Sumber Air Baku Ciliwung

Januaro 2005

Pemerintah akan Bangun Bendungan Seluas 200 Hektare

Sumber: http://www.tempointeractive.com/ 27 Januari 2005 

TEMPO Interaktif, Jakarta:Untuk mengatasi banjir di Jakarta, Proyek Induk Pengembangan Wilayah Sungai Ciliwung berencana membangun waduk seluas 200 hektare. Waduk tersebut direncanakan berada di daerah Ciawi, Bogor, Jawa barat.

Waduk ini difungsikan sebagai mengendali banjir maupun sirkulasi air hujan. Saat ini, disain detailnya memasuki tahap akhir. Diperkirakan pembangunan kontruksi sudah bisa dimulai pada 2007. “Waduk tersebut diharapkan dapat menampung sekitar 36 juta meter kubik air,” kata Pimpinan Proyek Induk Pengembangan Sungai Ciliwung, Wahyu Hartomo kepada Tempo, Rabu (26/1).

Menurut Wahyu, dengan adanya bendungan yang memiliki kapasitas tampung sekitar 36 juta meter kubik, diharapkan mampu mereduksi banjir di Jakarta hingga 30 persen. Bendungan ini juga akan dimanfaatkan untuk penyediaan air baku PDAM untuk memasok tiga wilayah, Jakarta, Depok, dan Bogor.

Selain juga akan dimanfaatkan untuk pembangkit turbin listrik tenaga air. Areal bendungan juga bisa dimanfaatkan untuk kegiatan pariwisata dan perikanan.
Bendungan ini diandalkan sebagai penggelontor air Sungai Ciliwung.

Pada musim kemarau, kata wahyu, debet air Ciliwung sekitar 5 kubik per detik. Debet air ini tidak sehat sehingga perlu digelontor. Penggelontoran hanya bisa dilakukan bila ada ketersediaan air yang cukup di bendungan. Nilai investasi diperlukan sekitar Rp 1 triliun.

Proyek ini dibangun bekerja sama Kementerian Prasarana Wilayah dan Pemerintah DKI, serta Kabupaten Bogor. sambil menunggu bendungan raksasa terwujud, pemerintah akan terus melakukan normalisasi Sungai Ciliwung lama dari Manggarai menuju kawasan Jakarta Kota.

Wahyu menambahkan, sebelumnya aliran Sungai Ciliwung yang melintas ke arah Istana Negara dianggap sakral hingga alirannya tidak boleh dibuka melebihi 40 meter kubik per detik. Aliran air ini akan diperbaiki agar dapat mengalirkan 100 meter kubik per detik.

Ramidi-Tempo

Maret 2007

Ciliwung tak layak jadi sumber air minum

Sumber: http://www.berpolitik.com/ 21 Maret 2007

JAKARTA – Direktur Jenderal Cipta Karya Departemen Pekerjaan Umum, Agoes Widjanarko, mengatakan dari 13 Sungai yang mengalir di Jakarta, semuanya sudah tercemar. Ini terlihat dari penelitian di 66 lokasi yang tersebar di 13 sungai.

“Semua air kali Jakarta tidak layak dijadikan sumber air minum,” kata Agoes dalam diskusi media Kelangkaan Air Baku, Tantangan Dalam Penyediaan Air Minum di Gedung Bappenas, kemarin.

Menurut Agoes sungai yang tingkat pencemaran tertinggi adalah Ciliwung. Celakanya sungai ini justru dijadikan sebagai bahan baku air minum, padahal mengandung kadar BOD rata-rata 8,97 miligram per liter (mg/l) dan COD 35,22 mg/l sementara baku mutu BOD adalah 10 mg/l dan COD 20 mg/l.

Kepala Badan Pengelola Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Budirama Natakusumah, menambahkan, pencemaran terjadi di semua sungai di Jakarta secara merata.

Dari 13 sungai tersebut, 78 persen diantaranya masuk kategori cemar berat, 10 persen cemar sedang, 9 persen cemar ringan, dan hanya 3 persen yang berkategori bagus.

Agustus 2010 

PDAM Bendung Sungai Ciliwung

Sumber:  http://m.pikiran-rakyat.com/3 Agustus 2009 

BOGOR,(PRLM).-Untuk mengantisipasi krisis air bersih PDAM Tirta Kahuripan Kab. Bogor melakukan berbagai langkah, di antaranya yakni dengan cara membendung Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung yang selama ini dijadikan sumber air baku PDAM. Hal itu dilakukan khususnya untuk pelanggan di wilayah Kec. Cibinong dan sekitarnya. “Upaya itu kami lakukan untuk menjaga agar suplai air dari sumber air ke instalasi pengolahan air selama musim kemarau ini,” Hadi Mulya Asmat, SH Direktur Utama PDAM Tirta Kahuripan Kab. Bogor, di Cibinong, Minggu (2/8).

Menurut Hadi, dengan membendung di beberapa bagian DAS Ciliwung diharapkan akan mampu menaikan muka air yang kini debitnya sudah semakin berkurang akibat kemarau. Sehingga kapasitas air yang mampu di alirkan dapat memenuhi kebutuhan suplai air untuk para pelanggan. “Sejauh ini cara itu masih efektif, suplai air yang dihasilkan masih normal yakni sekitar 120 liter perdetik,” ungkapnya.

Dijelaskan Hadi, cara semacam ini juga telah dilakukan pada musim kemarau tahun lalu. Hasilnya, distribusi air ke pelanggan tidak mengalami gangguan yang berarti. “Dari pengalaman musim kemarau lalu, suplai air ke pelanggan tidak mengalami gangguan yang berarti,” ujarnya.

Sementara, untuk meningkatkan kemampuan produksi di instalasi pengolahan Bojong Kulur, Kec. Gunung Putri, pihak PDAM lanjutnya, tengah berupaya menaikan kapasitas produksinya, yakni dengan menambah 1 unit pompa baru. “Diharapkan dalam 2 minggu ke depan, pompa baru itu sudah bisa kami operasikan, sehingga dengan demikian kebutuhan air khususnya di wilayah Bogor Timur, tetap dapat tercukupi,” urainya.

Tak hanya itu, lanjut Hadi, PDAM juga telah menyiapkan skenario, jika terjadi gangguan suplai air ke pelanggan selama musim kamarau ini. “Kami telah menyiapkan armada tanki dengan kapasitas 5 ribu liter, sebanyak 4 unit yang akan beroperasi selama 24 jam, jika terjadi gangguan distribusi. Kendaraan itu nantinya akan kami terjunkan ke daerah-daerah yang memang terjadi kerawanan air,” paparnya.(B-65/A-50)***

April 2011

PDAM Tirta Pakuan Jajaki Manfaatkan Air Sungai Ciliwung

Sumber:http://www.pikiran-rakyat.com/ 02 April 2011 

BOGOR, (PRLM).- Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Pakuan Kota Bogor menjajaki pemanfaatan air Sungai Ciliwung sebagai tambahan air baku PDAM. Meski, sejumlah penelitian menyatakan air Sungai Ciliwung tercemar berat sehingga tidak layak konsumsi. Hal ini diungkapkan Direktur Utama PDAM Tirta Pakuan, Memet Gunawan, Sabtu (2/4).

Dikatakan Memet, pihaknya menyadari jika pencemaran Sungai Ciliwung termasuk berat. Oleh karena itu, pihaknya hanya akan memanfaatkan air Sungai Ciliwung di daerah hulunya, yakni di sekitar Katulampa.

Pemanfaatan air Sungai Ciliwung, kata Memet sangat dibutuhkan untuk menambah kapasitas produksi air PDAM terkait MDGs tahun 2015 sebanyak 73,4 persen dari total jumlah penduduk Kota Bogor. “Kita asumsikan, jumlah penduduk sekitar 1,2 juta jiwa. Saat ini baru terlayani sekitar 58,4 persen,” kata Memet.

Hanya saja, untuk projek ini pihaknya masih melakukan sejumlah studi kelayakan termasuk estimasi investasi yang diperlukan untuk penambahan sumber air baku baru.

Secara kasar, lanjut Memet, dibutuhkan dana setidaknya Rp 60 miliar untuk bisa mewujudkan projek tersebut.”Makanya, kita sedang teliti bagaimana kualitas airnya, debit airnya. Apakah layak dimanfaatkan atau tidak, beserta dana yang dibutuhkan. Kemungkinan dalam dua bulan ini studi kelayakan akan selesai,” tutur Memet.

Saat ini kapasitas yang terpasang sebesar 1.720 liter per detik dengan kapasitas idle sekitar 200 liter per detik. Sementara, untuk mencapai MDGs yang ditetapkan tahun 2015 nanti, dibutuhkan setidaknya tambahan kapasitas sekitar 900 liter per detik.

Sungai Ciliwung, kata Memet kemungkinan potensinya hanya 300 liter per detik. Untuk itu, pihaknya juga akan mengajukan bantuan melalui Bank Dunia sebesar 600 litar per detik. Saat ini,pihaknya masih mengandalkan aliran Sungai Cisadane yang mempunyai potensi sekitar 59.000 liter per detik beserta sejumlah mata air yang ada di beberapa wilayah di sekitar Kota Bogor dan perbatasan Kab. Bogor.

Selain itu, pihaknya juga masih berusaha menurunkan tingkat kebocoran air yang masih relatif tinggi, yakni mencapai 33 persen.

Menurut dia, tingkat kebocoran yang tinggi disebabkan oleh instalasi pipa yang tua dan sudah saatnya diganti serta tingkat pencurian air yang meningkat dalam kurun waktu dua tahun terakhir ini. Sejumlah penelitian yang dilakukan BPLHD Jabar menyatakan Sungai Ciliwung termasuk salah satu sungai yang tercemar berat. Sebagian besar pencemaran disumbang oleh limbah rumah tangga sehingga kualitas air di Sungai Ciliwung juga menurun. (A-155/kur)***

Juli 2011

Sungai di Jakarta Akan Dijadikan Sumber Air Bersih

Koran Jakarta, 29 Juli 2011

Sumber: http://id.palyja.co.id/  

Jakarta, Koran Jakarta – PT PAM Lyonnaise Jaya (PALYJA) berharap sungai yang ada di Jakarta dapat dijadikan sumber air bersih bagi warga Jakarta. Program Pemerintah Provinsi DKI “Stop Nyampah di Kali” akan sangat mendukung proses bersihnya air sungai dari limbah industri dan rumah tangga.

Wakil Presiden Direktur PALYJA Herawaty Prasetyo mengatakan hal itu saat penyerahan kejuaraan lomba mengarang tingkat sekolah dasar dengan tema “Air untuk Kotaku” di kantor PALYJA, Jakarta, Kamis (28/7).

Herawaty mengatakan dengan program “Stop Nyampah di Kali”, diharapkan suatu saat Kali Ciliwung, Kali Krukut, dan sungai-sungai lainnya di Jakarta mampu menjadi sumber air baku utama bagi DKI Jakarta.PALYJA

Untuk mendukung itu, kata dia, peningkatan pemahaman dan kesadaran menjaga kebersihan sungai harus dilakukan sejak dini. Ia juga berharap warga yang bermukim di dekat sungai mampu mendaur ulang sampah yang ada di sungai sehingga dapat mendukung program tersebut.

“Kami melakukan pelatihan kepada sejumlah RT dan RW agar mereka mampu memahami cara mendaur ulang. Selain akan berguna bagi kebersihan, sungai juga akan menambah keuangan mereka,” tegasnya.

Sebelumnya, Herawaty mengatakan selama ini pihaknya membeli 60 persen air baku dari Waduk Jatiluhur, 35 persen air curah dari Tangerang, dan 5 persen air dari berbagai sumber sungai lain. PALYJA membeli air seharga 134 rupiah per meter kubik. Sisanya, 37 persen kebutuhan air baku dibeli dari Tangerang dengan harga cukup tinggi, 2.145 rupiah per meter kubik.

Sumber : Koran Jakarta, 29 Juli 2011, Hal. 6

Air Tercemar Masih Mau di Manfaatkan Oleh PDAM Tirta Pakuan 

Sumber: http://www.jurnalmetro.com/  

BOGOR KOTA – Untuk menambah bahan baku Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Pakuan Kota Bogor menjajaki pemanfaatan air Sungai Ciliwung sebagai tambahan air baku PDAM. Meski, sejumlah penelitian menyatakan air Sungai Ciliwung tercemar berat sehingga tidak layak konsumsi. Hal ini diungkapkan Direktur Utama PDAM Tirta Pakuan, Memet Gunawan.

Dalam penuturannya, pihaknya menyadari jika pencemaran Sungai Ciliwung termasuk berat. Oleh karena itu, pihaknya hanya akan memanfaatkan air Sungai Ciliwung di daerah hulunya, yakni di sekitar Katulampa.

Pemanfaatan air Sungai Ciliwung, kata Memet sangat dibutuhkan untuk menambah kapasitas produksi air PDAM terkait MDGs tahun 2015 sebanyak 73,4 persen dari total jumlah penduduk Kota Bogor. “Kita asumsikan, jumlah penduduk sekitar 1,2 juta jiwa. Saat ini baru terlayani sekitar 58,4 persen,” ujarnya .

Hanya saja, untuk projek ini pihaknya masih melakukan sejumlah studi kelayakan termasuk estimasi investasi yang diperlukan untuk penambahan sumber air baku baru.

Secara kasar, lanjut Memet, dibutuhkan dana setidaknya Rp 60 miliar untuk bisa mewujudkan projek tersebut.”Makanya, kita sedang teliti bagaimana kualitas airnya, debit airnya. Apakah layak dimanfaatkan atau tidak, beserta dana yang dibutuhkan. Kemungkinan dalam dua bulan ini studi kelayakan akan selesai,” tutur Memet.

Saat ini kapasitas yang terpasang sebesar 1.720 liter per detik dengan kapasitas idle sekitar 200 liter per detik. Sementara, untuk mencapai MDGs yang ditetapkan tahun 2015 nanti, dibutuhkan setidaknya tambahan kapasitas sekitar 900 liter per detik.

Sungai Ciliwung, kata Memet kemungkinan potensinya hanya 300 liter per detik. Untuk itu, pihaknya juga akan mengajukan bantuan melalui Bank Dunia sebesar 600 litar per detik. Saat ini,pihaknya masih mengandalkan aliran Sungai Cisadane yang mempunyai potensi sekitar 59.000 liter per detik beserta sejumlah mata air yang ada di beberapa wilayah di sekitar Kota Bogor dan perbatasan Kab. Bogor.

Selain itu, pihaknya juga masih berusaha menurunkan tingkat kebocoran air yang masih relatif tinggi, yakni mencapai 33 persen.

Lanjut dia, tingkat kebocoran yang tinggi disebabkan oleh instalasi pipa yang tua dan sudah saatnya diganti serta tingkat pencurian air yang meningkat dalam kurun waktu dua tahun terakhir ini. Sejumlah penelitian yang dilakukan BPLHD Jabar menyatakan Sungai Ciliwung termasuk salah satu sungai yang tercemar berat. Sebagian besar pencemaran disumbang oleh limbah rumah tangga sehingga kualitas air di Sungai Ciliwung juga menurun. ( Cok)

September 2011

Kandungan COD & BOD nya Tinggi , Air Ciliwung Tidak Layak Dijadikan Bahan Baku PDAM  

Sumber:  http://www.radaronline.co.id/20 September 2011

Depok,Radar Online

Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Depok, Rahmat Subagio yang didampingi Kabid Pemantauan Lingkungan, Kania Parwanti, Senin (16/9/2011) kepada wartawan menegaskan, hasil penelitian di laboratorium, kualitas air Sungai Ciliwung sudah tidak dapat lagi dimanfaatkan sebagai sumber bahan baku PDAM di Kota Depok.

“ Kandungan Chemical Oxygen Demand (COD) dan Biological Oxygen Demand (BOD) Sungai Ciliwung dipastikan tinggi, sehingga tidak layak dimanfaatkan sebagai sumber bahan baku Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM),” ungkap Rahmat.

Dijelaskannya, penyumbang terbesar limbah ke Sungai Ciliwung berasal dari limbah domestik, seperti limbah dari rumah tangga dan air sabun tempat pencucian pakaian (laundry).

“ Tanpa diolah dengan baik, kualitas air Sungai Ciliwung sudah tidak mungkin dapat dimanfaatkan lagi,” kata Rahmat.

Rahmat mengatakan, kualitas air Sungai Ciliwung saat ini tidak memenuhi standar bahan baku air minum golongan satu sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) No 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Untuk itu, kata dia, penetapan kelas air diajukan berdasarkan pada hasil pengekajian yang dilakukan Pemerintah Kota (Pemkot) Depok sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. “Kita sudah melakukan penelitian,” ujarnya.

Rahmat menambahkan, petugas BLH akan terus memantau kandungan COD dan BOD Sungai Ciliwung. Apalagi berdasarkan laporan masyarakat, telah ditemukan aliran air limbah yang mengarah ke sungai tersebut.

“Kami sudah mengambil sampel air Sungai Ciliwung, ternyata hasilnya tidak memenuhi bahan baku air minum,” katanya.

Sementara itu, Kania mengatakan, air Sungai Ciliwung masih dapat digunakan asal pemprosesannya dilakukan dengan baik. Saat ini, di Sungai Ciliwung masih ditemukan ikan yang masih hidup. Apalagi COD dan BOD di dalam air sungai masih berada di bawah batas toleransi.

Seperti diketahui, berdasar laporan warga dan kemudian ditindaklanjuti peninjauan petugas BLH, di wilayah RT 04/02 Kelurahan Pondok Cina, Kota Depok terdapat saluran air yang dipenuhi sampah dan air-nya berwarna hitam pekat. Saluran itu mengarah ke Sungai Ciliwung.

Guna mengatasi pencemaran di Sungai Ciliwung, dibutuhkan koordinasi antar dinas terkait. Seperti Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP), Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (Bimasda), perangkat kelurahan dan kecamatan serta organisasi peduli lingkungan.

“ Masalah pencemaran Sungai Ciliwung, BLH tidak bisa bekerja sendiri. Apalagi di sekitar saluran air yang mengarah ke Sungai Ciliwung sudah dipenuhi sampah,” ujar Kania.

Kania mengatakan, pencemaran air sungai dan situ di kota ini juga akibat limbah yang berasal dari permukiman warga. Sebagai contoh, pada Situ Tipar terdapat tujuh industri yang membuang air limbahnya kedalam situ. Namun, dari hasil pengujian kualitas air, ternyata terdapat banyak saluran pembuangan limbah yang berasal dari permukiman.

“ Memang limbah itu berasal dari industri, tapi ternyata ada ada delapan saluran air pembuangan yang berasal dari permukiman. Jadi, bukan hanya industri saja tapi masyarakat juga turut menyumbang pencemaran,” tambahnya.(Maulana Said)

Oktober 2011

Sentuh Angka 800 NTU , Kekeruhan Sungai Ciliwung di Bawah Ambang

Sumber: http://www.radaronline.co.id/  07 Oktober 2011

Depok, Radar Online

Tingkat kekeruhan air di Sungai Ciliwung masih di bawah ambang batas dengan menyentuh angka 600-800 Nephelometric Turbidity Unit (NTU) atau satuan kekeruhan air. Sehingga alat instalasi pengolahan air di Legong, masih bisa menjernihkan air di bawah 1.000 NTU. Pada musim kemarau saat ini, tingkat kekeruhan air Sungai Ciliwung mencapai 50-80 NTU. Namun, bila musim penghujan tingkat kekeruhan bisa mencapai 600-800 NTU.

“ Alat instalasi pengolahan air di Legong, masih bisa menjernihkan air di bawah 1.000 NTU,” kata Kepala Instalasi Pengolahan Air PDAM Tirta Kahuripan Legong, Depok II Tengah, Kota Depok, Cecep Sudrajat kepada waratwan Jum`at (7/10/2011).

Menurut Cecep, selama ini meski pun hujan besar di hulu sungai, tingkat kekeruhan sangat jarang terjadi di atas 1.000 NTU. Namun demikian, katanya, soal kualitas air yang sudah mengandung bakteri atau limbah bahan beracun baru dapat diketahui oleh bagian mutu PDAM Tirta Kahuripan di Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

“ Yang lebih mengetahui air Sungai Ciliwung mengandung bakteri berbahaya adalah PDAM Tirta Kahuripan di Kabupaten Bogor, Jawa Barat,” terangnya.

Dikatakan Cecep, salah satu penyebab terjadinya tingkat kekeruhan dan menghambat lancarnya arus air melalui saringan ke instalasi pengolahan adalah banyaknya sampah yang hanyut dalam Sungai Ciliwung.

“ Agar kualitas air benar-benar tetap terjamin, masyarakat yang tinggal atau di luar pinggir sepanjang Sungai Ciliwung tidak membiasakan membuang sampah sembarangan,” ucapnya.

Seperti diketahui, dari hasil penelitian di laboratorium oleh Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Depok, kualitas air Sungai Ciliwung sudah sangat mencemaskan. Pasalnya, kandungan Chemical Oxygen Demand (COD) dan Biological Oxygen Demand (BOD)-nya, sudah tidak lagi memenuhi golongan satu.

Terjadinya pencemaran air Sungai Ciliwung, prosentasi terbesar berasal dari limbah domestik, seperti limbah dari rumah tangga dan air sabun tempat pencucian pakaian (laundry). “ Tanpa diolah dengan baik oleh PDAM, kualitas air Sungai Ciliwung sudah tidak mungkin dapat dimanfaatkan lagi,” terang Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Depok, Rahmat Subagio belum lama ini.

Dikatakan, kualitas air Sungai Ciliwung saat ini tidak memenuhi standar bahan baku air minum golongan satu sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) No 82 tahun 2001 tentang pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air. Untuk itu, penetapan kelas air diajukan berdasarkan pada hasil pengekajian yang dilakukan Pemkot Depok, sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Meski hasilnya telah diketahui, namun air Sungai Ciliwung masih layak untuk digunakan asal pemprosesannya dilakukan dengan baik . Saat ini, di Sungai Ciliwung masih ditemukan ikan yang masih hidup. Apalagi COD dan BOD di dalam air sungai masih berada di bawah batas toleransi.

Guna mengatasi pencemaran di Sungai Ciliwung, dibutuhkan koordinasi antar dinas terkait. Seperti Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP), Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (Bimasda), perangkat kelurahan dan kecamatan serta organisasi peduli lingkungan.

“ Mengatasi masalah pencemaran Sungai Ciliwung, BLH tidak bisa bekerja sendiri. Apalagi di sekitar saluran air yang mengarah ke Sungai Ciliwung sudah dipenuhi sampah,” tutur Rahmat. (Maulana Said/Asp)

November 2011

Intalasi PDAM Bogor Rawan Banjir 

Sumber: http://www.pelita.or.id/16 November 2011

Bogor, Pelita
Memasuki musim penghujan tahun ini, Perusahaan daerah Air Minum (PDAM) Tirta Kahuripan Kabupaten Bogor, mendadak sibuk. Pasalnya sejumah instalasi milik perusahaan daerah ini berada di daerah aliran sungai (DAS) Ciliwung.

Direktur teknik PDAM Tirta Kahuripan Kabupaten Bogor, Daryanta Minggu (16/11) mengatakan, disepanjang aliran sungai Ciliwung tersebut terpasang 3 titik, instalasi pengambilan air (intake) milik PDAM.

Untuk tiga wilayah yakni wilayah pelayanan Cibinong, Kedunghalang dan Citayam kota Depok kami menggunakan sumber air baku dari sungai Ciliwung, kata Daryanta.

Oleh karena itu untuk mengantisipasi terjadinya gangguan distribusi air selama musim penghujan kali ini, pihaknya telah memasang lempengan besi penyaring pada mulut pipa intake tersebut.

Karena biasanya kalau banjir pipa intake, sering terendam. Karena itu untuk mencegah masuknya sampah atau Lumpur kedalam pipa, kami memasang besi penyaring di mulut pipa intake ungkapnya.

Ia menambahkan pada banjir tahun lalu, distribusi air sempat mengalami gangguan, lantaran tersumbatnya pipa intake tersebut.

Karena ketika itu pipa belum dipasang besi penyaring, sehingga sampah dan lumpur masuk ke kolam pengolahan air sehingga distribusi air ke pelanggan terganggu, ujarnya.

Sementara itu, ditempat terpisah, Direktur Utama PDAM Tirta Kahuripan Kabupaten Bogor, Hadi Mulya Asmat mengatakan selain melakukan pengamanan pada titik-titik jaringan yang rawan banjir, pihaknya juga memantau pada sejumlah titik jaringan yang rawan longsor.

Tahun lalu, jaringan pipa PDAM yang berada di jembatan satu duit kotaBogor putus karena ada longsor, akibatnya distribusi air sempat terganggu beberapa hari, jelasnya.

Kondisi tersebut selain menyebabkan pelanggan kesulitan mendapatkan air bersih juga membuat PDAM kerepotan kerena harus menyuplai air ke pelanggan melalui mobil tangki air.

Untuk tahun sekarang kami berharap tidak ada kejadian seperti tahun lalu. Oleh karena itu kami sudah menginstruksikan kepada petugas mekanik untuk melakukan pemantauan secara terus menerus, tandasnya.
Diakuinya, jaringan pipa PDAM Tirta Kahuripan Kabupaten Bogor ini sebagian telah berumur tua, bahkan beberapa diantaranya adalah pipa peninggalan pemerintah Belanda.

Pipa yang sudah berumur tua itu terpasang disepanjang dari sumber mata air Ciburial Kecamatan Ciomas hingga ke wilayah kecamatan Cibinong, ungkapnya.

Repotnya kata dia, jaringan pipa induk tersebut terpasang dibawah jalan raya Bogor-Jakarta, sehingga jika terjadi gangguan, sulit melakukan perbaikan atau penggantian pipa.

Yang paling repot kalau ada kebocoran di titik-titik di sepanjang jalur itu, karena untuk melakukan perbaikan harus membongkar badan jalan, tegasnya.

Ia menambahkan hingga sekarang tingkat kehilangan air dari PDAM masih diatas 30 persen.

Tepatnya 32 persen, tapi kami akan tetap melakukan upaya-upaya agar kebocoran itu bisa diminimalisir, tandasnya.

Terlebih lagi kata Hadi, PDAM belum lama ini mendapat predikat terbaik dalam hal pelayanan, hal ini menurutnya menuntut PDAM selalu dapat memberikan yang terbaik kepada para pelang gannya. (ck-17)

Februari 2012

Lima Sungai Jakarta Jadi Sumber Air Minum 

Sumber:  http://www.tempo.co/ 18 Februari 2012

TEMPO.CO, Jakarta – Untuk memenuhi kebutuhan air bersih di DKI Jakarta yang terus meningkat, Perusahaan Daerah PAM Jaya akan mengolah air kotor yang ada di sungai agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Direktur Umum PD PAM Jaya, Sri Widayanto Kaderi, mengatakan ada lima sungai yang dijadikan proyek pengolahan air.

“Kelima sungai tersebut adalah Kali Krukut, Kali Pesanggrahan, Kanal Banjir Barat, Ciliwung, dan Sungai Cengkareng,” katanya pada Sabtu, 18 Februari 2012. Kami akan menggabungkan teknologi konvensional dengan membran.

Penggabungan ini bertujuan menghilangkan polutan yang ada di dalam air sungai, termasuk bakteri Escherichia coli, bakteri dari sampah organik dan tinja manusia. “Kami menargetkan 2012 akhir sudah berjalan,” ujar Sri Widayanto.

Menurut dia, untuk menciptakan air bersih layak minum, pertama, air dari sungai akan melewati proses konvensional terlebih dahulu. “Air dari sungai akan ditampung pada sebuah wadah untuk diendapkan,” kata Sri Widayanto. Pada saat proses pertama ini maka polutan yang besar akan mengendap.

Kemudian air akan dialirkan kembali ke penampungan berikutnya. Pada proses ini, air akan diberi zat semacam tawas untuk mengikat polutan yang tercampur di dalam air. “Dibiarkan mengendap dulu agar polutan bisa dipisahkan dari air,” ucapnya.

Lalu, air tersebut disaring sekali lagi dan ditempatkan di wadah khusus. “Dari sini, proses akan bercabang dua,” ucapnya. Jika air tersebut hanya digunakan untuk mandi atau mencuci baju, non-konsumsi, maka air tersebut akan diberi obat untuk membunuh virus yang terkandung di dalam air. “Takarannya 0,2 sampai 1 part per mili (ppm),” ucap Sri Widayanto. Artinya, setiap 1 liter air membutuhkan 1 kilogram gas klor.

Setelah itu, air akan ditempatkan di reservoir sebelum didistribusikan. “Pada dasarnya, hingga tahap ini, air sudah bisa digunakan untuk non-konsumsi,” ucapnya.

Jika digunakan dalam skala konsumsi, maka sebelum proses penampungan air ke reservoir, air akan dilewatkan terlebih dahulu ke membran. “Pada proses ini, bakteri akan tertahan di membran,” ucapnya.

Menurut dia, keefektivitasan program ini sudah teruji, antara lain di Bangkok dan Singapura. “Di Indonesia, baru pelaku usaha seperti hotel dan pariwisata yang menerapkan sistem ini,” kata Sri.

Biaya untuk melakukan proses membran ini adalah Rp 2.000 per meter kubik. “Lebih mahal Rp 800 dari proses konvensional,” ucapnya. Pihaknya optimistis, jika program ini terencana, pasokan air bersih di DKI Jakarta akan meningkat.

SYAILENDRA

Proyek Ultrafiltrasi Air Terkendala Izin

Sumber: http://www.beritajakarta.com/ 18 Februari 2012

Untuk menambah pasokan air baku di Jakarta, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Jaya segera merealisasikan pembangunan proyek pengolahan air bersih dengan teknologi ultrafiltrasi. Sebenarnya, proyek ini sudah bisa jalan pada 2011, karena terkendala belum diterbitkannya Surat Izin Pemanfaatan Air (SIPA) dari Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (Ditjen SDA) Kementerian Pekerjaan Umum, mengakibatkan proyek tersebut terhenti.

Direktur Utama PDAM Jaya, Sri Kaderi Widayanto, mengatakan SIPA baru bisa dikeluarkan Ditjen SDA, jika amdal dari proyek tersebut telah ada. Diungkapkannya, studi kelayakan untuk pembangunan pengolahan air sungai Ciliwung dengan menggunakan teknologi ultrafiltrasi telah rampung. Begitu pun juga analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal) proyek tersebut telah selesai.

“Rencananya, Amdal proyek ultrafiltrasi ini akan kita serahkan kepada Ditjen SDA Kemenpu pada pekan depan. Diharapkan dengan rampungnya studi kelayakan dan adanya Amdal, SIPA segera dikeluarkan oleh Ditjen SDA,” kata Sri usai mengikuti Gerakan Ciliwung Bersih di Karettengsin, Jakarta Pusat, Sabtu (18/2).

Menurutnya, Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC) juga sudah sepakat untuk memberikan rekomendasi terkait proyek pengolahan air bersih dengan teknologi ultrafiltrasi di Jakarta sebagai langkah mengatasi krisis air bersih yang diprediksi terjadi pada 2020 mendatang.

“Kami mendapatkan informasi, BBWSCC sudah berbicara dengan pihak Ditjen SDA. Saat ini, SIPA sedang diproses, mudah-mudahan dapat dikeluarkan pada akhir Februari atau awal Maret ini,” harapnya.

Dia menargetkan, jika SIPA sudah dikeluarkan akhir Februari 2012, PDAM Jaya akan melakukan lelang beauty contest proyek air bersih dengan teknologi ultrafiltrasi pada Maret 2012. Namun, jika SIPA tidak diterbitkan, lelang pun tidak bisa dilaksanakan. Sebab, SIPA merupakan jaminan kepastian hukum untuk pembangunan proyek ultrafiltrasi bagi pihak swasta yang akan turut serta dalam proses lelang.

Dalam lelang beauty contest ini, tahap pertama akan ditawarkan investasi dua paket proyek ultrafiltrasi. Yaitu di Jembatanbesi sepanjang Kanal Banjir Barat (KBB) dan Cengkareng Drain. Proyek yang mendapatkan prioritas harus rampung hingga akhir tahun ini adalah pembangunan pengolahan air bersih di Jembatanbesi KBB.

Diharapkan, ultrafiltrasi ini dapat menghasilkan 300 liter per detik air baku untuk dibeli oleh kedua operator PDAM Jaya, yakni Palyja dan Aetra, kemudian diolah menjadi air bersih untuk didistribusikan kepada para pelanggan seharga Rp 2 ribu per liter.

“Sedangkan untuk Cengkareng Drain, kita akan mulai proses tender atau dimulainya pengerjaan kontruksinya bersamaan dengan pembangunan ultrafiltrasi di KBB,” ujarnya.

Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, menegaskan Pemprov DKI Jakarta akan terus berupaya keras untuk menyediakan pasokan air baku bagi warga Jakarta. “Tidak boleh ada warga DKI Jakarta yang kekurangan air bersih. Sebab itu merupakan kebutuhan dasar. Jadi kita akan terus mencari cara untuk menyediakan pasokan air baku, baik melalui proyek ultrafiltasi dan juga pembuatan pabrik air bersih di Jatiluhur,” tegasnya.

PDAM Jaya akan Olah Kali Ciliwung Jadi Air Baku

Sumber:http://jakarta.tribunnews.com/   19 Februari 2012

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Jaya akan mengolah air kali Ciliwung menjadi pasokan air baku bagi warga Jakarta. Rencana ini akan direalisasikan dengan pembangunan proyek pengolahan air bersih berteknologi ultrafiltrasi.

Menurut Direktur Utama PDAM Jaya, Sri Kaderi Widayanto, rencana pengolahan air kali Ciliwung ini sudah disetujui Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC) untuk membantu PDAM Jaya dalam hal mendapatkan Surat Izin Pemanfaatan Air (SIPA) dari Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (Ditjen SDA) Kementerian Pekerjaan Umum.

“Seharusnya proyek ini sudah berjalan tahun 2011 kemarin. Tetapi karena belum diterbitkan SIPA, proyek ini terhenti sementara. SIPA baru bisa dikeluarkan bila amdal dari proyek ini telah ada,” ujar Kaderi, Minggu (19/2/2012).

Dikatakannya, saat ini studi kelayakan untuk pembangunan pengolahan air kali Ciliwung menggunakan teknologi ultrafiltrasi telah selesai, demikian juga analisis mengenai amdal telah selesai. “Rencananya, amdal proyek ultrafiltrasi ini akan kami serahkan pada Ditjen SDA Kementerian Pekerjaan Umum pekan depan,” tandasnya.

Bisnis Air Minum: PAM Jaya dapat tambahan air baku 

Oleh Nurudin Abdullah 

Sumber: http://www.bisnis.com/  20 Februari 2012 

JAKARTA: PAM Jaya melalui dua operatornyanya PT PAM Lyonnaise Jaya dan PT Aetra Air Jakarta, akan mendapat tambahan pasokan air baku dari hasil pengolahan air sungai Ciliwung dengan teknologi ultrafiltrasi mulai tahun ini, guna mengurangi ketergantungan terhadap bendungan Jatiluhur.

Dirut Perusahaan Daerah Air Minum DKI Jakarta (PAM Jaya) Srikaderi Widiyanto mengatakan studi kelayakan pembangungan proyek pengelolaan air sungai Ciliwung dengan teknologi ultrafiltrasi atau penyaringan air dengan membran berkapastias 300 liter per detik itu telah rampung, termasuk analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal) proyek itu.

“Proyek ini kami rencanakan sudah dimulai tahun ini, tetapi tertunda karena belum diterbitkannya surat izin pemanfaatan air atau SIPA dari Direktorat Jendral Sumber Daya Air Kementrian Pekerjaan Umum yang mensyaratkan harus sudah dilengkapi Amdal,” katanya di Jakarta Senin (20/02).

Menurutnya, pembangunan proyek pengolahan air bersih dari sungai Ciliwung sudah mendapat persetujuan dari Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC) Kementrian Pekerjaan Umum (PU) dan tinggal menunggu diterbitkannya SIPA oleh Ditjen Sumber Daya Air dari kementrian yang sama.

Dia mengatakan PAM Jaya akan menyerahkan Amdal proyek ultrafiltrasi kepada pihak Ditjen Sumber Daya Air Kementrian PU pada pekan depan dengan harapan proses penerbitan SIPA segera selesai akhir bulan ini atau awal Maret 2012.

Apalagi pihak BBWSCC telah merekomendasi pembangunan dan operasional pengolahan air bersih dengan teknologi ultrafiltrasi di Jakarta sebagai salah satu upaya mengatasi krisis air bersih yang diperkirakan dapat terjadi di Ibu Kota pada 2020.

Srikaderi optimistis jika akhir bulan ini SIPA sudah terbit maka PAM Jaya dapat mengagendakan lelang beauty contest proyek air bersih dengan teknologi ultrafiltrasi pada Maret 2012. Namun, jika SIPA belum ada maka lelang terpaksa ditunda pelaksanaannya.

“Sebab, SIPA sangat penting sebagai jaminan kepastian hukum bagi pihak swasta yang akan ikut proses lelang pembangunan proyek ultrafiltrasi. Sudah ada beberapa investor yang menyatakan berminat menggarap proyek ini,” ujarnya.

Menurutnya, lelang beauty contest untuk tahap pertama akan ditawarkan dua paket proyek ultrafiltrasi yaitu di Jembatan Besi sepanjang Banjir Kanal Barat dan Cengkareng Drain yang mendapatkan prioritas harus rampung pada akhir tahun ini adalah di Jembatan Besi.

Respons menteri

Sementara itu Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto mengatakan pihaknya mendukung upaya menjadikan air sungai Ciliwung sebagai sumber air baku bagi kebutuhan air bersih di Jakarta mengingat sampai saat ini hanya mengandalkan pasokan dari bendungan Jatiluhur di Purwakarta.

“Nantinya air sungai Ciliwung bisa untuk air baku untuk air bersih di Jakarta, sehingga Kementrian PU, Kementrian Lingkungan Hidup, Gerakan Ciliwung Bersih dan berbagai pihak berusaha merevitalisasi sungai dan mencegah pencemaran airnya,” katanya.

Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo mengatakan Pemprov DKI berusaha terus mengusahakan ketersediaan pasokan air baku untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi warga Ibu Kota termasuk berbagai teknologi yang akan digunakan.

“Kami akan terus mencari cara untuk menyediakan pasokan air baku, baik melalui proyek ultrafiltasi maupun pembangunan sarana pengolahan air bersih di Jatiluhur, disamping meningkatkan kapasitas yang sudah ada,” tegasnya. (Bsi)

Proyek Pengolahan Air PDAM Disetujui

Oleh: Wahyu Praditya Purnomo

Sumber:http://metropolitan.inilah.com/  20 Februari 2012

INILAH.COM, Jakarta – Rencana proyek pengelolaan air bersih dengan teknologi ultrafiltrasi guna menambah pasokan air baku oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) telah mendapat persetujuan Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC).

“Tidak cuma itu, BBWSCC juga akan membantu PDAM untuk mendapatkan Surat Izin Pemanfaatan Air (SIPA) dari Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (Dirjen SDA) Kementerian Pekerjaan Umum,” kata Direktur Utama PDAM Jaya, Sri Kaderi Widayanto, Senin, (20/2/2012).

Setelah mendapatkan persetujuan dari BBWSCC, lanjut Sri, pihaknya akan menyerahkan amdal proyek ultrafiltrasi tersebut ke Ditjen SDA Kementerian Pekerjaan Umum pada pekan depan.

“Diharapkan dengan rampungnya studi kelayakan dan adanya amdal, SIPA segera dikeluarkan oleh Ditjen SDA,” ucapnya.

Seperti diketahui, PDAM merekomendasikan proyek pengolahan air di Jembatan Besi sepanjang Kanal Banjir Barat (KBB) dan Cengkareng Drain, sebagai langkah mengatasi krisis air bersih yang diprediksikan akan dialami Ibu Kota pada 2020 mendatang. Setelah melihat amdal proyek pengelolaan air bersih, BBWSCC menyetujui rencana pembangunan proyek oleh PDAM.[bay]

PDAM Jaya Akan Olah Air Ciliwung Menjadi Sumber Air Bersih

Sumber: http://www.fauzibowo.com/ 21 Februari 2012

Untuk memenuhi kebutuhan warga Jakarta akan pasokan air baku, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Jaya segera merealisasikan pembangunan proyek pengolahan air Sungai Ciliwung dengan teknologi ultrafiltrasi.

Direktur Utama PDAM Jaya, Sri Kaderi Widayanto, Senin (20/2/2012) mengatakan, studi kelayakan untuk pengolahan air sungai Ciliwung dengan menggunakan teknologi ultrafiltrasi telah rampung, begitu pula dengan analisis mengenai dampak lingkungan (amdal).

“Rencananya, amdal proyek ultrafiltrasi ini akan kami serahkan kepada Ditjen SDA Kementerian Pekerjaan Umum pada pekan depan. Diharapkan dengan rampungnya studi kelayakan dan adanya amdal, Surat Izin Pemanfaatan Air (SIPA) segera dikeluarkan oleh Ditjen SDA,� kata Sri.

Dia menargetkan, jika SIPA sudah dikeluarkan akhir Februari 2012, maka PDAM Jaya akan melakukan lelang beauty contest proyek air bersih dengan teknologi ultrafiltrasi pada Maret 2012.

Namun, jika SIPA tidak diterbitkan, maka lelang pun tidak bisa dilaksanakan, sebab SIPA merupakan jaminan hukum untuk pembangunan proyek ultrafiltrasi bagi pihak swasta yang akan turut dalam proses lelang.

Diharapkan ultrafiltrasi ini dapat menghasilkan 300 liter per detik air baku untuk dibeli oleh kedua operator PDAM Jaya, yakni Palyja dan Aetra, kemudian diolah menjadi air bersih untuk didistribusikan kepada para pelanggannya. Air akan dijual seharga Rp2 ribu per liter. (bdl)

Maret 2012

Mengolah Air Ciliwung Menjadi Air Bersih Pengolahan Air

Oleh : ZULKARMEDI SIREGAR 

Sumber:  http://www.forumkeadilan.com/ NO. 44 TAHUN XX/6 – 11 MARET 2012 

Kali Ciliwung Jakarta (dok FORUM)
Teknologi ultrafiltrasi solusi menipisnya persedian air bersih Jakarta. Sebuah teknologi biaya murah, aman dan bisa mengurangi penyakit oleh bakteri.

Pasokan air bersih di DKI Jakarta kian menipis. Sebagai solusi, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Jaya segera merealisasikan pembangunan proyek pengolahan air bersih dengan teknologi ultrafiltrasi guna menambah pasokan air baku untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga Jakarta.

Direktur Utama PDAM Jaya, Sri Kaderi Widayanto, mengatakan studi kelayakan untuk pengolahan air sungai Ciliwung dengan menggunakan teknologi ultrafiltrasi telah rampung, begitu pula dengan analisis mengenai dampak lingkungan (amdal). “Amdal proyek ultrafiltrasi ini akan kami serahkan kepada Ditjen SDA Kementerian Pekerjaan Umum. Diharapkan dengan rampungnya studi kelayakan dan adanya amdal, SIPA segera dikeluarkan oleh Ditjen SDA,” ujar Sri.

Teknologi ultrafiltrasi bisa dikatakan teknologi terbaru dalam pengolahan air minum. Pengolahan air minum secara konvensional dengan menggunakan zat kimia secara perlahan mulai digeser dengan teknologi ultrafiltrasi membrane. Teknologi membrane sudah dicoba di beberapa tempat, misalnya PDAM Kabupaten Sidoarjo yang sudah lebih dulu mengolah air minumnya dengan menggunakan teknologi ini. Dan bisa disebut berhasil.

Direktur Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum Budi Yuwono mengatakan, keuntungan menggunakan teknologi ini antara lain, biaya operasional relatif murah karena bekerja pada tekanan rendah, mampu memisahkan bakteri hingga aman dikonsumsi (sanitasi lebih terjamin). Ini artinya mengurangi penyakit yang disebabkan bakteri, bersifat modular atau dapat dikembangkan sesuai kebutuhan sehingga biaya investasi lebih efektif, dan lahan yang diperlukan relatif kecil karena dapat dibangun di atas reservoir.

“Sudah saatnya kita menggunakan teknologi ini karena lebih bagus kualitas airnya dan efisien tenaga kerjanya. Teknologi ini sebenarnya sudah banyak diterapkan oleh dunia industri dengan skala yang kecil, untuk skala kota baru diwujudkan oleh PDAM Kabupaten Sidoarjo dengan kapasitas 50 liter per detik,” ujar Budi.

Teknologi yang telah lama dikembangkan di dunia medis dan kedokteran untuk menghilangkan bakteri dan virus ini juga akan dikembangkan di Kota Banjar dan Kota Pangkal Pinang. Untuk saat ini, Ditjen Cipta Karya belum berani menerapkan secara massal di beberapa tempat. “Jika nanti harganya sudah memungkinkan, teknologi ini sangat potensial diterapkan di daerah rawan air dan pulau terpencil,” imbuh Budi.

Harga teknologi membrane (ultrafiltrasi) selama ini memang relatif mahal karena berasal dari Amerika. Namun belakangan sudah semakin murah karena sudah bisa dibeli dari China dan Korea. Harga air yang dihasilkan dari pengolahan konvensional saat ini rata-rata per kubik Rp 900. Sedangkan air olahan teknologi membrane yang dikembangkan PDAM dan swasta rata-rata seharga Rp 3000 per kubiknya. Harga tersebut sudah jauh berkurang dibandingkan saat pertama kali teknologi ini dikenalkan, yakni Rp 12 ribu per kubik.

“Untuk teknologi konvensional, biaya membangun 1 liter per detik Rp 1 miliar, namun dengan teknologi ultrafiltrasi ini bisa Rp 1,5 miliar,” jelas Budi.

Ultrafiltrasi ini dapat menghasilkan 300 liter per detik air baku untuk dibeli oleh kedua operator PDAM Jaya, yakni Palyja dan Aetra, kemudian diolah menjadi air bersih untuk didistribusikan kepada para pelanggan seharga Rp 2 ribu per liter. “Sedangkan untuk Cengkareng Drain, kita akan mulai proses tender atau dimulainya pengerjaan konstruksinya bersamaan dengan pembangunan ultrafiltrasi di KBB,” ujarnya.

Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, menegaskan Pemprov DKI Jakarta akan terus berupaya keras untuk menyediakan pasokan air baku bagi warga Jakarta. “Tidak boleh ada warga DKI Jakarta yang kekurangan air bersih. Sebab itu merupakan kebutuhan dasar. Jadi kita akan terus mencari cara untuk menyediakan pasokan air baku, baik melalui proyek ultrafiltrasi dan juga pembuatan pabrik air bersih di Jatiluhur,” tegasnya.

Ahok Janjikan Air Kali Ciliwung Siap Minum

Sumber:  http://www.tempo.co/24 Maret 2012

TEMPO.CO, Jakarta – Calon wakil gubernur DKI Jakarta Basuki “Ahok” Tjahja mengaku tengah merencanakan air bersih siap minum bagi masyarakat Kota Jakarta. “Kami sudah punya teknologinya,” kata Ahok usai diskusi bertajuk “Jakarta Punya Cerita” di Restoran Warung Daun, Cikini, Sabtu 24 Maret 2012. “Nanti kami buktikan dengan alat ini, air kali Ciliwung bisa langsung diminum.”

Diskusi ini menjadi debat publik tak resmi pertama sejumlah calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta. Selain Ahok, calon gubernur yang hadir antara lain gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin, yang diusung oleh Partai Golkar dan Demokrat. Ada pula calon gubernur jalur independen Faisal Basri dan Didik J. Rachbini yang dipasangkan dengan Hidayat Nur Wahid dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Ahok, pasangan Wali Kota Solo Joko Widodo, berjanji mempersiapkan solusi cepat dan kreatif untuk mengatasi permasalahan air bersih. Dia menceritakan, ada alat pemurni air produksi luar negeri yang dapat memurnikan air kali Ciliwung menjadi siap minum. “Kalau alat ini bisa diadakan tentu air bersihnya bisa gratis,” Ahok menambahkan.

Ketersediaan air bersih, menurut Ahok, menjadi penting karena berkaitan erat dengan masalah sanitasi. “Kalau masyarakat bisa menikmati air bersih kesehatan bisa terjamin.”

Secara jangka panjang, Ahok menyiapkan program pipanisasi air bersih. “Jangan sampai jaringan pipanya bocor di mana-mana.”

Dia juga mengingatkan agar masyarakat menengah bawah bisa mengakses air bersih dengan harga semurah mungkin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: