Depok

Juni 2011

Pengembang Mengaku Tidak Melanggar Aturan

Sumber:http://properti.kompas.com/ 7 Juni 2011 

Depok, Kompas – Pengembang Perumahan Taman Anyelir 3 di Kota Depok mengaku, pengurukan yang dilakukan di bantaran Kali Ciliwung tidak melanggar aturan tentang sempadan sungai.

”Kami menguruk pada jarak 40 sampai 50 meter dari bibir sungai,” kata Y Anwar Sutedjo, Manajer Proyek Perumahan Taman Anyelir 3, di Jakarta, Senin (6/6).

Selain itu, Anwar juga meyakini bahwa pengurukan bukan penyebab longsor di sekitar perumahan pada Mei lalu. Longsor tersebut terjadi karena penyumbatan drainase yang dilakukan buruh bangunan dan ada tumpukan sampah yang menggunung.

Garis sempadan sungai diatur dalam Peraturan Daerah (Perda) Kota Depok Nomor 18 Tahun 2003 Tentang Garis Sempadan. Perda ini menyebutkan, sungai dengan kedalaman kurang dari tiga meter, garis sempadan sekurang-kurangnya 10 meter dari tepi sungai pada waktu ditetapkan. Adapun sungai dengan kedalaman lebih dari tiga meter sampai 20 meter, garis sempadan sekurang-kurangnya 15 meter dari tepi sungai pada waktu ditetapkan, sementara sungai dengan kedalaman lebih dari 20 meter, garis sempadan sekurang-kurangnya 30 meter dari tepi sungai saat ditetapkan.

Mengenai persoalan perizinan pembangunan perumahan, Anwar menjelaskan, saat ini sedang dalam proses pengurusan. Hal ini terjadi karena adanya perubahan izin rencana tapak atau site plan dari dokumen sebelumnya. Mengenai proses perizinan ini, dia siap menunjukkan dokumen itu jika diperlukan.

Pengamatan Kompas kemarin, aktivitas pembangunan masih berlangsung. Buruh bangunan sedang menyelesaikan pembangunan rumah. Sejumlah pekerja tampak melakukan pengurukan di bantaran Kali Ciliwung.

Sahrul Polontalo, aktivis lingkungan yang bergabung dengan warga memprotes pengurukan, menilai pengurukan tersebut kurang dari 50 meter dari bibir sungai.

Perumahan Taman Anyelir 3 terletak di Kelurahan Kalimulya, Kecamatan Cilodong, Depok. Di kawasan ini akan dibangun sekitar 500 rumah.

Arai, dari bagian pemasaran Taman Anyelir 3, mengatakan, hingga saat ini sudah terjual 60 persen rumah.

Senin kemarin, Kepala Bidang Pengawasan dan Pengendalian, Dinas Tata Ruang dan Permukiman Depok Mateus S memimpin peninjauan ke lokasi pengurukan. Bersama sejumlah anggota staf, dia mengamati proses pembangunan dan melihat pengurukan tersebut. ”Kami sedang mengumpulkan bukti di lapangan,” katanya.

Mateus menegaskan, pihaknya kooperatif dengan investor mana pun, termasuk pengembang Perumahan Taman Anyelir 3. Namun, dia tidak ingin kegiatan usaha berjalan dengan menabrak aturan yang ada.

Keputusan resmi mengenai persoalan ini, tutur Mateus, diputuskan hari ini, Selasa (7/6) siang. ”Siapa pun yang tinggal di sekitar kawasan ini sangat berbahaya,” ujarnya. (NDY)

Sempadan Sungai Dikeruk, Warga Minta Pengembang Bertanggung Jawab

Iskandar Haji Abdul Mutalib

Sumber: http://nasional.jurnas.com/ 7 Jun 2011

WARGA Perumahan Wartawan Puri Mulya, RT 003/RW 08, Kelurahan Kalimulya, Kecamatan Cilodong, Kota Depok, Jawa Barat (Jabar), menuntut PT Surya Inti Propertindo –selaku pengembang Perumahan Taman Anyelir III– bertanggung jawab atas pengerukan tanah sepadan Sungai Ciliwung. Sebab, pengerukan tersebut memperpendek garis sepadan sungai menjadi 4-10 meter. Akibatnya, tanah tersebut rawan longsor saat hujan.

“Atas nama lingkungan, kami minta PT Surya Inti Propertindo bertanggung jawab atas pengerukan pinggir Sungai Ciliwung. Warga terancam akibat penggalian itu. Apalagi mereka tidak punya IMB. Kenapa begitu hebatnya mereka mengangkangi peraturan,” kata Koordinator Perumahan Wartawan Puri Mulya, Taufik DS, dalam acara peringatan Hari Bumi dengan melakukan penanaman pohon di tebing urakan berbahaya sebagai aksi moral, Senin (6/6).

Taufik mengungkapkan, pembangunan Perumahan Taman Anyelir III tidak hanya mengeruk sepadan Sungai Ciliwung, melainkan juga melakukan pengurukan sawah yang menampung air dari dua rawa di sekitar lokasi pembangunan. “Jika air dari dua rawa meluap, air akan mencari celah ke sawah, turun ke lembah, dan masuk ke Sungai Ciliwung. Inilah yang mengancam tanah Ciliwung longsor,” katanya.

Bahkan, kata dia, saat hujan turun, terbentuklah aliran air seperti sungai kecil dari arah tebing yang mengarah pada Perumahan Wartawan Puri Mulya. “Pengambilan tanah untuk pengurukan juga punya dampak serius. Ada rumah warga jadi seperti panggung, karena tanah di sekitarnya dikeruk. Mereka khawatir sewaktu-waktu terancam longsor,” ungkap Taufik.

Taufik mengaku telah berupaya menelusuri kasus ini. Ternyata, berdasarkan informasi dari bidang Pengawasan dan Lingkungan (Wasdal) Dinas Tata Kota dan Permukiman (Tarkim) tidak memiliki Izin Mendirikan Bangunan (IMB). “Oktober 2010, Kepala Dinas Tarkim waktu itu Pak Rendra Fristoto, sudah melayangkan surat peringatan terakhir atau SP3. Tapi, kenapa kok masih terus dibangun. Padahal aturannya kan sudah jelas. Biasanya kalau sudah begitu kan Satpol PP tinggal menyegel. Memang pernah ada kunjungan DPRD Depok, tapi hanya waktu itu saja pengerukan berhenti,” ujarnya.

Warga berharap agar PT Surya Inti Propertindo bertanggung jawab dengan terlebih dahulu membuat turap di pinggir Sungai Ciliwung serta membuat pagar pembatas antarpembanguan rumah dan kediaman warga. Taufik berharap Pemkot Depok bersikap tegas pada pengembang yang tidak berizin dan menyalahi aturan. “Kuncinya ada di pemerintah,” katanya.

Hal senada juga dikatakan tokoh masyarakat setempat, Hasbulah Rahmat. Menurutnya, pengembang sama sekali tidak memerhatikan kajian lingkungan. Apalagi daerah tersebut awalnya sebagai daerah resapan. Jika dibangun harus mencari pengganti lahan lain untuk daerah resapan air.

“Pengembang ini sudah menyalahi aturan. Antara lain, tidak memerhatikan kajian lingkungan. Apalagi ini kan daerah resapan air yang seharusnya diperhatikan dan dijaga. Kalaupun dibangun, seharusnya mencari wilayah pengganti untuk resapan air,” katanya, tegas. n Iskandar Hadji

Ciliwung Diuruk, Banjir Mengancam

Oleh : Penerus Bonar 

Sumber: http://www.forumkeadilan.com/  NO. 09 TAHUN XX/20 – 26 JUNI 2011 

Sejumlah petugas sedang mengeruk Kali Ciliwung (Dok FORUM)
Diduga demi perluasan lahan pengembang menguruk bantaran Kali Ciliwung di Kalimulya, Depok. Akibatnya, banjir di kawasan hilir semakin mengancam.

Pengurukan yang dilakukan PT Surya Inti Propertindo, pengembang Perumahan Taman Anyelir 3 ini sudah berlangsung cukup lama. Anehnya, meskpun Pemerintah Kota Depok mengaku sudah melayangkan tiga kali surat teguran, namun pengerukan terus berlangsung. Truk-truk pengangkut tanah terus hilir mudik menjejali bantaran kali dengan tanah sehingga menjadi datar.

Perumahan tersebut berlokasi di Kelurahan Kalimulya, Kecamatan Cilodong, Kota Depok. Kondisi ini tentu membuat warga sekitar perumahan resah. Sebab, selain membahayakan warga sekitar, pengerukan juga bisa berdampak terhadap daya dukung di kawasan hilir, yaitu memperparah banjir di kawasan Jakarta.

Menurut warga sekitar, setelah pengerukan dilakukan, setidaknya sudah tiga kali terjadi longsor di beberapa titik. Warga pun berusaha menghentikan pengerukan dan dampaknya dengan cara menanam berbagai jenis tanaman di pinggir kali. Ketua RT 04/08, Kelurahan Kalimulya, Cilodong, Depok, Taufiq mengatakan, setiap turun hujan, warga selalu khawatir terjadi longsor.

Sepengetahuan Taufiq, pengurukan itu sudah berlangsung sejak November 2010. ”Longsor sepertinya tinggal menunggu waktu saja,” ujar Taufiq kepada wartawan, akhir pekan lalu.

Selain melakukan protes kepada pengembang, warga juga mendesak Pemkot Depok untuk segera bertindak. Syahrul Polontalo, anggota Forum Daerah Aliran Sungai (DAS) Depok mengatakan, pengerukan akan berdampak buruk pada daya dukung kawasan hilir dan lingkungan satempat.

Selain itu, pengerukan juga akan menjadi preseden buruk di kemudian hari. Karena, bisa jadi pengembang lain yang mengambil lokasi di sepanjang sisi Kali Ciliwung akan melakukan tindakan serupa. Untuk itu, Syahrul mendesak Pemkot Depok agar bertindak tegas.

Tidak tegasnya Pemkot Depok terlihat dari surat peringatan yang tak dihiraukan pihak pengembang. Tiga kali surat peringatan yang sudah dilayangkan tercatat, pada 21 Agustus 2010, 8 Oktober 2010, dan 21 Oktober 2010.

Surat peringatan tersebut berisi tentang pelanggaran kegiatan pembangunan perumahan. Dalam surat terakhirnya, Pemerintah Kota Depok telah mengingatkan, apabila pengembang mengabaikan surat peringatan itu, pemkot akan melakukan pembongkaran bangunan. Surat tersebut ditandatangani oleh Kepala Dinas Tata Ruang dan Permukiman Kota depok Rendra Fristoto ketika masih menjabat.

Surat teguran juga datang dari warga Perumahan Wartawan Puri Mulya, yang terletak di utara Perumahan Taman Anyelir 3. Namun, surat yang ditujukan kepada Direktur PT Surya Inti Propertindo tersebut belum mendapat tanggapan.

Menanggapi protes warga yang makin gerah dengan aktifitas pengembang itu, Selasa pekan lalu, Pemkot Depok menggelar rapat khusus mengenai kasus pengurukan bantaran Kali Ciliwung. Sehari sebelumnya, tim dari Pemkot Depok turun ke lokasi melihat lokasi pengurukan. Lagi-lagi, pengurukan tetap berlangsung.

Meski mendapat tentangan dari warga dan Pemkot Depok, pengembang perumahan Taman Anyelir 3 tetap bergeming. Ia mengaku aktivitas pengurukan bantaran sungai Ciliwung tidak menyalahi aturan – meski hingga saat ini pihaknya juga belum mengantongi izin pengurukan dan mendirikan bangunan Anwar Sutedjo, Project Manager Perumahan Taman Anyelir 3, dengan enteng mengatakan, ”Dokumen perizinan saat ini sedang dalam proses penyelesaian.”

Hal ini diamini oleh Manajer Proyek Perumahan Taman Anyelir 3, Y. Anwar. Lelaki parub baya ini mengatakan pihaknya tidak melakukan kesalahan karena pengerukan dilakukan pada jarak 40 sampai 50 meter dari bibir sungai. Anwar meyakini bahwa pengerukan bukan penyebab longsor di sekitar perumahan beberapa waktu lalu. ”Longsor tersebut terjadi karena penyumbatan drainase dan ada tumpukan sampah yang menggunung,” tandasnya.

Untuk diketahui, garis sempadan sungai diatur dalam Peraturan Daerah (Perda) Kota Depok Nomor 18 Tahun 2003 Tentang Garis Sempadan. Perda ini menyebutkan, sungai dengan kedalaman kurang dari tiga meter, garis sempadan sekurang-kurangnya 10 meter dari tepi sungai pada waktu ditetapkan.

Adapun sungai dengan kedalaman lebih dari tiga meter sampai 20 meter, garis sempadan sekurang-kurangnya 15 meter dari tepi sungai pada waktu ditetapkan, sementara sungai dengan kedalaman lebih dari 20 meter, garis sempadan sekurang-kurangnya 30 meter dari tepi sungai saat ditetapkan.

Februari 2012

Garis Sempadan Sungai Ciliwung kurang jelas

Oleh FX. Aji Hendro S

Sumber: http://www.monitordepok.co.id/  24 Februari 2012 

PONDOK CINA, MONDE : Garis Sempadan Sungai (GSS) Ciliwung yang ada di Kecamatan Beji dapat dikatakan kurang jelas, sehingga di pinggir sungai yang membelah Kota Depok itu banyak berdiri bangunan.

Terkait dengan kondisi tersebut, Sekretaris LPM Kelurahan Pondok Cina, Kecamatan Beji, Junaedi Has mengatakan, sekarang ini di pinggir Sungai Ciliwung banyak berdiri bangunan baik itu digunakan untuk rumah pribadi, perumahan dan usaha warga.

“Hal itu sebagai akibat dari karena kurang jelasnya GSS Sungai Ciliwung. Kami lihat banyak bangunan berdiri dan ada yang permanen,” katanya.

Seharusnya, tambahnya, GSS Ciliwung disosialisasikan kepada masyarakat dan kalau perlu diberikan patok-patok bahwa tanah itu merupakan GSS Ciliwung yang tidak bisa didirikan bangunan.

Dia mengatakan, bangunan yang berada di pinggir Sungai Ciliwung itu ironisnya ada yang mengantongi surat Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dari Pemkot Depok, dan ada juga tanah pribadi di pinggir Sungai Ciliwung memiliki sertifikat dari Badan Pertanahan Negara (BPN).

Dilihat dari masalah itu, katanya, sangat dilema. Di mana banyak warga yang seenaknya mendirikan bangunan, jika masalah ini dibiarkan maka kedepannya kawasan Sungai Ciliwung akan dipadati oleh pemukiman warga.

“Melihat kondisi itu kami harap Pemkot Depok untuk berani melakukan tindakan sebelum muncul masalah besar seperti banjir yang akan melanda Kota Depok,” katanya.

Akibat maraknya bangunan pemukiman di pinggir Sungai Ciliwung, maka pihak LPM berencana melakukan penanaman pohon di pinggir Sungai Ciliwung, sebagai upaya pelestarian lingkungan hidup di lokasi tersebut.

“Kami rencananya akan menanam pohon di pinggir Ciliwung, mudah-mudahan kegiatan itu bisa berjalan sesuai apa yang diharapkan,” katanya.(fx)

Maret 2012

Sempadan Kali Ciliwung Resahkan Warga

Andy Riza Hidayat | Marcus Suprihadi

Sumber: http://megapolitan.kompas.com/ 4 Maret 2012 

DEPOK, KOMPAS.com — Warga RT 04 RW 08 Kelurahan Kalimulya, Kecamatan Cilodong, Kota Depok, Jawa Barat, resah. Mereka khawatir longsor di tebing sempadan Kali Ciliwung merembet ke permukiman. Sebab, lokasi longsor yang saat ini hanya berjarak 5 meter dari rumah warga. Tanah di lokasi longsor juga retak-retak yang memungkinkan terjadi longsor susulan.

Sewaktu-waktu jika hujan lebat, kata Sainah, longsor bisa kembali terjadi. Karena itu, warga berinisiatif memasang spanduk bertuliskan ”Awas Daerah Longsor”. Sebab lokasi longsor hingga saat ini belum ada yang memagari.

”Longsor di sini terjadi karena saluran air terlalu kecil. Pada saat hujan lebat tidak mampu menampung aliran air yang banyak sehingga jadi jebol. Kami tidak tenang sebab lokasi longsor ada di belakang dapur rumah,” tutur Nyai Sainah (40), warga RT 04 RW 08 Kelurahan Kalimulya, Kecamatan Cilodong, Kota Depok, Minggu (4/3/2012).

Lokasi longsor merupakan tempat pembuangan air di area Perumahan Taman Anyelir 3 yang sedang dalam proses pembangunan. Saluran pembuangan di tempat itu hanya ada satu lubang dengan diameter setengah meter. Drainase dari bahan semen jatuh ke dasar sempadan. Adapun lokasi longsor di titik ini sepanjang sekitar 30 meter dengan kedalaman maksimal 20 meter.

Tidak hanya pepohonan yang tumbang, material tebing sempadan ambrol. ”Mohon ada perbaikan saluran drainase agar dikembalikan seperti semula. Dahulu di sini ada empat saluran air, sekarang setelah diuruk hanya ada satu saluran,” tutur Sainah.

Proyek di Sempadan Ciliwung Dihentikan

Andy Riza Hidayat | Robert Adhi Ksp

Sumber:http://megapolitan.kompas.com/ 5 Maret 2012 

KOMPAS/ANDY REZA HIDAYAT
Lokasi sempadan Kali Ciliwung di Kelurahan Kalimulya, Kecamatan Cilodong, Kota Depok yang longsor, Minggu (4/3/2012).

DEPOK, KOMPAS.com — Pemerintah Kota Depok menerbitkan surat penghentian proyek pengurukan sempadan Kali Ciliwung di Kelurahan Kalimulya, Kecamatan Cilodong. Penerbitan surat ini keluar setelah tebing sempadan di kelurahan tersebut berkali-kali longsor yang lokasinya berada di area Perumahan Taman Anyelir 3.

”Surat penghentian kegiatan sudah kami kirim kepada satuan polisi pamong praja. Mereka yang menjadi lembaga melaksanakan amanat surat penghentian kegiatan di perumahan tersebut,” Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Kota Depok Herry Gumelar, Senin (5/3/2012).

Longsor, yang berkali-kali terjadi di kelurahan ini, paling parah berada di RT 04 RW 08 Kelurahan Kalimulya. Lokasi longsor di titik ini sepanjang sekitar 30 meter dengan kedalaman maksimal 20 meter yang hanya berjarak 5 meter dari pemukiman warga.

Menurut Herry, pengembang jelas mengabaikan surat teguran pertama pada 6 Juni 2011 dan teguran kedua pada 16 Januari 2012.

Sesuai dengan pengamatan petugas di lapangan, pengembang tidak melakukan peil banjir yang dikeluarkan Pemkot Depok. ”Karena tidak dijalankan, rekomendasi peil banjir akan kami cabut,” tutur Herry.

Selama terbitnya surat penghentian kegiatan, pengembang tidak boleh melanjutkan proyek. Herry tidak menjelaskan sampai kapan berlakunya surat penghentian tersebut.

April 2012 

PT SIP Tawarkan Lima Alternatif Terkait GSS

Sumber: http://antarabogor.com/ 19 April 2012

Depok, 19/4 (ANTARA) – Pengembang perumahan Taman Anyelir 3 Cilodong, PT Surya Inti Propertindo (PT SIP) menawarkan lima alternatif terkait penetapan garis sempadan sungai (GSS) di wilayah perumahan tersebut.

“Memang ada perbedaan persepsi dengan Pemkot Depok mengenai batas GSS, tapi kami telah menawarkan lima alternatif untuk mencari solusi,” kata Humas PT SIP Jeffry Manopo, di Depok, Kamis.

Menurut dia lima alternatif tersebut di antaranya adalah pembuatan bronjong di tepi sungai Ciliwung tersebut, pembuatan tembok atau turap dengan model tertentu, atau juga dengan penanaman berbagai pohon untuk penghijauan.

“Usulan lima alternatif tersebut untuk mencari titik temu agar ada kesepakatan mengenai batas GSS,” katanya.

Ia menjelaskan, Pemkot Depok menetapkan batas GSS ditentukan 15 meter dari titik tertinggi tepi sungai, tetapi kami mempunyai persepsi batas GSS di hitung 15 meter dari tepi sungai.

“Kami selalu berkomunikasi untuk menentukan GSS tersebut,” katanya.

Selain itu kata Jeffry pihaknya juga meminta masukan kepada Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane, Kementrian Pekerjaan Umum mengenai permasalahan menghitung batas GSS tersebut.

“Kami sudah melakukan pertemuan pertama, nanti dilanjutkan pertemuan selanjutnya untuk meminta masukan secara teknis mengenai penentuan GSS,” ujarnya.

Ia mengatakan, jika permasalahan batas GSS telah disepakati selanjutnya akan mengajukan revisi site plan dan mengajukan Izin Mendirikan Bangunan (IMB).

Selain itu kata dia, pihaknya juga melakuakn perbaikan mengenai peil banjir perumahan tersebut sesuai dengan permintaan Pemkot Depok. “Kita memang telah tinjau ulang sesuai dengan masukan dari Pemkot Depok,” ujarnya.

Jeffry menegaskan pihaknya, mengikuti semua aturan yang ada agar masalah perizinan bisa segera diselesaikan. “Aturan seperti apa akan kita ikuti semua,” tegasnya.

Ia berharap kepada masyarakat yang telah membeli rumah tersebut tidak perlu khawatir, karena semua proses perizinan sedang berjalan, dan pada waktunya semua izin tersebut akan selesai. “Kami tentunya akan memenuhi hak-hak konsumen yang sudah membeli rumah,” katanya.

Sebelumnya Puluhan warga RW 08 Kelurahan Kalimulya, Kecamatan Cilodong Kota Depok Jawa Barat menutup akses pembangunan perumahan Taman Anyaelir 3 (TA3), karena mengakibatkan rusaknya lingkungan sekitar.

“Akibat pembangunan yang tidak menghiraukan lingkungan dua titik longsor sudah terjadi,” kata salah seorang warga RW 08, Taufik.

Ia mengatakan tidak kurang dari 1,5 hektare bantaran sungai Ciliwung yang pernah menjadi tandon air dan empat mata air terbuka telah diuruk dengan tanah setebal 8-18 meter.

“Ini sangat rawan longsor dan membahayakan jiwa dan juga perumahan warga sekitar,” ujarnya.

Sedangkan warga Perumahan Umum Taman Anyelir 3 di Kelurahan Kalimulya, Kecamatan Cilodong, Kota Depok, Jawa Barat, memboikot pembayaran cicilan rumah ke sejumlah bank pemberi kredit.

“Kami sudah dua bulan tidak membayar cicilan kesemua bank pemberi kredit,” ujarnya.

Ia mengatakan bank pemberi kredit tersebut adalah BTN, BRI, BII, dan Artha Graha. “Jika tuntutan tidak dipenuhi maka kami tetap tidak akan membayar cicilan rumah tersebut,” katanya.

Menurut, dia tuntutan warga ada dua yaitu masalah izin mendirikan bangunan (IMB) yang belum diperoleh pihak pengembang (PT Surya Inti Propertindo) dari Pemerintah Kota (Pemkot) Depok dan penyediaan lahan untuk fasilitas sosial (Fasos) serta fasilitas umum (fasum) yang hingga saat ini belum diberikan oleh pihak pengembang.

Feru Lantara

One Comment on “Depok”

  1. Bang Uddin Says:

    Mencurigakan memang tu pemda depok gan..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: