Jakarta

Februari 2002

Nabiel Makarim: Penduduk di Bantaran Sungai Ciliwung Harus Direlokasi

Sumber: http://www.tempo.co.id/ 18 Pebruari 2002 

TEMPO Interaktif, Jakarta:Menteri Negara Lingkungan Hidup, Nabiel Makarim, menyatakan, penduduk di bantaran Sungai Ciliwung yang melintasi Jakarta harus segera direlokasi. Daerah aliran sungai harus segera dibenahi untuk mencegah terjadinya banjir kembali. Makarim menyebutkan alternatif tanah negara yang di bawah pengawasan BPPN sebagai tempat relokasi.

“Penduduknya harus dipindahkan lebih dahulu, tetapi jangan dibuang ke jalan. Mereka manusia. Jadi, mungkin mau dicarikan tanah, misalnya tanah di BPPN,” kata dia usai mendampingi Yayasan Perhimpunan Pencinta DanauToba bertemu Presiden Megawati Sukarnoputri di Istana Negara, Jakarta, Senin (18/2).

Makarim menjelaskan lebih lanjut, mau atau tidak mau penduduk di bantaran sungai harus dipindahkan. Setelah penduduk pindah, lanjut dia, baru pembenahan daerah bantaran sungai dapat dilaksanakan dengan memperdalam dan memperluas daerah aliran sungai.

Masalah tanah BPPN, kata Makarim, sedang diusahakan agar bisa menjadi tempat relokasi penduduk bantaran sungai. Dia juga belum bisa memprediksi berapa lama waktu yang dipakai untuk relokasi dan pembenahan daerah aliran sungai. Namun yang pasti dia mengatakan bahwa penduduk tidak lagi diizinkan menempati daerah bantaran sungai. “Mau tidak mau, hal itu harus dilakukan. Tetapi (relokasi tanah BPPN) tergantung keputusan yang diatas. Inikan bencana,” kata dia. (Dede Ariwobowo-Tempo News Room)

Desember 2006 

Mengamankan Bantaran Ciliwung

Republika, 22 Desember 2006

Download file:index2  

Inilah bantaran sungai Ciliwung sekitar tahun 1970’an di salah satu kawasan Jakarta Timur. Air mengalir dengan deras di sungai yang masih lebar dan dalam, sementara pepohonan di sekitarnya sangat rimbun. Kini sulit mencari bantaran sungai yang demikian. Lantaran makin banyak dihuni manusia yang menjadikan sebagai tempat tinggal. Bahkan beberapa di antaranya sudah jadi perkampungan. Tidak heran bila 13 sungai yang mengalir di Jakarta, bukan saja makin dangkal, tapi makin mengecil kelebarannya. Banjir pun tiap saat makin meluas.

Melihat keadaan yang sudah sangat memprihatinkan ini, sejumlah anak di Condet, Jakarta Timur mendirikan ‘Wahana Komunitas Lingkungan Hidup Sungai Ciliwung, Condet.” Dengan motto : ‘Sebatang pohon seribu kehidupan’, para anak muda yang dipimpin Abdulkadir Muhammad dan Budi Setija, telah mengamankan sekitar 20 hektare bantaran sungai Ciliwung di kawasan Condet.

Setelah bekerja tanpa mengenal lelah selama enam tahun, kini hasilnya mulai terlihat. Di markasnya di tepi Ciliwung di Balekambang, mereka menyiapkan ribuan pembibitan berbagai budidaya tanaman, khususnya duku, salak dan melinjo.

Ketiga tanaman khas Condet ini, kini semakin langka akibat pesatnya pembangunan perumahan. Sementara, pemborong makin bergairah membangun Condet, yang luasnya 582.450 hektar.Akibat gagalnya Condet dijadikan sebagai cagar budaya buah-buahan, menurut Abdulkadir dan Budi, ratusan petani buah yang tidak lagi memiliki dan berganti profesi, ingin bekerja kembali. ‘Untungnya sekitar 80 persen daerah bantaran sungai masih merupakan lahan kosong dan kebun yang tidak terawat,”ujar Budi. ”Inilah yang ingin diupayakan sebagai lahan konservasi oleh Wahana Komunitas Sungai Ciliwung Condet,” ia menambahkan.

Di sini kedalaman sungai masih ada yang mencapai 15 meter. Sekalipun terjadi penyempitan 12 meter, lebar sungai masih mencapai 30 meter. Yang juga perlu diacungkan jempol, dari belasan muda-mudi yang ikut terjun di wahana itu adalah mereka mengadakan Sekolah Alam ‘Sawung’ (Sekolah Alam Ciliwung). Para siswanya berusia tujuh hingga 12 tahun tiap Jumat.

Di sinilah anak-anak diajar mencintai lingkungan dalam bentuk presentasi, diskusi, kunjungan lapangan, pemutaran film, dan berbagai kegiatan lainnya. Di bandaran yang telah disulap menjadi lingkungan yang sejuk dan asri itu, disediakan perpustakaan, kegiatan berperahu menyusuri sungai sejauh 7 km, dan jalan santai di tengah-tengah pepohonan hijau royo-royo. Kesemuanya merupakan bagian dari ‘Wisata Lingkungan Sungai Ciliwung.’ Karena itu, tidak heran pada harihari Ahad dan libur, anggota Wahana Komunitas Lingkungan Hidup Sungai Ciliwung Condet yang datang mencapai 20- an orang.

Permasalahannya adalah, tidak adanya mushola untuk pengunjung. Padahal, seperti dijelaskan Abdulkadir, biayanya hanya sekitar Rp 10 juta, di samping empat MCK (toilet). Di Condet sekarang ini ada ratusan perusahaan penampung tenaga kerja (TKW dan TKI) serta puluhan pengembang. Mungkin di antara mereka ada yang terketuk hatinya untuk
membantu, kata Abdulkadir.

Condet, pada 1975 oleh gubernur Ali Sadikin ditetapkan sebagai cagar budaya buah-buahan. Bahkan berdasarkan SK Gubernur 1989, kawasan di pinggiran Jakarta Timur ini menetapkan Salak Condet dan Burung Elang Bondol sebagai ‘Maskot DKI Jakarta.’ Kini pohon salak sudah hampir tidak tersisa lagi di Condet, sementara ‘Burung Elang Bondol’ sudah punah. Setidak-tidaknya inilah yang menyebabkan didirikannya ‘Wahana Komunitas Lingkungan Hidup Sungai Ciliwung Condet’. ‘Guna mencegah hutan kota yang tersisa ini tidak menjadi hutan beton alias tanaman bata,’ ujar Budi.  (Alwi Shahab, wartawan Republika )

Februari 2010

Bantaran Sungai Ciliwung Akan Ditertibkan Pemerintah

Sumber: http://www.seruu.com/ 6 Februari 2012  

Jakarta Seruu.com – Permukiman kumuh di Jakarta khususnya di sepanjang bantaran Sungai Ciliwung akan ditertibkan mulai tahun 2012 hingga 2014. Warganya akan dipindahkan ke rumah susun sederhana sewa.

“Tahun ini akan dilakukan penertiban wilayah kumuh dengan Kementerian Perumahan Rakyat sebagai leading sector (sektor utama),” kata Direktur Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan Kementerian Sosial Wawan Mulyawan di Jakarta, Senin (6/2/2012).

Menurut Wawan, Kementerian Perumahan Rakyat telah menyiapkan konsepnya di mana rincian program masih juga dibahas.

Sementara Kementerian Sosial akan melakukan pendampingan kepada masyarakat yang dipindahkan dengan memberikan penyuluhan sosial untuk mengubah pemahaman berpikir mereka tentang tempat tinggal yang lebih baik.

Pada 2011, Kementerian Sosial ikut serta dalam penertiban wilayah kumuh dengan menggandeng PT Kereta Api Indonesia (KAI) dalam menertibkan warga yang tinggal di sepanjang rel kereta api di wilayah Pejompongan, Jakarta Pusat.

Kementerian Sosial memfasilitasi warga yang terkena penertiban yang sebagian besar pendatang untuk pulang ke daerah asal mereka dengan jasa kereta api gratis dari PT KAI.

Penertiban wilayah kumuh termasuk dalam program penanganan kemiskinan di perkotaan yang menjadi salah satu fokus Kementerian Sosial.

Dirjen Pemberdayaan Sosial Kementerian Sosia, Hartono Laras mengatakan, penanganan kemiskinan pada 2012 akan terfokus pada daerah perbatasan dan daerah tertinggal.[ant/ast]

Wapres Berharap Bantaran Sungai Ciliwung Steril

Insaf Albert Tarigan

Sumber: http://international.okezone.com/  19 Februari 2010 

JAKARTA – Wakil Presiden Boediono menyatakan Jakarta memiliki tiga persoalan besar yang harus segera mendapat perhatian serius dari pemerintah. Yaitu kemacetan, banjir, dan permukiman penduduk.

Persolan ketiga di atas, menurut wapres, sejatinya menjadi salah satu pemicu permasalahan banjir. Karena itu perlu dicarikan solusi yang komprehensif untuk mengurangi risiko bencana banjir di Jakarta.

“Ini makan waktu, tapi saya menginginkan paling tidak ada langkah-langkah awal untuk mengurangi banjir tahun ini dan bertahap nanti kita melakukan penataan permukiman. Artinya mereka yang tinggal di atas sungai ini, segera bisa kita carikan tempat,” ujar Boediono di Istana Wapres, Jakarta, Jumat (19/2/2010).

Sebelum menggelar rapat penanggulangan banjir pada pagi ini bersama para menteri kabinet Indonesia bersatu, Boediono telah menjenguk korban banjir di kawasan Jakarta Timur.

Pria asal Blitar itu juga meninjau wilayah sempadan Sungai Ciliwung yang banyak dialihfungsikan menjadi kawasan permukiman penduduk. Bahkan, di beberapa lokasi, letak rumah penduduk berada di atas Sungai Ciliwung.

“Kemarin saya menjenguk korban banjir di belokan Sungai Ciliwung dan pengungsian, kayanya itu rumah-rumah yang di pinggir, bukan di pinggir tapi di atas kali ya, itu benar-benar sesuatu yang kita harus cari pemecahannya,” ujarnya.

Boedino menegaskan, adalah tugas Pemda DKI untuk mencari solusi persoalan ini. Tapi karena situasi ini terjadi di ibukota maka pemerintah pusat akan turun tangan.

Boediono menyadari permasalahan banjir tidak bisa diatasi dengan cepat. Namun setidaknya penyebab banjir bisa ditanggulangi sedikit demi sedikit. Mulai dari hulu sampai hilir.

Di antaranya adalah program normalisasi Sungai Ciliwung. “Banjir kanal timur sudah tembus dan moga-moga saja ini sebagai salah satu faktor mengapa banjir di DKI juga tak terlalu banyak genangan-genangannya,” ujarnya. (ful)

Djan Faridz Tinjau Ciliwung 

Sumber:  http://www.klikunic.com/23 Oktober 2011

Tak mau berlama-lama, setelah tiga hari yang lalu menerima Sertijab Menteri Perumahan Rakyat (Menpera) yang baru Djan Faridz, langsung menyusuri bantaran Kali Ciliwung untuk mencari solusi bagi warga Jakarta yang tinggal di bantaran Kali, Sabtu (22/10).

 

Februari 2012 

2014, Proyek Relokasi Bantaran Ciliwung Ditargetkan Selesai

Sumber: http://www.beritasatu.com/ 09 Februari 2012 

Suasana rumah yang menempati bantaran kali Ciliwung yang rencananya akan direlokasi, Jakarta, Kementerian Pekerjaan Umum akan mulai merevitalisasi total Kali Ciliwung sehingga warga yang tinggal di bantaran Kali Ciliwung akan direlokasi ke rumah-rumah susun 31/12/11). FOTO ANTARA/M Agung Rajasa. (sumber: FOTO ANTARA/M Agung Rajasa.)
“Diharapkan kalau bisa tahun ini dimulai, sehingga pada 2014 nanti sudah selesai pemindahan warga dari jalur Kampung Melayu-Manggarai. Karena ini merupakan bagian dari upaya menurunkan angka kemiskinan.”

Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono optimis proyek relokasi bangunan di bantaran Sungai Ciliwung tahap pertama (Jalur Kampung Melayu – Manggarai) rampung 2014 mendatang.

“Diharapkan kalau bisa tahun ini dimulai, sehingga pada 2014 nanti sudah selesai pemindahan warga dari jalur Kampung Melayu-Manggarai. Karena ini merupakan bagian dari upaya menurunkan angka kemiskinan,” ujar Agung usai Rapat Koordinasi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dengan sejumlah Kementerian di Jakarta, hari ini.

Agung menerangkan, dalam tahap pertama ini, sebanyak 1,185 bangunan atau sekitar 10.000 jiwa akan direlokasikan ke sejumlah lahan seluas 20 hektare di daerah Berlan, Matraman, Jakarta Timur.

“Enam bulan diharapkan waktu yang bisa digunakan untuk persiapan semuanya, sehingga tidak ada masalah seperti proses pengalihan asset,” tambahnya.

Keberhasilan tahap pertama ini nantinya akan menjadi contoh bagi program selanjutnya. Karena hulu hingga hilir dari Sungai Ciliwung melewati banyak kabupaten bahkan kota.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: