Pengolahan Sampah Ciliwung

Januari 2009

Perlu 90 Truk untuk Angkut Sampah Sungai Ciliwung

Sumber: http://www.tempo.co/ 17 Januari 2009

TEMPO Interaktif, Jakarta: Hujan deras yang mengguyur kawasan Jabodetabek dan sekitarnya beberapa hari lalu membuat aliran Sungai Ciliwung dipenuhi sampah. Dinas Kebersihan DKI Jakarta mencatat sampah yang tersangkut di Jembatan Kalibata, Jakarta Timur, selama tiga hari saja mencapai 1.800 meter kubik atau setara 90 truk pengangkut sampah.

Kepala Dinas Kebersihan Eko Bharuna mengatakan sampah akan semakin meningkat seiring tingginya curah hujan. Berbagai macam jenis sampah ditemukan di aliran Sungai Ciliwung ini. “Sebagian besar sampah berbentuk stereoform (gabus warna putih),” kata Eko melalui sambungan telepon, Sabtu (17/1).

Selain dari Jakarta, sampah rumah tangga, kayu dan gabus di Sungai Ciliwung juga datang dari wilayah Bogor. “Kami meminta kesadaran dari masyarakat,” kata Eko. Tanpa itu, kata dia, masalah banjir di sekitar bantaran Ibu kota tidak ada berkurang.

Pemerintah dalam hal ini Dinas pekerjaan Umum, Dinas Kebersihan, dibantu TNI, Satuan Polisi Pamong Praja dan masyarakat terus melakukan pengawasan terhadap sampah di kawasan Kalibata. “Minggu (18/1) ini sampah sudah bisa dibersihkan,” ucap Eko. Apabila intensitas hujan meningkat, sampah dengan cepat terkumpul kembali

Di pintu air manggarai tumpukan sampah juga terlihat. Menurut petugas pintu air, Jono, saat hujan sampah yang tersangkut di pintu air bisa mencapai 250 meter kubik atau setara dengan 12 truk. “Setiap hari truk pengangkut sampah selalu bekerja,” tutur Jono.

RUDY PRASETYO

Sampah Ciliwung Sumber Rupiah

Sumber: http://nasional.kompas.com/ 30 Januari 2009

KOMPAS/WISNU WIDIANTORO
Petugas rumah kompos milik Gerakan Lingkungan Ciliwung Hijau yang terletak di Kampung Pulo, Kampung Melayu, Jakarta Timur, menggiling sampah organik sebelum diolah menjadi kompos, Rabu (28/1). Setiap hari rumah kompos di bawah naungan Sanggar Ciliwung tersebut mengolah 40 kilogram sampah organik dari lima rukun tetangga di kawasan tersebut. Rumah kompos yang dikelola secara swadaya oleh masyarakat tersebut dimaksudkan mengurangi pembuangan sampah ke sungai.

Usaha mengatasi masalah sampah, termasuk sampah Ciliwung, tak hanya dapat dilakukan dengan mencari alternatif tempat pembuangan akhir lain. Solusi masalah sampah juga bisa ditemukan dengan menumbuhkembangkan pandangan bahwa sampah merupakan sumber daya ekonomi yang menguntungkan.

Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit. Apakah sampah bisa menjadi pemicu bencana banjir atau menghasilkan rupiah, itu sangat bergantung pada sikap warga menghadapi limbah rumah tangga yang jumlahnya melimpah di Sungai Ciliwung.

Jika dikelola dengan baik, sampah ternyata tak selalu jadi masalah. Sanggar Merdeka Ciliwung, kelompok pemberdayaan masyarakat bantaran Ciliwung di RT 5 dan 8 RW 12 Bukit Duri, Jakarta Selatan, telah membuktikannya. ”Sekarang ada sepuluh orang yang terlibat bisnis sampah. Sampah yang tidak diolah dibuang ke penampungan di Tebet,” kata Rachmat (39), seorang warga Kelurahan Bukit Duri.

Sampah yang menjijikkan mampu mereka olah hingga bisa mendatangkan keuntungan ekonomi. Kegiatan mengolah sampah menjadi kompos sekaligus mendidik warga untuk mau memilah sampah. Meskipun pemisahan antara sampah organik dan anorganik oleh warga belum sempurna, langkah ini mampu mengubah gaya hidup warga bantaran kali dan mengajak mereka untuk hidup lebih sehat.

Dari 50-80 kilogram sampah organik, yang terdiri atas sayuran, sisa makanan, dan tumbuhan, setelah ditambah dengan bahan-bahan pengurai bakteri mampu menghasilkan sekitar 100 kilogram kompos. Harga jual kompos Rp 5.000 per kilogram. Kekurangan pasokan sampah dari warga ditutup pengelola dengan sampah sayuran yang diambil dari Pasar Jatinegara.

Setelah didampingi selama 15 tahun lebih, warga bantaran Ciliwung akhirnya mau mengolah sampah. Dengan memberinya nilai ekonomis, sampah akan dilihat warga kelas bawah yang berpenghasilan minim sebagai peluang menambah rezeki.

Peluang emas

Ketua Umum Asosiasi Persampahan Indonesia Sri Bebassari mengingatkan, kontributor sampah bukan hanya masyarakat, tetapi juga industri yang jumlahnya sangat besar. Setiap orang menghasilkan sampah sebanyak 0,5 kilogram per hari. Sumber sampah yang dihasilkan, salah satunya, adalah dari penggunaan produk-produk industri, terutama aneka kemasan makanan dan minuman dari plastik.

”Selama ini yang disalahkan hanya konsumen. Demi keadilan, produsen yang menghasilkan barang-barang yang digunakan konsumen juga harus dituntut tanggung jawabnya,” kata Sri Bebassari. Produsen seharusnya menggunakan kemasan produk yang dapat dengan mudah diurai alam, seperti plastik yang cepat terurai atau mengganti plastik dengan kertas.

Ketua Program Pascasarjana Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia Setyo Sarwanto Moersidik menambahkan, pengelolaan sampah yang dilakukan sejumlah pemerintah daerah umumnya masih bertumpu pada proyek pembangunan fisik, berteknologi tinggi, dan membutuhkan investasi besar.

Padahal, sebagian masyarakat masih memiliki modal sosial yang tinggi dan dapat diberdayakan, khususnya untuk pengelolaan sampah. ”Pemerintah masih belum memandang rekayasa sosial dalam penanganan sampah sebagai hal yang penting,” ujar Setyo.

Kondisi itu justru sering kali menimbulkan kekonyolan dalam pengelolaan sampah. Warga disuruh membuang sampah ke tempat sampah, tetapi tak ada tempat sampahnya. Warga diminta memisahkan sampah kering dan basah, tetapi setelah diangkut ke tempat pembuangan sementara, sampah berbeda jenis itu kembali disatukan.

Setyo mengakui, memang tidak semua masyarakat dapat diberdayakan untuk mengelola sampahnya sendiri. Karena itu, pemerintah perlu memetakan kelompok masyarakat mana saja yang dapat digarap. Penentuan kelompok masyarakat ini juga harus dilakukan dengan memerhatikan etnohidrolik atau budaya airnya. Hal ini akan memberikan langkah yang tepat bagi pemerintah untuk mengingatkan warga agar tidak membuang sampahnya di kali, bukan dengan seruan semata.

Salah satu kelompok masyarakat yang dapat diberdayakan adalah kelompok kaum ibu yang tergabung dalam kelompok Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) atau Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) seperti pada masa Orde Baru. Memang cara ini masih melibatkan peran pemerintah yang cukup kuat. Namun, cara itu mampu mengajak masyarakat untuk mencegah penyakit. ”Masih 30-40 persen warga Jakarta dapat didorong untuk membuat sistem pengelolaan sampah mandiri, termasuk mereka yang berasal dari pendidikan tinggi maupun ekonomi menengah,” katanya.

Pemberdayaan masyarakat untuk mengelola sampahnya sendiri memang membutuhkan waktu panjang. Tetapi, hal itu harus dilakukan dari sekarang melalui penganggaran yang memadai untuk melakukan rekayasa sosial tersebut. Sayangnya, rekayasa sosial ini masih dipahami pemerintah hanya dengan cara sosialisasi dan imbauan. (Iwan Santosa/ Muhammad Zaid Wahyudi/ Ester Lince Napitupulu)

Februari 2012

Bangun 45 TPS, KemenPU Dukung Gerakan Ciliwung Bersih

Sumber: http://ciptakarya.pu.go.id/19 Februari 2012

Gerakan Ciliwung Bersih (GCB) terus digalakkan. Dukungan Kementerian Pekerjaaan Umum dilakukan dengan membangun Tempat Pembungan Sampah (TPS) 3R di 45 lokasi dan juga Program Sanitasi Berbasis Masyarakat (Sanimas) sebanyak 8 titik untuk permukiman masyarakat di sepanjang aliran Sungai Ciliwung. Untuk TPS, saat ini telah telah dibangun sebanyak 5 buah, 1 dalam proses dan 39 dalam rencana. Sementara untuk Sanimas telah terbangun 2 buah, 5 dalam proses dan 8 dalam rencana.

Hal tersebut disampaikan Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto dalam acara Upaya Meningkatkan Peran Aktif Dunia Usaha Gerakan Ciliwung Bersih di Jakarta, Sabtu (18/2). Hadir dalam acara tersebut Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, Menteri Kependudukan dan Lingkungan Hidup (KLH) Balthasar Kambuaya, Ketua GCB Erna Witoelar, Dirjen Cipta Karya Budi Yuwono dan Dirjen SDA Moh. Amron.

Djoko Kirmanto berharap peran swasta melalui program CSR dapat membantu pembangunan Sanimas maupun TPS 3R Kementerian PU yang belum terealisasikan.

“Manajemen sungai bersih tidak dapat berjalan sukses dan berkelanjutan jika hanya ditangani oleh Pemerintah. Banyak aktor lain yang dapat berperan di sini, antara lain pengusaha, BUMN, Perguruan Tinggi, lembaga /kelompok masyarakat,” kata Djoko.

Djoko menambahkan, dari 13 sungai yang mengalir di Jakarta, Sungai Ciliwung memiliki dampak yang paling luas ketika musim hujan. Pasalnya, sungai ini mengalir melalui tengah kota Jakarta dan melintasi banyak perkampungan, perumahan padat dan pemukiman-pemukiman kumuh.

Sementara itu Ketua GCB, Erna Witoelar mengatakan, GCB didirikan lebih dari 20 tahun yang lalu. GCB didirikan untuk “mengeroyok” permasalahan yang dihadapi, ramai-rami berupaya secara terpadu menuju Ciliwung yang lebih bersih.

Untuk itu tambah dia, sebanyak 59 institusi, baik dari pemerintah pusat dan daerah, perguruan tinggi, lsm, dunia usaha bersama-sama dikukuhkan melalui suatu akte notaries untuk bergerak bersama. “Mari kita keroyok Sungai Ciliwung ini agar bermanfaaat bagi kita semua,” katanya.

Gubernur DKI Jakarta, Fauzibowo mengatakan, kegiatan demonstrasi pembersihan Sungai Ciliwung yang dilaksanakan hari ini adalah salah satu batu loncatan penting dalam revitalisasi Gerakan Ciliwung Bersih.

Gerakan ini juga tambah dia, dapat menggulirkan kegiatan atau bahkan program yang lebih besar, khususnya yang melibatkan peran swasta melalui Corporate Social Responsibility (CSR). (dvt)

SAMPAH: Pemerintah bangun 39 TPST di bantaran Ciliwung 

Oleh Nurudin Abdullah 

Sumber:  http://www.bisnis.com/ 19 Februari 2012

JAKARTA: Kementrian Pekerjaan Umum secara bertahap membangun 39 tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) dengan investasi sekitar Rp700 juta-Rp1,5 miliar per unit di sepanjang aliran sungai Ciliwung di wilayah Jakarta dan daerah hulu guna umencegah pencemaran sungai itu.

Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto mengatakan tingkat pencemaran sungai Ciliwung cukup parah mencapai 360 m3 sampah per hari dari limbah domestik sekitar 272.000 jiwa yang tinggal di sepanjang aliran sungai yang menjadi salah satu icon Jakarta tersebut.

“Hasil kajian kualitas air Ciliwung memperlihatkan masih banyak pembuangan limbah dan sampah di 45 titik yang tersebar di 15 kelurahan dengan volume mencapai 360 m3 per hari. Namun, proses pengangkutan sampah itu baru bisa dilakukan di pintu air Manggarai,” katanya.

Djoko dalam acara demontrasi pembersihan sungai Ciliwung yang dilakukan Gerakan Ciliwung Bersih di kawasan Karet Tengsin, Tanah Abang Jakarta, pada akhir pekan lalu, mengatakan telah membangun 6 unit dari rencana 39 TPSP tersebut.

Menurutnya, TPST dengan konsep reduce, reuse, dan recycle yang antara lain menghasilkan produk daur ulang, kompos dan gas metan sebagai sumber energi alternatif yang bisa dipakau untuk memasak itu dapat mencegah agar sampah tidak dibuang ke sungai.

Kementrian Pekerjaan Umum, lanjutnya, selain 6 TPST itu juga telah membangun 7 unit dari 8 pengelolaan air limbah yang berasal dari permukiman , industri dan gedung perkantoran di sepanjang aliran sungai yang membelah kota Jakarta.

“Kami berharap ada swasta yang berpartisipasi membangun TPST yang investasinya mencapai sekitar Rp700 juta-Rp1,5 juta per unit. Dan kepada swasta itu dipersilahkan memasang logo perusahaannya dengan ukuran yang besar di lokasi TPST,” tegasnya.

Sementara itu Menteri Lingkungan Hidup Balthasar Kambuaya mengatakan kementrian dengan dukungan banyak pihak dan Gerakan Ciliwung Bersih (GCB) berhasil menyusun master plan penanganan pencemaran sungai Ciliwung dari hulu hingga hiliarnya.

“Selain itu juga terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat dan industri tentang penanganan pencemaran air sungai Ciliwung, termasuk mengenai sanksi administratif dan pidana bagi industri dan siapa saja yang membuang limbah ke sungai,” ujarnya.

Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo pada kesempatan yang sama mengatakan kepedulian dan rasa memiliki warga terhadap sungai Ciliwung masih rendah sehingga sulit untuk diajak menjaga, merawat, membersihkan dan membangun sungai tersebut.

“Untuk itu Pemprov DKI mendukung kegiatan yang diselenggarakan Gerakan Ciliwung Bersih maupun berbagai institusi dan perusahaan swasta untuk kebaikan sungai Ciliwung, karena dapat membangkitkan rasa peduli dan rasa memiliki di kalangan warga terhadap sungai ini,” ujarnya.

Sementara itu Pembina Gerakan Ciliwung Bersih Erna Witoelar mengatakan GCB dengan dukungan 59 institusi dari unsur pemerintah pusat dan daerah, perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat dan dunia usaha berusaha terus mendorong upaya perlindungan sungai Ciliwung.

Apalagi, lanjutnya, sungai Ciliwung yang merupakan anugrah dari Tuhan yang tidak boleh dikotori dengan membuang limbah ke dalamnya, sehingga sungai Ciliwung dapat menjalankan fungsinya dengan baik mengalirkan air dari hulu ke laut. (sut)

PU BANGUN TPST DUKUNG CILIWUNG BERSIH

Sumber: http://www.pu.go.id/  21 Februari  2012 

Kementerian Pekerjaan Umum (PU) dalam mendukung Gerakan Ciliwung Bersih telah membangun Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) yang berbasis 3R (Reduce, Reuse, Recycle) di enam lokasi dan sanitasi berbasis masyarakat (Sanimas) sebanyak 7 lokasi. Jumlah tersebut masih tergolong kurang dari target TPST sebanyak 39 lokasi dan Sanimas 8 lokasi.

“Saya mengundang para mitra swasta untuk berpartisipasi secara aktif dalam program penataan sampah dan air limbah di kawasan Ciliwung, berupa pembangunan TPS 3R dan Sanimas,” ujar Menteri PU Djoko Kirmanto dalam sambutannya di acara Gerakan Ciliwung Bersih, Jakarta, beberapa waktu yang lalu.

Djoko menjelaskan pembangunan TPST 3R akan berupa pengolahan sampah yang selain dapat menghasilkan material daur ulang dan kompos, juga dapat menghasilkan gas metan untuk dimanfaatakan oleh masyarakat sebagai sumber energi alternatif. Sedangkan pembangunan Sanimas melalui pembangunan MCK dapat menghasilkan gas yang bisa digunakan untuk memasak.

Berdasarkan pada target Millenium Development Goals (MDGs), sampai saat ini akses terhadap sanitasi baru mencapai 51%. Padahal, pada tahun 2015 harus mencapai 62%. Kepedulian pemerintah pada bidang sanitasi berada pada titik tertinggi sejak beberapa tahun terakhir. Hal tersebut terlihat dari adanya peningkatan APBN menjadi Rp14,2 triliun hingga 2014. Namun jumlah tersebut masih belum mampu untuk membiayai peta kebutuhan peningkatan infrastruktur bagi seluruh kabupaten/kota di Indonesia.

“Skema pembiayaan yang bersumber dari non pemerintah perlu kita kembangkan termasuk kerja sama dgn negara-negara pendonor, swasta baik dlm bentuk investasi maupun dana Corporate Social Responsibility. Baik untuk pembangunan infrastruktur maupun untuk mendorong masyarakat dalam perubahan perilakunya,” tegas Djoko.

Pada kesempatan yang sama Direktur Jenderal (Dirjen) Cipta Karya Kementerian PU Budi Yuwono mengatakan, pihaknya menyediakan dua TPST di tiap lokasi dengan nilai masing-masing sekitar Rp1 miliar. ”Program ini ditawarkan kepada pengusaha-pengusaha, bank untuk memberikan investasi, kita beri contoh dan bantu dengan menjadi fasilitator,” tuturnya.

Sungai Ciliwung memiliki panjang kurang lebih 130 meter dari hulu sampai muara. Di sepanjang sungai ini terdapat 41 kelurahan dengan jumlah penduduk yang tinggal di pinggir sungai sebanyak 272.000 jiwa. Hasil pengkajian kualitas air Sungai Ciliwung menunjukkan masih banyak pembuangan limbah dan sampah minimal di 45 titik tersebar di 15 kelurahan dengan volume sampah yang dibuang ke sungai mencapai 360 m3 /hari. Oleh karenanya, penting dilakukan program TPST 3R dan Sanimas untuk menangani air limbah. Saat ini sudah ada 22 kelurahan dari 41 kelurahan yang berminat mendapatkan program tersebut.

Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo menuturkan pihaknya telah bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup membangun 2 instalasi air limbah sebagai percontohan sebagai upaya tidak membiarkan air limbah begitu saja masuk mencemari badan air sungai. “Ini nantinya akan menjadi standar di waktu yang akan datang,” katanya.

Gerakan Ciliwung Bersih (GCB) dilakukan oleh PT BNI Persero Tbk bersama pemerintah pusat yaitu PU dan Kementerian Lingkungan Hidup serta pemerintah provinsi DKI untuk merevitalisasi Sungai Ciliwung. Acara turut dihadiri oleh Menteri Lingkungan Hidup Balthasar Kambuaya dan Ketua GCB Erna Witoelar.

“Mari kita cintai Sungai Ciliwung ini dengan tidak membuang sampah sembarangan,” tutup Djoko. (dnd/ind)

Maret 2012 

Jakarta Mulai Bangun Pengolahan Sampah Terpadu 

Sumber: http://www.tempo.co/  30 Maret 2012 

TEMPO.CO, Jakarta – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mulai membangun tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) di kompleks Kopassus Cijantung, Jakarta Timur. Menurut Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, TPST merupakan konsep pengolahan sampah yang ramah lingkungan sekaligus bernilai ekonomis. “Ini konsep lingkungan hijau dengan nilai ekonomis tinggi,” katanya, Jumat, 30 Maret 2012.

Konsep TPST ini ditujukan buat mengolah sampah permukiman di sekitar Sungai Ciliwung. Kompleks Kopassus berada di kawasan Sungai Ciliwung segmen 5. Segmen ini bermula dari perbatasan Jakarta-Depok sampai Pintu Air Manggarai.

Kepala Bidang Pelestarian dan Tata Lingkungan Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah DKI, Rusman Sagala, mengatakan TPST tersebut akan menjadi contoh pengelolaan sampah yang melibatkan pemulung dengan masyarakat penghuni bantaran sungai. Dalam hal ini melibatkan pemulung dengan warga kompleks Kopassus sehingga sampah menjadi bernilai ekonomis.

Rusman mengatakan pencemaran Sungai Ciliwung mendesak untuk ditangani. Menurut dia, air sungai Ibu Kota sudah tercemar berat. Sumber utamanya, 80 persen limbah domestik, yaitu sampah dan sanitasi. Sisanya limbah industri. Sementara itu, sepanjang Ciliwung, ada banyak tempat penampungan sampah liar.

TPST Kopassus adalah TPST pertama yang dibuat terpadu dengan pengendalian pencemaran air. Caranya, setiap warga kompleks tersebut didorong untuk membuat lubang biopori dan sumur resapan di kawasan rumah mereka.

Lubang biopori adalah lubang dengan kedalaman tidak lebih dari satu meter. Jaraknya minimal dua meter dari sumur atau sumber air warga. Masing-masing warga membuat lubang biopori semampunya, sesuai ketersediaan lahan di rumah. “Bisa satu, bisa 10, sebisanya. Ini kan belum ada dasar hukumnya. Jadi sifatnya volunteer,” kata Rusman.

Di dalam lubang itu, ada zat renik yang makanannya unsur organik. Warga akan membuang limbah domestik organik ke sana. “Sehingga tidak banyak lagi limbah ke sungai.”

Selain lubang biopori, sampah domestik di kompleks ini nantinya juga akan diolah bersama pemulung. Sampah bakal dipilah sehingga lebih mudah disortir pemulung yang membutuhkan. Sampah organik digunakan untuk membuat kompos. Sampah plastik dijadikan kerajinan.

Sungai Ciliwung yang lebih bersih ditargetkan menjadi lokasi ekowisata sungai. “Dapat dijadikan lokasi edukasi. Anak-anak bisa arungi sungai dari perbatasan Depok ke kompleks Kopassus untuk lihat pengolahan sampah terpadu,” ujar Rusman.

Kopassus memang telah berkomitmen menjalankan program ini melalui nota kesepahaman (MoU) dengan Pemprov DKI 15 Januari 2012. Dengan adanya program TPST ini, Pemprov menargetkan tahun 2017 tidak ada lagi tumpukan sampah atau TPS liar di sepanjang bantaran Ciliwung. “Kami ingin kembalikan Ciliwung sebagai ikon Jakarta,” kata Foke.  ATMI PERTIWI

April 2012

Peletakan Batu Pertama TPST Kopassus Cijantung 

Sumber: http://www.ampl.or.id/02 April 2012 

DALAM rangkaian acara Hari Air Dunia (HAD) ke-20 Tahun 2012, Pemerintah Daerah DKI Jakarta bekerjasama dengan Kopassus melaksanakan kegiatan acara Peletakan Batu Pertama Pembangunan Tempat Pembuangan Sampah Terakhir (TPST) dan Penanaman Pohon di Lokasi Kopassus, (30/3), Jakarta.

Hadir dalam acara tersebut Sekretaris Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Sugiyanto dan Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Ciliwung Cisadane Imam Santoso. “Melihat kondisi air sungai yang sudah tercemar dengan limbah domestik menyebabkan kualitas dan kuantitas air menjadi menurun. Hal ini tentu saja terkait dengan pola kehidupan masyarakat yang masih belum memperhatikan dan menjaga kelestarian sumber daya air. Pembangunan TPST ini tentu saja sangat bermanfaat untuk masyarakat luas, diharapkan masyarakat bisa lebih bijak dalam menjaga kebersihan dan melestarikan lingkungan serta sumber daya air,” ujar Sugiyanto

Jika kita melihat kualitas air yang ada di Sungai CIliwung sudah mulai berkurang, hal itu disebabkan oleh pertambahan jumlah penduduk yang pesat dan juga kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat di sekitar bantaran Sungai Ciliwung.

“Kegiatan pembangunan TPST dan penanaman pohon selain merupakan rangkaian HAD tahun 2012 juga sebagai bukti keprihatinan kita atas keadaan lingkungan hidup terutama disekitar bantaran sungai untuk itu dengan adanya kegiatan tersebut dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kebersihan lingkungan hidup dan ketersediaan sumber daya air.” ujar Fauzi Bowo.

Selain peletakan batu pertama Gubernur DKI Jakarta juga melakukan aksi tanam pohon serta pemberian bibit pohon kepada masyarakat. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membangun tempat pembuangan sampah terpadu (TPST) di Kompleks Kopassus Cijantung, Jakarta Timur.

Pembangunan TPST itu untuk menghilangkan 68 titik tempat pembuangan sampah (TPS) liar yang berada di bantaran Sungai Ciliwung mulai dari Jalan TB Simatupang hingga perbatasan Kota Depok. Pembangunan TPST itu dimulai pada Jumat (30/3/2012) dan akan selesai pada akhir tahun 2012.

Pembangunan area TPST seluas 600 meter persegi itu diawali dengan peletakan batu pertama oleh Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo. Keberadaan TPST di area kompleks militer itu merupakan tindak lanjut kesepakatan antara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Danjen Kopassus yang ditandatangani pada Januari 2012.

Fauzi mengatakan, pembangunan TPST itu juga bagian dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk menata bantaran Sungai Ciliwung. Fauzi berharap Kementerian Pekerjaan Umum menetapkan Sungai Ciliwung sebagai salah satu ikon Kota Jakarta. Nantinya sungai itu bisa dijadikan wisata air dan kawasan hijau.

“Jika pembangunan TPST di Komplek Kopassus ini selesai maka akan dilanjutkan di tempat lainnya. Seperti di kawasan TB Simatupang, Pasarrebo,” kata Fauzi. Eko Bharuna, Kepala Dinas Kebersihan DKI Jakarta, mengatakan, optimistis tahun 2017 TPST pengganti 68 TPS liar di bantaran Sungai Ciliwung ini akan terwujud. Dinas Kebersihan akan mencari lahan lainnya untuk pembuatan TPST pengganti.

“Jika lahan ada, kami akan membangun. Juga mempertimbangkan kesepakatan masyarakat sekitar,” katanya. Eko mengatakan, Dinas Kebersihan telah membantu menyediakan peralatan untuk mengolah sampah berupa mesin pencacah dan mesin komposter di TPST Kompleks Kopassus Cijantung. Termasuk menyumbang dua unit gerobak motor, 2.500 plastik tempat sampah, dan tujuh truk pengangkut sampah. “Nantinya di TPST itu menjadi TPST yang ramah lingkungan. Karena ada peralatan pengolah sampahnya untuk menjadi kompos,” kata Eko. Eko mengatakan, pada tahun 2017 bantaran Sungai Ciliwung bersih dari tempat pembuangan sampah liar. [siaran pers/ Eko}

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: