Politisi dan Ciliwung

Juli 2007

Pilkada DKI Jakarta, Adang Daradjatun Telusuri Kali Ciliwung

Sumber: http://www.indosiar.com/ 30 Juli 2007

indosiar.com, Jakarta – Sementara itu calon Gubernur peserta Pilkada dengan nomor urut 1 Adang Daradjatun hari Senin (30/07/07) ini menggelar kegiatan kampanye dengan menyelusuri Kali Ciliwung. Calon Gubernur ini melakukan dialog dengan masyarakat yang tinggal di bantaran Sungai Ciliwung.

Berbeda dengan kampanye – kampanye sebelumnya yang dilakukan diruang tertutup dan terbuka untuk menemui para pendukungnya calon Gubernur DKI Jakarta Adang Daradjatun, hari ini melakukan kampanye simpatik dengan menyelusuri Sungai Ciliwung, Jakarta.
Kampanye hari ke 9 ini calon Gubernur Adang Daradjatun yang diusung Partai Keadilan Sejahtera mulai menyelusuri Sungai Ciliwung sejak pukul 09.00 WIB tadi. Setelah menyelusuri sungai selama 1 jam dan berdialog dengan warga dibantaran tinggal Sungai Ciliwung.

Sementara itu dalam rangkaian kampanye ini sempat ada insiden terbaliknya perahu yang ditumpangi sejumlah wartawan dan rombongan kampanye Adang. Kampanye simpatik ini kemudian melanjutkan dengan menemui masyarakat pengemudi dan kondektur di Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur. (Tarwin Nasution/Dv).

Desember 2011

Belajar dari Alam, Merajut Inisiatif Warga

Sumber: http://www.faisal-biem.com/ 11 Desember 2011 

Faisal Basri beserta teman-temanya, Minggu, pagi, 11 Desember 2011, meluncur ke Stasiun Tebet, Jakarta Selatan. Pagi itu, mereka hendak menuju kali Ciliwung di daerah Bojong Gede, Depok. Sampai di stasiun tebet, Dani, teman Faisal, bergegas mendekati loket penjualan tiket Kereta Rel Listrik (KRL) tujuan stasiun Bojong Gede sebanyak 9 lembar. Setelah memeroleh tiket, ia membagikan tiket pada teman-temanya, termasuk pada Faisal Basri.

Tak selang lama, berkisar pukul 08.30, KRL datang dan mandeg di stasiun ini untuk menurunkan, sekaligus menaikan penumpang. Mereka kemudian naik ke atas kereta. Kursi penumpang nampak penuh, sehingga mereka harus berdiri. Bagi Faisal, naik kereta bukanlah barang baru, sebab, ia sering menggunakan moda tranportasi publik ini jika mengajar di UI, Depok.

Tiba di stasiun Bojong Gede, Faisal beserta kawan-kawan, kemudian turun dari KRL dan langsung keluar dari stasiun. Mereka mencari ojek serta sebagian di jemput oleh teman-temanya. Tak lebih dari 15 menit, mereka sampai di lokasi tujuan.

Sampai lokasi di bantaran kali Ciliwung ini, hawa sejuk sangat terasa. Rerimbunan pepohonan seperti pohon cempedak, benda serta bambu merindangi yang tumbuh subur. Angin semilir menambah nyaman, membuat betah berlama-lama di lokasi yang kaya akan keanekaragaman hayati ini.

Abdul Kodir, Hendi Adam, Hasanudin dan beberapa teman dari Komunitas Ciliwung Bojong Gede, menyambut kedatangan Faisal dan kawan-kawan. Mereka kemudian mengajak singgah di warung kopi yang ada di pinggiran kali ciliwung tersebut. Abdul Kodir kemudian menawarkan kopi seduh pada Faisal.

Seraya menikmati kopi, mereka berbincang-bincang dengan santai dan akrab. Pembicaraan seputar lingkungan, terutama kali ciliwung. ”Saya beserta kawan-kawan, untuk menjaga kali ciliwung membangun komunitas,” ujar Abdul Kodir, salah satu pengurus Komunitas Kali Ciliwung Bojong Gede. Ia beserta teman-temanya, sambungnya, melakukan upaya penyadaran pada warga agar mencintai lingkungan. Programnya, antara lain, membuat Taman Keanekaragaman Hayati dan Mencanangkan Tahun Kunjungan Wisata. Hendi Adam, juga mempertanyakan kebijakan lingkungan yang kurang mendasar dan tidak menyentuh persoalan.

”Inisiatif warga, sesungguhnya sangat hebat, hanya perlu di koneksikan,” timpal Faisal Basri. Saya makin yakin, lanjut dia, bahwa model pembangunan selama ini tidak tepat. Pembangunan berbasis komunitas atau dalam teori pembangunan sering disebut Community-Based Development sesungguhnya lebih cocok. Alam, kata Faisal, tak boleh hanya dipahami sekadar lingkungan semata, melainkan edukasi.

Abdul Kodir kemudian menjelaskan, bahwa daerah ini sesungguhnya oleh almarhum Ali Sadikin dijadikan cagar budaya, tapi kenyataan sampai sekarang nol. Perhatian pemerintah terhadap titik-titik Ciliwung yang tercemar, menurutnya, tidak ada. Seharusnya, imbuhnya, pemerintah membuat paket-paket pendidikan lingkungan. Ia berharap, Ciliwung dapat menjadi Taman Keanekaragaman Hayati.

”APBD DKI Jakarta, seharusnya, bisa dialokasikan ke Depok untuk mengelola sampah,”tandas Faisal. Untuk menyelesaikan masalah di Jakarta, kata dia, tidak harus dikerjakan di Jakarta, melainkan di luar Jakarta, seperti Depok. Menurutnya, menyelesaikan masalah seharusnya sampai akar-akarnya, bukan sekadar yang ada dipermukaan. Banjir di Jakarta, katanya, salah satu penyebabnya karena sampah di Depok yang tidak terkelola dengan baik. Jika dikelola dengan baik, tentu akan mengurangi masalah di Jakarta.

Usai ngobrol, Faisal beserta teman-temanya, selanjutnya diajak menyusuri perkampungan. Mereka kemudian beranjak dan kemudian berjalan menapaki jalan setapak yang penuh semak yang dikanan-kirinya terdapat rupa-rupa jenis pepohonan. Kadang, terdengar kicauan burung serta terlihat tupai yang melompat di pepohonan.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 500 meter, hamparan kali Ciliwung ada di depan mata. Mereka harus menyeberangi kali yang lebarnya tak kurang dari 20 meter. Airnya masih bening, mengalir deras lantaran tak ada sumbatan sampah. Meraka menyingsikan celana, kemudian nyemplung kali dan berjalan merayap-rayap membelah laju air yang mengalir. Meski kedalaman sungai cetek, hanya selutut orang dewasa, tapi mereka nampak hati-hati dan berjalan dengan pelan. Faisal, dipandu oleh Hasanudin agar tak salah memilih jalan, disamping agar tak keliru dalam menjejakan kaki didasar kali.

Faisal termasuk orang awal yang sampai di pinggir kali. Ia kemudian sejenak beristirahat, selain menunggu rombongannya yang masih menyeberang, matanya memandang hamparan kali, nampaknya juga sedang menikmati pemandangan kali Ciliwung yang masih alami serta berpanorama indah.

Perjalanan kembali berlanjut. Mereka kembali melewati jalan menanjak yang penuh semak serta banyak durinya. Tak lama, mereka tiba di lokasi perkampungan, yang menurut Hasanudin adalah Perumahan Gaperi III. Meski perumahan, suasananya seperti di pedesaan, sebab, masih banyak tumbuh pohon disekitar itu. Perjalanan terus berlanjut, hingga sampai di gang baru perkampungan padat penduduk. Mereka menyusur gang sempit dan berkelok-kelok. Kadang jika berpapasan, harus ada yang mengalah memiringkan badan agar muat dilewati.

Di penghujung gang, nampak jembatan beralaskan papan kayu. Meraka melewati jembatan tradisional tersebut, yang besi penyangganya sudah pada karatan. Kendati demikian, ternyata jembatan ini masih kuat, terbukti tak roboh, meski dilewati lalu-lalang pejalan. Tak jarang, para pejalan yang melewati, malah berhenti sejenak untuk melihat aliran air di dasar kali.

Usai melewati jembatan ini, mereka bertemu dengan perkampungan Gelonggong. Persis, di depan jembatan, Faisal Basri, sejenak berhenti, menghampiri bapak-bapak yang sedang memberi asupan makan sapi di kandang. Nampaknya, ia mengajak berbincang bapak itu.

Perjalanan terus berlanjut, melewati pemukiman penduduk. Tanpa disengaja di salah satu gang,Faisal melihat ibu-ibu dengan menenteng tas kecil dan membawa buku berjalan menghampiri rumah penduduk. ”Itu tukang kredit,” ujarnya pada salah satu temanya. Menurutnya, masyarakat bawah adalah konsumen para tukang kredit, sebab, terjebak gaya hidup konsumerisme.

Di ujung perkampungan Gelonggong, mereka ketemu lagi kali Ciliwung, Faisal, di ajak nyebur kali Ciliwung. Menurut Abdul Kadir, kegiatan ini dinamakan memungut sampah.

Faisal kemudian memakai pelampung, sebab tak bisa berenang. Bersama, Abdul Kadir serta Hasanudin, bertiga mereka nyemplung kali. Nampaknya, kedalaman kali itu hanya setinggi dada orang dewasa, sehingga tak membuat Faisal khawatir kelelep. Sementara, teman-teman yang lain hanya melihat dari atas jembatan, sembari melihat apa yang mereka lakukan di kali tersebut.

Faisal, Abdul dan Hasanudin bergerak mengalir mengikuti arus air. Tampak dari atas jembatan, mereka juga melakukan perbincangan. Meski jarang, setiap ada sampah, secara bergantian mereka memungut dan di lempar di bibir kali. Nampaknya, kegiatan semacam ini asyik, selain sebagai upaya penyelamatan lingkungan, potensial pula dijadikan paket wisata. Sekitar 1,5 kilometer, Faisal dan kedua temanya, menyusuri kali Ciliwung. Mereka kemudian naik ke daratan, dengan berbasah-basah kuyup, terus ganti pakain.

Rombongan beserta Faisal, tak selang lama, kemudian bergerak melanjutkan perjalanan menuju lokasi start. Jaraknya, hanya selemparan batu sehingga tidak sampai lima menit sampai. Mereka kemudian kembali ke warung kopi, kemudian istirahat duduk-duduk di beranda.

Nasi, sayur rebung, sambal pocung, mie dan lalapan pepaya rebus, sudah disajikan di meja. Abdul Kadir, mempersilahkan rombongan untuk pada makan siang. Meja kecil itu, mendadak dikerubuti. Faisal mengambil belakangan. Hendi Adam, menerangkan, bahwa makanan yang disajikan merupakan makanan khas ciliwung. Meski menunya sederhana, makanan itu mengundang selera, apalagi ditengah usai melakukan perjalanan yang menguras energi.

Usai makan, Faisal Basri beserta teman-temanya, berkemas-kemas kemudian pamit pulang. Faisal diantar oleh warga setempat dengan sepeda motor menuju stasiun Bojong Gede. Sementara beberapa teman yang lainya, menyusul diantar dengan mobil. Sampai di stasiun, tak terlalu lama, KRL sudah datang. Mereka kemudian berkemas, kemudian naik KRL. Sampai di stasiun Tebet pukul 14.00 WIB. Dari stasiun, mereka carter angkot untuk sampai di sekretariat Faisal Basri-Biem Benjamin.(Arif Nurul Imam)

Susuri Ciliwung, Faisal Basri Prihatin

Sumber: http://www.yiela.com/ 24 Desember 2011 

FABIAN JANUARIUS KUWADO
Calon Gubernur DKI Jakarta perwakilan independen, Faisal Basri, Sabtu (24/12/2011) menyusuri Sungai Ciliwung dari Pondok Cina, Depok menuju Balekambang, Condet.

JAKARTA, KOMPAS.com – Usai menyusuri Sungai Ciliwung, Faisal Basri salah satu calon gubernur DKI Jakarta perwakilan independen, mengaku prihatin dengan kondisi sungai. Ia tidak menyangka tumpukan sampah ada di sepanjang sungai tersebut. Ia juga berkelakar jangan-jangan sungai tersebut merupakan tempat sampah terbesar di dunia. Hal tersebut dikatakan Faisal Basri usai 5,5 jam menyusuri Sungai Ciliwung di Komunitas Ciliwung Condet, Jakarta Timur (24/12/2011).

“Saya nggak nyangka bisa sebanyak itu sampahnya, banyak kelok-kelokan yang ada sangkutan sampahnya, itu harus diperhatikan secara seksama. Barangkali sungai ini jadi tempat pembuangan sampah terbesar di dunia,” ujarnya.

Faisal beserta rombongan berangkat dari titik Sungai Ciliwung di daerah Pondok Cina, Depok dan berakhir di Balekambang, Condet, Jakarta Timur. Dengan menggunakan perahu karet, Faisal beserta rombongan kerap mengalami kesulitan dalam melintas di sungai tersebut akibat sampah yang bertumpuk-tumpuk.

Faisal juga teringat peristiwa banjir pada tahun sebelumnya yang semakin buruk hingga saat ini. “Berton-ton sampah berasal dari warga kita sendiri dan ditampung oleh sungai menyebabkan korban harta dan nyawa. Kita ingat kan banjir 2007, dimana 70 persen warga Jakarta terkena imbasnya,” katanya.

Faisal menganggap selain peran pemerintah, keterlibatan masyarakat menjadi faktor utama dalam memperbaiki kondisi Ciliwung. “Kuncinya itu di masyarakat sebenarnya, saya bangga dengan teman-teman komunitas Ciliwung, mereka bisa melibatkan warga sekitar,” tambahnya.

Selama perjalanan, Faisal turut mengungkapkan apresiasinya terhadap pihak swasta yang ikut memberikan perhatian pada lingkungan Sungai Ciliwung. Ia malah menyayangkan Pemprov DKI Jakarta yang dirasa masih kurang perhatian terhadap kondisi sungai tersebut. “Kita lihat inisiatif swasta sudah bagus seperti Gunadarma tadi dibuat tumpukan dinding rapih, tampaknya sentuhan pemerintah masih kurang, ke depan harusnya itu diperkuat,” ujarnya.

Permasalahan Kali Ciliwung Harus Diselesaikan Bersama

Sumber: http://news.okezone.com/ 24 Desember 2011  

JAKARTA – Berbagai Komunitas sepanjang kali Ciliwung yang tergabung ke dalam kesatuan “Ciliwung Institute”, melakukan aksi “Susur Sungai Ciliwung” dengan rute dari Pondok Cina hingga Condet Balekambang. Acara ini juga didampingi oleh Calon Gubernur Independen Faisal Basri.

“Ciliwung sebagai salah satu hulu untuk mengurangi banjir, ini adalah elemen yang bisa mengurangi banjir,” kata Faisal Basri saat membuka acara, Depok, (24/12/2011).

Dia menyayangkan, sampah yang dibuang warga ke kali Ciliwung. “Kita lihat di sepanjang sungai ini orang-orang ini membuang sampah di sungai. Mungkin sungai tempat pembungan sampah terbesar di dunia,” tuturnya.

Dia menjelaskan, sungai sejatinya adalah kunci dari perosalan banjir. Karena itu, dia berharap masyarakat bisa ikut membantu untuk menjaga dan mencintai kali ciliwung itu sendiri.

“Kita kembalikan jalan air dan kita buat tak terganggu, tak rusak, tak dipersempit. Karena ini adalah kunci persoalan kota, lingkungan, tentu caranya dengan melibatkan masyarakat agar mencintai sungai,” tegasnya.

Karena sungai Ciliwung melibatkan beberapa daerah, Faisal menilai perlu adanya manajemen terpadu antarpemerintah daerah.

“Ke depan kita mengharapkan penduduk di sepanjang sungai Ciliwung bisa menikmati keindahan dari Ciliwung, oleh karena itu perlu kita rawat. Ini tanggungjawab kita, karena itu harus menjadi manajemen yang baik, nggak ada yang bisa membatasai, ini Depok dan ini Jakarta,” harapnya.
(kem)

Ironis, Sungai Ciliwung Kini Jadi Penampungan Sampah Fungsi 

Sumber: http://skalanews.com/ 24 Desember 2011

Skalanews – Kondisi Kali Ciliwung dari tahun ke tahun bisa jadi semakin memprihatinkan. Kondisi itulah yang dialami calon gubernur DKI dari jalur independen Faisal Basri saat melakukan aksi “Susur Sungai Ciliwung”.

Faisal yang mengambil rute dari Pondok Cina hingga Condet Balekambang menilai Ciliwung memiliki fungsi yang sangat penting. “Ciliwung sebagai salah satu hulu untuk mengurangi banjir,” kata Faisal Basri, Sabtu (24/12)

Karena berperan sangat penting menampung aliran air dari segala penjuru, Faisal menilai banyaknya sampah tentu saja dikhawatirkan akan menghambat fungsi Ciliwung. Bahkan Faisal menilai fungsi Ciliwung kini tak lagi untuk menampung air, tapi menampung sampah.

“Kita lihat di sepanjang sungai ini orang-orang ini membuang sampah di sungai. Mungkin sungai tempat pembuangan sampah terbesar di dunia,”bebernya.

Sebagai calon Gubernur, Faisal menilai kunci persoalan banjir yang melanda ibukota jakarta yakni terletak di fungsi sungai.

“Kita kembalikan jalan air dan kita buat tak terganggu, tak rusak, tak dipersempit. Karena ini adalah kunci persoalan kota, lingkungan, tentu caranya dengan melibatkan masyarakat agar mencintai sungai,” tegasnya.

“Ke depan kita mengharapkan penduduk di sepanjang sungai Ciliwung bisa menikmati keindahan dari Ciliwung, oleh karena itu perlu kita rawat. Ini tanggungjawab kita, karena itu harus menjadi manajemen yang baik, nggak ada yang bisa membatasi, ini Depok dan ini Jakarta,”pungkasnya. (Frida Astuti)

Januari 2012

Tantowi Yahya Gelar Dialog dengan Warga Ciliwung

Sumber: http://jakarta.tribunnews.com/  14 Januari 2012 

Laporan Wartawan Tribunnews.com Nurmulia Rekso P

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Politisi Partai Golkar Tantowi Yahya bersama Relawan Cinta Jakarta menyambangi warga di bantaran kali Ciliwung, Jakarta, Sabtu (14/1/2012).

Kehadiran Tantowi Yahya di kelurahan Kampung Melayu, Rt 06/08 ini untuk mencari tahu permasalahan banjir dari warga. “Hari ini saya dan tim saya berkunjung ke salah satu tempat yang merupakan langganan banjir, kali Ciliwung Kondisi biasa tidak ada air, dan belakangan terus tinggi, di khawatirkan seperti tahun-tahun sebelumnya akan banjir,” katanya.

Ia menganggap banjir sebagai masalah besar yang dihadapi warga Jakarta. Apalagi, hingga kini masalah banjir masih menghantui warga Jakarta.

Ketika ditanya apakah kegiatannya tersebut sebagai bagian dari kampanye calon gubernur DKI, Tantowi pun berkelit. Ia mengaku kegiatan tersebut untuk menumbuhkan rasa cinta warga kepada Jakarta.

“Saya tidak meminta masyarakat untuk memilih saya, saya hanya mengajak masyarakat untuk mencintai Jakarta,” tandasnya

Maret 2012

Faisail-Biem: Revitalisasi Sungai Ciliwung Atasi Banjir Jakarta 

Sumber: http://www.pedomannews.com/24 Maret 2012 

JAKARTA, PedomanNEWS – Calon Gubernur DKI Jakarta dari jalur independen, Faisal Basri berkomitmen mengatasi banjir musiman Jakarta dengan merevitalisasi sungai Ciliwung.

“Untuk mengatasi masalah banjir musiman Jakarta, kami berkomitmen akan merevitalisasi sungai Ciliwung. Kami bersama warga sekitar Ciliwung sudah menerapkan hal tersebut dengan menanam pohon di sekitar sungai Ciliwung,” ujar Faisal yang berpasangan Biem, di Jakarta, Sabtu (24/3).

Pembangunan ini, lanjut Faisal, salah satu upaya revitalisasi sungai Ciliwung guna mengatasi masalah banjir di Jakarta. “Revitalisasi sungai Ciliwung ini memerlukan insentif.”

Sebelumnya, Cawagub pasangan Hidayat Nur Wahid, Didik J. Rachbini mengatakan, pihaknya mempunyai lima cara untuk mengatasi masalah banjir Jakarta. Pertama membangun sistem kanal di Jakarta.

Kedua, penataan kanan-kiri bantaran kali atau sungai; ketiga membuat sistem penyerapan lingkungan rumah tangga dan sekitarnya; keempat bekerjasama di sektor hulu dan hilir; dan kelima membangun sistem manajemen yang akuntable.

“Sampai saat ini, di Jakarta belum ada sistem kanal, oleh karena itu kita bangun sistem kanal,” tandasnya.   Sunandar

April 2012

Sampah Bertumpuk, Kali Ciliwung Dianggap Tidak Terurus

Sumber: http://megapolitan.kompas.com/ 8 April 2012 

Bakal calon gubernur DKI Jakarta, Didik J Rachbini mengunjungi warga bantaran Kali Ciliwung, Condet, Jakarta Timur, Minggu (8/4/2012)

JAKARTA, KOMPAS.com – Bakal calon wakil gubernur DKI Jakarta, Didik J Rachbini menilai, pemerintah provinsi DKI Jakarta saat ini belum mengurus kali Ciliwung.

Padahal, Ciliwung merupakan salah satu kali yang membelah kota Jakarta. Belum lagi nama Ciliwung sudah begitu lekat dengan Jakarta, meski posisinya melintas wilayah lain.

Belum terurusnya Ciliwung, menurut Didik, terlihat dari banyaknya sampah di bantaran kali Ciliwung.

“Ini tidak ada yang tanggung jawab, jelas (arusnya) terhambat, tidak ada yang urus. Tapi di Condet ini relatif bagus. Tapi kapan-kapan kalau datang ke kampung Melayu, sampah sudah bertumpuk-tumpuk,” kata Didik saat mengunjungi warga di bantaran Kali Ciliwung, di Kelurahan Balekambang, Condet, Jakarta Timur, Minggu (8/4/2012).

Didik, yang mendampingi bakal calon gubernur Hidayat Nur Wahid, itu berjanji akan mengurus setiap sungai di Jakarta layaknya aset daerah.

Jika terpilih sebagai pemimpin Jakarta, dia dan Hidayat Nur Wahid berjanji membentuk badan otoritas yang khusus mengurus sungai-sungai di Jakarta. Badan tersebut akan melibatkan unsur masyarakat sekitar, pemerintah daerah, dan berkoordinasi dengan pemerintah pusat.

“Tidak hanya pemuda, instansi, walikota, camat, harus terlibat untuk mengurus aset kekayaan alam,” katanya.

Didik juga berjanji, dirinya bersama Hidayat Nur Wahid akan membangun sistem kanal di bawah laut untuk mencegah banjir.

“Sungai ini harus beres, akan diatur bersama-sama dengan pusat, saya akan bangun sistem kanal, sistem di bawah laut, agar aliran air itu lancar, dari banjir kanal timur, bersama ruas-ruas sungai yang kecil-kecil,” ujar Didik.

Selain terkait banjir, Didik juga berjanji akan mempercantik kawasan Condet dan menjadikannya sebagai daerah wisata. Salah satu caranya, dia akan menggalakkan penanaman anggrek oleh warga.

“Kayak di Singapura, gak punya lahan, tapi anggrek yang paling banyak diproduksi,” ujarnya.

Demikian juga terkait peningkatan perekonomian warga, ia berjanji akan meninjau usaha kecil menengah sebagai bagian dari programnya

 Juni 2012

Hidayat Janji Jadikan Sungai Ciliwung Seperti Sungai Chao Praya di Bangkok 

Sumber: http://news.detik.com/ 5 Juni 2012

Hidayat susuri Ciliwung (Iqbal/ detikcom)

Jakarta Calon Gubernur DKI Jakarta, Hidayat Nur Wahid, melakukan tinjauan ke sungai Ciliwung dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Se-Dunia. Dalam kunjungannya itu, Hidayat berjanji akan menjadikan sungai Ciliwung seperti Sungai Chao Praya di Bangkok.

“Yang harus dilakukan Gubernur DKI Jakarta mendatang untuk memperbaiki sungai ciliwung adalah membangun wisata sungai seperti sungai Chao Praya di Bangkok,” ujar Hidayat di sela-sela kegiatannya menyusuri sungai Ciliwung, Selasa, (5/6/2012).

Menurutnya, Sungai Chao Praya airnya sama cokelatnya seperti di Ciliwung, bahkan belakangnya juga banyak eceng gondok. Tetapi wisatanya maju dan berkembang, karena mereka memperhatikan kebersihan.

“Bedanya lagi rumah-rumah di Thailand menghadap sungai tidak seperti di Indonesia. Rumah masyarakat di Indonesia membelakangi sungai. Atau bisa juga Sungai Ciliwung mencontoh sungai-sungai yang ada di China. Beberapa pinggir sungai di sana dibebaskan dan dibuat jogging track atau jalur pejalan kaki,” jelasnya.

Pernyataan itu ia ungkapkan karena menurutnya tingkat pencemaran sungai Ciliwung cukup parah. Sampah per hari yang mengotori sungai Ciliwung mencapai 360 m3. Setahun sampah sungai Ciliwung mencapai 131.400 m3 setara dengan 2 candi Borobudur (1 candi volumenya 55.000 m3).

“Upaya memperbaiki sungai ciliwung juga dilakukan dengan melakukan koordinasi secara menyeluruh dengan pemerintah pusat dan pemerintah daerah tetangga yang menjadi aliran Ciliwung (Jawa Barat, Kabupaten Bogor, Kota Bogor dan Kota Depok). Untuk itu diperlukan pemimpin Jakarta yang mampu membangun kerjasama antara pemerintah pusat dan kepala daerah penyangga,” ucapnya.

Dalam tinjauannya ke sungai ciliwung, Cagub Hidayat didampingi oleh wakilnya Didik Rachbini dan beberapa tim suksesnya. Mereka menyisiri sungai Ciliwung mulai Jembatan Kalibata hingga Jembatan Kampung Melayu.  (gah/gah)

Hidayat : Ciliwung Bisa Jadi Wisata Sungai Terbaik di Asia

Sumber: http://suarajakarta.com/ 05 Juni 2012

Ciliwung Bisa Jadi Wisata Sungai Terbaik di Asia

Jakarta – Minimnya ruang publik di Jakarta seharusnya bisa diantisipasi dengan kehadiran sarana wisata air. Sayangnya walau kota Jakarta memiliki garis pantai sendiri, keinginan warga Jakarta untuk mencicipi pantai publik tampaknya masih sulit terwujud.

Saat menyusuri sungai Ciliwung dari Kalibata hingga Kampung Melayu, Hidayat Nur Wahid bertekad akan mewujudkan Ciliwung sebagai sarana wisata sungai terbaik di Asia.

“Memang bukan pekerjaan mudah, tapi bukan berarti tidak mungkin, dulu Sungai di Singapura dan Chao Phraya di Thailand juga kotor dan berbau, tapi kini keduanya malah jadi andalan untuk menarik wisatawan dari berbagai negara. Dengan menghadirkan kerja keras kita bersama, saya yakin kitapun bisa melakukan itu” Tegas Hidayat.

Hidayat menambahkan setidaknya ada 4 (empat) langkah awal yang harus dilakukan untuk mewujudkan hal tersebut. “Pertama Melakukan koordinasi secara menyeluruh dengan pemerintah pusat dan pemerintah daerah tetangga yang menjadi aliran Ciliwung; Kedua mengintensifkan normalisasi dan pengerukan sungai secara berkala; Ketiga membangun partisipasi masyarakat disepanjang aliran sungai Ciliwung dengan membentuk komunitas-komunitas warga cinta ciliwung, diharapkan dengan pelibatan tersebut akan muncul rasa memiliki dan tanggung jawab bersama terhadap Ciliwung; Keempat Pemulihan daerah aliran sungai melalui penanaman pohon dan vegetasi di bantaran sungai” papar Hidayat.

Calon Gubernur DKI Jakarta nomor urut 4 (empat) ini sangat yakin dapat menerapkan 4 (empat) langkah pembenahan masalah Ciliwung.

“Dengan 4 (empat) langkah awal tadi, saya yakin masalah sungai Ciliwung akan beres, untuk itu saya mengajak seluruh warga jakarta untuk terlibat membereskan Ciliwung agar menjadi sarana wisata air terbaik di Asia. Ayo Bereskan Jakarta” pungkas Hidayat. [ard]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: