Restu Gunawan

Banjir di Batavia: Dinamika Pembangunan Kota di Dataran Rendah 1913 – 19401

Oleh:  Restu Gunawan2

Download file: restu_gunawan   

Pada bulan Januari 1918, rakyat di Batavia sibukkan dengan naiknya harga bahan pangan terutama beras. Harga beras naik dari f 8,50 menjadi f 12 perpikul sedangkan perbatok harganya 10 cent3. Dalam suasana kenaikan harga bahan pokok itulah kampung-kampung di Batavia di landa banjir. Dikabarkan dari bulan Januari sampai Pebruari 1918, terjadi hujan terus menerus. Tanggal 4 Pebruari 1918, kampung di Weltevreden sudah terendam selama beberapa hari, sehingga penduduknya mesti mengungsi. Kampung Tanah Tinggi, Kampung Lima, Kemayoran Belakang rumah-rumahnya sudah kerendam. Penyebab banjir di daerah ini karena selokan yang terlalu kecil sehingga air tidak bisa lewat, selain itu semalam hujan turun selama 3 jam. Kejadian ini sangat menggangu aktifitas warga masyarakat. Tukang jualan yang tinggal di kampung merasakan kesusahan, kesusahan akibat kenaikan harga beras dan barang makanan belum bisa dilewatkan ditambah lagi kebanjiran4.

Di Batavia karena mendung hampir 22 hari, matahari tidak memancarkan sinarnya. Akibatnya hujan turun terus menerus, mulai jam 05.00 sore, dikabarkan air sudah mulai meluap di kampung-kampung. Sejak jam 05.00, Kantor Harian Sin Po mendapat telepon bahwa banjir sudah datang, dan meminta agar Sin Po mengadakan pemeriksaan ke kampung-kampung. Berita itu benar sampai jam 08.30 malam, air semakin naik dan jam 9.30 air sudah naik 1 kaki. Akibatnya di sepanjang Noorwijk, Rijswijk, gang Pecenongan jalanan sudah tidak kelihatan dan berubah menjadi sungai. Toko-toko di kanan kiri jalan juga sudah mulai kerendam, antara lain jalanan Pasar Baru, Tanah Lapang Singa, Schoolweg yang semuanya berada di pinggir kali Ciliwung sudah kerendam air. Kampung Pejambon yang letaknya agak rendah kerendam hampir 1 meter. Akibatnya penduduknya harus mengungsi ke Gereja Willemsskerk yang tingginya kiran-kira 3 meter. Penduduk mencari perlindungan dengan membawa tiker dan bantalnya. Jalan Willemslaan dan Hertogspark ditutup untuk kendaraan, sampai di Gambir Wetan semua jalanan sudah menjadi kolam5.

Di Batavia bagian selatan, kampung Tanah Tinggi, sudah beberapa hari ditutup untuk kendaraan, karena air sudah menutup kampung Tanah Tinggi, yang meskipun namanya Tanah Tinggi tetapi sebenarnya tanahnya sangat rendah. Air yang sangat besar yang menyebabkan rumah-rumah orang bumiputera rubuh. Kampung Kwitang yang terletak di pinggir kali sebagian besar sudah ditinggal oleh penduduknya, bahkan Kampung Kwitang rumah-rumah yang berada di pinggir kali diseret oleh banjir sampai hanyut.

1 Disampaikan pada Konferensi Nasional Sejarah Indonesia, di Jakarta; 13 – 17 Nopember 2006
2 Restu Gunawan adalah pegawai di Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala, Departemen Kebudayaan dan
Pariwisata
3 Sin Po, 14 Januari 1918
4 Sin Po, 4 Pebruari 1918, No Microfilm 444/PN/M, halaman 5)
5 Sin Po 14 Peber 1918

———–

Sementara itu di Kampung Lima, Sawah Besar, Gunung Sari Wetan, Kemayoran Belakang dan Kampung Pesayuran telah menjadi tempat anak-anak bumiputera main perahu di dalam rumah. Rata-rata semua kampung yang rendah di bilangan Weltevreden dan Batavia sudah kebanjiran dari jam 08.30 malam sampai pagi ini. Dalam suasana banjir itu penduduk di sepanjang straat Noordwijk dan Rijswijk semalam memantau datangnya banjir dengan cara berdiri di pinggir jalan menonton air kali Ciliwung meluap yang semakin lama semakin tinggi6.

Menurut pengamatan penduduk, naiknya air disebabkan karena pembangunan jembatan di depan Harmoni (Eigen Hulp) belum selesai sehingga menutup jalan air. Jembatan itu merupakan jembatan yang biaya pembuatannya paling mahal di Batavia sebesar 60.000 gulden, karena jembatan Harmoni tidak hanya dibuat untuk jalan air tetapi juga untuk jalanan biasa di atasnya. Karena terowongannya kekecilan, sehingga air melimpas kekanan dan kekiri jalan.

Untuk memperlancar jalannya air, pintu air di Batavia dan Weltevreden dibuka, tetapi hal itu tidak bisa mengatasi derasnya air yang masuk ke pemukiman. Derasnya air yang mengalir dilukiskan bahwa dari pintu air ujung Noordwijk, air yang turun dengan suara gemuruh terus berjalan ke Gunung Sari dimana kali itu bertemu dengan Kali Lio yang datang dari Senen, sehingga aliran Kali Lio tertahan, akibatnya air melimpas ke arah perkampungan di Senen dan merendam jalan dan kampung.

Banjir pada 14 Pebruari, terjadi sejak jam 9.30 malam, hujan sudah mulai
turun dengan deras sampai jam 08.00 pagi. Meskipun hujan sudah turun tetapi langit masih mendung. Mungkin di sebelah atas (udik) masih turun hujan, sehingga pada paginya, air di kali Ciliwung sudah banjir lagi. Kampung rendah di Gang Pecebokan sudah kebanjiran setinggi dengkul. Di belakang Gang Perotian (Molenvliet West Jurusan Prinsenlaan) pagi ini ada orang rame sekali pindah dengan gerobak. Penduduk beberapa pondok repot mengangkut barangbarangnya akan di pindahkan ke tempat lain. Orang-orang pindah bukan hanya karena banjir tetapi juga karena disuruh pindah oleh yang punya pondok, karena mau dibongkar. Banjir juga mengakibatkan kerusakan beberapa jalanan di daerah permukiman. Hujan dan banjir membuat jalanan di dalam wijk Tionghoa kota Batavia rusak, jalanan di Klenteng sudah terendam air. Gang Corong sudah rusak kendaraan takut liwat sebab khawatir patah veernya. Gang Pacebokan samping commissariat Tangki sudah berubah menjadi rawa lumpur7. Taksiran kerugian karena jalan yang rusak sekitar 10 rupiah – 20 ribu rupiah, tetapi jika air belum surut, jumlahnya bertambah8.

Di daerah Cikini, banjir telah mencapai rumah sakit Cikini. Pada malam itu
para pasien dibuat kaget oleh datangnya satu buaya yang naik di darat. Satu orang pasien bilang itu raja air mau nengokin orang sakit typhus9. Pada waktu di Batavia sedang dilanda wabah cholera. Dikabarkan setiap hari ada sekitar 6 – 8 orang yang masuk rumah sakit karena cholera. Tanggal 20 Pebruari, ada 2 orang yang terkena cholera sedang yang berobat 6 orang, jumlahnya 8 orang, tapi satu diantaranya sudah meninggal. Sedangkan sore harinya yang berobat 4 orang Eropa dan 8 orang Bumiputera10.

Akibat banjir, isi koranpun berkurang seperti diberitakan oleh Sin Po oleh
karena sebagian besar dari kota Batavia telah kebanjiran maka isinya Sin Po ini hari ada dikurangin dari biasanya11.

6 Sin Po; 14 Pebruari 1918
7 Sin Po; 14 Pebruari 1918
8 Sin Po; 15 Pebruari 1918
9 Sin Po; 14 Pebruari 1918
10 Sin Po; 21 Pebruari 1918
11 Sin Po; 20 Pebruari 1918

—————-
Sarana transportasi mengalami kelambatan dan kerusakan. Tram listrik yang biasa lewat di Tanah Tinggi tidak bisa lewat karena relnya tidak kelihatan akibat kerendam air. Di sepanjang Rijswijk, karena hujan yang turun mengakibatkan Stoomtram tersiram air, sehingga lokomotifnya kehilangan kekuatan. Menunggu kira-kira 15 menit, tram yang mogok sudah disusul oleh tiga tram dari belakang sehingga semua menunggu di sepanjang Pintu Besar12. Lalu lintas mengalami ketidakteraturan sampai 16 Pebruari 1918. Untuk memperlancar lalu lintas stromtram yang berjalan ke kota ditarik oleh dua lokomotif dan beberapa lokomotif reserve ada berjalan mondar mandir untuk memberi pertolongan pada tram yang kehabisan tenaga di tengah jalan. Banyaknya stoomtram yang mogok dan rusak akibat banjir, perusahaan stoomtram memberikan gaji ekstra 10 hari13. Mogoknya stromtram memberi peluang pendapatan bagi kendaraan kuda, tetapi kendaraan kuda juga tidak banyak yang beroperasi karena kampung-kampung tukang sado kebanjiran sehingga orang susah keluar rumah. Payung dan jas hujan sangat menolong orang sampai di tempat pekerjaan, bagi yang tidak punya automobil atau kendaraan kuda14.

Akibat banjir masyarakat Batavia memberikan bantuan bahan makanan.
Hal ini antara lain dilakukan oleh smerofonds di Batavia yang menyediakan uang beberapa belas ribu. Yayasan ini dibentuk memang untuk membantu orang terkena kesusahan. Gouvernur General yang menengok kampung-kampung yang kerendam telah menawarkan bantuan uang, tetapi karena dianggap belum perlu tawaran tersebut ditolak15.

Selama banjir, selain kerugian berupa materi, juga mendorong naiknya harga makanan. Harga cabe dalam kondisi saat ini, orang berani membeli f 35 perpikul tetapi penjual belum mau melepas. Dalam tahun ini harga bisa mencapai f 60 perpikul16. Harga beras naik dari f 11,20 menjadi f12 sepikul, naik 1 rupiah sepikulnya dalam seminggu, 2 cent setiap batoknya.

Banjir pada tanggal 14 Pebruari, telah mengakibatkan kecelakaan antara
kendaran penganten dengan mobil lainnya. Dikatakan bahwa tram dari Oedik telah melalui jalanan Glodok, berentet-rentet hingga 5 buah. Berentet-rentet lima rombongan hingga straat di situ rame betul dengan kendaraan satu auto dari ilir mau liwat juga mudikin sedangkan satu kreta kemanten yang diduduki sepasang kemanten Eropa mau liwat jadi beradu satu sama lain. Kemanten jadi kaget tetapi tidak bisa terbit kecelakaan. Penumpang kereta kemanten minta tolong polisi buat bikinkan proces verbaal pada itu auto yang menubruk17.

Selain itu, pada tengah hari, satu gerobak genie yang ditarik oleh satu kuda besar ketika melewati Rijswijk karena air menggenang sekitar dua kaki dalamnya, sehingga kudanya kabur karena takut air. Lompatnya terburu-buru hingga orangnya jatuh telentang di atas air dan menelan sedikit itu. Pada waktu bersamaan, tram sedang lewat sehingga penumpang tram bersorak sebagai menonton komedi kuda18.

12 Sin Po; 14 Pebruari 1918
13 Sin Po; 18 Pebruari 1918
14 Sin Po; 16 Pebruari 1918
15 Sin Po; 16 Pebruari 1918
16 Sin Po; 14 Pebruari 1918
17 Sin Po; 14 Pebruari 1918
18 Sin Po; 14 Pebruari 1918

—————-

Pada tanggal 16 Pebruari 1918, banjir datang lagi. Menurut berita yang diterima melalui telepon di harian Sin Po, jam 11.00 siang, dikabarkan air sudah naik kembali dan lebih tinggi dari kemarin. Dari Jembatan Santi menuju ke Jakarta di depan gereja besar, orang mesti melalui sekobakan air yang naik kira-kira sainggan dengkol, sedang depan pabrik minyak Jakarta, rail tram listrik sudah terangkat dari tanah, sebab balok-balok bantalnya semua mengambang dan mengangkat rail. Jembatan listrik di Gunung Sari dari jauh sudah kelihatan bengkok dan di atasnya ada beberapa puluh kuli yang dipimpin oleh dua opzichter Eropa yang sedang bekerja. Gunung Sari hampir seluruhnya kerendam, kecuali sedikit di depan Gang Kamayoran tetapi untuk terus ke Senen orang harus berenang, sampai ke Kalilio Senen, air setinggi 50 cm. Di gedung kantor Marine, banyak pengungsi orang pribumi dari Gang Chambon yang kampungnya sudah kebanjiran. Gambir Wetan terendam sedikit, kampung Pejambon sudah kerendam sejaka beberapa hari, hingga penduduknya tinggal di gereja, dimana mereka dikasih makanan oleh fonds banjir. Di Gambir Lor kerendam, sedang Gang Secretarie dan Gang Pool masih terendam, sedang kampung-kampung yang rendah masih kerendam19.

Dalam suasana kesusahan akibat banjir, orang-orang bumiputera
bukannya memberikan bantuan kepada masyarakat yang terkena musibah banjir
tetapi para pejabatnya malah memungut bayaran kepada warga. Seperti yang
terjadi pada penduduk yang mencari bantuan. Seorang tetua desa telah
melakukan pemerasan kepada orang kampung. Beberapa orang Bumiputera yang
bekerja pada toko Kolff dan rumahnya kebanjiran, datang kepada majikannya
minta pinjam duit dan permintaan ini akan dikasih asal, orang-orang itu bisa
membawa surat keterangan dari kepala kampungnya yang menetapkan bahwa
mereka perlu uang. Orang-orang itu dengan susah lalu kembali ke kampungnya
dan minta surat keterangan dari kepala kampungnya tetapi tetua kampung minta
25 cent buat satu surat keterangan20.

Kesusahan penduduk yang disebabkan oleh banjir telah membuat kritik
terhadap Sarekat Islam, yang selama ini kritis dalam membela kesusahan rakyat.  Java Bode mengkritik Sarekat Islam yang tidak berbuat untuk menolong penduduk  yang kesusahan. Java Bode mendapat informasi dari penduduk, bahwa tukangtukang  warung nasi Tionghoa dan Bumiputera mencari untung besar dengan  penjualan nasi. Nasi sajumput dijual sepuluh cent. Dari berita Java Bode itu,  wartawan harian Sin Po, mengadakan pelacakan mencari siapa yang menjual nasi  sebegitu mahal dan akan melaporkan kepada polisi agar ditegur keras para  tukang nasi tersebut. Sin Po menyarankan agar para tukang nasi menjual apa  adanya saja. Para tukang nasi mestinya meniru apa yang dilakukan oleh Tuan  Khouw Kim An. Tuan Khouw Kim An dengan opasnya berjalan mengelilingi  kampung dan memborong nasi dari tukang warung nasi dan membagi langsung  kepada penduduk kampung yang kerendam yang mengungsi di rumah-rumah  penduduk lainnya. Selain itu polisi dari Pos Penjaringan juga membuka pos untuk  menolong orang kampung dan memberikan bantuan berupa nasi dan ikan asin, meskipun tidak seluruhnya dapat kenyang21.

Kampung-kampung yang kebanjiran seperti, Straat Belandongan, Kali  Besar Oost, Pinangsia, Prinsenlaan dan beberapa belas kampung dan straat lagi  sudah jadi sebagai empang maka kesusahan penduduk menjadi lebih besar.  Melihat kondisi ini vereneeging Eng Ho Hwa di Pasar Senen sudah menjalankan  list untuk memberi bantuan khusunya untuk penduduk Tionghoa di kampungkampung  yang kebanjiran sedangkan Thaliafonds sudah mengeluarkan uang f  300. Tuan Tio Tek Kang sendiri sudah menyediakan rumah-rumah petaknya di  belakang gedung Thalia di Mangga Besar untuk pengungsian orang-orang kampung Mangga Besar belakang yang rumahnya kebanjiran22. Kendaraan militer  berjalan mondar mandir membawa nasi mateng dan ikan untuk dibagikan pada  orang-orang kampung yang kebanjiran. Penduduk Tanah Tinggi, Pejambon, gang Chambon dan lain-lain diberi makan sampai kenyang, sebab tidak bisa masak.

19 Sin Po; 16 Pebruari 1918
20 Sin Po; 21 Pebruari 1918
21 Sin Po; 20 Pebruari 1918
———–

Sementara itu, banjir di Batavia bagian barat terjadi karena bendungan kali
Grogol jebol. Akibat banjir ini toko-toko dagang Tionghoa di kota Batavia,
kebanjiran23. Kampung Tambora, Suteng, kampung Klenteng Kapuran, telah
menjadi empang dan sampai dua paal jauhnya ke Kidul tidak ada kelihatan sedikit
tanah kering. Di dalam gang di kampung-kampung tersebut jurusan Kampung
Jawa bisa dilalui dengan sampan. Perahu-perahu kecil dinaikin orang banyak
sebagian buat plesir di air dan sebagian pula mengangkut orang kampung dan
barang-barangnya yang hendak dipindahkan ke jalanan besar Molenvliet West
dimana disediakan tempat buat orang mondok24.
Kondisi di ujung Prinselaan, jalan-jalan sudah penuh dengan air setinggi
dengkol. Orang-orang duduk di perahu pergi ke kampung-kampung sebelah kulon
straat Molenvliet dan sebelah wetan Molenvliet. Dari kampung Pesayuran
belakang terus ke kampung Kebon Jeruk melalui kampung Kaligot sampai
kampung Sawah Besar belakang, perahu bisa berjalan di gang-gang dimana
biasanya kendaraan kuda bisa liwat. Ke sebelah lor dari straat Mangga Besar
(Prinsenlaan) yaitu kampung-kampung Tangki, Petaksinkian, Mol belakang
penjara Glodok sampai terus ke kampung Pinangsia, air rata-rata naik sainggan
dengkol, malahan beberapa bagian straat ada yang sainggan dada, begitu juga
Kampung Jacatra atau Kampung Pecah Kulit disamping kali Gunung Sari. Di
dalam kampung kota Betawi yaitu Angke, Pekojan, Kampung Air, Pejagalan
Belakang terus sampai di kampung Janis rumah-rumah ada sebagai pulau. Di
dalam kota Batavia ada dua sekolah yaitu Holl China School di Pinangsia dan
Tiong Hoa Lie Hak Hauw (Chineesche Meisjes School) di Blandongan, dua
sekolah sudah ditutup karena air naik tinggi, terletak di pinggir kali Blandongan. Di
dalam kelas air sudah naik lebih tinggi dari dengkol orang dewasa.
Di sepanjang straat Molenvliet West dan Oost rumah-rumah yang dibuka
buat untuk pengungsian orang kampung adalah petak-petak Thalia, rumah tuan
Tjie Eng Hok, commissariaat politik Tangki, gedong Tiong Hoa Oen Tong Hwee,
gedong Jamaiat Khair, Kong Boe Siang Hwee dan teritipan beberapa rumah orang
Tionghoa. Di kota Intan pun, gemeente membuka tempat-tempat untuk orang
kampung. Jumlah orang mengungsi ribuan jumlahnya, mereka mendapat jatah
makanan. Dari Thaliafonds memberi bantaun f 300, Tuan Tjie Eng Hok
menyumbang beberapa puluh karung beras serta ikan asin dan tuan Lauw Soen
Bak memberi tiga peti ikan asin. Di dalam pengungsian, penduduk mulai diserang
penyakit gatal25.
Bersamaan dengan banjir di Batavia, di Tiongkok telah terjadi banjir besar
pula. Orang-orang Cina di Hindia Belanda sejak bulan Pebruari 1918 mendirikan
fonds bahaya banjir di Tiongkok yang dikelola oleh Chinese Consulate General di
Batavia. Yayasan ini antara lain mendapat kiriman uang dari Opera Soey ban Lian
Cirebon sebesar 145,13 gulden, Han Khee Jam Probolinggo f5 $ 120 jumlah
sampai 14 Pebruari sebsar f 470,7426.
22 Sin Po; 19 Pebruari 1918
23 Sin Po; 21 Pebruari 1918
24 Sin Po; 20 Pebruari 1918
25 Sin Po, 20 Pebruari 1918
26 Sin Po; 14 Pebruari 1918
5
Meskipun telah terjadi banjir, tetapi suasana banjir di Batavia telah
menimbulkan inspirasi bagi fotografer yang berada di Batavia. Misalnya Toko
Potret Tan Tjie Lan di Pasar Baru Weltevreden melalui iklan koran menawarkan
gambar-gambar di beberapa kampung di Batavia yang kebanjiran agar orang lain
yang tidak sempat menyaksikan sendiri keadaan banjir tetapi ingin melihat
hebatnya, air mengamuk, dapat membeli itu potret-potret. Selain itu toko Potret
Tan Tjie Lan juga menawarkan bahwa kwalitas gambar dari hasil fotonya semakin
bagus karena sudah dapat memotret pada malam hari dan dilengkapi dengan
peralatan penerangan elektrik yang cukup kuat27. Mungkin pada tahun 1918, untuk
pertama kalinya teknologi potografi sudah menggunakan lampu blits yang lebih
terang dan dapat mengambil gambar pada waktu malam hari.
Kondisi banjir yang melanda Batavia, telah mendorong Gemeenteraad
mengadakan rapat pada tanggal 19 Pebruari 1918, jam 7.15 malam. Rapat dibuka
dan dipimpin oleh buurgemeester Bischop. Hadir dalam rapat 11 lid Eropa dan 3
lid Bumiputera sedang lid-lid Tionghoa dan Arab tidak hadir. Dalam rapat tersebut
Voorzitter pertama-tama menyampaikan turut berduka melihat penduduk dilanda
banjir. Kedua pertolongan yang sudah dilakukan adalah bahwa ibu-ibu telah
membagikan barang dan makanan, selain itu Nyonya Gravin van Limburg Stirum
dan militer telah membagikan makanan sehingga tidak terjadi kelaparan. Selain
itu, untuk membantu penduduk sejak tahun 1916 telah dibentuk yayasan untuk
menolong banjir yang diketuai oleh De Nijs Bik dan juga disediakan smerofonds
yang dikepalai oleh tuan Vissering yang sekarang berada di Holland. Dalam rapat
tersebut, Burgermeester mengatakan telah menyediakan uang cukup, jika dana
tersebut tidak cukup maka akan dimintakan lagi kepada Gubernur General. Jika
dana masih belum cukup maka diharapkan anggota Gemeente raad menyediakan
sumbangannya. Selain ini pemerintah memberikan bantuan berupa pompa air dan
pompa kebakaran. Untuk menjaga keamanan dan penerangan, pemerintah
mengeluarkan perintah supaya lentera gas dinyalakan sepanjang malam. Selain
itu sesuai hasil rapat tanggal 18 Pebruari 1918, pemerintah telah menyediakan
pondokan pengungsian bagi penduduk. Tempat pengungsian disediakan di
bangsal Royal Standard Biograph di Pasar Baru, yang dapat menampung 200
orang, gedung Sekolah Dokter Jawa yang baru di Salemba, dan juga los-los di
kota ilir dan di Tanah Abang. Di pondokan disediakan air minum dan minyak kayu
putih. Kampung-kampung harus dikosongkan karena banjir masih ada
kemungkinan naik dan banjir sangat berbahaya bagi kesehatan. Melihat kondisi
banjir yang terjadi di Batavia, maka Buurgesmeester memberi usulan agar banjir
kanal segera diselesaikan secepatnya. Menanggapi permintaan Burgemeester,
Schoman mengatakan apakah menurut ahli teknik sesudah banjir kanal selesai
banjir dapat dihindarkan? Burgermester mengatakan bahwa menurut ahli teknik
memang begitu adanya. Selanjutnya Schotman mengkritik bahwa teknisi harus
bertanggung jawab bahwa banjir yang terjadi karena pembangunan jembatan di
dekat Eigen Hulp yang menjadi penyebab banjir, karena perbedaan tinggi air di
depan dan di belakang bendungan sekitar 85 centimeter. Dari ukuran ini 25 cm
karena saluran yang terlalu sempit dan 60 cm karena bendungan. Menurut teknisi
pengaruh itu pembendungan mengakibatkan air tertahan sampai 1200 meter
dialiran sebelah atas, kira-kira sampai di jembatan Willemslaan. Menurut
Schotman, mestinya tidak usah ada bendungan bila sudah bisa dihitung
akibatnya. Menanggapi kritik Schotman, Van Breen berkata bahwa banjir tahun
ini, ada satu meter setengah lebih tinggi dari pada banjir tahun-tahun sebelumnya,
27 Sin Po; 18 Pebruari 1918
6
sehingga tidak bisa diduga akan datang air sebegitu banyak. Ternyata meskipun
banjir kanal selesai dibangun, Van Breen sendiri tidak bisa memberi jaminan
bahwa Batavia akan terbebas dari banjir28.
Setelah banjir agak mereda, pada bulan Maret 1918. Misalnya di jalanan
Gunung Sari, Ancol sungai mulai kering. Untuk itu digali selokan besar untuk
mengalirkan air dari Kalimati ke kali besar. Dalam pembangunan ini pihak
gemeente tidak memberikan tanda-tanda atau lampu, sehingga jika ada orang
yang lewat diwaktu malam, bisa membut celaka. Selain itu, jembatan di Klenteng
Kaliwangsa juga mengalami kerusakan papannya. Jembatan rusak karena banjir
beberapa waktu lalu dan menenggelamkan kampung di Klenteng. Melihat kondisi
ini, Sin Po mengkritik bahwa penduduk Tinghoa dan Bumiputera yang membayar
pajak lebih besar, jauh dari penduduk Eropa, tetapi pemerintah tidak menjaga
kampung-kampung pribumi lebih baik. Penduduk tidak minta dijaga seperti
kampung (wijk) Eropa, tetapi asal dibuat tidak menyusahkan penduduk. Mestinya
anggota gementeraad menyampaikan kritiknya pada waktu rapat kepada
pemerintah29.
Menurut pengamatan penduduk banjir tahun 1918 merupakan banjir
terbesar dalam 5 tahun terakhir, bahkan dalam 20 tahun terakhir baru banjir tahun
1918 yang paling besar30. Tahun 1878 musin hujan turun lebih lama dari musim
1918. Pada waktu itu, 40 hari turun hujan terus menerus hingga genteng rumah
jadi bobrok dan patah (bonto)31, tetapi banjir yang datang di Batavia tidak sebesar
banjir tahun 1918.
Kondisi Geografis dan Demografis Batavia
Jakarta berada di dataran rendah dengan ketinggian antara 7 m sampai
100 m dari permukaan laut. Data curah hujan tahunan di Batavia bervariasi dari
2000 mm di daerah pantai sampai 4000 mm di daerah pegunungan. Sebagian
besar dari curah hujan, jatuh selama musim hujan sekitar 80% yaitu dari bulan
Nopember sampai Mei. Bulan Januari adalah bulan terbanyak hujannya sekitar
25% dari total jumlah hujan. Hujan biasanya terjadi pada sore dan malam hari,
antara jam 14.00 sampai 21.0032.
Berdasarkan data curah hujan selama hampir tujuh puluh tahun, maka
curah hujan di Bogor paling tinggi yaitu 4.027 mm. Hal ini tentu banyak
mempengaruhi aliran air yang masuk Jakarta, seperti terlihat dalam tabel berikut:
Data Curah Hujan Jabotabek Tahun 1870 – 194133
No Stasiun Ketingg Bulan Juml/
28 Sin Po; 19 Pebruari 1918
29 Sin Po, 5 Maret 1918
30 Sin Po; 14 Pebruari 1918
31 Sin Po; 20 Pebruari 1918
32 Aspek-aspek Pokok dan Masalah-masalah Lingkup Proyek Pengendalian Banjir Jakarta, tt, hal. 13
33 Verhandelingen No. 37, 1870 – 1941
7
ian/
elevasi
tahun
Jan Pebr Mart Aprl Mei Okto Nop Desb
1 Bogor 237 391 364 394 431 271 419 392 361 4.027
2 Bekasi 20 318 183 227 168 144 101 179 207 1753
3 Cengkareng 9 294 277 173 137 127 101 121 220 1731
4 Curug 41 242 219 204 159 149 189 184 225 1939
5 Ciawi 500 358 322 373 265 203 167 266 357 2587
6 Depok 95 342 334 313 322 270 269 336 286 3130
7 Dermaga 220 310 313 327 376 310 316 337 362 3503
8 G. Pangrango 3022 478 443 437 327 196 238 347 448 3324
9 Jonggol 123 367 389 395 407 324 337 362 325 3516
10 Jasinga 90 310 315 306 391 297 280 307 285 3348
11 Gambir 7 300 299 210 147 113 111 142 204 1793
12 Tanah Abang 10 246 274 232 162 122 79 134 210 1677
13 Jatinegara 20 303 298 212 157 124 128 168 209 1885
14 Kebayoran 25 285 225 224 190 162 94 189 222 1887
15 K. Halang 206 385 265 353 433 364 450 410 339 4017
16 Kedung Haur 8 262 261 186 128 100 66 121 226 1497
17 Pasar Minggu 35 305 267 253 197 172 161 236 232 2173
18 Pondok Gede 28 304 191 194 225 177 121 197 227 1982
19 Parung 103 247 284 286 295 264 242 266 246 2712
20 R. dengklok 7 252 231 162 122 80 69 136 184 1421
21 Ragunan 50 254 234 242 198 215 151 222 204 2028
22 Serpong 50 256 267 274 255 203 200 222 269 2377
23 Sawangan 100 244 284 278 260 285 233 258 244 2643
24 T. Priok – 318 321 184 115 96 61 104 209 1622
Sumber: Verhandelingen No. 37, 1870 – 1941
Jakarta terletak di dataran rendah pada106048’ Bujur timur dan 60 Lintang
Selatan, luas Batavia 162 persegi. Tinggi tanah di wilayah kota bagian selatan
mencapai 50 m di atas permukaan laut, sedangkan sebagian besar pantai utara
diliputi rawa-rawa. Mengenai keadaan rawa-rawa dan tanah kosong dapat dicari
dari nama-nama (toponomi) daerah di Jakarta antara lain Rawa Gatel, Rawa
Kerbo, Kampung Rawa Puter, Kampung Kebon Sayur, Kebon Jahe, Kampung
Krendangan (Jakarta Pusat), Kampung Rawa Bahagia, Empang Bahagia (Jakarta
Barat), Kelurahan Rawa Bangke, Rawamangun, Rawasari (Jakarta Timur) dan
Jakarta Selatan ada Kampung Menteng Rawa Panjang.
Kanal-kanal Lama di Batavia
Sungai adalah wadah penampungan dan penyalur alamiah aliran air
dengan segala benda yang terbawa dari Daerah Aliran Sungai (DAS) ke tempat
yang lebih rendah dan bermuara ke laut. Wilayah sungai adalah: kesatuan wilayah
tata pengairan sebagai hasil penggabungan beberapa DAS.
Sungai-sungai yang mengalir ke Jakarta dapat dibagi menjadi 3 bagian
yaitu: sungai yang mengalir di wilayah Timur Jakarta, meliputi Kali Cakung, Kali
Buaran, Kali Sunter, Kali Cipinang, sungai yang mengalir di wilayah tengah,
meliputi kali Ciliwung, kali Cideng, kali Krukut, sungai yang mengalir di wilayah
8
barat meliputi, kali Grogol, kali Sekretaris, kali Pesanggrahan, kali Angke dan
Saluran Mookervart. Selain sungai, untuk memperlancar transportasi pemerintah
membuat kanal-kanal terusan. Akibat meletusnya Gunung Salak tahun 1696, telah
terjadi pengendapan lumpur di sepanjang sungai-sungai, sehingga debit air
Sungai Ciliwung yang masuk ke dalam kota semakin kecil. Pada musim panas,
debit air yang masuk ke kota sangat kecil, karena sedimentasi juga karena
sampah34. Untuk menambah debit air ke dalam kota dibuatlah saluran baru
Mookervart. Tahun 1732 Gubernur Diederik Durven memerintahkan penggalian
Mookervaart untuk memasok air ke kota. penggalian ini telah mengakibatkan
timbulnya wabah, matinya para kuli dan bencana banjir bagi Batavia. Akibat erosi
terjadi endapan di muara-muara dan paya-paya jadi penuh air sehingga tempat
berkembangnya nyamuk.
Kearah timur Antjolsevaart merupakan sarana transportasi antar kota
dengan Kali Sunter dan setiap kapal yang melaluinya dikenakan pajak. Jalur
penghubung antara kota dengan bagian selatan adalah Molenvliet yang dibuat
tahun 1648 atas permintaan Poa Bingam. Saluran ini diperuntukkan bagi
pengangkutan hasil hutan di bagian selatan. Selanjutnya sisi saluran ini menjadi
jalur yang paling diminati penduduk35. Nama-nama kanal dikaitkan dengan nama
pembuatnya, misalnya Ammnusgracht dibuat oleh J. Ammanus,
Bacehrachsgracht dibuat oleh Bacheracht. Nama kanal Molenvliet pada awalnya
juga bernama Bingamsgracht, kemudian tahun 1661 diubah namanya menjadi
Molenvliet.
Bagian selatan yang diwakili Molenvliet termasuk jenis kanal arterial dan
Benteng Rijswijk ke timur menuju Benteng Noordwijk dan lateral dari Nieuwport
hingga benteng Rijswijk. Pembuatan Zuideeringsloot tidak diketahui maksudnya
mungkin untuk mencegah banyaknya volume air yang masuk ke dalam kanalkanal
dalam kota. Molenvliet dimulai dari daerah Glodok (depan Hotel Jayakarta
sekarang) terus ke Selatan berbelok ke timur bertemu dengan jalur Sungai
Cilwung menyambung dengan pintu air Willemsluis. Aliran sungai Ciliwung
berbelok ke timur ke arah Pasar Baru, ke arah utara sejajar dengan jalan Gunung
Sari merupakan saluran pengalihan ke arah timur pada tahun 1699. kemudian
34 Mark Caljouw, dkk; Flooding in Jakarta: Towards a Blue City With Improved Water Management; dalam
Bijdragen Tot De Taal, Land en Volkenkunde, No. 161.4, 2005, hal 463
35 Daruroh Sadadi, Kanal-kanal di Batavia Abad ke 17 dan 18: Sebuah Pendahuluan; Skripsi S1, Sastra UI,
1992, hal. 86.
9
bertemu dengan Sungai Ciliwung dengan melalui Jembatan Merah ke arah barat
pada Jalan Raya Mangga Besar.
Pada tahun 1647, Johannes Ammanus menggali saluran dari
Westerbuitengracht, dekat Bastion Utrecht sampai bertemu Kali Angke. Saluran ini
sebagai pengangkutan ke laut melalui Kali Angke dan Ammanus. Ia berhak
memungut pajak selama 20 tahun atas saluran ini. Saluran ini dinamakan
Ammanusgracht. Ammanusgracht disebut juga saluran Bandengan bermula dari
saluran Penjaringan ke arah barat hingga ke Kali Grogol dilanjutkan hingga kali
Krukut dan Banjir Kanal. Pada tahun 1653 – 1659, Jacob Bacheracht membuat
saluran sejajar dengan Ammanusgracht di sebelah selatan saluran ini digali dari
kali Angke yang pada bagian baratnya terdapat penggilingan gula, berseberangan
dengan Bastion Zeelandia dan bermuara di kali Grogol. Saluran ini diberi nama
Bacherachtgracht. Bacherachtsgracht di sebut juga saluran Patekoan, terletak
sejajar dengan Jalan pangeran Tubagus Angke terus ke barat hingga bertemu
dengan Kali Krukut dan Banjir Kanal. Groningensvaart sekarang sudah tidak ada,
tetapi saluran ini berada paling utara dari bagian barat kota Batavia. Jalan Pluit
merupakan lokasi yang tepat karena saluran ini dibuat hingga Pluit.
Pada abad 17 dibuat saluran Gunung Sari yang berfungsi mengalihkan
jalur S Ciliwung. Dengan demikian lokasi jalur-jalur kanal luar kota tidak teratur,
tergantung dari daerah yang memiliki potensi ekonomi yang besar serta tidak
mengalami perubahan seperti yang ada dalam kota.
Terusan Prapatan, disebut juga Kali Baru, karena menghubungkan Sungai
Ciliwung dengan Kali Sunter. Kini terusan ini masih terlihat sebagian sisanya
berubah menjadi Jalan Kramat Bunder ke barat Jalan Prapatan dan Jln Kwitang
bertemu dengan S. Ciliwung.
Abad 18 dibuat Westerslokan yang bergabung dengan S. Ciliwung dan Kali
Baru (Oosterslokan) bergabung dengan Kali Sunter di sebelah timur.
Westerslokan kini masih dimanfaatkan untuk pengairan, namanya diganti dengan
saluran Minangkabau, namun bagian yang berhubungan dengan Sungai Ciliwung
sudah ditutup karena adanya Banjir Kanal. Bagian barat yang didominasi oleh
kanal arterial yang diperuntukkan untuk jalur penghubung Kali Grogol dan Kali
Angke.
Muara Baru (Muara Pegantungan) dan Muara Embrat (Humraden
Monding), Sehubungan dengan perluasan saluran ke arah timur dan barat kota
10
melalui Westerbuitengracht dan Oostterbuitengracht, kini tidak ditemui lagi namun
pada peta 1901 – 1902 kedua muara tersebut masih dapat dilihat. Kini Muara
Baru menjadi perumahan di Pluit dan Muara Embrat berada diantara Pelabuhan
Sunda Kelapa dengan marina Ancol36.
Perkembangan Kota Batavia Abad 17 – 18
Pada masa awal perkembangan kota sekitar abad 17, kota dapat dibagi
dalam empat bagian, yaitu kasteel, kota bagian timur, kota bagian barat dan kota
bagian depan (voorstad). De Voorstad terletak di luar tembok kota dan parit. Di
kota ini dapat dilihat bagaimana cita-cita orang Belanda untuk membangun kota
persis seperti Kota Belanda di tanah tropis dengan banyak sekali parit-parit yang
saling memotong dan membentuk segi empat dengan jembatan-jembatan yang
teratur.
Menjelang abad 18, kemakmuran kemewahan, dan keamanan makin
bertambah. Pada masa itu, terjadi kecenderungan pada penduduk untuk pindah
ke daerah-daerah luar kota. Para Gubernur Jenderal, pegawai tinggi kompeni dan
warga kota yang berada, merasa perlu untuk bermukim di daerah luar kota.
Mereka keluar dari bagian kota, dan membeli kebun-kebun. Mereka ber-weekend,
di rumah-rumah mereka yang baru didirikan. Mula-mula rumah itu berbentuk kecil,
terbuat dari bamboo dan kayu dan lambat laun bentuknya bertambah besar dan
terbuat dari batu. Kemudian mereka tinggal sebagai penghuni tetap dan dengan
demikian timbul gedung-gedung besar yang megah dan bagus menurut model
Belanda. Gedung-gedung itu terutama muncul di sepanjang Jacatraweg (sekarang
jalan Jayakarta) dan kanan kiri Molenvliet (sekarang jalan Gajah Mada dan Hayam
Wuruk). Di sepanjang jalan ini dibangun gedung-gedung bergaya Belanda. Para
penghuninya mempunyai kebiasaan saling berkunjung dengan orembaai (perahu
kecil yang didayung oleh budak belian). Perkembangan kota yang pesat dan
perubahan-perubahannya dalam akhir abad ke 18, terjadilah perpindahan besarbesaran
ke arah daerah yang lebih tinggi dan sehat yaitu Weltevreden.37
36 F De Haan; Oud Batavia; Bandung; 1922; hal. 254
37 Weltevreden, semula milik seorang yang bernama Anthony Paviljoen yang pada tahun 1648 masih
merupakan rawa dan hutan. Kemudian daerah tersebut disewakan kepada orang-orang Cina untuk ditanami
tebu dan kebun sayuran. Pada tahun 1697, tercatat pendirian sebuah rumah oleh pemiliknya yang baru
Cornelis Chastelein. Selain itu terdapat 2 kincir penggilingan tebu. Kemungkinan besar nama Weltevreden
diberikan oleh Chastelein dan memperluas tanah miliknya. Pada tahun 1733 tanah ini dijual kepada Justinus
11
Pada masa pemerintahan Mr. Herman Willem Daendels pada tahun 1807,
ia mendapat tugas untuk memindahkan ibukota koloni milik Belanda di Asia,
dimana saja di bagian Pulau Jawa yang cocok untuk keperluan itu. Pada awalnya
Daendels membuat sebuah istana baru didekat tempat parade di Waterlooplein
(Lapangan Banteng) bahan-bahan bangunan diambil dari bekas kasteel Batavia
dan bangunan lain dari kota lama. Berhubung keadaan perang, istananya baru
setengahnya selesai. Penggantinya Jansen sempat menutup istana itu dengan
atap 15 tahun kemudian. Tindakan Daendels yang akan mempengaruhi
perkembangan tatakota ialah pembukaan lapangan latihan bernama Koningsplein
(1818), tanah lapang Gambir. Sedangkan pusat pertahanan dibangun di Meester
Cornelis.
Perluasan Kota: Pembangunan Menteng dan Gondangdia
Pada tahun 1905, Gemeente Batavia mengambil alih tanggung jawab untuk
pengelolaan kota Batavia. Sebagai gemeente pengelolaan masalah keuangan
langsung dikelola sendiri, maka mulai dipikirkan pembangunan kompleks
perumahan yang sehat. Untuk itu tanah Partikuler Menteng yang masih ditanami
padi, rumput dan pohon kelapa. Tanah partikuler Menteng dinilai seharga f
238.868 dengan 2.301 orang penggarap tanah yang tinggal diatas tanah tersebut.
Pada awalnya, sebagai pemilik tanah Menteng pada pertengahan abad ke-18
disebut seorang Arab (Moor) yakni Assan Nina Daut dan Jakob P Barends.
Sampai tahun 1910, kepemilikan tanah Menteng berganti-ganti dan terakhir
dimiliki keluarga Shahap. Kotapraja akan mendirikan pemukiman bagi masyarakat
golongan atas, di daerah Menteng. Untuk itu perusahaan perumahan De
Bouwploeg membeli tanah Menteng seluas 295 rijnlandsche roeden pada tahun
1908 seharga f 238.870. Selain itu, pada tahun 1910 Bouw en
Cultuurmaatschappij Gondangdia membeli tanah partikelir Gondangdia Prapatan
Vinck dengan harga 39.000 ringgit. Di wilayah ini pada tahun 1735 diijinkan untuk membangun pasar, yaitu
di Tanah Abang dan di Weltevreden. Pasar-pasar dihubungankan oleh jalan melalui Kampung Lima –
Perapatan – sampai Kramat – terus ke Senen. Jalan Gunung Sari – Pasar Senen – Kramat (De Grote
Zuiderweg). Sesuai dengan pemiliknya maka Pasar Senen juga dinamakan Vincke Passer. Sepeninggal J
Vinck, maka tanah itu menjadi milik G. Dj Jacob Mossel yang membelinya seharga 28.000 ringgit. Sebuah
parit digali, oleh Mossel untuk menghubungkan Ciliwung dengan parit yang memanjang sejajar dengan De
Grote Zuiderweg. Parit tersebut dinamakan Kali Lio (Lio adalah tempat pembakaran Genteng), lihat
12
seluas 315 rijnlandsche roeden dengan 3.502 orang penggarap diatasnya senilai f
217.724. Penentuan harga tanah ditentukan oleh panitia Taksiran Tanah Partikulir.
Rencana Gondangdia ciptaan Moojen diresmikan tahun 1912 berpusat
pada suatu lapangan bundar yang luas. Lapangan menurut rencana dikelilingi
oleh gedung-gedung umum yang besar dan suatu boulevard dan jalan besar yang
memotong lapangan bundar yang menghubungkan Menteng dengan Tanah
Abang dan Meester Cornelis. Batas Nieuw Gondangdia (Menteng) sebelah timur,
rel kereta api, sebelah barat Theresiakergweg (Jalan Agus Salim Sekarang),
sebelah selatan banjir kanal, sebelah utara oude Tamarindelaand (Jln Wachid
Hasyim)
Sebagai sarana perlengkapan, Gemeente Batavia hanya menyediakan air
ledeng. Spruit Menting di sebelah utara Kali Malang ditimbun. Tindakan ini
menyebabkan banjir rutin di daerah Menteng. Riolering di bawah tanah baru
dikerjakan sejak tahun 1918. sebelum pembangunan jalan dan rumah dimulai,
beberapa kampung perlu dipindahkan. Banyak penduduk Menteng terpaksa
pindah ke Karet. Pada tahun 1915 misalnya NV. BC Gondangdia hendak
menaikkan sewa tanah Haji Naing Togok dari fl 1,50 menjadi fl 100 dan ladang
Pak Maot dari fl 0,50 menjdi fl 124.85. Maksudnya supaya pada saat tanah
dikosongkan para penggarap dan penghuni tidak dapat kompensasi apapun untuk
rumah dan pohon mereka dengan dalih tanah pacht sudah sangat berharga. Uang
sewa tanah partikuler kadang-kadang lebih tinggi dari pada tanah non partikuler.
Dilain pihak beberapa penduduk Menteng meningkatkan tuntutan untuk pindah fl
0,05 per m2 menjadi fl5. Hal ini mengakibatkan Sarekat Islam mengadakan
pembelaan agar penggusuran dikaitkan dengan perbaikan kampung dan
kesehatan.
Gemeente Batavia, sampai tahun 1920 telah membeli tanah delapan juta
m2 yang meliputi pembelian tanah partikuler Petojo (1917), Jati Wetan (1916), Jati
baru( 1918), Karet, Dukuh, Bendungan Udik, Kramat Lontar I (1920), sampai
tahun 1927 tanah gemente berkembang menjadi 11,5 juta m2 dengan tambahan
pembelian Taman Sari dan Sentiong. Pada tahun 1924, Bouwploeg dibubarkan.
Daerah Dukuh Atas, Karet dan Menteng Atas ditentukan sebagai daerah
perluasan Menteng.38
38 Heuken, hal. 30)
13
Pada tahun 1925 – 1932 merupakan puncak harga tanah, di daerah
Menteng, per meter persegi harganya fl 1,50 sampai fl 10 harga itu menurut
perhitungan pada masa itu termasuk mahal.39 Untuk mengatasi mahalnya harga
tanah, diusulkan mendirikan rumah bertingkat dua seperti yang pernah dibangun
di Kramat V dan VII, yang dibangun Moojen 1919.
Pada tahun 1924, sudah ada keluhan bahwa hidup sehat dan murah sudah
tidak mungkin di Batavia, untuk itu Tillema seorang apoteker, mengusulkan
adanya perumahan murah. Untuk itu baru pada tahun 1934, di sebelah selatan
banjir kanal (daerah Guntur) dibangun rumah sederhana. Akibat krisis ekonomi
1932 – 1937, perluasan Menteng mengalami kemunduran. Perluasan kota
bergerak ke selatan semakin pesat, karena perluasan ke timur mengalami
hambatan, karena di daerah timur terdapat lapangan udara Kemayoran. Selain itu
pusat pemukiman telah mengalami perkembangan semakin pesat. Pada tahun
1940 penduduk kota Batavia sebanyak 544.823 orang.40
Rencana perluasan Gemeente Batavia pada dasarnya ditetapkan pada
tahun 1917 – 1928 dan sejalan dengan perkembangan kota. Dewan Kotapraja
telah menyetujui rencana dari maskapai pembangunan dan perkebunan
Gondangdia untuk melaksanakan pembangunan prasarana yang diperlukan untuk
pembangunan perumahan, yaitu membuat jalan, taman dan saluran air buangan.
Dengan dibelinya tanah Gondangdia, Karet Duku, Bendungan Udik, Kramat
Lontar I, Jatibaru pada tahun 1920, maka kotapraja telah memiliki tanah seluas 8
juta hektar. Jumlah tanah kotapraja tanggal 1 Januari 1930 telah menjadi 6 juta
gulden41
Pembentukan badan yang disebut Bouwploeg membuka kemungkinan
membangun Gondangdia Baru dan Menteng Baru. Pada tahun 1928,
pembangunan dipusatkan di daerah Koningsplein (Lapangan Merdeka). Di sekitar
lapangan ini mulai dibangun kantor-kantor dan hotel, bagian barat adalah kantorkantor
sedangkan bagian selatan terdapat lapangan pacuan, arena balap sepeda.
Pada periode 1930-an inilah daerah Koningsplein mulai diatur dengan fasilitasnya.
Selain perluasan kota, pemerintah juga mengadakan perbaikan Kampung
Sawah Besar, berdasarkan pada penawaran rancangan anggaran untuk tahun
1934, anggota dewan kotapraja telah menulis surat kepada pihak pemerintah
39 Vries , JJ de, 1927, halaman 169.
40 Kantor Sensus dan Statistika DKI Jakarta; Jakarta Dalam Angka, Jakarta: 1984
41 Abdurrachman Surjomihardjo, Pemekaran Kota Jakarta; Jakarta: Djambatan, 1977, hal 27
14
tertanggal 30 November 1933, No.8.60942 memberitahukan bahwa dengan
pemberian izin oleh anggota dewan yang memberikan jaminan untuk tahun 1933
dari jumlah keseluruhan biaya yang diajukan. Jumlah itu digunakan untuk
membebaskan biaya pembangunan jalan sesuai dengan lahan yang dibutuhkan.
Untuk perbaikan kampung, Dinas Pekerjaan Umum, menganggarkan sebesar f.
63.640. Untuk pekerjaan itu diperkirakan biaya yang dibutuhkan sekitar f.59.000.
Pada perkiraan biaya ini untuk biaya tak terduga diperhitungkan 10 % dari jumlah
biaya keseluruhan. Menurut pendapat dewan, biaya itu dapat dikurangi hingga 5
%. Dengan demikian biaya yang diperkirakan untuk pekerjaan sekarang ini dapat
diajukan sebesar f. 56.500. Ternyata pihak kotapraja menyetujui perbaikan pihak
dewan untuk perbaikan kampung Sawah Besar.43
Perbaikan kompleks Kampong Petjah Koelit anggaran biayanya
diperhitungkan oleh Dinas Pekerjaan Umum, jalan dengan lebar permukaan jalan
4,5 m, dilengkapi dengan jalur pejalan kaki dari beton 4,5 m, sementara itu untuk
saluran air yang memisahkan dengan kali Ciliwung sehubungan dengan letak
lahan yang lebih rendah, digunakan opengotenstelsel (saluran dari beton dan got
terbuka yang disemen). Untuk rencana pekerjaan perbaikan, biaya yang
diperlukan diperkirakan sebesar f 11.930, sementara itu biaya untuk
membebaskan lahan untuk keperluan pembangunan jalan sebesar f 3.175.
Dengan demikian biaya perbaikan kampung yang akan dilaksanakan secara
keseluruhan sebesar 15.105 gulden.
Dalam tahun 1937, untuk perbaikan kampung dianggarkan 12.000 gulden.
Anggaran tahun 1938 akan digunakan untuk perbaikan kampung-kampung Kebon
Sirih dan Tanah Rendah dimana rencananya belum dibuat, anggaran yang diambil
sebesar 75.000 gulden. Untuk rencana perbaikan dari kompleks kampung yang
sedang dikerjakan akan disediakan dana sebesar 3.105 gulden. Berdasarkan
pengumuman dari catatan sebelumnya, komisi teknis dewan setuju dengan
rencana proyek, maka kotapraja mengajukan usul pada anggota dewan untuk
memutuskan kesepakatan dalam bentuk keputusan yang dilampiri dengan
rancangan proyek44.
Perbaikan kompleks Bukit Duri Tanjakan II, dinas PU Kotamadia
mengajukan rencana perbaikan kampung sebesar f 9.300, dan untuk pembebasan
42Gemeenteblad 1933, No.419
43 Gemeenteblad 1934 No.122, Stadsgemeente Batavia, No. 2 4 5 1, Afd II
44 Gemeenteblad 1938 No.98, Staadsgemeente Batavia, No.3581, Batavia, 23 Maret 1938, Afd: II
15
petak tanah bagi pembukaan jalan berjumlah f 1.250. Perbaikan kampung selain
itu seluruhnya memerlukan dana f 10.55045.
Dalam tahun 1939 anggaran untuk perbaikan kampung sebesar f 245 ribu,
yang terdiri atas f 75 ribu ditambah f 85 ribu subsidi negara ditambah kredit sisa
selama tahun 1938 dari f 85 ribu. Dalam rangka perbaikan kampung ini, berkalikali
keberatan diajukan tentang belum tercapainya kesepakatan antara kotapraja
dan para pemilik tanah tentang pelepasan tanah-tanah partikelir. Pada tahun 1939
dilontarkan untuk membentuk sebuah komisi.
Dari uraian diatas maka selama 1929 sampai dengan 1939 dana yang
dikeluarkan kotapraja untuk perbaikan dan pembangunan adalah seperti terlihat
dalam tabel berikut:
Tabel Pembangunan dan Perbaikan Kota 1929 – 1939
No Jenis Pembangunan Tahun Biaya (f) Keterangan
1. Pembangunan Daerah Petojo 1929 13.050 Tahap I
2 Pembangunan Persil Cideng
Timur
26.000 Tahap II
3 Pemb. Jln. Batavia – Meester
Cornelis
1934 662.126
4. Pemb. Jln. Cideng, Petojo Sawah 1934 27.000
5. Perbaikan Sawah Besar 1934 63.640
6. Kompleks Pecah Kulit 1934 15.105
7. Kebon Sirih dan Tanah Rendah 1937 75.000
8. Komplek Bukit Duri Tanjakan II 1938 10.550
9. Perbaikan Matraman dan
Salemba
1939 11.675
10 Perbaikan Kampung lainnya 1939 245.000
Diolah dari Gemeenteblad tahun 1929 – 1934
Pembangunan Banjir Kanal dan Normalisasi Saluran
Penataan air di Batavia dimulai ketika terbentuknya Gemeente Batavia. Inti
penanggulangan banjir yang diperkenalkan adanya satu saluran penangkap banjir
yang terletak di luar kota. Dimulai dengan penelitian terhadap aliran sungai-sungai
dan endapan yang ada di Batavia tahun pada 191146. Penelitian ini juga terkait
dengan akan di bangunnya perkebunan teh di Bogor, sehingga air yang akan
mengalir ke Batavia semakin besar. Selain itu perluasan kota ke Menteng dan
45 Gemeenteblad 1938 No. 377, Stadsgemeente Batavia, Nomor: 14361, Batavia, 5 Nopember 1938
46 RV 2498; 27 Jan 1911, dalam Indeks Folio No. 111, tahun 1911
16
Gondangdia, sehingga sebagai daerah permukiman daerah Menteng dan
Gondangdia harus terbebas dari banjir. Perencanaan pembangunan dimulai pada
tahun 1913. dimulai dengan perencanaan pembangunan pintu air utama di
Matraman (Manggarai) dengan biaya f 275.600 selain itu juga akan dibangun pintu
air di Kampung Gusti dengan biaya f 43.00047 dan pintu air Sunter dengan biaya f
34.000.
Terkait dengan pembangunan pintu air Manggarai, pemerintah juga akan
membangun saluran air (banjir kanal) dari Matraman sampai Karet dengan biaya f
579.30048. Banjir kanal Matraman dimulai dari Ciliwung dan bermuara di kali
Angke mengalir ke laut, dari Karet diteruskan melalui kanal Krokot yang sudah
ada. Di sepanjang kanal ini banjir dari Ciliwung dan kali Krokot dan juga dari
Cideng yang mengalir di antara kedua sungai ini, dialirkan keluar kota. Penggalian
saluran Cideng dan saluran pembuangan Tanah Abang dengan biaya f 182.00049.
Selain pembangunan besar itu pembangunan lainnya adalah pembangunan di kali
Grogol sepanjang banjir kanal yang disebutkan di atas menuju laut. Untuk proyek
1913, seluruhnya menghabiskan biaya 3 juta gulden termasuk 2.200.000 atas
tanggungan pemerintah pusat sedangkan 800.000 atas tanggungan kotapraja.
Seluruh Batavia perbaikan pengairan meliputi 75 km2 dengan rata –rata biaya
0,07 per m2. Pada tahun 1913 pembangunan dipusatkan pada pembebasan
lahan, pengumpulan material dan pelaksanaan pembalikan tanah.
Karena belum selesai, maka proyek Banjirkanal dari Matraman sampai
Karet dilanjutkan pada tahun 1915. Proyek penggalian ini seluruhnya dikerjakan
dengan tenaga tangan, sepanjang 4,5 kilometer, dengan kedalaman 4 sampai 12
meter, di bawah kemiringan antara 1 sampai 1,5:1 dan dengan lebar dasar dari 16
sampai 13,50 meter. Dalam kaitannya dengan proyek ini, dibangun dua jembatan
angkat pada 4 titik tumpu, dengan panjang 32 meter dan lebarnya antara
pegangan 3 meter; jembatan gantung sepanjang 52 meter dan lebar antar
pegangan 1,50 meter, sebuah jembatan beton berlapis di atas 4 titik tumpu
sepanjang 34 meter dan lebar antar pegangan 5 meter, sebuah pintu air dengan
pembuangan dengan kemampuan maksimal berjumlah 2 dan 8 m3 per detik; dan
47 BT, 22 Agustus 1913, No. 9
48 Verslag van BOW over het jaar 1913, Batavia, Landsdrukkerij 1916, hal 196
49 BT, 21 Oktober 1913 nomor 44
17
sebuah pintu air dengan pembuangan, dengan kemampuan maksimal 10 dan 25
m3 per detik50.
Selain proyek besar tersebut, untuk memperbaiki pembuangan air. Di
sepanjang tepi timur jalan Senen sebuah riol baru dipasang, dengan biaya
mencapai f 3.302. pembangunan riol di sepanjang jalan Menteng dikeluarkan
dana f 2.733. Beberapa got terbuka ditutup dengan lapisan beton dan got tanah
diganti dengan got beton. Pada perawatan got dan riol disediakan dana f 8.178,
pada perbaikan f 5.226 dan proyek baru f 7.012 atau seluruhnya f 20.416.
Pada tahun 1915, pembangunan dan perawatan terhadap pintu air Pintu Air
Tangki dan Pasar Ikan terhenti51. Tetapi khusus mengenai pembangunan terusan
banjir kanal masih dilanjutkan. Terusan dari banjir kanal dari Karet sampai laut
pemerintah mengeluarkan dana sebesar f 158 ribu. Dana tersebut termasuk untuk
pembebasan lahan.52.
Selain proyek tersebut, pemerintah juga melakukan normalisasi terhadap
saluran-saluran yang ada. Normalisasi tersebut meliputi:
Tabel Pengelolaan Banjir dan Saluran Air Kantor Irigasi Batavia
Tahun Nama Proyek Dasar
Pengerjaan
Dana yang
disediakan
Realisasi
Pekerjaan
Keterangan
1928 Normalisasi dan
pembebasan banjir selokan
barat di Mr. Corneelis antara
Rawa Panjang dan Banjir
kanal Batavia
Direktur PU, 2
Maret 1928,
No. E,
10/1/8/9/
f 7600 dan 13
Nop 1928, No.
E, 10/2/25
f 5000
F 12.600 f. 3460 Selesai
tahun 1929
1930 Pengerjaan saluran
Pembuangan di Kali
Pesanggrahan, Kedoya
Besluit CVG
ddo 14/2-30,
No. O 36/2/14
F2550
F 2550 f 2538 Selesai
Pengerukan Lumpur Kali
Krukut dan saluran Cideng
sampai Toko Tiga
Besluit CVG
ddo 31/1-30,
No. O 36/2/6
F 41.500
F 41.500 f38500 Selesai
Saluran Pembuangan Cideng
di Kampung Lima sampai
Tanah Abang
Besluit CVG
ddo. 14/11-30,
No. o/36/24/17
f990
F990 f990 Selesai
Saluran Pembuangan
Bancerachsgracht dari
Jembatan Dua sampai
Besluit CvG.
Ddo. 21/11-30,
No. O
F7000 f1000 Dilanjutkan
tahun 1931
50 Verslag van BOW over het jaar 1915; Batavia: Uitgevens, mijpapyrus, 1918, hal 141 – 143
51 Verslag van BOW over het jaar 1915; Batavia: Uitgevens, mijpapyrus, 1918, hal 141 – 143
52 Verslag van BOW over het jaar 1915; Batavia: Uitgevens, mijpapyrus, 1918, hal 141 – 143
18
saluran Gusti 36/24/19
f7000
Diolah dari Verslag West Java 1928 – 1930
Penutup
Banjir dapat dibedakan dalam dua kategori yaitu genangan dan luapan.
Genangan disebabkan karena tidak lancarnya pembuangan air ke saluran.
Sedangkan luapan adalah meluapnya air dari saluran.53 Ada empat faktor yang
paling krusial dalam fenomena banjir yaitu: curah hujan, daerah aliran sungai,
tanah dan tata guna lahan serta topografi.
Curah hujan merupakan faktor utama terjadinya banjir. Tingginya curah
hujan harus terkait dengan waktu dan ruang. Hujan lebat dalam waktu singkat
dan pada daerah yang tidak luas kemungkinan tidak akan mendatangkan banjir.
Curah hujan yang jatuh di saat tanah mulai jenuh, lebih besar pengaruhnya
daripada hujan yang terjadi di saat tanah kering, jadi hujan yang jatuh pada bulan
Pebruari lebih berbahaya daripada hujan lebat yang jatuh pada bulan Desember.
Hal lain yang sangat menentukan adanya banjir adalah daerah aliran
sungai (DAS). DAS mempunyai peran menangkap curah hujan, oleh sebab itu
DAS disebut catchment area atau daerah tangkapan hujan. Air hujan yang jatuh di
atas DAS akan dialirkan melalui satu pintu keluar (muara sungai). Pengelolaan
DAS sangat terkait dengan tata guna lahan. Tata guna lahan banyak berkaitan
dengan urbanisasi. Peningkatan jumlah penduduk di kota besar akan berpengaruh
pada perkembangan daerah kedap akibat bertambahnya pemukiman. Pengaruh
tata guna lahan terhadap banjir cukup besar karena besarnya curah hujan yang
menjadi aliran permukaan juga dipengaruhi oleh tata guna lahan dimana hujan
tersebut jatuh. Daerah dengan tata guna lahan perkotaan yang mempunyai
banyak permukaan kedap akan menghasilkan aliran permukaan yang besar
bahkan hampir 100% dari curah hujan menjadi aliran permukaan, sebaliknya
daerah yang tertutup hutan lebih banyak menahan air dan diresapkan ke dalam
tanah, sebagaian tertahan di daun dan ranting kemudian menguap. Jumlah ini
dapat mencapai 20% dari curah hujan. Perluasan kota sehingga mengakibatkan
sebagian besar lahan tertutup atap rumah dan badan jalan serta lapangan parkir
53 Ditjen Pengairan, Masalah Pengamanan Bencana Banjir di Jakarta Raya, Jakarta: Ditjen Pengairan, DPU,
1976, hal. 2
19
dan lapisan kedap lainnya. Sehingga curah hujan yang jatuh, sebagian besar akan
menjadi aliran permukaan dan langsung masuk ke saluran atau menggenang di
cekungan-cekungan. Yang masuk ke saluran akan mengalir ke saluran yang lebih
besar dan akhirnya masuk ke sungai-sungai untuk dialirkan ke laut. Kecepatan air
masuk saluran dan mengalir ke laut ditentukan oleh kemiringan lereng dan
kapasitas saluran. Saluran yang dangkal atau banyak tertutup sampah
mempunyai kapasitas kecil dan cepat meluap. Hal ini sangat terkait dengan
kemiringan tanah (topografi)
Air mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah, kecepatan
aliran air sangat tergantung pada topogafi yakni kemiringan lereng daerah. Di
daerah Bogor ke arah selatan Jakarta kemiringan lereng masih cukup tinggi untuk
mengalirkan air dengan lancar sedangkan dari selatan ke utara Jakarta akan
mengalami retardasi (tahanan) setelah masuk kawasan Jakarta. Sehingga air
cepat meluap54. Kecepatan air mengalir tergantung pada topogafi yakni
kemiringan lereng daerah. Di daerah Bogor ke arah selatan Jakarta kemiringan
lereng masih cukup tinggi untuk mengalirkan air dengan lancar sedangkan dari
selatan ke utara Jakarta akan mengalami retardasi (tahanan) setelah masuk
kawasan Jakarta. Sehingga air cepat meluap.55
Berdasarkan hal tersebut, maka dalam pembangunan Batavia sebagai
daerah yang terletak di daerah dataran rendah, maka masalah pengaliran air
harus diperhatikan. Hal ini sudah dilakukan oleh pemerintah. Ini dapat dilihat
bahwa sebelum kompleks Menteng dan Gondangdia selesai dibangun,
pemerintah sudah menyiapkan sarana penangkap banjir melalui saluran luar kota
yaitu dari Matraman ke arah barat menyambung di Karet, kemudian dialirkan ke
kali Grogol seterusnya dialirkan ke laut. Selain itu pembangunan kebun teh di
Bogor yang dikhawatirkan akan memperbesar aliran air yang masuk ke Batavia,
maka pemerintah kolonial sudah menyiapkan prasarana aliran air dengan baik.
Tetapi kerja keras dari pemerintah kolonial tidak berhasil juga, karena setelah
banjir kanal selesai di bangun 1919, banjir masih merupakan ancaman serius bagi
kota Batavia. Terbukti pada tahun 1930 sampai 1932, banjir telah
menenggelamkan kota Batavia kembali.
54 AB. Suriadi M Arsjad dalam Intisari; 2002
55 Ibid,.
20
Daftar Pustaka
Koran
Sin Po, 4 Pebruari 1918, No Microfilm 444/PN/M
Sin Po 14 Peber 1918
Sin Po; 15 Pebruari 1918
Sin Po; 21 Pebruari 1918
Sin Po; 20 Pebruari 1918
Sin Po; 18 Pebruari 1918
Sin Po; 16 Pebruari 1918
Sin Po; 19 Pebruari 1918
Sin Po, 5 Maret 1918
Arsip
BT, 21 Oktober 1913 nomor 44
BT, 22 Agustus 1913, No. 9
Gemeenteblad 1929 No.428
Gemeenteblad 1931 No.151, Stadsgemeente Batavia, Batavia, 16 April 1931, No.4289, Afd: II
Gemeenteblad 1931 No.96, Stadsgemeente Batavia, Batavia, 5 Maret 1931, No.2402)Afd: II
Gemeenteblad 1934 No.122, Stadsgemeente Batavia, No. 2 4 5 1, Afd II
Gemeenteblad 1934 No. 127, Stadsgemeente Batavia, No.2494, Batavia, 14 April 1934, Afd. II
Gemeenteblad 1934 No.28, Stadsgemeente Batavia, No.312, Afd: II, Batavia, 15 Januari 1934
Gemeenteblad 1934, No.132, Stadsgemeente Batavia, No.2499, Afd:II , 14 April 1934
Gemeenteblad 1934, No.92, Stadsgemeente Batavia, Rancangan Keputusan No. /G.R., Afd: II
Gemeenteblad 1934, No.93, Staadsgemeente Batavia, Rancangan keputusan, Batavia, 1934, No. /G.R, Afd:
IIG
emeenteblad 1938 No. 377, Stadsgemeente Batavia, Nomor: 14361, Batavia, 5 Nopember 1938
Gemeenteblad 1938 No.98, Staadsgemeente Batavia, No.3581, Batavia, 23 Maret 1938, Afd: II
GEMEENTEBLAD 1939, Nomor 76, Stadsgemeente Batavia, Nomor: 4017, Batavia, 22 Maret 1939
RV 2498; 27 Jan 1911, dalam Indeks Folio No. 111, tahun 1911
Verslag van BOW over het jaar 1913, Batavia, Landsdrukkerij 1916
Verslag van BOW over het jaar 1915; Batavia: Uitgevens, mijpapyrus, 1918
Buku-buku
AB. Suriadi M Arsjad dalam Intisari; 2002
Abdurrachman Surjomihardjo, Pemekaran Kota Jakarta; Jakarta: Djambatan, 1977
Aspek-aspek Pokok dan Masalah-masalah Lingkup Proyek Pengendalian Banjir Jakarta, tt.
Daruroh Sadadi, Kanal-kanal di Batavia Abad ke 17 dan 18: Sebuah Pendahuluan; Skripsi S1, Sastra UI,
1992.
Ditjen Pengairan, Masalah Pengamanan Bencana Banjir di Jakarta Raya, Jakarta: Ditjen Pengairan, DPU,
1976.
F De Haan; Oud Batavia; Bandung; 1922
Kantor Sensus dan Statistika DKI Jakarta; Jakarta Dalam Angka, Jakarta: 1984
Mark Caljouw, dkk; Flooding in Jakarta: Towards a Blue City With Improved Water Management; dalam
Bijdragen Tot De Taal, Land en Volkenkunde, No. 161.4, 2005
Verhandelingen No. 37, 1870 – 1941
Vries , JJ de, 1927
21

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: