Kimung Anak Ciliwung

Kimung Anak Ciliwung: Bocah Betawi ‘Nyang’ Peduli Kebersihan Sungai Ciliwung

Sumber:http://www.rileks.com/

Dalam rangka memperingati ulang tahun Jakarta yang ke-484, OJAI ikut berpartisipasi dengan cara melestarikan budaya Betawi lewat teater musikal anak. OJAI akan menampilkan musikal ‘Kimung Anak Ciliwung’ yang diadaptasi dari cerita rakyat Betawi. Pertunjukan yang akan diadakan pada Minggu (29/5) akan menampilkan drama, tari, lagu serta permainan tradisional. Wah, kira-kira akan seperti apa ya terater musikal Betawi ini???

Dalam rangka memperingati ulang tahun Jakarta yang ke-484, OJAI ikut berpartisipasi dengan cara melestarikan budaya Betawi lewat teater musikal anak. OJAI akan menampilkan musikal ‘Kimung Anak Ciliwung’ yang diadaptasi dari cerita rakyat Betawi. Pertunjukan yang akan diadakan pada Minggu (29/5) akan menampilkan drama, tari, lagu serta permainan tradisional. Wah, kira-kira akan seperti apa ya terater musikal Betawi ini???

Opera Jelajah Anak Indonesia (OJAI) yang sudah ketiga kalinya mengangkat cerita-cerita tradisional Indonesia akan kembali dengan cerita terbaru mereka yang pastinya lebih baik. Mendekati ulang tahun Jakarta 22 Juni mendatang, OJAI akan menampilkan cerita rakyat khas Betawi yaitu ‘Kimung Anak Ciliwung’. Si Doel sudah menjadi sejarah budaya di masa lalu, tapi sekarang dengan perkembangan jaman yang semakin modern, OJAI ingin menampilkan bagaimana seharusnya anak Betawi melihat keadaan sekitar, terutama di daerah pinggiran sungai Ciliwung.

Dalam panggung teater musikal nanti, Kimung Anak Betawi akan menampilkan banyak tarian asala Betawi seperti tarian topeng, silat, cokek, japin, samrah, lipet gendes yang diiringi oleh musik dari gendang Betawi, kenong kenceng, kecrek, gong, tekyart, koh ayan, rebab, rebana, dan akordian. Dan yang lebih menariknya lagi, anak-anak bisa melihat bagaimana permainan tradisional yang hampir punah ini ditampilkan seperti tap inglo, kripik jengkol, gahlasin, dan tok-tok pintu. Wow, banyak sekali bukan budaya Betawi yang kita belum tahu.

OJAI berani mengangkat cerita ini atas dasar keprihatinan anak-anak yang semakin jauh dengan budaya asli Indonesia. Anak-anak jaman sekarang lebih paham budaya barat ketimbang budaya sendiri, terlihat semakin menghilangnya permainan tradisional yang dikalahkan dengan permainan digital elektronik. Nah, OJAI sendiri melalui Kimung Anak Ciliwung bersama Rama Soeprapto sebagai penata artistik, Bang Ucuy sebagai sutradara, Arimbi koregrafer dan beberapa tim lainnya bermaksud untuk mengembalikan budaya tradisional Indonesia agar dikenal oleh anak cucu kita. Apalagi pesan yang akan disampaikan seputar pelestarian budaya dan nilai akan kebersihan suatu daerah yang harus dijaga.

Bagaimana tertarik? Saksikan cita-cita Kimung bocah Betawi yang akan menjadikan kembali kebersihan sungai Ciliwung. Nggak akan ada sampah di bentaran Ciliwung lagi. Jangan sampe ketinggalan ya… (zet)

Kimung Anak Betawi
29 Mei 2011 (14:00 WIB atau 16:15 WIB)
Gedung Kesenian Jakarta
Tiket: Rp 50.000, Rp 75.000, Rp 100.000

Bersih-bersih Kali Ciliwung Bareng Kimung

Sumber: http://www.rileks.com/   

Kali Ciliwung yang terkenal langganan banjir harus menjadi perhatian lebih oleh warga Jakarta. Kimung, bocah Batawi sangat peduli dengan kebersihan di sekitar lingkungan rumahnya yaitu bantaran kali Ciliwung. Kimung ‘gerah’ melihat sampah yang menggenang maka dia pun mengajak teman-temannya untuk membersihkan kali Ciliwung agar kembali bersih seperti jaman dahulu.

Kali Ciliwung yang terkenal langganan banjir harus menjadi perhatian lebih oleh warga Jakarta. Kimung, bocah Batawi sangat peduli dengan kebersihan di sekitar lingkungan rumahnya yaitu bantaran kali Ciliwung. Kimung ‘gerah’ melihat sampah yang menggenang maka dia pun mengajak teman-temannya untuk membersihkan kali Ciliwung agar kembali bersih seperti jaman dahulu.

Kimung Anak Ciliwung merupakan teater musikal yang dilakoni oleh para anak-anak dari OJAI, ibu-ibu mereka dan beberapa pemain lainnya. Dimulai pukul 16:00 WIB bertepat di Gedung Kesenian Jakarta, teater pun dipenuhi penonton yang kebanyakan datang bersama anak mereka. Bukan hanya itu saja, pertunjukan Kimung ini memang seharusnya disaksikan oleh bapak Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo. Iya, beliau memang datang. Hemm, apakah tersentil dengan musikal ini?

Diawali dengan tarian dan lagu tradisional Betawi, Kimung bersama teman-temannya mulai keluar untuk bermain. Sungguh lucu melihat anak-anak ini berlakon dan menari. Tidak hafalnya gerakan, ucapan yang masih terpatah-patah seperti mengingat sangat dimaafkan oleh penonton. Iya, namanya juga anak-anak yang berakting apa adanya.

Cerita Kimung ini intinya adalah ingin menjadikan kali Ciliwung bening, tidak ada sampah, bantaran jadi hijau, tertata rapi, lebih segar dan pastinya enak dipandang. Agar kali menjadi kembali seperti semula, Kimung pun mengajak teman-temannya untuk membersihkan kali Ciliwung. Bekerja keras dan bergotong royong berhasil menjadikan kali kembali bening.

Teater yang dibantu oleh para orangtua, seniman Betawi Jali-Jalut ini menampilkan teater, musik, lagu serta permainan tradisional yang menarik. Wah, sungguh tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Berikut kilasan hasil liputan Rileks.com saat musikal Kimung Anak Ciliwung ditampilkan. (zet)

Kimung Anak Ciliwung 

Sumber: http://www.opensubscriber.com/ 20 Mei 2011

Jakarta, 20 Mei 2011. Tanggal 29 Mei 2011 mendatang, budaya Indonesia akan kembali menjadi raja di negeri sendiri. Panggung musikal Opera Jelajah Anak Indonesia (OJAI) yang mengangkat seni budaya bangsa akan menampilkan panggung musikal Kimung Anak Ciliwung yang diadaptasi dari  cerita rakyat Betawi.

OJAI percaya bahwa pendidikan seni budaya bisa ditampilkan dengan cara  yang lebih menarik diantaranya melalui perpaduan drama, tari, lagu,  serta permainan tradisional. Namun tak hanya melestarikan seni budaya, panggung OJAI kali ini juga ingin menyampaikan pesan untuk menjaga  kelestarian dan kebersihan lingkungan, terutama kali Ciliwung.

Kesenian yang akan ditampilkan dalam panggung OJAI – Kimung Anak Ciliwung, antara lain tarian topeng, silat, tari cokek, tari japin, tari samrah, dan tari lipet gendes serta diiringi gendang betawi, kenong,   kenceng, kecrek, gong, tekyart, koh ayan, rebab, rebana, serta akordian. Tak lupa menampilkan permainan tradisional yang sudah hilang di telan zaman seperti tap ingolo, kripik jengkol, gahlasin, dan tok-tok pintu.

OJAI sendiri hadir didasari atas keprihatinan semakin jauhnya anak-anak
masa kini dengan budaya asli Indonesia. Anak-anak sekarang lebih paham
budaya negara lain ketimbang budaya negara mereka sendiri, Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan mulai hilangnya permainan anak-anak tradisional yang sekarang mendapat cap kuno, semacam tok-tok pintu dan  tap ingolo. Pun di sisi lain permainan tradisional kalah bersaing dengan  media digital elektronik sehingga membuat anak-anak dan orangtua yang  dulunya dapat beraktifitas bersama melalui permainan tradisional, kehilangan kebersamaan mereka.

Rama Soeprapto, selaku penata artistik OJAI menyatakan, “Dalam modernitas yang berkembang pesat tersebut, kami percaya OJAI adalah wahana alternatif untuk memberikan pendidikan keanekaragaman seni budaya, pun berkorelasi dengan pendidikan lingkungan bagi anak Indonesia”

Komitmen OJAI adalah terus menjadi pendorong bagi pendidikan seni budaya  bangsa, khususnya anak-anak. Melalui OJAI, kami berharap dapat membentuk  budi pekerti yang luhur serta meningkatkan apresiasi budaya bangsa, demi  lestarinya warisan budaya serta lingkungan Indonesia, sehingga budaya  anak bangsa dapat menjadi raja di negeri sendiri.

Lampiran: 

Latar Belakang OJAI

Panggung musikal OJAI telah dilaksanakan untuk kesekian kali-nya dengan  mengangkat cerita-cerita tradisional yang ada di Indonesia. Pada tahun  2010, OJAI sudah mementaskan antara lain: Batu Belah Betangkup (Bengkalis,riau), Aji Kilip (Kalimatan Timur), dan Gajah Puteh (Nangroe Aceh Darussalam). Panggung musikal ini juga telah menampilkan maestro Tom Ibnur, Marzuki Hasan, Nyak Ina Ubiet Raseuki, serta Agus Nur Amal ‘PM Toh’. Setelah Kimung Anak Ciliwung, OJAI berencana menggelar drama musikal Timun Mas di akhir tahun, serta cerita – cerita dari  NTB pada tahun 2012.

Di sisi lain pertunjukan OJAI hingga keempat kali ini tetap di pegang secara artistik oleh Rama Soeprapto karena beliau dapat mengemas pertunjukan tradisional menjadi lebih menyenangkan dan mengikuti zaman  sehingga menimbulkan ketertarikan yang cukup besar bagi orangtua dan  anak anak. Tak lupa juga kami tetap menggandeng maestro-maestro seni dan  budaya Indonesia lainnya, dalam pagelaran Kimung Anak Ciliwung, antara  lain Bang Ucuy sebagai Sutradara, Arimbi untuk koreografer, gubahan  musik oleh Soekarsa.

Penggagas-penggagas OJAI sepakat bahwa pengetahuan dan kepedulian terhadap seni budaya, khususnya anak-anak dan orangtua adalah mutlak. Hal ini dimaksudkan untuk memperkuat jatidiri dan perkembangan pribadi  masyarakat sedini mungkin, yang mana turut berperan dalam upaya  pelestarian budaya bangsa. Di sisi lain, OJAI ingin mendorong terjadinya  alih pengetahuan dan apresiasi budaya dari generasi ke generasi. Untuk  itulah OJAI diadakan.

SINOPSIS KIMUNG ANAK CILIWUNG 

Mestinya Kimung tinggal di Menteng. Kenapa tidak, separuh tanah di daerah Menteng dulunya milik Enkong Jilele alias Haji Lele. Tak lain Kakek nya Kimung. Tapi tahun ke tahun, tanah Menteng dijual untuk biaya  naik Haji, pesta sunatan, pesta kawinan anak cucu serta keperluan lainya.

Kagak tanggung-tanggung, Engkong Jilele punya anak selusin. Busyeeeeeet,  gak ada yang larang naik haji, tapi Engkong Jilele kurang perhitungan.  Akhirnya semua tanah terjual laris manis habis dan anak-anak gak  kebagian semeterpun.

Kini Kimung tergusur ke pinggir kali Ciliwung. Hidup bersama Nyak dan Babenya. Kalau saja bisa balik jaman dulu, pasti Kimung jadi anak Menteng. Apa boleh buat, Kimung jadi anak Ciliwung. Tapi dia kagak peduli, itu kan masa lalu. Sekarang Kimung hidup bahagia ame Nyak Babenya, walau sering ngungsi kareana banjir Ciliwung.

Ternyata Kimung punya pemikiran yang jitu. Dia punya cita-cita untuk menjadikan kali Ciliwung bening, gak ada sampah dan bantaran Ciliwung jadi hijau. Nyak Babenya jadi pusing karena kagak tau apa maksud Kimung.

Tiap hari pulang sekolah, Kimung udah pada ngumpul dengan teman-temannye  di sepanjang bantaran Ciliwung. Ada yang bersihin sampah, nanam pohon,  belum lagi sebarin brosur untuk para tetangga bantaran Ciliwung yang  isinya menjage Ciliwung kite.

Nyak Babenya baru sadar bahwa Kimung dan teman-temannya punya perhatian  terhadap lingkungan Ciliwung, agar Jakarte jadi hijau dan bersih lagi.

Alhamdulillah Kimung… Kimung, lo bener-bener anak Ciliwung. Ya…..  Iyaaaaaa….laaaaaaaah

Contact Person:
Devi R. Ayu – Treecomm PR Consultant
(0815 6100 353)
Rama Soeprapto

Kimung Anak Ciliwung

Sumber:http://www.mitranews.com/  23 Mei 2011 

Jakarta (Mitra News)

Tanggal 29 Mei 2011 mendatang, budaya Indonesia akan kembali menjadi raja di negeri sendiri. Panggung musikal Opera Jelajah Anak Indonesia (OJAI) yang mengangkat seni budaya bangsa akan menampilkan panggung musikal Kimung Anak Ciliwung yang diadaptasi dari cerita rakyat Betawi.

OJAI percaya bahwa pendidikan seni budaya bisa ditampilkan dengan cara yang lebih menarik diantaranya melalui perpaduan drama, tari, lagu, serta permainan tradisional. Namun tak hanya melestarikan seni budaya, panggung OJAI kali ini juga ingin menyampaikan pesan untuk menjaga kelestarian dan kebersihan lingkungan, terutama kali Ciliwung.

Kesenian yang akan ditampilkan dalam panggung OJAI – Kimung Anak Ciliwung, antara lain tarian topeng, silat, tari cokek, tari japin, tari samrah, dan tari lipet gendes serta diiringi gendang betawi, kenong, kenceng, kecrek, gong, tekyart, koh ayan, rebab, rebana, serta akordian. Tak lupa menampilkan permainan tradisional yang sudah hilang di telan zaman seperti tap ingolo, kripik jengkol, gahlasin, dan tok-tok pintu.
OJAI sendiri hadir didasari atas keprihatinan semakin jauhnya anak-anak masa kini dengan budaya asli Indonesia. Anak-anak sekarang lebih paham budaya negara lain ketimbang budaya negara mereka sendiri, Indonesia.

Hal ini dibuktikan dengan mulai hilangnya permainan anak-anak tradisional yang sekarang mendapat cap kuno, semacam tok-tok pintu dan tap ingolo. Pun di sisi lain permainan tradisional kalah bersaing dengan media digital elektronik sehingga membuat anak-anak dan orangtua yang dulunya dapat beraktifitas bersama melalui permainan tradisional, kehilangan kebersamaan mereka.

Rama Soeprapto, selaku penata artistik OJAI menyatakan, “Dalam modernitas yang berkembang pesat tersebut, kami percaya OJAI adalah wahana alternatif untuk memberikan pendidikan keanekaragaman seni budaya, pun berkorelasi dengan pendidikan lingkungan bagi anak Indonesia”

Komitmen OJAI adalah terus menjadi pendorong bagi pendidikan seni budaya bangsa, khususnya anak-anak. Melalui OJAI, kami berharap dapat membentuk budi pekerti yang luhur serta meningkatkan apresiasi budaya bangsa, demi lestarinya warisan budaya serta lingkungan Indonesia, sehingga budaya anak bangsa dapat menjadi raja di negeri sendiri.

Panggung musikal OJAI telah dilaksanakan untuk kesekian kali-nya dengan mengangkat cerita-cerita tradisional yang ada di Indonesia. Pada tahun 2010, OJAI sudah mementaskan antara lain: Batu Belah Betangkup (Bengkalis,riau), Aji Kilip (Kalimatan Timur), dan Gajah Puteh (Nangroe Aceh Darussalam). Panggung musikal ini juga telah menampilkan maestro Tom Ibnur, Marzuki Hasan, Nyak Ina Ubiet Raseuki, serta Agus Nur Amal ‘PM Toh’. Setelah Kimung Anak Ciliwung, OJAI berencana menggelar drama musikal Timun Mas di akhir tahun, serta cerita – cerita dari NTB pada tahun 2012.

Di sisi lain pertunjukan OJAI hingga keempat kali ini tetap di pegang secara artistik oleh Rama Soeprapto karena beliau dapat mengemas pertunjukan tradisional menjadi lebih menyenangkan dan mengikuti zaman sehingga menimbulkan ketertarikan yang cukup besar bagi orangtua dan anak anak. Tak lupa juga kami tetap menggandeng maestro-maestro seni dan budaya Indonesia lainnya, dalam pagelaran Kimung Anak Ciliwung, antara lain Bang Ucuy sebagai Sutradara, Arimbi untuk koreografer, gubahan musik oleh Soekarsa.

Penggagas-penggagas OJAI sepakat bahwa pengetahuan dan kepedulian terhadap seni budaya, khususnya anak-anak dan orangtua adalah mutlak. Hal ini dimaksudkan untuk memperkuat jatidiri dan perkembangan pribadi masyarakat sedini mungkin, yang mana turut berperan dalam upaya pelestarian budaya bangsa. Di sisi lain, OJAI ingin mendorong terjadinya alih pengetahuan dan apresiasi budaya dari generasi ke generasi. Untuk itulah OJAI diadakan. (Har).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: