Teater Musikal Ciliwung Larung

Undangan Ciliwung Larung, Teater Musikal Ciliwung Merdeka

Download file: CM_Undangan    

CILIWUNG LARUNG, Teater Musikal Ciliwung Merdeka

Sumber: http://musicforlife.co.id/ 11 July 2011 

“Ciliwung Larung adalah ekspresi seni budaya”, begitu potongan kalimat pembuka salah satu MC dalam gelaran acara “Pementasan Budaya Teater Musikal Ciliwung Merdeka” di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta (5/07).

Dalam pemaparan yang lebih lengkap lagi, Ciliwung Larung adalah ekspresi seni dan budaya kerinduan kolektif dan aspirasi jiwa otentik komunitas-komunitas warga pinggiran bantaran kali Ciliwung dalam wujud pagelaran sinergis pementasan teater, musik, tari, tulisan/sastra, film dokumenter dan pendidikan alternatif-kreatif, yang diciptakan dan dimainkan oleh sekitar 75 anak-anak, remaja dan warga Bukit Duri dan Kampung Pulo.

Gong pertama baru saja dipukul. Pengunjung yang masih tampak jarang di luar mulai berduyun masuk ke dalam. Ke dalam sebuah ruangan yang begitu diskriptif. Deskriptif dengan pemaparan program dari keseluruhan acara Ciliwung Merdeka ini. Tercatat ada 8 program. Program Pendidikan Lingkungan Hidup, Program Pusat Latihan Daya Pinggir, Program Pendidikan Seni Budaya Rakyat, Program Pendidikan Tata Ruang Kampung Swadaya, Program Pendidikan Alternatif, Program Pendidikan Swadaya Ekonomi Masyarakat, Program Pendidikan Swadaya Kesehatan Masyarakat dan Pendidikan Alternatif.

Gong kedua kurang begitu terasa dan baru di gong ketiga semua pengunjung berduyun masuk ke dalam ruangan theater. Dibuka dengan nyanyian permainan anak, tema-tema tentang kehidupan secara riang dibawakan. Berjudul “Main-Main” dan berirama Jazz, Rhythm and Blues. Kurang lebih 20 anak mengajak penonton
“Jangan kau main-main dengan permainan hidup, karena permainan kan mainkan dirimu. Ayo kau bermainlah sepenuh jiwa-raga, karena hidup ini bukan cuma main-main”.
Lagu ini disajikan dengan suara vokal penyanyi jazz nusantara kita, Syaharani, dengan komposisi dari Tamam Husein.

Pemutaran Film dokumenter menjadi hidangan berikutnya. Selama 30 menit penonton tampak tenang mengikuti alur cerita yang disajikan. Film lebih kepada potongan-potongan narasi tentang kehidupan. Potongan narasi yang sudah dipersiapkan dengan matang sehingga terasa efektif dan maksimal tentang muatan isi yang disampaikan. Keseluruhan cerita dibalut dan dirangkum dengan lagu “Ciliwung Larung”. “Ciliwung larung laguku.. Bergejolak air suci jiwaku.. Kurengkuh nadi saudaraku.. Kutambatkan biduk ragaku..” . Walaupun dengan sinematografi yang apa adanya tapi ide yang hendak disampaikan optimal tersajikan.

Theater Musikal mulai tepat di pukul sembilan. Diawali dengan kemunculan tiga perempuan berbalut kain batik membawa obor yang melintasi gelap. Ketiga obor dimatikan dari nyalanya, ketiga perempuan tersebut perlahan menari dengan gerakan yang sangat lembut hampir dekat dengan diam. Saat itu pula “Shalawat Tawasul Ciliwung” sayup didendangkan.

Usai ketiga penari pulang perlahan, seketika lampu menyala dan set panggung tampak berubah. Berlatar belakang pemandangan kampung dan tampak dua bangunan kayu; gardu ronda dan warung . Lagu “Ciliwung Larung” kembali dibawakan oleh kurang lebih 50 orang di panggung. Dan seketika lagu bernada ceria;” Aduhai” dibawakan.

Terdapat 23 tembang dalam satu paket pertunjukkan teatrikal ini. Selain 3 lagu diatas, tercatat selanjutnya “Bila Cinta Datang”, “Tarian Hujan Gerimis”, “Bantaran Samba”, “Jamu Tolak Miskin”, “Konser Sampah”, “Rangkaian Bambu”, “Seruling Hijau”, “Bulan Gaib”, “Gendang Amarah”, “Senandung Ciliwung”, “Tanah Merdeka”, “Jaga Nurani”, “Stanza Duka”, “Memuja Cahaya”, “Hum Pa Pa”, “Asmarandana”, “Berlabuh”, “Pengamen Kecil”, “Syair Sunyi”, dan “Nyanyian Akar Rumput”.

Keseluruhan lagu yang mengiringi Siti Nurani melawan belenggu kemiskinan, ketidakadilan dan sistem nilai feodal-patriaki. Dengan lagu bertema romantis, Siti tanpa sadar berusaha melakukan penolakan dan dengan tema lagu yang mengekspresikan kemarahan, Siti secara frontal melakukan penolakan. Ini tentang pemberontakan… Ini tentang protes!!!

Pencipta lagu dalam teater musikal tersebut adalah I. Sandyawan Sumardi. Bukan hanya membuatkan lagunya, dalam pertunjukkan ini ialah yang juga berperan sebagai produser, sutradara sekaligus penulis naskah. “Dengan sedikit lebih berani membuka mata hatiku, aku dapat melihat titk air mata derita tapi juga senyum keikhlasan pada mata sayu dan raut wajah tabah para ibu penuh sahaja di Bukit Duri dan Kampung Pulo. Maka lewat syair-syair balada, musik kerakyatan, seni ekspresi, seni peran, seni gerak tubuh, seni teater kontekstual, aku mencoba mendengar, melihat, menyaksikan, merasakan, mencernan dan mengungkapkan suara jiwa para warga.” , begitu pemaparan Sumardi tentang proses penciptaan karyanya ini.

 “…CILIWUNG LARUNG 2011…” Teatrikal Realita Kehidupan Warga Bantaran Kali

Sumber:http://penanusantara.wordpress.com/ 28 Juli 2011

Salah satu adegan dalam Teater Ciliwung Larung

“…Jakarta – Pada tanggal 5-6 Juni 2011 di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Cikini. Komunitas warga bantaran Sungai Ciliwung Bukit Duri – Kampung Pulo mengadakan pementasan budaya berupa teater musikal yang bertajuk “…Ciliwung Larung…”

Bagi warga bantaran kali, Ciliwung bukanlah sekedar nama sungai, namun juga ruang hidup dimana seluruh tatanan kehidupan berlangsung. Setidaknya itulah yang dirasakan oleh warga Bukit Duri – Kampung Pulo. Suatu komunitas ruang sisa yang hidup diantara rel kereta api dan pinggir sungai Ciliwung di Ibukota Negara.

“…Larung…” dalam bahasa Jawa secara harfiah artinya dihanyutkan di sungai atau laut. Tapi bukan dalam arti dibuang, namun “…di Sucikan…” atau di Sempurnakan…” Dalam teater ini, istilah Larung merupakan doa / harapan agar perjuangan sekelompok manusia bantaran Sungai Ciliwung ini dalam memperoleh hak dan martabatnya menjadi suatu simbol “…Perjuangan Kebangkitan yang di Sucikan…” Sehingga dapat lebih Bebas Merdeka, lebih hidup, tumbuh, berkembang dan bangkit.

Ciliwung Larung mengisahkan tentang Siti Nurani, anak perempuan dari Mak Dukana, pemimpin moral spiritual sejati bagi warga bantaran kali. Karena pergaulannya sebagai aktivis kampung, Siti Nurani yang sudah lama ditinggalkan suaminya yang menikah lagi. Kemudian berkenalan dan menikah dengan Gibon seorang ketua pemuda kampung yang dinamis, vokal, dan atraktif.

“…Romo I Sandyawan Sumardi…” Produser,Penulis Naskah, Sutradara dan Pencipta Lagu Ciliwung Larung

Gibon kerap berinteraksi dengan warga kampung dan berdialog tentang berbagai permasalahan dari BBM, korupsi, masalah nafkah hidup, tata hidup bertetangga, tata ruang hingga isu penggusuran yang kerap dibantah oleh tokoh-tokoh elit kampung. Namun kenyataannya penggusuran tetaplah dilakukan…! Dikirimkanlah polisi, aparat Satpol PP dan para preman yang menjadi garda depan proses penggusuran paksa.

Maka Warga tentu saja melawan. Wujud perlawanan Siti, Gibon, Mak Dukana, dan solidaritas warga adalah dengan perjuangan aktif tanpa kekerasan. Dengan solidaritas dan keswadayaan, berdiri di atas kaki sendiri. Dan harapan itu pun tersalurkan melalui datangnya dua orang Aktivis Mahasiswa di tengah obrolan warga kampung. Bersama-sama mereka merancang program Ciliwung Merdeka. Pendidikan alternatif, swadaya kesehatan masyarakat, tata ruang kampung swadaya, pendidikan swadaya ekonomi masyarakat, pendidikan seni budaya rakyat, pendidikan lingkungan hidup, dan pusat latihan daya pinggiran menjadi program perjuangan warga Ciliwung.

Klimaks cerita terjadi saat kampung luluh lantak akibat banjir, kebakaran, dan penggusuran paksa, tepat pada saat akhir penggusuran paksa tersebut. Mak Dukana, orangtua yang menjadi ibu bagi seluruh perjuangan warga kampung selama ini pun meninggal dunia. Dan pada saat yang sama Siti Nurani pun melahirkan anaknya. Kekontrasan yang ditunjukkan dengan adanya kematian dan kelahiran pada saat bersamaan, mendatangkan kesadaran baru baik bagi Siti Nurani dan Gibon, serta seluruh warga kampung. Kesadaran kritis bahwa hidup ini harus diperjuangkan, diretas dan dibebaskan..! Sungguh merupakan rahmat Tuhan sang Pembebas sebagai pengalaman kebangkitan bersama..!


“…Pentas Teatrikal Ciliwung Larung…”

Adalah Romo I. Sandyawan Sumardi, Rohaniwan Katholik sekaligus Budayawan dan Aktivis Pejuang HAM Kondang sejak masa Orde Baru itu adalah , yang mengakrabi warga bantaran kali Ciliwung sekaligus membantu menetaskan embrio seni yang terpendam dalam komunitas pinggiran yang terasing dari pesatnya kemajuan Ibukota Jakarta. Sekitar 75 anak-anak dan warga Bukit Duri dan Kampung Pulo, yang sebagian besar adalah anak-anak dan remaja, unjuk kemampuan dalam mengungkapkan aspirasi masyarakat melalui media seni teater ini.

“…Larung sebagai suatu simbol Ritual disini merupakan sebuah pengalaman hidup. Gerak bersama tumbuhnya kesadaran kolektif untuk bangkit bersama dari stigma keterpurukan. Mereka membuktikan kepada diri sendiri untuk bisa mencapai kesetaraan. Memang dalam cerita ini lebih banyak diangkat perjuangan anak muda dan perempuan dengan kisah tentang Penggusuran Paksa…” Ungkap Romo Sandyawan kepada redaksi PENANTRA News.

Dalam pendekatan kepada warga Kampung Pulo-Bukit Duri ini, Romo Sandyawan telah menghabiskan waktu hampir 11 tahun hingga saat ini. Namun baru pada Tahun 2010 Romo Sandyawan menulis naskah dan lagu untuk ekspresi seni budaya Remaja Bantaran Kali Ciliwung.

“…Sebenarnya ini adalah karya bersama, saya hanya menulis lagu dan menyampaikan plot cerita, kemudian anak-anak itu yang meneruskannya, jadi ini seperti reality show, saya hanya menambahkan bagian-bagian yang berisi kalimat sastra dan meramu sedikit masalah politik…” Ujar Romo Sandyawan lebih lanjut kepada redaksi PENANTRA.

“…Pentas Teatrikal Ciliwung Larung….”

“…Ternyata anak-anak ini sangat berbakat dan banyak sekali pemain alam. Bahkan kadang orang – orang pun tak percaya…Masa sih itu Anak – anak Ciliwung…? lanjut Romo Sandyawan sambil tertawa.

Bantaran Sungai Ciliwung memang bukanlah tempat yang ideal untuk hidup. Resiko banjir, penyakit, kebakaran besar dan penggusuran selalu merongrong warga tiap tahunnya. Apalagi ancaman banjir bandang tiap 5 tahun yang melanda Ciliwung. Sebenarnya hampir semua warga pinggiran tidak ada yang mengiginkan tempat seperti itu. Mereka ilegal menurut hukum dan selalu kalah. Pendekatan yang di inginkan mereka dari Pemerintah adalah melalui pendekatan Hak – hak Asasi. Seperti yang tercantum dalam Pasal 33 UUD 45. Yang mencakup Hak atas Tanah, Tempat Tinggal, Pekerjaan, dan Pendidikan Sosial, namun hal itupun seakan sulit mereka dapatkan. Pemerintah dirasa timpang dalam hal penegakan hukum bagi masyarakat kelas bawah dan atas. Misalkan perizinan tinggal di bantaran sungai. Warga urban di-ilegalkan namun setelah digusur boleh dibangun Perumahan Elite atau Mall – Mall…”

“…Maka mereka mengusahakan daerah sesempit apapun untuk dikelola secara efektif. Mereka berusaha mendesain kampungnya sendiri dan mereka ajukan pada pemerintah untuk menunjukkan bahwa mereka mampu mengelola tempat tersebut.

“…Pentas Teatrikal Ciliwung Larung…”

Melihat kenyataan yang ada, maka Romo Sandyawan dan Komunitas Warga Bukit Duri-Kampung Pulo lewat syair-syair balada, musik kerakyatan, seni ekspresi, seni gerak tubuh, seni teater kontekstual meramu Pementasan Budaya Teater Musikal Ciliwung Larung. Teater Musikal Koreografis yang total sebagai pedagogi belajar Komunitas Pinggiran. Agar orang-orang yang menontonnya di harap dapat melihat, mendengar, merasakan , dan mencerna suara ungkapan Jiwa para warga. Tidak hanya situasi ketidakpastian, keterasingan, situasi batas daya kemampuan hidup mereka, tetapi juga dengan kerinduan, semangat perjuangan bersama, kegembiraan, dan harapan-harapan mereka.

Melalui kesempatan ini pula Romo Sandyawan mengungkapkan harapannya agar Pendidikan Kesetaraan untuk memandang sesama dalam Kebhinekaan ini perlu dihargai. Karena setiap komunitas memiliki suatu kemampuan dan kearifan lokal untuk survive dari situasi alam atau politik yang tidak menguntungkan sekalipun. Dan sebagian harapan tersebut sudah dapat direalisasikan dalam Program Ciliwung Merdeka. Pendidikan yang diterapkan adalah pendidikan keterampilan untuk survive di tempat yang baru. Dengan memasukkan berbagai kegiatan Swadaya yang Kreatif. Sebagai bekal Ketrampilan bagi mereka, jikalau pada akhirnya mereka terpaksa harus TERGUSUR.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: