Mesir

Sungai Nil vs Sungai Ciliwung 

Sumber:http://bisyriichwan.blogspot.com/Agustus 2010  

Pertama kali menginjakkan kaki di Mesir, saya langsung penasaran dengan sungai Nil. Sebagai sungai terpanjang di dunia, sungai nil memiliki peran yang sangat urgen untuk rakyat Mesir. Waktu itu saya mengajak seorang teman untuk mengantarkan langsung ke sungai nil, hanya kepengen tahu seperti apa sungai nil itu. Ketika sampai di depan Nil, saya langsung heran dengan keindahan, kebersihan dan kelestariannya. Dengan adanya Nil, banyak sekali sektor yang diuntungkan, mulai dari sektor pariwisata dan perhotelan, kawasan perkantoran elit, restoran-restoran mewah, gedung pemerintahan dan kedutaan-keduataan besar.

Fikiran saya langsung diingatkan dengan keberadaan sungai Ciliwung yang ada di Jakarta. Sungguh pemandangan yang kurang indah (untuk tidak mengatakan jelek) ketika mampir ke ibu kota negara Indonesia ini. Hampir di sepanjang kawasan yang dilalui sungai Ciliwung selalu menjadi daerah pemukiman kumuh dengan rumah-rumah yang kurang layak untuk dihuni dan banyaknya sampah yang ada sepanjang bantaran sungai. Sungguh prihatin sekali ketika melihat langsung kondisi yang sangat kontradiktif ini. Kalu keberadaan sungai Nil di Mesir menjadi ikon penting dan kebanggaan untuk bangsanya, justru adanya sungai Ciliwung di Jakarta menjadi semacam tempat sampah dan pembuangan kotoran raksasa untuk penduduk Jakarta.

Saya pernah melihat sungai Ciliwung di Bogor di televisi dan kondisi disana tidak separah keadaan Ciliwung di Jakarta. Bogor sebagai kota hujan masih bisa menjaga kejernihan sungai ini, namun ketika sungai ini melewati kawasan Jakarta ceritanya menjadi lain. Fungsi sungai yang seharusnya sebagai bagian dari sumber kehidupan manusia justru menjadi sumber pembuangan milik manusia.

Sungai Nil sendiri di Mesir menjadi satu-satunya sumber kehidupan rakyat Mesir, bahkan sistem irigasi Mesir menjadi salah satu sistem irigasi terbaik dunia. Bayangkan saja, seluruh rakyat Mesir yang jumlahnya tidak sedikit, semua menggantungkan kehdupannya pada sungai Nil. Sepanjang kawasan Nil di daerah Giza salah satu wilayah Mesir, menjadi kawasan hijau yang menghasilkan tanaman dan buah-buahan untuk menghidupi rakyatnya.

Seorang kawan saya juga pernah mencoba mampir makan malam di salah satu resto apung di sungai Nil dan satu porsi seharga Rp. 700.000an untuk seafood biasa. Ini contoh kecil saja, bisa dibayangkan jika restoran sepanjang sungai Nil mematok harga sekian untuk satu porsi yang mereka berikan, berapa pemasukan negara dari pajak restoran-restoran ini. Berbeda sekali dengan suasana di sungai Ciliwung, saya tidak bisa membayangkan jika di bantaran sungai Ciliwung didirikan sebuah restoran dengan bau yang begitu menyengat itu.

Ketika melihat film dokumenter Jakarta yang dulu masih bernama Batavia di Youtube, kita masih bisa menyaksikan keindahan sungai Ciliwung pada waktu di jajah Belanda dulu. Belanda pada waktu itu memberikan peraturan dilarang membuang air kecil ataupun besar pada saat aktif jam kerja yakni mulai pada sampai sore. Hal ini sebagai salah satu bentuk pelestarian sungai Ciliwung agar tetap terjaga kebersihannya. Bahkan sungai Ciliwung pada waktu itu masih digunakan sebagai salah satu jalur transportasi sungai oleh warga Batavia.

Kita pasti masih ingat, mulai 2 tahun lalu sungai Ciliwung oleh pemerintah mulai difungsikan kembali sebagai jalur transportasi sungai. Pengalaman menarik yang pertama dirasakan oleh penggunanya adalah baunya yang lumayan menyengat. Sedangkan sungai Nil di Mesir memberikan nuansa dan suasana yang membuat orang ketagihan untuk mengunjunginya kembali. Sungguh ironis memang.

Seorang kawan pernah bergurau kalau orang Indonesia akan menjaga sungainya jika semua sumur-sumur yang ada itu kering. Mungkin ini menjadi salah satu alasan kenapa budaya membuang sampah dan mengotori sungai sangat banyak sekali. Bukan hanya sungai Ciliwung, di hampir kebanyakan (untuk tidak menyebut keseluruhan) sungai yang ada di Indonesia, sering di gunakan tempat pembuangan limbah-limbah produksi pabrik yang tentu jika airnya tercemar akan sangat membahayakan kesehatan masyarakat.

Tentunya kita mengharapkan perbaikan kondisi ini, apakah kita akan menunggu semua mata air kering dulu untuk menjaga keberadaan sungai-sungai kita ataukah pemandangan sungai Ciliwung yang sering menjadi sorotan dunia mengenai pencemarannya akan tetap kita nikmati. Kapankah kita bisa menghargai sungai Ciliwung sebagai mana masyarakat Mesir menjaga sungai Nil ?

Salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: