Cerpen Ciliwung

Senyum Mardi 

Oleh : Salman Faris

Sumber: http://www.kabarindonesia.com/ 04 Oktober 2007

KabarIndonesia – Sampah yang mengunung memang sudah menjadi pemandangan umum di daerah sekitar tempat pembuangan akhir sampah. Beraneka macam sampah tercampur aduk menjadi adonan sampah yang berbau busuk tentunya. Tak hanya anak kecil ataupun orang dewasa pasti tidak akan tahan dengan bau busuk yang sangat tajam.

TPA sangat identik dengan kumuh. Tak jarang masyarakat enggan melewati tempat tersebut, bahkan haram untuk melewatinya karena memang tak ada manfaat yang dapat diperoleh dengan melewati tempat yang menjadi sarang penyakit. Entah karena ulah siapa penyakit terus menyebar dari TPA tersebut. Mulai dari penyakit muntaber, malaria, kolera dan masih banyak lagi penyakit yang bersarang.

Biarpun dengan kondisi yang riskan seperti itu, tak jadi masalah buat Mardi untuk mengais sampah yang dapat digunakan untuk menyambung hidup. Botol-botol plastik, kaleng bekas dan karet bekas menjadi santapan utama Mardi. Kadang Mardi mendapat keberuntungan dengan mengisi penuh keranjang tempat mengumpulkan sampah. Kadang hanya beberapa botol plastik yang bersarang di keranjangnya.

Mardi hari ini tersenyum bahagia. Keranjangnya terisi penuh dengan botol plastik dan kaleng bekas, artinya hari ini ia akan mendapatkan uang lebih banyak dari hari biasanya. Ia melangkah riang menyusuri sungai Ciliwung yang Nampak hitam pekat oleh lumpur dan berbagai sampah yang menghias hamper di seluruh permukaannya. Ia berhenti sejenak pada sebuah tempat untuk melihat tanaman-tanaman hias yang ada disana. “Indah,” ia bergumam sendiri.

Sementara si penjual hanya melihatnya dengan penuh kecurigaan. Mardi dengan pakaian ala pengais sampah akan sama dengan gembel atau anak jalanan yang tentunya akan merusak pemandangan toko tanaman hias. Mardi segera pergi ketika didekati si penjual.

Penjual itu sedikit heran dengan tingkah Mardi. Penjual itu hanya ingin mengambil sesuatu dekat tanaman hias yang dilihat Mardi. Penjual itu masih melihat Mardi dari kejauhan. Penjual itu sedikit iba. Ia tepis rasa curiganya tadi. Ia melihat kejujuran dan kepolosan Mardi.

Mardi kembali menyusuri sungai Ciliwung. Ia kembali berhenti pada sebuah toko yang menjual baju. Ia segara melangkah ketika seorang penjaga toko mengusirnya dengan paksa. Mardi hanya bisa melihat baju dari kejauhan. Ia tersenyum puas Karena telah melihat sesuatu yang indah yang selama ini jarang ia dapati walau hanya sedetik pun. Ia lega dan bahagia. Haus dan dahaga yang menjadi temannya seakan sirna dengan senyum kebahagiaan yang tergambar pada wajah Mardi. Untuk sementara waktu, keinginan telah terkabul.

Ia tiba di tempat penjualan botol plastik dan kaleng bekas. Suasana sangat ramai. Beberapa orang telah menukarkan botol plastik dengan uang, mereka tersenyum bahagia. Sementara yang lainnya hanya dapat tersenyum miris menerima uang yang lebih sedikit. Namun mereka bersyukur, artinya mereka dapat melanjutkan hidup.

“Selanjutnya,” sang penadah memanggil Mardi yang berada dibelakang seorang bocah berusia 12 tahun, seusia dengan Mardi.
“Ini uangnya,” suara sang penadah yang lantang memberikan uang kepada Mardi.
Mardi agak murung, ia enggan beranjak dari barisan yang tampak bertambah. Ia merasa ada yang kurang dari uang yang diterimanya.

“Pak, masak uangnya cuma segini,” ia menunjukan beberapa uang lima ribuan yang diterimanya.

“Memangnya mau berapa? Segitu aja udah untung. Masak mau lebih. Besok, kalau dapat lebih banyak dari ini baru saya kasih tambahan. Sudah sana,”

Langkah Mardi tampak terhuyung. Keseimbangannya agak kacau, namun tak menjadikan tubuh kecilnya terjatuh. Mardi tampak kecewa. Berarti harapannya sirna. Senyum yang tadi menghias wajahnya berubah menjadi kemurungan. Kemurungannya tertangkap oleh ibunya yang sedari tadi memperhatikannya.

“Ada apa Di? Kok cemberut kayak gitu. Biasanya kamu nggak kayak gitu. Mana senyum Mardi yang biasanya?” ibunya membujuk Mardi.

Mardi tak bergeming, ia segera mencuci tangan dan makan. Nasi, tempe dan sambal menjadi santapannya kali ini. Ia makan tak selahap biasanya. Pikirannya kembali melayang pada tanaman hias dan baju.

“Mardi, kalau ada masalah, cerita aja sama ibu. Masak nggak percaya sama ibu sendiri?” Ibunya tiba-tiba berkata.
“Ehm…, nggak ada apa-apa kok bu. Mardi hanya capek main di sekitar Ciliwung tadi siang,” Mardi menjelaskan masalah yang bukan sebenarnya.
“Ya udah. Kalau kamu capek. Kamu segera istirahat,” nasehat ibunya.

“Ya Bu,” jawabnya pendek.

“Jangan lupa baca doa dulu sebelum tidur,” pinta ibunya lagi.

Ibunya bergegas membereskan meja makan. Sebetulnya ia sangat sedih jika Mardi murung ataupun terlihat aneh di bandingkan hari-hari biasanya yang selalu terlihat ceria. Ada apakah yang menjadikan Mardi bertingkah seperti itu? Ibunya hanya dapat bersabar dan berdoa semoga Mardi kembali ceria.

***

Esok harinya Mardi terlihat lebih cerah. Namun, wajahnya masih menyiratkan kegundahan hatinya. Ibunya hanya bisa menasehati agar kembali ceria, tapi usahanya hanya sebatas itu. Mardi berjalan dengan langkah gontai. Keranjangnya belum terisi satu botol plastik pun. Ia berhenti sejenak ketika seorang wanita membawa sebuah pot berisi tanaman hias. Wanita itu terlihat bingung. Kelihatannya wanita itu akan membuang pot tanaman hias tersebut.
Karena sangat bigung, akhirnya ia meletakan pot itu di dekat tong sampah yang berisi penuh dengan sampah.
“Ibu!” panggil Mardi.
“Iya, ada apa?” jawab wanita itu singkat.
“Bolehkah saya minta tanaman itu,”
Mardi menunjukkan tanaman hias yang berada dekat dengan tong sampah.

“Boleh, ambil saja nak. Ibu juga mau buang. Tanamannya sudah jelek.” Jelas wanita tengah baya yang mengenakan baju bermotif batik.

“Terima kasih, Bu. Saya akan merawatnya dengan baik. Kalau ada tanaman lain, saya juga mau,”

“Oh, ada beberapa tanaman yang sudah jelek, tapi mungkin besok-besok saja. Saya masih repot di dapur.” Wanita itu segera pergi ke dapur yang berada tak jauh dari tong sampah miliknya.

Mardi tersenyum lega. Impiannya untuk memiliki tanaman hias tercapai, walaupun bentuk tanaman itu tak menyerupai tanaman hias sedikit pun. Bentuknya mirip tumbuhan liar yang tumbuh di lahan kosong.
Mardi kembali mengais tong sampah milik warga perumahan yang tak jauh dari bantaran sungai Ciliwung. Satu per satu botol plastik dan kaleng bekas masuk dalam keranjang. Tak terasa hampir dua jam Mardi mengais tong sampah, sampai pada satu rumah yang terlihat sejuk dan indah. Mardi memperhatikan setiap lekuk rumah yang bercat kuning gading itu. Halamannya cukup luas dengan tanaman hias yang cantik di setiap sudut halaman. Rerumputan menjadikan halaman itu sempurna untuk sebuah rumah yang penuh dengan tumbuhan hijau.
Mardi terpaku pada sebuah tong sampah yang terbuat dari kayu. Tong itu terdiri dari dua buah kotak, yang satu berwarna hijau dan yang satu lagi berwarna biru. Entah apa fungsinya sehingga untuk tong sampah diperlukan dua buah kotak. Mardi terus berpikir sampai ia melihat pemilik rumah keluar dan membuang sampah berisi kulit buah-buahan, sisa makanan dan sayuran pada kotak berwarna hijau.

Sedangkan kotak warna biru terisi oleh botol plastik, kaleng dan peralatan plastik lainnya. Mardi terus memperhatikan gerak-gerik si pemilik rumah sampai pada saat si pemilik rumah tersebut mengeluarkan isi kotak berwarna hijau lain yang berbau tak sedap. Pemilik rumah itu kemudian membuka sebuah tutup yang tertanam dalam tanah tak jauh dari tong sampah. Ia mencium bau yang tak sedap. Kemudian, pemilik rumah mengeluarkan isi dari dalam tanah berupa gumpalan-gumpalan berwarna hitam. Lalu, sampah-sampah dari kulit buah-buahan dan sisa makanan ia taruh di dalam tanah dan kemudian di tutup dengan rapat.

Mardi terlihat bingung. Ia tak bisa mencerna dengan baik apa yang dilihatnya. Ia segera pergi dari rumah itu sambil terus memikirkan apa yang telah terjadi tadi. Ia kembali mengais tong sampah yang berada tak jauh dari rumah asri tadi. Ia merasakan perbedaan yang mencolok antara rumah asri tadi dengan rumah yang satu ini. Walaupun kelihatan sejuk tapi tong sampahnya bercampur aduk seperti adonan sampah yang tak lezat. Ia enggan untuk meneruskan pencarian botol plastik. Keranjangnya telah penuh dengan botol plastik dan kaleng bekas. Ia berjalan menuju pusat penampungan. Ia berjalan agak riang dan sedikit rasa penasaran.

“Nah, begitu donk. Kalau besok kamu bisa dapat segini. Saya kasih kamu tambahan deh. Tenang aja,” ujar sang penadah dengan nada datar.
“Makasih, pak. Besok saya akan dapat lebih banyak kok,” Simpul senyum teruntai di wajah Mardi.

Ia berjalan ringan menyusuri sungai Ciliwung. Seperti biasa dia mampir ke toko tanaman hias dan baju, namun ia hanya dapat memandangnya dari jauh. Ia tahu bahwa ia akan menjadi bahan usiran para pemilik toko yang ia singgahi dengan baju yang kumal dan lusuh.

Suasana sungai Ciliwung seperti biasanya selalu ramai dengan kegiatan penghuni bantaran kali yang hidup terpaksa di sana. Beberapa anak kecil mandi dengan riang, padahal air sungai Ciliwung sangat kotor. Namun mereka tak peduli dengan bening, atau kotornya air sungai. Yang ada di benak mereka adalah menikmati hidup dengan sesuatu yang mereka miliki. Jangankan untuk membeli satu dirijen air bersih, untuk mandi dan memasak air, mereka tetap mengunakan air sungai yang kotor.
Mardi melamun di atas bantaran sungai Ciliwung. Ia melihat seseorang yang dengan enak membuang sampah ke sungai. Hal itu adalah pemandangan yang biasa. Tapi hati Mardi seakan memberontak, ia ingin mengatakan bahwa membuang sampah di sungai akan menyebabkan banjir. Ia ingat kata ibunya yang selalu mengingatkan ia agar menjaga rumah yang kecil agar tetap bersih. Apapun kondisi keluarga, kebersihan harus tetap dijaga, begitulah kata ibunya sehari-hari.
***
“Mardi, bangun nak. Sudah siang. Katanya mau menyiram tanaman kamu,” ibu mardi membangunkan Mardi yang masih terlelap dalam tidurnya.

“Mardi!” teriak ibunya agak kencang. Kali ini ibunya mencoba mencubit pipi Mardi agar bangun.

Mardi segera bangun. Dengan langkah tergesa-gesa ia kemudian keluar dan mendapati tanaman pemberian wanita yang tak dikenal tumbuh subur dan berbunga. Bunganya warna-warni disertai dengan bau wangi yang sedap di cium oleh siapa pun. Buatnya, inilah hal yang dapat ia lakukan untuk menghias rumahnya yang kecil, terkesan kumuh dan sempit. Namun dengan tekadnya, ia berhasil menghias rumahnya menjadi rumah yang asri.

Diambilnya keranjang dan alat pengais sampah, ia berjalan menuju perumahan dekat bantaran sungai Ciliwung. Tong-tong sampah telah menunggu dirinya. Menunggu untuk di bersihkan oleh pengais sampah yang berjiwa bersih. Mardi melangkah dengan tersenyum.

Blog: http://pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini…!!! Kunjungi segera: http://kabarindonesia.com/

Hantu Sungai Ciliwung

Sumber:http://www.kidnesia.com/  

“Tolong..”

Sontak, mata Asih terbuka. Suara tangisan minta tolong itu terdengar lagi! Asih membalikkan tubuhnya berusaha mengacuhkan suara itu.

Gerakannya itu membuat tidur adiknya jadi resah. “Sst.. jangan berisik, Asih,” ucap ibu yang tidur di samping adik. Mereka semua memang tidur berdempetan di atas kasur tipis.

Mau bagaimana lagi, masih bagus ada atap yang menaungi mereka tidur. Asih hanya mengangguk pelan, tetapi tetap terdengar olehnya suara tangisan minta tolong di antara kecipak air sungai Ciliwung.

Ilustrasi: Yoan

Suara minta tolong itu hanya didengar olehnya. Keluarganya hanya menganggap ia salah dengar. Sedangkan teman-temannya malah menakut-nakuti.

Mereka bilang itu tangisan hantu Sungai Ciliwung yang dibunuh dan jenazahnya dibuang ke sungai itu bertahun-tahun lalu.

“Aduh, jangan suka ingat cerita yang macam-macam, ah! Hantu itu tidak ada!” hardik Asih pada dirinya sendiri.

Namun, tetap saja ia merinding saat tangisan minta tolong sekali lagi terdengar, membelah malam sunyi dan gelap pekat tanpa lampu.

Asih jadi kesal sendiri karena ia ketakutan dan tidak bisa tidur. Ia memutuskan untuk keluar dan membuktikan sendiri bahwa sama sekali tidak ada apa-apa di luar.

Setelahnya, dia pasti akan tidur tenang. Maka, Asih memberanikan diri keluar diam-diam. Tahukah kamu, apa yang ia lihat?

Peri kecil! Yup, peri kecil yang terjepit di antara tumpukan sampah Sungai Ciliwung. Ia senang sekali melihat Asih.

Tanpa buang waktu, Asih langsung menolong peri itu membebaskan diri. “Terima kasih. Sudah lama sekali aku terjepit di sana,” kata peri itu. Kulitnya tampak kotor berlendir di bawah sinar bulan.

“Huhuhuhuh..padahal dulu sungai ini cantik sekali, tapi sekarang, duh, susah sekali kalau mau ke sini, malah tersangkut sampah,” omel muram peri kecil.

Nama peri itu Senyura. Ia peri kecil penghibur hati. Tugasnya menghibur hati penduduk yang tinggal di tepi Sungai Ciliwung.

Tadinya banyak sekali peri penghibur hati yang bertugas di Sungai Ciliwung. Namun, karena sampah-sampai semakin menggunung, semakin susahlah bagi para peri itu untuk berdayung menyusuri Ciliwung dengan perahu kecil mereka.

Akibatnya, semakin sedikit peri yang datang untuk menghibur. Bisa ditebak, semakin sedikit penduduk yang tersenyum di tepi Sungai Ciliwung.

Asih memang ingat, ibunya pernah bercerita dulu, penduduk di tepi Sungai Ciliwung selalu tertawa ceria. Seperti ada kekuatan hangat yang menyelimuti hati mereka.

Namun, sekarang.. kehidupan terasa semakin keras dan semakin sedikit suara tawa yang terdengar di daerah sekitar rumahnya.

Senyura mengusap dahi. Perjalanan panjang itu menguras tenaganya. Ia hanya bisa memberi senyuman dan kegembiraan kepada Asih. Dengan seulas senyuman bersinar di pipinya, Senyura pergi meninggalkan Ciliwung.

Malam itu, Asih bekerja keras membersihkan sampah-sampah di sungai. Jelas, mustahil bagi seorang gadis kecil untuk melakukan itu semua sendirian.

Soalnya, sampah di Ciliwung itu betul-betul banyak. Namun, Asih tetap bertekad untuk menjaga terus senyuman dari Senyura.

Dua puluh tahun kemudian.
Ciliwung kembali bersih. Dan peri-peri penghibur hati pun kembali berdayung dengan riang ke sana, menyebar kebahagiaan.

Tahukah kamu rahasianya? Ya, Asih belajar dengan rajin sampai berhasil menjadi anggota Dewan Kota yang menjalankan rencana pembersihan untuk Ciliwung.

Asih menatap sungai bersih di depannya dengan gembira. Dalam hati, dia tahu tidak ada yang namanya peri penghibur hati.

Namun, tempat yang bersih dan indah, tentu membawa kesehatan dan kebahagiaan bagi orang-orang yang tinggal di situ.

Pradika Bestari
Potret Negeriku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: