Sarmili

Mengubah Sampah Jadi Berkah

Sumber: http://www.beritajakarta.com/  21 Juni 2009 

wargabicara_sampahciliwung

Wajah Sarmili, Ketua RW 08 Kelurahan Lentengagung, Jagakarsa, Jakarta Selatan, nampak sumringah. Betapa tidak, hasil karya daur ulang sampah yang dikerjakan warga RW 08, seperti tas, payung, dan kantong plastik modifikasi, mendapat apresiasi yang tinggi dari Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo. Barang-barang bernilai ekonomis tinggi itu, tak lain berkat sebuah mesin pencacah sampah yang mampu menghancurkan sampah dengan cepat.

Selain karya daur ulang, warga RW 08 ternyata juga patut mendapat pujian yang lebih tinggi. Sebab, tak hanya sampah-sampah di pemukiman saja yang diolah menjadi barang-barang kerajinan, melainkan sampah-sampah yang sering menumpuk di bantaran Kali Ciliwung. Karena itu, tak heran bantaran Kali Ciliwung di wilayah ini terlihat lebih bersih dari bantaran Kali Ciliwung di wilayah lain.

Sedangkan sampah-sampah organik, juga tak dibiarkan terbuang begitu saja. Warga setempat juga memanfaatkan sampah-sampah teruraikan ini menjadi pupuk kompos. Program komposting di wilayah ini cukup berhasil. Dalam pengerjaanya, pembuatan pupuk kompos tersebut dilakukan secara bersama-sama, yakni hasil cacahan sampah organik tersebut dikumpulkan dalam satu wadah komposter yang dibeli warga seharga Rp 500 ribu.

Kendati upaya penanganan sampah di RW 08 cukup sukses, namun Sarmili mengaku tidak puas sampai di sini. Sebab, pengolahan sampah menjadi barang yang bermanfaat masih banyak menghadapi kendala. Misalnya, alat pencacah sampah baru tersedia satu unit, demikian halnya dengan wadah komposter yang dinilai kapasitasnya masih terbatas, serta sarana alat pengangkut sampah/gerobak sampah masih sangat kurang.

Karenanya, ia sangat berharap kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bisa memfasilitasi warga RW 08 untuk memenuhi kekurangan itu. Menurutnya, hal yang paling mendesak adalah gerobak sampah. Sebab, untuk mengangkut sampah di bataran kali Ciliwung tidak cukup dengan satu gerobak sampah. Apalagi, sampah di kali tersebut selalu selalu ada dan jumlahnya banyak.

Untuk itu, ia sangat berteri kasih kepada Pemprov DKI Jakarta yang telah memfalisilitasi tersedianya tiga gerobak sampah bagi warga RW 08. Bahkan, Sarmili, mewakili warga setempat, cukup salut dengan Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, yang secara tegas meminta kepada Walikota Jakarta Selatan, Syahrul Effendi, dan Kepala Dinas Kebersihan DKI Jakarta, Eko Bahruna, untuk membuat tempat penampungan sampah di bantaran Kali Ciliwung di wilayahnya.

“Sampah dan tempat penampungan sampah itu sangat penting. Sebab, dengan adanya gerobak bisa memudahkan proses pengangkutan sampah. Dan keberadaan tempat sampah itu sangat diperlukan untuk meminimalisir warga membuang sampah ke kali. Dalam hal ini saya banyak-banyak mengucapkan terima kasih kepada Pak Gubernur,” katanya, Minggu (21/6).

Hal senada juga diungkapkan Mulyadi, warga RT 07/08. Ia sangat bersyukur dengan adanya tiga gerobak sampah tambahan tersebut. Dengan alat ini, pengangkutan sampah di pemukiman dan Kali Ciliwung bisa dilakukan secara maksimal. Apabila, tempat penampungan sampah tersebut sudah dibangun dipastikan bisa mencegah perilaku warga membuang sampah di kali.

“Buang sampah di kali itu kurang baik. Karena itu, pemerintah harus menyediakan sarana itu. Saya kira Pemprov DKI selama ini sudah sangat responsif terhadap keluhan warga dan telah berbuat banyak untuk mengatasi masalah sampah. Hanya saja, kesadaran masyarakatnya yang masih kurang,” ujarnya.

Menyulap Sampah Menjadi Rupiah

Sumber: http://newselectric.com/4 Januari 2013 

JAKARTA–Banyak orang menggangap sepele soal sampah. Apalagi masyarakat kota besar seperti Jakarta. Namun, lain halnya dengan Sarmili 56 tahun, Ketua RW 08 Kelurahan Lenteng Agung, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan.. Pria yang pernah bekerja di penerbitan nasional ini dalam kesehariannya tak asing lagi dengan sampah. Lewat kreatifitas dan kemauan yang kuat untuk mengajak masyarakat peduli atas sampah, Sarmili sehari hari berkubang dengan sampah di Bank Sampah Bersih Indonesia di RW 08 Kelurahan Lenteng Agung, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan yang ia dirikan 8 Oktober 2012 silam. “Saya ingin mengajak masyarakat untuk lebih bijaksana dalam membuang sampah, yaitu dengan memilah-memilah sampah dan kemudian mengolah sampah-sampah tersebut, misalnya sampah organik kita buat kompos dan sampah anorganik kita buat kerajinan atau sekedar kita jual”jelas Sarmili.

Awalnya Sarmili memang tertarik pada pelestarian lingkungan. Ia memutuskan untuk pensiun dini dari tempatnya bekerja dan mendedikasikan hidupnya untuk upaya pelestarian lingkungan. Tahun 2003, dia masuk menjadi anggota GIBASS (Generasi Batawi Asli dan Serumpun) yang kegiatannya membersihkan kali Ciliwung dari sampah. Pengumpulan sampah sendiri ada dua metode yaitu petugas dari Bank Sampah mengambil sampah dari warga kemudian di tampung di TPS dan selanjutnya dibawa ke Bank Sampah untuk di pilah-pilah berdasarkan jenis sampahnya. Metode kedua adalah warga sendiri yang mengantarkan sampah ke Bank Sampah. Bagi warga yang mengantarkan sendiri sampahnya akan dibeli oleh Bank Sampah. Harga sampah-sampah ini berbeda-beda untuk setiap jenisnya. Untuk sampah kaleng bekas dihargai Rp 2.200 per kilo, Sampah kaleng jenis almunium dihargai Rp 10.000 per kilo. Untuk sampah besi bekas dihargai Rp 3.000 per kilo, sampah koran di hargai Rp 1.300 per kilo. “Sampah-sampah organik yang terkumpul dibuat kompos dengan cara sampah yang masih campur di pilah-pilah setelah terpisah maka sampah organik di cacah menggunakan mesin, difermentasi dengan mendiamkannya selama 4 hari, baru kemudian di ayak menggunakan mesin, dan kompos sudah siap digunakan” jelas Sarmili.

Untuk kompos dijual kepada warga dengan harga Rp 1.000 per kilo. Sampah yang masuk ke TPS perharinya mencapai 8 ton sampah. Kapasitas Bank Sampah Bersih Indonesia sendir hanya mampu mampu mengolah 2 ton sampah saja perharinya. Sisanya dibuang ke Bantar Gebang, “Sampah-sampah yang disetorkan warga kami beli, namun pembayarannya tidak langsung melainkan 6 bulan sekali, maka kami mencatatnya dibuku tabungan sampah” jelas Sarmili. Jadi sampah yang sering menjadi biang masalah lingkungan kini dapat diatasi dengan adanya Bank Sampah, selain itu juga dapat meningkatkan perekonomian warga dari sampah-sampah yang bisa dibuat kerajinan dan kemudian dijual.

Posted on Januari 04, 2013 by Anis Sri Wahyuni

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: