Hapsoro

Cinta Hapsoro Tumpah di Ciliwung

Sumber: http://berita.liputan6.com/  18 Agustus 2011 

Liputan6 . com , Bogor : Dari hulu hingga hilir sepanjang sekitar 120 kilometer bagaikan tempat sampah raksasa. Masalah tak kunjung selesai akibat kurangnya kesadaran warga menjaga lingkungan. Untunglah tidak semua orang hanya mengeluh lalu bertopang dagu melihat kondisi Sungai Ciliwung itu. Hapsoro, warga Bogor, Jawa Barat yang juga anggota LSM lingkungan hidup langsung beraksi.

Sejak 2009, Hapsoro yang tak lain pendiri Komunitas Peduli Ciliwung Bogor mengajak sesama warga Bogor turun ke sungai memungut sampah. Tiap Sabtu, mulai pukul 07.30 hingga 12.00 WIB, para sukarelawan yang bisa meluangkan waktu beraksi memungut sampah dengan tangan tanpa canggung. Lokasi aksi terus berpindah tiap pekan dari Katulampa hingga Sukaresmi.

Sayang, warga sekitar Ciliwung belum terpanggil untuk merawat lingkungannya sendiri. Belakangan, tak hanya warga Bogor, warga Cianjur dan Jakarta pun bergabung dalam aksi Peduli Ciliwung ini. Bahkan, kegiatan pun semakin beragam.

Menyusuri sungai jadi salah satu kegiatan yang paling ditunggu. Menyusur dari hulu, komunitas ini bisa mendata biota sungai dan mencermati kerusakan lingkungan yang terjadi. Siapa saja, anak-anak hingga dewasa boleh ikut dengan modal cinta kebersihan.

Dulu, Hapsoro dan komunitas Peduli Ciliwung harus urunan Rp 100 ribu untuk menyewa mobil pengangkut sampah. Tapi kini, mobil Dinas Kebersihan sudah menanti dengan senang hati.

Ciliwung bersih dan layak dibanggakan tentu bukanlah impian bila semakin banyak warga, terutama warga bantaran kali, mengikuti teladan yang telah ditunjukkan Hapsoro dan kawan-kawan.(ADO)

Guru “Pemulung” dari Sungai Ciliwung

Oleh:   Antony Lee & FX Puniman

Sumber: http://ramadhan.kompas.com/ 18 Agustus 2011 

Sebagai aktivis lingkungan, Hapsoro banyak mengadvokasi persoalan pembalakan liar di Pulau Kalimantan. Ia masuk-keluar hutan dan berkampanye demi penyelamatan hutan. Namun, ketika melepas semua itu dan hanya memaknai diri sebagai orang Bogor, Hapsoro memilih menjadi ”pemulung” di Sungai Ciliwung.

Bukan sembarang ”pemulung”, sejak 2009 Hapsoro bersama rekan-rekannya menggulirkan Komunitas Peduli Ciliwung Bogor. Rutin sekali dalam sepekan mereka memulung sampah di tepian Sungai Ciliwung. Mereka punya 11 titik favorit yang terbanyak sampahnya di sepenggal Sungai Ciliwung di Kota Bogor, mulai Katulampa hingga Cilebut.

Pesertanya masyarakat awam, dari karyawan kantor, guru, hingga pelajar. Mereka menyebarkan informasi titik memulung melalui pesan singkat berantai yang dimulai oleh Hapsoro. Maklum, komunitas itu tidak mengikat keanggotaan, siapa saja boleh datang dan pergi.

Kegiatan itu murni swadaya Hapsoro dan rekan-rekan tanpa dukungan lembaga tertentu. Hapsoro yang kerap ”berjuang” untuk pelestarian lingkungan di luar Bogor merasa perlu berbuat sesuatu bagi Bogor, tempat tinggalnya. Persoalan lingkungan yang menonjol di Bogor adalah Sungai Ciliwung yang kerap dijadikan ”tempat sampah”.

”Sekali memulung, sampah yang terkumpul bisa sampai satu mobil bak terbuka. Awalnya kami urunan menyewa mobil Rp 100.000, tetapi belakangan Pemerintah Kota Bogor membantu menyediakan mobil sampah. Mungkin mereka malu,” tuturnya.

Kami berjumpa Hapsoro dalam beberapa kesempatan, awal Agustus lalu. Suatu kali pertemuan di Kedai Telapak, salah satu unit usaha milik lembaga swadaya masyarakat Telapak, tempat Hapsoro menjadi direktur program. Pada kesempatan lain, akhir pekan, di tepi Sungai Ciliwung di Lebak Kantin, Kelurahan Sempur, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor.

Hapsoro ketika itu muncul dengan celana pendek dan kemeja kotak-kotak. Saat bersiap turun ke Sungai Ciliwung yang tingginya tak sampai selutut orang dewasa, dia menanggalkan kemejanya hingga hanya mengenakan kaus hitam tanpa lengan. Ia mengambil satu karung plastik kosong dan nyebur ke sungai.

Hari itu hanya ada tiga orang yang memulung sampah di Ciliwung, yakni Hapsoro dan dua temannya dari Komunitas Peduli Ciliwung, Agung (36) dan Hari (32). Pagi itu matahari belum terlalu terik dan langit pun bersih dari awan kelabu. Sepagi itu hanya tiga orang yang ikut aktivitas rutin Komunitas Peduli Ciliwung.

”Mungkin karena sedang bulan puasa, jadi enggak banyak orang yang ikut. Berapa pun pesertanya, yang pasti kegiatan ini harus tetap berjalan agar rutin, tak hilang,” tuturnya.

Setiap Sabtu

Acara memulung bersama itu dilaksanakan setiap Sabtu. Bergantian dengan dua kegiatan lain, yakni menyusuri tepi Ciliwung dan memulung benih pohon beringin serta pekan berikutnya menanam benih yang dikumpulkan dari hutan di sekitar Kecamatan Dramaga di tepian Sungai Ciliwung.

Harapannya, pohon beringin yang berakar kuat itu bisa membantu menyerap air hujan agar tidak erosi, sekaligus memperkuat daerah sempadan sungai agar tak mudah longsor. Selama dua tahun terakhir sudah ratusan pohon mereka tanam di bantaran Ciliwung.

Sekali dalam setahun mereka menggelar lomba memulung per kelurahan di sepanjang bantaran Sungai Ciliwung dan tahun ini akan menginjak perlombaan ketiga. Masyarakat berlomba berupaya menjadi yang terbanyak mengumpulkan sampah rumah tangga di Sungai Ciliwung.

Juara pertama lomba mendapat hadiah Rp 5 juta. Uang ”pembinaan” bagi pemenang merupakan sisa hasil penjualan sampah plastik dari kegiatan memulung rutin setiap pekan dan donasi perorangan.

Hampir tiga tahun memulung, tentu ada suka dan duka yang dirasakan Hapsoro dan teman-teman. Hal tersering yang mereka alami adalah kaki luka terkena pecahan kaca atau paku saat memburu sampah di Ciliwung. Yang membuat mereka sampai mengelus dada, ketika sedang memungut sampah, tiba-tiba orang yang tinggal di bantaran sungai tanpa melihat kegiatan itu dengan entengnya membuang sampah ke sungai. Tak jarang sampah tersebut bahkan mengenai kepala mereka. Duh.…

Minus kepedulian

Jumlah peserta atau sukarelawan yang terlibat dalam kegiatan memulung itu tak tentu. Pernah hanya bisa dihitung dengan jari, kadang belasan, pernah pula sampai 80 orang. Dia mengaku sengaja mengajak mereka memulung sampah agar menjadi lebih peduli terhadap Ciliwung yang hubungannya dengan manusia ibarat benci tetapi rindu.

Ciliwung kerap menjadi persoalan saat banjir melanda Jakarta. Daerah hulu di Bogor akan dipersalahkan oleh orang-orang di hilir, seperti Jakarta. Kerusakan Ciliwung sudah terbilang parah, dengan sampah di mana-mana, airnya keruh, terutama di daerah tengah dan hilir sungai.

Masyarakat membuang sampah karena masih merasa Ciliwung sebagai tempat sampah yang efisien. Orang tinggal melemparkannya, lalu sampah hanyut, untuk kemudian menumpuk atau tersangkut di daerah lain.

Padahal, masyarakat juga memerlukan Ciliwung. Mereka memanfaatkan air dari Sungai Ciliwung untuk kebutuhan sehari-hari. Pada masa lalu, Ciliwung dekat dengan kehidupan masyarakat di sekitarnya.

Leonard Blusse, sejarawan Belanda, dalam buku Persekutuan Aneh mencatat, Batavia (Jakarta) pernah dikenal sebagai kota yang indah dan bersih pada 100 tahun pertama usianya.

Namun, sejarawan mencatat pula, akibat erupsi Gunung Salak, sanitasi kota sama sekali tidak baik karena aliran Sungai Ciliwung tersumbat dan air tercemar.

Kini, bukan erupsi Gunung Salak yang ”menyumbat” dan mengotori Sungai Ciliwung, melainkan orang-orang yang tinggal di sekitar sungai itu.

”Kegiatan memulung ini juga untuk kembali mengingatkan mereka agar peduli terhadap Ciliwung. Kami sebetulnya lebih berharap muncul kesadaran masyarakat,” katanya.

Adakah hasilnya? Bagi Hapsoro, apa yang dia dan rekan-rekannya lakukan hanya setitik upaya untuk menjaga Ciliwung. Dimulai dari membangkitkan kepedulian masyarakat terhadap Ciliwung.

Setidaknya, menurut Hapsoro, kini orang-orang mulai memiliki rasa malu untuk membuang sampah sembarangan di sungai ketika mereka ”bekerja” mengurangi sampah.

Untuk mendorong agar kegiatan ini menjadi gerakan moral warga, seperti harapan Hapsoro, masih jauh dari kenyataan. Namun, bukankah untuk memulai sebuah perjalanan perlu satu langkah kecil? Bagi Hapsoro dan teman-teman, langkah kecil itu dimaknai dengan memulung sampah di Sungai Ciliwung….

FX Puniman Wartawan, Tinggal di Bogor

“Pemulung” Pelestari Ciliwung

Sumber:  https://mtaufikbw.wordpress.com/

Cuaca terik Kota Bogor akhir Agustus 2011 silam tak menghalangi langkah Hapsoro. Kening lelaki 40 tahun itu mulai basah oleh keringat. Bersama Koordinator Komunitas Peduli Ciliwung itu, kami berjalan menuju tepi Sungai Ciliwung. Persisnya di Lebak Kantin, Kelurahan Sempur, Kecamatan Bogor Tengah, Jawa Barat.

Musim kemarau membuat volume air Ciliwung menyusut. Batu-batu sungai berbagai ukuran berserakan di bantaran.

Meski hanya memakai sandal jepit, Hapsoro tangkas menginjak batu sebagai pijakan. Sepanjang jalan, berbagai jenis sampah ditemui. Kondisi Sungai Ciliwung yang tercemar oleh sampah dan limbah pabrik kata Hapsoro, sudah terjadi sejak di hulu.

“Jadi saat kami telusuri Sungai Ciliwung dari titik 0, dari hulunya. Salah satu titik 0 itu di Cagar Alam Telaga Warna, di Puncak Pass. Ternyata gak sampai 1 km, air itu sudah tercemar. Karena sungai itu melewati kebun teh. Ada pestisida, bahan kimia dsb. Dan setelah lewat kebun teh, di kampung pertama, Desa Tugu Utara sudah banyak tumpukan sampah.”

Saban akhir pekan Hapsoro dan rekan-rekannya di KPC memulung sampah. Kegiatan ini dilakoni sejak dua tahun silam.

Sambil jongkok Hapsoro menunjukan tumpukan sampah. “Yang ada di hadapan kita saat ini kantong plastik hitam, kulit durian, kulit kelapa, styrofoam, kardus jus, tinggal sebut saja, pasti ada di sini. Supermarket sampah (tertawa). Nah, ini semua sampahnya kita angkat. Kecuali yang organik seperti kulit buah, itu tak diangkat. Jadi yang diangkat seperti plastik, kain, logam misalnya.”

Komunitas Peduli Ciliwung juga menanam benih pohon Beringin dan Nyamplung di bantaran sungai. Kegiatan ini lahir secara spontan. Sebagai warga Kota Bogor, Hapsoro mengaku malu dan prihatin melihat sungainya tercemar.

“Memang jadi aneh karena kaya orang gila sih ngumpulin sampah. Apa memang kita mampu membersihkan sampah itu? Tapi setelah dipikir-pikir lagi gak apa-apa juga. Minimal kan kalau kita membersihkan sampah, kalaupun tidak semuanya. Minimal ada upaya kita membersihkan. Siapa tahu ada yang melihat ada yang mengikuti jejak kita. Jadi dari hal yang sederhana itu akhirnya berjalan,” ungkapnya.

KPC menetapkan 11 titik lokasi pemulungan sampah. Mulai dari Kelurahan Katulampa sampai Kelurahan Sukaresmi. Saban Sabtu, KPC bersama warga Bogor yang tergerak hatinya, memunguti sampah secara bergantian. Tak ada syarat khusus dalam kegiatan sukarela ini. Siapapun boleh ikut. “Hanya niat saja. Karena yang kami siapkan itu hanya karung. Selebihnya tak ada. Karena kami tak mempersulit kegiatan memungut sampah ini menjadi kegiatan yang ribet. Misalnya dengan sarung tangan, sepatu bot, dengan alat pengangkut sampah. Kalau ada sepatu bot ya pakai sepatu bot kalau tak ada yang telanjang kaki misalnya seperti itu,” beber Hapsoro.

Sampah yang mereka pungut lantas dipilah. Selanjutnya diangkut mobil milik Pemerintah Kota Bogor ke tempat pembuangan akhir. Sebelum pemkot membantu, Hapsoro dan rekannya patungan untuk sewa mobil 100 ribu rupiah. Namun kegiatan mulia KPC ini belum didukung seluruh warga. Hanya segelintir yang mulai sadar pentingnya melestarikan Ciliwung. Shanty, warga Bogor, “Gak tahu ya. Masing-masing ya. Jadi kesadaran sendiri ya. Ada yang buang sampah di tempatnya. Ada juga yang masih buang sampah di situ.”

Aloy, juga warga Bogor, “Harapan saya jangan putus asa. Kalau bisa seterusnya (aksi mulung sampah). Mungkin sekali warga dikasih contoh liat, gak sadar. Karena sering melihat lama lama akan sadar.” Pemkot Bogor sampai pemerintah pusat, kritik Hapsoro belum serius memperbaiki Ciliwung. Situasi ini diperparah dengan prilaku warga yang ogah merawat sungainya.

Namun, KPC tak mau bergantung kepada pemerintah. Ia yakin upaya kecil yang mereka lakukan suatu saat dapat menggugah kesadaran warga.

“Kalau ingin melakukan sesuatu perubahan tak usah berpikir bagaimana perubahan itu bisa dilakukan. Ikuti saja kata hati. Kalau bisa melakukan mungut sampah ya mungut sampah. Buat perubahan tak perlu rumit, tak perlu penuh diskusi dan perdebatan. Perubahan bisa dilakukan dengan yang paling sederhana. Seperti ini membersihkan lingkungan. Tak usah berpikir kita tunggu bantuan dari mana-mana, ” ungkap Hapsoro.

Mengembalikan Fungsi Sungai Ciliwung

Sumber: http://informasi-bogor.com/30 Maret 2012 

SUNGAI ciliwung yang dulunya menjadi bersih kini sudah semakin tercemar dengan sampah. Akibatnya, air yang tadinya bersih berubah menjadi kotor. Dulu, masyarakat bisa memanfaatkan ciliwung sebagai tempat untuk mencuci, mandi bahkan mancing ikan. Namun, saat ini

kondisinya sudah sangat parah yang diakibatkan ulah manusia sendiri. Diharapkan kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah ke sungai ciliwung, sehingga kondisi ciliwung bisa normal kembali. Melihat kondisi seperti ini, muncul wadah komunitas peduli ciliwung (KPC) yang sudah berdiri sejak tahun 2008. Komunitas ini sangat peduli dengan kondisi ciliwung yang semakin tercemar akibat sampah.

Beberapa kegiatan pun dilakukan seperti mulung sampah dengan menyusuri sungai ciliwung. Hapsoro (40) koordinator KPC menjelaskan, komunitas ini dibentuk untuk menyadarkan masyarkat untuk tidak lagi membuang sampah di bantaran sungai ciliwung.

“Kita upayakan agar ciliwung bersih kembali. Salah satunya dengan kegiatan mulung sampah yang dilakukan seminggu sekali selama empat jam. Dari kegiatan ini, dinas terkait membantu untuk membuang sampah dengan satu unit mobil pengangkut,” ujar Hapsoro.

Menurut Hapsoro, Selintas secara fisik Ciliwung yang dulu Bersih memang sudah berubah. Tapi apa yang telah merubah fisik Ciliwung,  kebanyakan orang yang tinggal di Jabodetabek pun mengetahui apa yang terjadi di Ciliwung. Perubahan pun tak dirasakan orang-orang sekitarnya, bahkan secara sadar atau pun tak sadar orang di sekitar jabodetabek lah telah melukai Ciliwung.

“Bisa dilihat dari Kecamatan Tugu Utara Kabupaten Bogor sampai ke Kota Bogor, Ciliwung penuh dengan sampah. Slogan membuat ciliwung bersih harus dilakukan dengan turun ke lapangan,” tegasnya. Akhirnya komunitas ini sepakat untuk melakukan hal kecil mulai dari mungut sampah sampai melakukan penanaman pohon di bantarannya dengan harapan hasil yang berguna bagi masyarakat banyak.

Musim kemarau seperti ini membuat volume air Ciliwung menyusut. Batu-batu sungai berbagai ukuran berserakan di bantaran. Kondisi ini tidak sedap dipandang dengan sampah-sampah yang dibuang masyarakat. Setiap akhir pekan KPC memulung sampah. Kegiatan ini dilakoni sejak dua tahun silam.

“Yang ada di hadapan kita saat ini kantong plastik hitam, kulit durian, kulit kelapa, styrofoam, kardus jus, tinggal  sebut saja, pasti ada di sini. Nah, ini semua sampahnya kita angkat. Kecuali yang organik seperti kulit buah, itu tak diangkat. Jadi yang diangkat seperti plastik, kain dan logam,” katanya.

Kegiatan ini lahir secara spontan. Sebagai warga Kota Bogor, Hapsoro mengaku malu dan prihatin melihat sungainya tercemar. KPC menetapkan 11 titik lokasi pemulungan sampah. Mulai dari Kelurahan Katulampa sampai Kelurahan Sukaresmi. Setiap Sabtu, KPC bersama warga Bogor yang tergerak hatinya, memunguti sampah secara bergantian.

“Hanya niat saja. Karena yang kami siapkan itu hanya karung. Selebihnya tak ada. Karena kami tak mempersulit kegiatan memungut sampah ini menjadi kegiatan yang ribet. Misalnya dengan sarung tangan, sepatu bot, dengan alat pengangkut sampah. Kalau ada sepatu bot ya pakai sepatu bot kalau tak ada yang telanjang kaki,” paparnya.

Sampah yang mereka pungut kemudian dipilah. Selanjutnya diangkut mobil milik Pemerintah Kota Bogor ke tempat pembuangan akhir. Namun kegiatan mulia KPC ini belum didukung seluruh warga. Hanya segelintir yang mulai sadar pentingnya melestarikan Ciliwung. (aim)**

Guru “Pemulung” Ciliwung Berpulang

Penulis : Antony Lee

Sumber: http://megapolitan.kompas.com/  23 Oktober 2012

BOGOR, KOMPAS.com — Koordinator Komunitas Peduli Ciliwung yang juga Direktur Eksekutif Forest Watch Indonesia, Hapsoro (41), meninggal, Selasa (23/10/2012) sore.

Hapsoro meninggalkan seorang istri dan tiga anak. Hapsoro meninggal sekitar pukul 16.30 WIB, diduga akibat serangan jantung.

Saat itu Hapsoro sedang berada di kantor Forest Watch Indonesia di Sempur, Kota Bogor. Setelah selesai membersihkan rumput di pekarangan kantor, Hapsoro mengeluh pegal-pegal dan minta dipijat.

Namun, setelah itu ia mengeluh sesak napas, lalu pingsan. Setibanya di Rumah Sakit Azra, Kota Bogor, ia dinyatakan dokter sudah meninggal.

Guru “pemulung” Ciliwung itu berpulang. Kiprah Hapsoro di bidang lingkungan hidup sudah dikenal luas. Ia sempat menjadi juru kampanye hutan Green Peace, lalu bergabung dengan LSM Telapak dan Forest Watch Indonesia.

Sejak tahun 2009, Hapsoro juga menggagas kegiatan “memulung” di Sungai Ciliwung melalui wadah Komunitas Peduli Ciliwung di Kota Bogor.

Selama tiga tahun terakhir, komunitas ini konsisten tiap akhir pekan turun ke Sungai Ciliwung untuk memulung sampah. “Kegiatan ini untuk mengingatkan kembali masyarakat untuk peduli Ciliwung,” tutur Hapsoro, beberapa waktu lalu.

Di mata koleganya, Hapsoro dikenal sebagai figur yang konsisten dalam bidang lingkungan hidup.

Peneliti senior Pusat Pengkajian, Perencanaan, dan Pengembangan Wilayah (P4W) yang juga Dekan Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor Ernan Rustiadi mengenang Hapsoro sebagai figur yang konsisten dalam konteks aksi.

Dia juga tidak segan mengkritik pemikir yang hanya berteori. Di sisi lain, almarhum juga tidak segan memberikan apresiasi.

Saat ini jenazah Hapsoro disemayamkan di rumahnya di Villa Citra, Bogor Utara, Kota Bogor. Rencananya almarhum dimakamkan Rabu besok sekitar pukul 11.00.

“Guru Pemulung” ciliwung berpulang

Sumber: http://www.antarabengkulu.com/ 24 Oktober 2012 

Bogor (ANTARA Bengkulu) – Hapsoro (41), Ketua Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) Bogor yang dikenal sebagai “Guru Pemulung”, Selasa meninggal setelah terkena serangan jantung di tempat kerjanya.

“Tidak ada tanda-tanda, awalnya kita lagi rapat kerja. Tiba-tiba mas Hapsoro mengeluh badannya capek-capek dan dia minta dipijit. Tak lama setelah itu, dia tidak sadarkan diri. Saat kita bawa ke RS Azra, pihak rumah sakit bilang, beliau sudah tidak ada lagi,” kata Anggit anggota Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) Bogor, saat ditemui di rumah duka.

Kepergian Hapsoro membawa duka mendalam di kalangan pencinta lingkungan.

Ratusan pelayat mendatangi rumah duka yang terletak di Villa Citra Bantarjati Blok A4/11 RT 02/RW 11, Kelurahan Tegal Gundil Bogor Utara

Hapsoro dikenal vokal dalam upaya penyelamatan lingkungan. Berbagai organisasi lingkungan telah dijejalnya mulai dari Greenpeace, Telapak, Komunitas Peduli Ciliwung dan Forest Wacth Indonesia.

Pria kelahiran Madiun ini juga yang pertama kali mengaungkan penyelamatan Hutan Gambut di Riau.

Hapsoro meninggal sekitar pukul 16.30 WIB. Ia pergi meninggalkan seorang istri Yunika Mayang Sari dan tiga orang anak.

Hapsoro dimata teman-temannya dikenal sebagai sosok yang banyak bekerja.

“Memang tiga hari terakhir bertemu mas Hapsoro, dia terlihat lebih tenang. Biasanya dia meledak-ledak. Tapi sebelum meninggal dia suka menasehati ngomongnya,” kata Anggit.

Anggit mengatakan, sebelum pergi, Hapsoro sempat meninggalkan pesan
kepadanya untuk terus melanjutkan perjuangan menyelamatkan Ciliwung.

“Mas Hapsoro pesan ke saya untuk tidak hanya mikirin Ciliwung saja tapi sungai-sungai yang lain,” katanya.

Menurut Anggit misi terbesar Hapsoro adalah jangan ada lagi masyarakat yang
membuang sampah ke sungai dan membudayakan malu membuang sampah ke sungai.

Dekan Fakultas Pertanian IPB, Dr Ernan Rustiadi mengatakan, kepergian Hapsoro menjadi duka mendalam bagi para pencita lingkungan.

“Saya ingat betul, dia orang yang tidak terlalu banyak mikir, apa yang dia pikirkan satu-satu tapi langsung dikerjakan. Semua bidang dimasukinnya, mulai mulung sampah di Ciliwung, sekarang dia mulai lagi ke penanaman, bahkan pembibitan,” katanya.

Ernan mengaku, pencita lingkungan telah kehilangan guru, sahabat dan saudara yang begitu konsen terhadap penyelamatan lingkungan.

Hapsoro merupakan alumni Fakultas Kehutanan IPB. Selain di menjabat Ketua KPC, ia juga Organisasi Perkumpulan Telapak sebagai Gubernur Badan Teritori
Telapak Jawa Barat dan Forest Wach Indonesia (FWI).

Rencananya jenazah almarhum akan dimakamkan Rabu (24/10) di Tempat Pemakaman Umum Azrimar, Kelurahan Tegal Gudil Kota Bogor setelah menunggu ibu dan keluarganya yang datang dari Yogyakarta. (ant)

6 Comments on “Hapsoro”


  1. Selama jalan Mas Hapsoro.


  2. Selamat jalan Mas Hapsoro. Semoga diberikan tempat yang terbaik di sisinya. Amiin.

  3. Alif Wangsa Says:

    innaa lillahi wainnaa ilaihi rajiuun…
    turut berduka cita,
    allahummaghfir lahuu warhamhu wa’aafihi wa’fu ‘anhu…

  4. riyonotriwidagdo Says:

    selamat jalan kawan,….

  5. yudi Says:

    Selamat jalan kawan…… selamat menangis air mata….. wahai saudaraku ………..

  6. Yusuf Eko Says:

    Ya Allah…
    Semoga Mas Hapsoro teman ku SD di Madiun…
    mendapat tempat yang MULIA di sisi Allah SWT… Amin


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: