Inggris

Sungai Thames London: Contoh Tranformasi Kotor ke Paling Bersih di Dunia

Oleh: Saiful Marbun

Sumber:  http://green.kompasiana.com/ 14 May 2012 

Salah seorang rekan bertanya kepada saya, “mungkin ga sungai yg udah tercemar berat bisa bening lagi airnya?”. Berangkat dari pertanyaan itu saya melakukan riset, dan pikiran sayapun melayang mencari jawabannya. Kemudian pengalaman di Eropa memenuhi benak saya khususnya Kota London dengan Sungai Thames-nya. Dari situ saya langsung menjawab “sangat mungkin”.

Sekarang ijinkanlah saya bercerita mengenai Sungai Thames yang akan saya jadikan sebagai contoh berhasilnya program pembersihan sungai yang dulunya sudah tercemar berat.

Sungai Thames merupakan sungai yang mengawali sejarah Kota London berdiri. Kota ini dibangun oleh Kerajaan Romawi di abad 43 AD saat mereka menjajah wilayah Inggris, awalnya kota ini bernama Londonium. Sungai Thames berperan sangat penting terhadap penyediaan protein ikan bagi penduduk kota selain untuk air minum, pengairan lahan pertanian dan juga transportasi.

Dewasa ini, Sungai Thames lebih banyak dimanfaatkan sebagai daerah tujuan wisata. Para wisatawan yang berkunjung kesana tidak akan melewatkan tur mengarungi sungai dengan kapal. Walaupun harus merogoh “kocek” sekitar 15 Euro per trip. Tur ini akan membawa para turis melintasi beberapa ikon pariwisata terkenal di kota London, seperti Gedung Parlemen Kerajaan Inggris, Jembatan London, London Eye (mirip seperti wahana kincir di Ancol) , Menara London, Gereja Katedral St Paul dan juga pasar ikan Billingsgate yang dulunya adalah pasar ikan terbesar di Inggris.

Namun dibalik keindahan sungai ini ternyata ada cerita buram yang mengisi sejarah mengalirnya sungai ini di Kota London. Membengkaknya populasi penduduk ditambah revolusi industri di Inggris, memperparah kondisi sungai. Sungai menjadi tempat penampungan limbah rumah tangga (termasuk kotoran manusia) dan industri yang mengakibatkan sungai tercemar berat. Sejarah mencatat berbagai kejadian buruk yang menimpa Kota London akibat kondisi Sungai Thames yang sangat tercemar. Dimulai dari tahun 1932 ketika wabah kolera menjangkiti penduduk kota, tercatat ribuan orang meninggal akibat penyakit tersebut.

Kemudian ketika musim panas di tahun 1858 sungai ini mendapat julukan baru sebagai “the great stink” atau ‘the big stink” karena bau menyengat yang berasal dari sungai. Kandungan H2S yang sangat tinggi mengakibatkan sungai berbau seperti telur busuk. Pada tahun 1878 sebuah kapal bermesin uap bernama Princess Alice yang membawa sekitar 600 orang penumpang terbalik di sungai ini akibat sebuah tabrakan. Seluruh penumpang diberitakan meninggal bukan karena tenggelam, namun karena menghirup racun yang terkandung di air sungai yang tercemar berat. Tahun 1957 sungai tersebut dideklarasikan sebagai sungai yang mati secara biologis, dimana kehidupan baik ikan maupun burung tidak ditemukan lagi disana. Hal tersebut diakibatkan oleh rendahnya kadar oksigen terlarut di air sungai serta racun yang terkandung dari polusi.

Sejak sungai ini dideklarasikan sebagai “The Great Stink” atau “Bau Besar”, pemerintah Kota London terlebih anggota parlemen berusaha keras mengatasi masalah polusi di Sungai Thames. Apalagi bau busuk dari sungai selalu tercium sampai ke ruangan para anggota parlemen. Sejak itu pemerintah mulai mencanangkan berbagai program pengelolaan sungai. Dimulai dengan mega proyek konservasi dan modernisasi sistem saluran pembuangan kotoran manusia, perbaikan sistem pembuangan limbah industri. Kemudian pemerintah membentuk berbagai otoritas yang bertugas untuk mengelola sungai, sumber air, banjir, polusi serta saluran pembuangan kotoran manusia. Disamping itu berbagai peraturan diterbitkan guna mengatur segala kegiatan terkait pemanfaatan sungai dan pengendalian saluran pembuangan kotoran manusia.

Tercatat sejak tahun 1970-an berbagai program tersebut mulai memperlihatkan hasil yang sangat memuaskan. Ikan dan burung mulai kembali ke sungai yang menandai pencemaran di sungai sudah mulai berkurang. Kerja keras yang dilakukan dalam waktu yang cukup panjang ternyata dapat dirasakan oleh penduduk London saat ini. Mereka bisa hidup bangga berdampingan dengan salah satu sungai terbersih di dunia. Tercatat sekitar 125 jenis ikan berenang di sungai ini termasuk ikan salmon dan trout, selain itu sekitar 400 spesies hewan tidak bertulang belakang hidup di lumpur, di tengah, dan tepian sungai. Begitu pula dengan berbagai jenis burung.

Sampai saat ini program bernama “Thames River Clean Up” atau “Pembersihan Sungai Thames” masih dilaksanakan. Tujuannya untuk meningkatkan kebersihan sungai dan mencegah pencemaran. Tenaga relawan, terutama masyarakat sekitar secara sukarela dan senang hati turut serta membersihkan sungai yang mereka cintai.

Pengalaman London di masa lalu mungkin sama dengan apa yang sedang dialami oleh beberapa kota besar di Indonesia. Kondisi dimasa lalu sedikit sama dengan sungai Ciliwung yang membelah kota Jakarta. Sungai ini sedang menderita sakit kronis akibat pencemaran limbah industri dan rumah tangga. Sudah saatnya kita mencoba untuk mengembalikan keberagaman ikan-ikan dan makhluk air lain yang dulu hidup di aliran sungai tersebut.

Sudah saatnya pula pemerintah Indonesia khususnya Jakarta berupaya keras mengikuti jejak pemerintah Inggris khususnya Kota London mentransformasi Sungai Ciliwung dari kategori kotor ke salah satu yang terbersih di dunia. Sungai Thames saja bisa kenapa Sungai Ciliwung tidak bisa?

KOMENTAR :

Bude Binda, 14 May 2012 

Kalau ada kemauan politik pemerintah Indonesia, Pemda DKI, kementrian lingkungan hidup bisa bahu membahu membersihkan Ciliwung. Sungai yang bersih, sehat, tentu membuat penduduk Jakarta juga sehat. Bahkan bisa dijadikan wisata sungai seperti di London….Di mana ada kemauan di situ ada jalan. Nah maukah pemerintah melakukannya? Salam.

Saiful Marbun, 15 May 2012 

Betul sekali Bude. seandainya perjalanan ke luar negeri para pejabat benar benar untuk melihat hal yang baik kemudian berusaha keras untuk menerapkannya di Indonesia pasti sudah maju negara kita. Tinggal kata Bude kemauan..

Rizki Febari, 19 May 2012 

Hi, salam kenal. Saya sangat mengapresiasi saudara saiful marbun mau mengangkat topik mengenai sungai. Jarang sekali saya lihat yang mau mengangkat topik ini dalam artikel kompas. Just want to share my opinion. Saya berpendapat masalah sungai tidaklah sesederhana itu. Kemauan politik pemerintah memang faktor yang penting, tapi masalahnya saya pikir jauh lebih rumit.

Bila ingin diperbandingkan antara sungai di London, Inggris, dengan sungai di Jakarta, Indonesia. Saya pikir lebih baik di lihat dari kondisi struktur ekonomi politiknya. Sumber utama dari kekotoran sungai di berbagai negara mempunyai kesamaan, yakni akibat industrialisasi. Inggris, ketika masih abad 19 hingga 1960, masih berada pada fase industrialisasi. Akibatnya sungai-sungai mendapat eksternalitas polusi-polusi dari pabrik-pabrik manufaktur. Memang perilaku manusia mengotori sungai juga berperan dalam mengotori sungai. Tapi Perilaku manusia mengotori sungai masih jauh lebih kecil akibatnya kepada sungai, ketimbang akibat pabrik-pabrik manufaktur yang ada. Selain itu pula regulasi pemerintah sulit diimplementasikan untuk mengontrol polusi pabrik manufaktur dan perubahan populasi buruh pabrik manufaktur yang volatile. Pemerintah mendapat dilema, antara lebih mementingkan target full employment masyarakat dengan berbiaya polusi, atau kebersihan lingkungan tapi banyak yg menganggur.

Bagi para ilmuwan sosial, di tahun 1970, negara-negara industri di barat mengalami proses yang disebut dengan post-industrial society. Ini berarti masyarakatnya dalam struktur ekonomi politiknya di Eropa, khususnya London, Inggris, tidak lagi menyadarkannya pada pola produksi industri lagi. Di eropa ketika itu mulai berubah menjadi fokus ke industri jasa.

Kemanakah pabrik-pabrik manufaktur di london yang mengotori sungai Thames? Pabrik-pabriknya berpindah ke wilayah yang kini disebut sebagai negara berkembang. Dengan tuntutan domestik akan kebutuhan pertumbuhan ekonomi dan industrialisasi di Indonesia, sungai dan wilayah jakarta menjadi salah satu korban untuk menampung dampak pabrik-pabrik yang dulunya mengotori sungai Thames di London.
Jadi kesimpulan yang saya ingin sampaikan ialah bila ingin sungai menjadi bersih seperti di London, kita tidak saja butuh kemauan politik pemerintah. Jauh lebih dari itu, kita butuh mengubah juga struktur ekonomi politiknya yang berdasarkan industri pabrik-pabrik manufaktur.

Bagaimana dengan pertumbuhan ekonomi nantinya? Selama Indonesia tidak bisa menemukan lokasi lain untuk industri-industri manufakturnya di luar Indonesia, well, that’s the payoff zero sum-game bagi negara berkembang ini..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: