Situs Prasejarah Ciliwung

Jika Situs Prasejarah di Metropolitan 

Sumber:http:/majalah.tempointeraktif.com/29 September 2003   

Bukan hanya pengembang kompleks Kalibata Indah yang berpikir daerah di tepi Kali Ciliwung, Kecamatan Pejaten, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, itu cocok untuk permukiman. Lebih dari 2.700 tahun silam, para “insinyur metalurgi” serta pandai batu dan logam zaman prasejarah sudah menetapkan daerah itu sebagai tempat tinggal sekaligus pusat industri perkakas mereka.

Para ahli arkeologi prasejarah yakin Pejaten adalah kampung perajin. Perajin? Karena dari keahlian itu masyarakat kebanyakan kala itu memenuhi nafkah hidupnya. Para “insinyur” itu paham benar bagaimana membakar arang sehingga menimbulkan panas yang cukup untuk melelehkan bongkahan tembaga dan timah hitam. Mereka juga tahu, dengan meleburkan kedua logam itu, akan dihasilkan perunggu, logam yang lebih kuat.

Para perajinnya sangat mahir dalam menempa dan membentuk perunggu itu menjadi kapak, gelang, dan cincin. Merekalah yang menjadi orang-orang pertama yang mendiami daerah Jakarta. Kesimpulan itu bukan dongeng, melainkan berdasarkan penelitian yang didukung temuan benda arkeologi.

Hasan Djafar, pengajar arkeologi pada Fakultas Sastra (kini Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Indonesia, bersama koleganya dari Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional (sekarang Pusat Arkeologi Nasional) dan Dinas Museum dan Sejarah Pemerintah Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta (kini bernama Dinas Kebudayaan dan Permuseuman), telah meneliti situs Pejaten sejak 1974.

Penelitian Hasan menguatkan anggapan Pejaten sebagai permukiman karena di situ ditemukan cawan berkaki, periuk, dan kendi. Benda-benda dari gerabah itu seperti peralatan rumah tangga yang dipakai sehari-hari.

Sedangkan bukti Pejaten merupakan kampung perajin logam adalah penemuan perkakas dan perhiasan dari masa perundagian—babakan terakhir dari zaman prasejarah—seperti berbagai kapak batu neolitik, kapak perunggu, cincin dan gelang perunggu. Juga ada batu asah, batu-batu yang belum selesai menjadi kapak, tulang, lelehan perunggu, dan arang yang diduga merupakan bahan bakar untuk melelehkan perunggu. “Ini mengesankan situs Pejaten sebagai bengkel pembuatan perkakas logam,” Hasan menjelaskan.

Pejaten bukan satu-satunya situs arkeologi prasejarah. Penelitian Hasan hingga 1988 saja menemukan 120 situs yang tersebar di daerah aliran sungai. Daerah Jabotabek, menurut penelitian ilmuwan Belanda bernama Th. Verstappen pada 1953, merupakan dataran endapan pasir aluvial yang terbentuk 5.000 tahun silam sebagai hasil proses vulkanik dari gunung-gunung di sebelah selatannya.

Dataran subur dengan banyak aliran sungai itu menyebar ke utara sampai ke pantai Teluk Jakarta, membentuk kipas. Tak aneh jika pada sekitar 1000 SM dataran subur ini sangat tepat untuk bercocok tanam.

Namun, tak seperti kota di negara maju—misalnya Toronto, Kanada, tempat ditemukannya sungai purba di bawahnya pekan lalu—Jakarta tak memperlakukan berbagai situs itu dengan semestinya. Yang terpenting sebenarnya adalah menjadikan situs itu sebagai cagar budaya. Menurut Hasan, para peneliti pernah mengusulkan kepada pemda agar menjadikan situs Pejaten sebagai situs cagar budaya ketika selesai meneliti pada 1976. Namun, pemda tidak memprioritaskannya.

Menurut Husnison Nizar dari Seksi Arkeologi Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta, prioritas utama kala itu lebih pada mengamankan bendanya ketimbang lokasinya. “Sebuah situs dapat dijadikan cagar budaya jika temuan benda arkeologi tak bergeraknya sangat banyak dan bervariasi,” Husnison menambahkan.

Selain itu, penelitian arkeologi pun dapat dikatakan telah selesai di situs Pejaten dan Condet Balekambang. Sebab, kata Husnison, tak ada lagi laporan penemuan masyarakat tentang benda prasejarah. Husnison yakin penemuan benda arkeologi tetap sering terjadi. Masalahnya, masih banyak yang percaya benda-benda itu keramat dan karenanya memilih menyimpannya daripada melaporkan ke dinas purbakala.

Sebagai seorang ahli arkeologi, Hasan menyesalkan sikap pemda itu. “Padahal, jika situs Pejaten dijadikan cagar budaya, dapat menjadi obyek wisata yang mempertunjukkan tempat para ahli logam membuat perunggu dan perajin perkakas perunggu yang sekaligus merupakan masyarakat pertama yang menghuni Jakarta,” tuturnya. Dody Hidayat

2 Comments on “Situs Prasejarah Ciliwung”

  1. HeruLS Says:

    Fakta sejarah yg mengagumkan, sekaligus fakta terkini yg menyedihkan. Ah, seandainya saja orang mau belajar dari sejarah.

  2. Deni alexander Says:

    Sungguh tragis dan pilu…sejarah yg terlupakan


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: