Jepang

April 2002

Depkimpraswil Terima Pinjaman Rp 1,3 triliun untuk Pengelolaan Sungai Ciliwung

Sumber: http://www.tempo.co.id/  17 April 2002 

TEMPO Interaktif, Jakarta:Menteri Pemukiman dan Prasarana Wilayah Soenarno mengatakan pihaknya menerima utang Rp 1,3 triliun dari Japan Bank International Cooperation dan US$ 10 juta dari Belanda. Pinjaman ini nantinya akan digunakan untuk mengelola kembali hunian di sekitar kawasan Sungai Ciliwung.

Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah telah membahas rencana pengelolaan ini dengan masyarakat yang bermukim di kawasan tersebut. “Masyarakat di Bidara Cina menyambut antusias yang lainnya, masih ada yang pengen tinggal di sepanjang sungai,” tegas kepada wartawan usai mengikuti rapat koordinasi pengelolaan Sungai Ciliwung Balai Kota DKI Jakarta, di Jalan Medan Selatan, Rabu (17/4) pagi.

Gubenur DKI Sutiyoso juga menjelaskan bahwa masyarakat tidak bisa menolak untuk meninggalkan kawasan itu. “Disingkirkannya kan baik-baik, jadi ya jangan bandel,” katanya. Akan tetapi saat ini pihak Pemprop DKI baru akan mencari lahan untuk relokasi ke tempat yang lebih sehat. (Dewi Retno-Tempo News Room)

Agustus 2002

Sodetan Ciliwung-Cisadane, Solusi Terbaik Atasi Banjir

Sumber: http://arsip.gatra.com/ 2 Agustus 2002 

Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah (Menkimpraswil), Soenarno mengemukakan, solusi terbaik dalam penanganan banjir di wilayah Jakarta dan sekitarnya adalah membangun sodetan yang memindahkan sebagian debit air Sungai Ciliwung ke Sungai Cisadane.

“Namun ternyata bagi Pemerintah Daerah Banten dianggap merugikan. Padahal, secara nasional pembangunan sodetan yang mengalihkan sebagian air Sungai Ciliwung yang ada di wilayah DKI Jakarta ke Sungai Cisadane di wilayah Tangerang, Banten, saat ini menjadi beban puncak solusi terbaik,” katanya di Jakarta Jumat.

Pembangunan sodetan itu merupakan rencana lama pemerintah untuk menanggulangi bencana banjir di wilayah DKI Jakarta dan Banten. Bahkan, pemerintah telah mendapat pinjaman Pemerintah Jepang melalui Japan Bank for International Coorperation (JBIC) senilai Rp1,3 triliun.

Namun rencana tersebut mendapat tantangan warga Tangerang yang menduga pembangunan sudetan itu akan mengalihkan banjir dari DKI Jakarta ke wilayahnya saja.

Soenarno mengatakan, sebenarnya pembangunan itu tidak mengalihkan banjir ke wilayah Tangerang, seperti yang dikhawatirkan warga sekitarnya, karena studi kelayakan pembangunan tersebut juga akan melakukan normalisasi atas Sungai Cisadane. Selain itu debit air yang dialihkan juga hanya 300 m3/detik dan akan dilengkapi pembangunan dua reservoar di Genteng dan Ciawi, yang mampu menampung 10 juta m2 air.

Dia mengatakan, hal itu merupakan contoh permasalahan yang ada dalam perencanaan dan pengembangan sumberdaya air yang harus dicarikan pemecahannya secara bersama-sama.

Contoh lain, adalah mengenai konservasi Segara Anakan di Cilacap, dengan memindahkan muara sungai Citanduy ke arah Pangandaran, ternyata juga berlarut-larut penyelesaiannya karena Pemerintah Propinsi Jawa Barat terlampau khawatir terhadap dampaknya di kemudian hari.

“Padahal, pemerintah Pusat tentu tidak akan lepas tangan dengan dampak yang mungkin terjadi. Hal itu semua ditambah masalah pembebasan tanah yang membuat pelaksanaan konstruksi prasarana pengembangan sumberdaya air menjadi tidak berjalan,” ujarnya.

Momentum

Soenarno menambahkan, saat ini merupakan momentum yang baik untuk melancarkan gerakan kepedulian masyarakat terhadap air, setelah kejadian banjir lalu di Jakarta.

“Saat ini tekanan publik sangat kuat dalam upaya mengatasi berbagai dampak yang ditimbulkan karena masalah air. Momentum itu telah mencapai puncaknya saat bencana banjir yang baru saja dialami dan masih begitu membekas dalam masyarakat, khususnya di Jakarta,” ujarnya.

Menurut dia, hendaknya ada upaya sistematis untuk mempertahankan momentum tersebut, sekaligus menggalang gerakan kepedulian dalam kerangka membentuk dan mengembangkan budaya hemat air dalam kehidupan masyarakat.

“Sejalan dengan itu pula, sudah saatnya untuk membawa isu sumberdaya air ke puncak agenda politik yang akan memberikan pijakan yang lebih kuat untuk menggalang keberhasilan jangka panjang pengelolaan sumberdaya air yang berkelanjutan,” ujar Soenarno. [Tma, Ant]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: