Biomonitoring

Pemantauan kualitas sungai Ciliwung – Selamatkan Sungai dan DAS di Jawa Barat

Sumber: 6 Oktober 2010

Hangat sinar pagi di Cibinong memanasi kami, tim fasilitator pendidikan lingkungan dari Pusat Informasi Lingkungan Indonesia (PILI), Green Earth dan Tree Grower Community IPB.

Kala itu kami sedang bersiap mendampingi adik-adik SMP dan SMK Al Basyariyah. Sekolah yang ditunjuk oleh dinas pendidikan Kabupaten Bogor, untuk melaksanakan biomonitoring dan menyampaikan petisi tentang sungai ciliwung di hadapan Wakil Gubernur Jawa Barat, Dede Yusuf. Dalam sebuah kegiatan pencanangan bersih sungai dan DAS se-Jawa Barat yang digagas BPLHD Jabar dan Balad Kuring, semula kegiatan akan dihadiri Gubernur dan Menteri LH, namun batal dan diwakili deputinya.

Namun, siapapun yang dihadapi anak-anak, tak membuat surut semangatnya dalam mencari biota sungai. Anak-anak terlanjur ingin membuktikan kondisi sungai ciliwung yang terancam pencemaran. Pada pemantauan di tengah sungai Ciliwung, sekira 50 anak menemukan bahwa kondisi sungai tergolong dalam kondisi sedang (skor rata-rata 5, berdasar parameter penilaian biomonitoring wetland international). Masih ditemukan beberapa biota sungai, seperti larva kumbang, anggang-anggang, kepiting sungai, cacing pipih, siput berpintu dan tanpa pintu, kepik air, nimfa capung ekor tebal, serta cacing pipih juga lintah.

Beberapa hari sebelumnya, di hulu dan hilir sungai Ciliwung pun dilakukan pemantauan yang sama. Di hulu, dilakukan oleh SD Pasir Angin 02 di sungai Ciesek yang merupakan anak sungai Ciliwung. Di kawasan hulu yang relative bersih, anak-anak menemukan kondisi sungai ciliwung dalam kondisi yang cukup baik, terbukti dengan masih ditemukannya nimfa lalat sehari penggali, nimfa lalat batu, serta nimfa lalat penggali di sungai. Masih dengan panduan penilaian yang sama, skor rata-rata yang didapat di sungai tersebut, mencapai 7,5.

Lain halnya dengan di hilir, pada pemantauan yang dilakukan oleh kawan-kawan Jakarta Green Monster (JGM) di kali angke. Disana, hanya ditemukan larva nyamuk dan lalat serta cacing bersegmen, menunjukkan bahwa kondisi air sungai disana dalam keadaan yang buruk.

Berdasar hasil diskusi, ternyata anak-anak sebetulnya sudah tahu, bahwa penyebab kerusakan ekosistem sungai adalah banyaknya limbah yang dibuang ke sungai, baik hasil rumah tangga maupun industry. Tak hanya limbah, anak-anak juga sering mendengar bahwa di sekitar hulu DAS ciliwung sangat rusak, karena daerah serapan airnya sudah tertutup bangunan.

Padahal, menurut anak-anak, Sungai Ciliwung sangat bermanfaat, bisa untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari katanya. Airnya dapat dimanfaatkan untuk mencuci, mandi, bahkan sumber air minum. Selain kebutuhan sehari-hari, airnya juga dapat dimanfaatkan untuk pembangkit listrik, juga untuk rekreasi bagi peminat olahraga arus deras. Tapi, tak hanya manfaat, Sungai Ciliwung juga konon katanya berbahaya, dapat membawa air dalam jumlah besar yang disebut banjir, melanda Jakarta setiap tahun.

Ternyata, anak-anak saja mampu mengidentifikasi kondisi sungai dan sekian banyak manfaat serta bahayanya, bagaimana dengan anda?

(AVP)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: