yudha Marhaena setiawan

LINGKUNGAN: Basir Baesuni memperlihatkan bibit pohon yang akan ditanam di markas kelompok tani Cijulang Asri di Desa Kopo, Kecamatan Cisarua.

JIKA Anda berwisata ke Puncak, pasti melihat pohon mahoni, jati putih, akasia dan meranti di sebelah kiri dan kanan Jalan Raya Puncak. Ya, deretan pohon rindang tersebut ditanam oleh Basir Baesuni sejak 2006 lalu.

Upayanya untuk menciptakan lingkungan yang lebih baik di kawasan Puncak terus dilakukannya. Setelah berhasil menanam ribuan pohon di sepanjang jalur Puncak bersama muridnya di SMP Terbuka Amerta, Baesuni mulai mengalihkan perhatiannya ke aliran Sungai Ciliwung.

Ayah dua anak tersebut melihat, daerah aliran sungai (DAS) di sepanjang Ciliwung rusak dan tak terawat. Sehingga, dikhawatirkan dapat menimbulkan bencana banjir yang selalu menimpa Jakarta.

Secara bertahap, tanpa disuruh dan meminta izin Pengelola Sumber Daya Air (PSDA) Jawa Barat, Basir beserta anak didiknya menanam berbagai jenis pohon di sepanjang aliran sungai tersebut.

“Pohon yang saya tanam ini bukan untuk kepentingan saya pribadi dan keluarga, tapi untuk umat manusia. Jika lingkungan tak dijaga, imbasnya akan menimpa manusia juga,” katanya.

Tak tanggung-tanggung, Basir memiliki target untuk menanam satu miliar pohon pada 2010. Caranya, ia mengajak masyarakat tiap orang menanam lima pohon.

“Saya mau ajak para pemilik vila-vila megah untuk menanam pohon di vilanya, kalau bisa bukan satu tapi lima pohon satu orang,” ujarnya.

Upayanya yang gigih memperbaiki lingkungan di kawasan Puncak, tak membuatnya lupa untuk mendidik petani di Cisarua. Pada 2007, ia membentuk kelompok tani Cijulang Asri di Desa Kopo, Kecamatan Cisarua.

Upayanya menjaga lingkungan membuat Basir dinobatkan sebagai wakil Kecamatan Cisarua dalam perlombaan konservasi tingkat Kabupaten Bogor dan berhasil menjadi juara pertama pada 2008.

Kemenangan itu membawa ayah dari Yaneu Ariyani dan Muhammad Wildan Fikriansyah ini mewakili Kabupaten Bogor di tingkat Provinsi Jawa Barat. “Pada 2008, saya menjadi juara pertama lomba konservasi tingkat Jabar,” jelasnya.

Setelah itu, otomatis Basir mewakili Provinsi Jawa Barat dalam lomba konservasi tingkat nasional. Dalam perlombaan tingkat nasional pun ia sukses merebut juara satu dan mendapatkan tanda kehormatan Satya Lencana di Istana Negara pada 2008 lalu, (saat itu Menteri Kehutanan-nya MS Kaban, red).

“Saya bukan milik pemerintah, saya milik masyarakat yang mencintai lingkungan dan ingin berbuat untuk lingkungan,” ujarnya.(*)

Desember 2011

Basir Baesuni, Sekolah Konservasi Alam

Sumber: http://riaupos-forus.blogspot.com/ 05 Desember 2011

Sekolah yang biasa kita temui adalah tempat menimba ilmu dari jenjang sekolah dasar hingga tingkat menengah atas. Namun, berbeda dengan sekolah yang satu ini. Di sekolah ini kita akan belajar mengenai konservasi alam. Itulah sekolah yang didirikan oleh Basir Baesuni. Sekolah setingkat SMP ini diberi nama SMP Terbuka Amerta. Ia hadir di kawasan Megamendung.

Meski profesi sebenarnya sebagai tukang kebun, di sekolah ini Basir menjadi seorang guru bagi anak-anak didiknya. Sekolah ini didirikannya sebagai upaya untuk menciptakan lingkungan yang lebih baik di kawasan puncak. Bahkan bersama dengan murid-muridnya Basir berhasil menanam ribuan pohon di sepanjang jalur Puncak, ini dilakukannya pada 2006 lalu.

Sekolah ini berawal dari bergabungnya ia dengan komunitas Gerakan Peduli Sekitar Kita pada 2003 yang digalang warga Tionghoa yang mempunyai vihara di Desa Megamendung. Nah, dari sini ia pun menyosialisasikan kurikulum pendidikan lingkungan hidup di SMP Terbuka Amerta yang merupakan milik komunitas Tionghoa tersebut. Namun, Sekolah yang mengajarkan mengenai konservasi alam ini juga sempat ditentang oleh warga. Karena lokasinya yang berada di kawasan Vihara.

Tak hanya itu Basir juga memberikan perhatiannya terhadap aliran Sungai Ciliwung. Saat itu Basir prihatin melihat daerah aliran sungai (DAS) yang rusak dan tak terawat di sepanjang Ciliwung. Dan secara bertahap, ia beserta anak didiknya pun menanam berbagai jenis pohon di sepanjang aliran sungai tersebut. Ini dilakukannya tanpa pamrih apa pun. Karena baginya pohon yang ditanami itu bukan hanya untuk kepentingan pribadi dan keluarganya saja, tapi untuk seluruh umat manusia.

Luar biasanya lagi ia pernah menargetkan untuk menanam satu miliar pohon pada tahun 2010. Nah, untuk mewujudkannya Basir mengajak setiap masyarakat untuk menanam lima pohon ketika itu.

Menanam pohon bagi Basir bukan hanya sebagai kebiasaan. Tapi juga kehidupan, karena sebagai anak petani ia sudah sering bergelut dengan hal yang demkian itu. Dan berangkat dari hal tersebut ia pun membentuk kelompok tani pada 1988, sesaat setelah ia lulus Madrasah Aliyah Miftahul Huda di Megamendung. Kelompok tani ini dinamakan Paseban karena berada di Kampung Paseban.

Untuk meningkatkan keilmuannya tentang pertanian, ia meminta penyuluh kehutanan dari Kementerian Kehutanan untuk terus mendidik seluruh anggota kelompok tani Paseban. Dan meski gigih memperbaiki lingkungan di Puncak, Basir juga tak lupa pada petani di Cisarua. Tahun 2007 ia membentuk kelompok tani Cijulang Asri di Desa Kopo, Kecamatan Cisarua.

Niat tulusnya dalam menjaga lingkungan akhirnya berbuah hal yang manis. Ia dinobatkan menhadi wakil Kecamatan Cisarua dalam perlombaan konservasi tingkat Kabupaten Bogor dan berhasil menjadi juara pertama pada tahun 2008.

Hal ini jugalah yang akhirnya membuat Basir menjadi wakil untuk provinsi Jawa Barat di perlombaan tingkat konservasi nasional. Dan ia pun sukses merebut juara satu dan mendapatkan tanda kehormatan Satya Lencana di Istana Negara pada 2008 lalu.

Tak hanya itu penghargaan yang didapatkan olehnya. Bapak dua anak ini juga mendapatkan penghargaan karena menjadi Juara II lomba penyuluhan kehutanan swadaya masyarakat tingkat nasional pada tahun 2010. (afra-gsj/int/new)

 

One Comment on “Basir Baesuni”


  1. Selamat sore, para pejuang ciliwung. Walaupun saya belum baca semua tautan yang ada di sebelah kanan. Saya kok rasanya udah terharu ya. Terus berkarya🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: