Susur Ciliwung

Maret 2001

Hari Air,  Megawati Susuri Kali Ciliwung

Sumber:  http://wap.gatra.com/ 28 Maret 2001 

Wakil Presiden Megawati beserta beberapa menteri, menyusuri Sungai Ciliwung di Jakarta, Rabu siang, dalam rangka memperingati Hari Air se-dunia yang jatuh pada 22 Maret 2001.

Dengan mengenakan perahu karet dari kesatuan Marinir TNI-AL dan mengenakan pelampung yang membungkus pakaian bagian atas, Wapres Megawati tampak menikmati sungai yang terlihat keruh tersebut.

Wapres menyusuri Sungai Ciliwung dari Jalan Slamet Riyadi di kawasan Bukit Duri, Jaksel, hingga posko yang menjadi lokasi puncak acara di pintu air Manggarai, Jaksel, yang berjarak tidak lebih dari lima kilometer.

Sementara masyarakat di sekitar sungai tersebut menyambut Megawati dengan lambaian tangan, banyak pula bendera PDI Perjuangan yang mereka kibarkan, menyambut Megawati yang juga Ketua Umum DPP PDIP.

Namun, tidak seperti biasanya, di Sungai Ciliwung hari itu tidak terlihat sampah-sampah. Menurut petugas dari Pemda DKI Jakarta, karena Wapres akan menyusuri sungai itu maka sampah-sampah di sepanjang aliran air sungai, dibersihkan terlebih dahulu.

Sungai Ciliwung merupakan salah satu dari 13 sungai yang ada di wilayah DKI Jakarta. Selain airnya yang keruh dan sampah yang bertebaran di aliran air, di bantar sungai tersebut juga penuh pemukiman kumuh.

Sementara itu, beberapa menteri yang mendampingi Wapres adalah, Menhut Marzuki Usman, Menneg UPW Khofifah Indar Parawansa, Menkimpraswil Erna Witoelar, Menneg LH Sonny Keraf, Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso, dan Ketua DPRD DKI Jakarta Edi Waluyo.

Peringatan Hari Air se-dunia itu juga diisi dengan pemberian penghargaan kepada perusahaan yang dinilai baik dalam pembuangan limbah, yakni PT National Gobel, Rumah Sakit Pondok Indah, dan Apartemen Darmawangsa.

Dalam acara tersebut dicanangkan pula program aksi Sungai Cipinang Bening, yang berada di Jakarta Timur. Kondisi Sungai Cipinang saat ini sangat kritis, bau dan keruh.

Arungi Ciliwung, Mega Disambut Sorak Sorai Ratusan Warga

Sumber:  28 Maret 2001

Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri mengarungi sungai Ciliwung untuk  memperingati hari Air se-Dunia ke-9, Rabu (28/3/2001). Ratusan warga lantas menyambut Mega dengan sorak-sorai.

Mega mengarungi Ciliwung dengan perahu karet milik TNI Angkatan Laut dari jalan Slamet Riyadi hingga pintu air Manggarai. Megawati memulai
perjalanannya sekitar pukul 12.30 WIB dan tiba di pintu air Manggarai pukul 12.36 WIB.

Mendampingi Megawati, Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah
(Menkimpraswil) Erna Witoelar. Perjalanan rombongan Wapres yang terdiri dari 9 perahu karet itu dijaga ketat oleh pasukan intai Ampibi Marinir.

Mengenakan baju putih, topi bundar warna coklat dengan hiasan bunga dan rompi pelampung warna merah, Mega tampak menikmati perjalanan tersebut.

Begitu mendekati pintu air Manggarai, Megawati disambut sorak sorai dari  ratusan anggota masyarakat yang telah menunggunya sejak pukul 10.00 WIB.  Mereka memberi applause, baik dari pinggir sungai maupun dari jembatan Manggarai.[gp]

Desember 2005

Ingatkan Bahaya Banjir, Anggota DPD Susuri Ciliwung

Sumber:http://www.tempo.co.id/ 24 Desember 2005 

TEMPO Interaktif, Jakarta:Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Sarwono Kusumaatmadja menyusuri kali Ciliwung dari kawasan Rawajati, Kalibata, sampai Bukit Duri, Sabtu (24/12).

Kegiatan ini digunakan Sarwono untuk mengingatkan warga akan kemungkinan banjir yang akan datang dalam waktu dekat. Saat menyusuri kali, dia didampingi wartawan serta organisasi pecinta alam Mapala Univeritas Kristen Indonesia, Wanadri dan Global Rescue Network.

Di Bukit Duri, Sarwono sempat berdialog dengan warga RT 6, 7, 8 RW 12. Kepada warga, mantan Menteri Lingkungan Hidup itu mengingatkan kemungkinan banjir memasuki musim penghujan ini. “Semua warga Jakarta tentu tak berharap ada banjir di musim penghujan ini. Tapi tidak ada salahnya kita mengantisipasi,” kata dia.

Sarwono juga menyerahkan sejumlah bantuan berupa peralatan untuk mengatasi banjir, seperti peralatan komunikasi dan penyelamatan, serta perlengkapan dapur umum.

Sebaliknya warga warga menyampaikan keluh kesah mereka kepada Sarwono. “Selama ini kami tidak pernah mendapat bantuan memadai dari pemerintah saat banjir,” kata Rina.
Dia pernah mendengar kabar bahwa dalam banjir besar beberapa tahun lalu, warga korban banjir dikabarkan mendapat bantuan Rp 25 ribu per orang.

Sadiyah menyampaikan keluhan berbeda. Pengelola Posyandu ini mengeluhkan mahalnya biaya pendidikan serta kurangnya bantuan dana kesehatan. Selama ini,Posyandu di daerahnya mendapatkan bantuan dana Rp 200 ribu. Padahal mereka punya tiga pos, yang jumlah anak di tiap posnya sekitar 100 orang.

Dia juga mengusulkan agar Bantuan Langsung Tunai (BLT) sebagai akibat kenaikan BBM, dihapuskan. Di Bukit Duri, kata dia, banyak orang yang mestinya mendapatkan, justru tidak. “Sebaiknya dihapuskan saja karena menimbulkan kecemburuan sosial,” kata dia. Abdul Manan

September 2007

Sambut Ramadhan, Ketua MPR Susuri Ciliwung Dengan Rakit

Sumber:http://www.antaranews.com/ 12 September 2007 

Jakarta (ANTARA News) – Ketua MPR, Hidayat Nurwahid, menyusuri Kali Ciliwung dari kawasan Manggarai sampai Halimun, Jakarta Pusat, Rabu dengan menggunakan rakit hias untuk menyambut kedatangan bulan Ramadhan.

Acara yang digagas oleh lembaga kemanusiaan Pos Keadilan Peduli Umat (PKPU) itu diikuti oleh 15 rakit milik warga peserta Festival Ciliwung 2007.

Bahkan aktris Inneke Koesherawaty turut memeriahkan acara lomba perahu hias tersebut.

Penanggung Jawab Festival Ciliwung 2007, Nur Hidayat, menjelaskan lomba perahu hias itu diikuti oleh 15 rakit hias dengan menyusuri Sungai Ciliwung sepanjang empat kilometer.

“Nantinya diharapkan kegiatan ini menjadi kegiatan rutin tahunan,” katanya.

Dikatakannya tujuan penyelanggaraan acara itu adalah untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan, dan peserta juga diharapkan selama mengikuti lomba mengumpulkan sampah di sepanjang perjalanan.

“Pemilihan Kali Ciliwung karena kondisi masyarakat di bantaran sungai itu semakin tersisih. Diharapkan kegiatan ini menjadi kegiatan rutin setiap tahunnya,” katanya.

Sementara itu, Ketua MPR, Hidayat Nurwahid mendukung pelaksanaan acara itu untuk menyambut Ramadhan, serta mengajak warga untuk turut “berpuasa merusak” alam seperti di Kali Ciliwung.

“Puasa dijadikan momentum menghentikan perusakkan alam, agar puasa terasa afdol,” katanya. (*)

Desember 2009

Agung Laksono Naik Perahu Karet Menyusuri Ciliwung

Kompas, 5 Desember 2009 

Sumber: http://kluboogie.blogspot.com/ 

JAKARTA, KOMPAS.com — Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono bersama Menteri Sosial Salim Segaf Al’Jufrie dan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo menaiki perahu karet berwarna merah menyusuri Kali Ciliwung dari Jembatan Kampung Melayu menuju Pintu Air Manggarai, Sabtu (5 Desember 2009).Agung Laksono, Fauzi Bowo, dan Salim Segaf Al’Jufrie berada dalam satu perahu karet merah dan mengenakan pelampung. Terlihat mereka sempat melambaikan tangan kepada warga yang menonton dari atas Jembatan Kampung Melayu.

Sekitar pukul delapan pagi, perahu karet Menteri beserta iring-iringannya berangkat menuju Pintu Air Manggarai. Terlihat 11 perahu karet merah bertuliskan Departemen Sosial dan Pemadam Kebakaran mengiringi perahu karet Menteri.

Penyusuran Kali Ciliwung oleh Menko Kesra ini merupakan rangkaian program kunjungan kerja Menko Kesra ke kawasan perumahan dan permukiman di bantaran Kali Ciliwung.

Maret 2010

Susuri Ciliwung Peringati Hari Air 

Luhur Hertanto – detikNews

Sumber:http://www.yiela.com/ 20 Maret 2010

Jakarta Pemerintahan Provinsi DKI Jakarta, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Pekerjaan Umum punya cara lain memperingati Hari Air Dunia XVIII. Mereka menyusuri Sungai Ciliwung yang sepanjang bantarannya penuh oleh tumpukan sampah.

Acara konvoi menyusuri Sungai Ciliwung berlangsung pagi ini, Sabtu (20/3/2010). Rutenya relatif pendek saja, yakni dari Condet, Jakarta Timur, dan berakhir di Rawajati, Jakarta Selatan.

“Masalah kualitas air kan juga perlu kampanye kesadaran warga dalam
menjaga kebersihan,” jelas Kepala BPLHD Ir. Peni Susanti mengenai maksud kegiatan konvoi.

Peserta konvoi adalah perwakilan LSM yang bergerak di bidang lingkungan hidup, Kementerian PU, Duta Air dan siswa SD-MI yang ikut program Duta Air. Dua puluhan perahu karet dari BASARDA dan BASARNAS dikerahkan untuk mengangkut mereka.

Di setiap titik pemberhentian, peserta melakukan penanaman benih pohon Buni di bantaran Sungai Ciliwung dan pelepasan benih ikan lele. Rencananya juga akan diadakan lomba pungut sampah dari sungai yang pesertanya adalah komunitas Peduli Ciliwung dan warga bantara.

Pantauan detikcom, kondisi bantaran Sungai Ciliwung sepanjang yang disusuri, tidak tergolong padat penduduk. Tidak terlihat ada aktifitas MCK atau warga yang mencuci piring di bibir sungai.

“Itu hasil kerja komunitas Ciliwung yang bertahun-tahun menyadarkan warga,” kata Heri, dari SAR Pemrop DKI Jakarta.

Meski demikian tak urung sampah plastik dan lainnya bertebaran. Baik di aliran sungai, bantaran hingga yang menyangkut di batang-batang pohon. Tidak hanya keruh, bau tak sedap juga meruap dari air Sungai Ciliwung.(lh/lrn)

Juni 2010 

Imbau Warga Peduli Sungai, Gubernur DKI Telusuri Ciliwung 

Ayu Fitriana – detikNews

Sumber: http://news.detik.com/  20 Juni 2010 

Jakarta Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo menyusuri Sungai Ciliwung dengan perahu karet dari Kampung Menteng Tenggulun, Jakarta Pusat, sampai ke Halimun, Jakarta Selatan. Aksi ini merupakan upaya untuk mengajak warga Jakarta agar lebih memperhatikan kebersihan Sungai Ciliwung.

“Untuk mengajarkan warga agar menjaga sungai Ciliwung ini, sungai ini sudah tercemar berat,” kata Foke -panggilan akrab Fauzi- kepada wartawan sesaat setelah turun dari perahu di Halimun, Jakarta Selatan, Minggu (20/6/2010).

Menurut Foke, warga Jakarta masih memiliki kesadaran yang kurang dalam menjaga lingkungannya. “Ini terbukti dari masih banyaknya warga yang membuang sampah di sungai,” tutur Foke yang mengenakan kaos putih ini.

Oleh karena itu, Foke tidak hanya mengimbau warga untuk menjaga sungai, tapi juga mengimbau masyarakat untuk dapat mengolah sampah agar tidak mencemari lingkungan.

“Sampah bisa diolah agar tidak merusak lingkungan, yang bisa dijadikan kompos ya djadikan kompos, yang bisa didaur ulang ya didaur ulang,” harapnya.

Selanjutnya, pria berkumis ini juga mengajak seluruh pihak yang terkait dengan masalah lingkungan untuk tutur membantu program perbaikan lingkungan ini.

“Bantuan dari semua stakeholder akan sangat membantu program ini,” pinta Foke yang ditemani istrinya dalam acara ini.

Sebelum menyusuri Sungai Ciliwung, Foke yang didampingi oleh Ketua Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) DKI Jakarta, Peni Susanti, berkeliling ke kampung Menteng Tenggulun. Foke meninjau warga perajin kompos dan menyapa para warga di kampung tersebut.

Setelah turun dari perahu karet di Halimun, Foke kemudian meninjau beberapa stand daur ulang milik warga yang ada di lokasi tersebut. Acara ini diselenggarakan masih dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun DKI Jakarta ke-483. (nvc/nrl)

Januari 2011

Terhalang Tembok Villa, Susur Ciliwung Tak Penuhi Target

Sumber:  http://kotahujan.com/10 Januari 2011  

Cisarua|Kotahujan.com–“Cuaca hari ini menyeramkan sekali”, tutur koordinator KPC, Hapsoro. Minggu (9/1), tim susur KPC melanjutkan penyusuran sungai Ciliwung meski cuaca di daerah Cisarua diselimuti kabut hitam. Penyusuran dimulai pukul 07.00 WIB dengan titik start dari Desa Tugu Utara – Cisarua. Titik ini merupakan titik terakhir pernyusuran sebelumnya (8/1). Jumlah tim susur tidak seramai hari Minggu, meski demikian hal itu tidak menurunkan semangat tim susur untuk meneruskan kegiatan penyusuran sungai. Beberapa kendala mereka temui pada penyusuran kali ini. Vila-vila yang berada di bantaran sungai merupakan kendala utama tim susur Cilliwung.

Keindahan persawahan yang berada di pinggiran sungai dibatasi oleh bangunan Vila yang kokoh dan megah. Kondisi ini memperlambat gerak tim susur. Mereka terhalang tembok yang batasnya hingga ke tepian sungai. Akibatnya waktu tempuh lebih lama dan target yang mereka usung tidak tercapai. Tim susur hanya berputar-putar karena tidak bisa menembus tembok Villa.

“Penyusuran kali ini cukup mengecewakan tidak tercapai target yang KPC harapkan karena terkendala banyaknya Villa di bantaran sungai ”, buka Hari, Koordinator susur Ciliwung.

Tembok Villa ternyata menjadi bagian seru lainnya selain medan yang semakin terjal. Beberapa kali tim harus menyeberang sungai yang debitnya cukup ‘lumayan’ meski tidak besar. Di tengah perjalan, di daerah Batu Layang tim susur menjumpai dua wanita pengumpul batu kali. Aktivitas mereka menarik perhatian tim karena di sekitar villa megah ada juga warga yang menggantungkan hidupnya dari Ciliwung. Ironisnya harga jual batu yang mereka kumpulkan itu hanya laku dijual Rp. 1000,- per dirigennya. Sungghu ini merupakan potret kecil kehidupan masyarakat sekitar Ciliwung di balik pembangunan vila-vila megah bertebaran di Cisarua. Selain itu di daerah Jogjogan- Cisarua tim susur juga menemukan longsoran tebing Ciliwung. Longsor ini terjadi akibat tidak ada tumbuhan penyangga di daerah dengan kontur miring tersebut.
Mengingat sulitnya medan, tim akhirnya coba mencari daratan dan tibalah pada sebuah kampung bernama Leuwimalang. Tim sempat surprise dengan adanya bangunan penampung air bersih bagi warga sekitar atas biaya PNPM. Padahal lokasi kampung tak jauh dari Ciliwung.

Perjalanan berikutnya tim mendengar riuh rendah suara orang. Ternyata tim tiba di sebuah kampung yang berbatasan dengan sebuah kawasan Taman Wisata Matahari (TWM). Berdasarkan penuturan pak Hadi (58), warga yang ditemui tim di jembatan Ciliwung sebelum masuk kawasan, lahan sekitar yang lahannya ternyata sudah dibeli Taman Wisata Matahari (TWM). Tim kemudian menembus sungai dan akhirnya masuk ke kawasan TWM. Ciliwung yang masuk kawasan ini ternyata menjadi salah satu wahana wisata air. Berendam, berenang, arung jeram hingga balon air.

Meski terkesan asri dan hijau, sayangnya kawasan yang dikelola itu tidak menyisakan sempadan sungai dengan tumbuhan penyangga, semua serba semen dan tanggul beton.

Tampaknya aksi susur Ciliwung harus diakhiri selepas lokasi TWM, mengingat waktu sudah sore. Terkait target batas kota Bogor yang tidak tercapai pada dua hari ini KPC merencanakan akan menyusun kegiatan susur kembali.

Juli 2011

Menembus Kerimbunan Hutan Bambu Cilebut-BojongGede, Susur Ciliwung Lanjutan 2 Juli 2011

Laporan Dan Foto: Sudirman Asun 

 Sumber:http://green.kompasiana.com/ 07 July 2011 

Kegiatan Susur Sungai kembali dilanjutkan sesuai dengan yang telah diagendakan sebulan sekali oleh teman-teman Komunitas Peduli Ciliwung. Susur yang terbuka untuk umum ini dimulai dari titik terakhir Ciliwung daerah Cilebut. Kali ini mendapat dukungan dari teman-teman dari Universitas Indonesia (Andi Alaika, Cici Baedirini, Lely Amalia, Fira Yunita) yang tergabung dalam pengiat lingkungan Yayasan Lantan Bentala, dan Vega Probo dari Majalah TRAVELER.

Pemandangan indah Ciliwung yang mengagumkan terasa benar kita nikmati, terutama oleh teman-teman lain yang baru pertama kali mengikuti susur Ciliwung, mereka tidak menyangka Ciliwung terlihat sangat mempesona, tidak sesuai dengan gambaran bayangan mereka seperti yang mereka baca dan mereka dengar tentang Ciliwung selama ini.

Walaupun dimana-mana masih menemukan ceceran sampah Styrofoam dan sampah kantongan plastik di badan sungai, dan beberapa gunung sampah, daerah Ciliwung mulai dari Cilebut sampai Bojong Gede, Daerah Sempadan Sungai nya terlihat cukup asri dengan landscape hutan bambu dan ladang penduduk desa.

Berbagai jenis bambu kita temui disini seperti bambu tali, bambu hitam, bambu andong, bambu arter, bambu ampel, bambu pitung, bambu kelisik dan beberapa jenis bambu yang saya tidak tau namanya.

Rumpun bambu merupakan pohon yang sangat ideal ditanam di bantaran sungai karena sifat perakaran rumpun- nya yang kuat memperkokoh bantaran, dan sifat bambu sebagai pengontrol resapan air hujan yang akan dilepas ke dalam air tanah, sangat sering kita temui di bawah kerimbunan rumpun bambu, pasti terdapat aliran mata air yang akan terus mengalir walaupun di musim kemarau.

Seperti kultur desa-desa di Jawa Barat umumnya, yang sangat menggemari kerajinan tangan bambu, di daerah ini dengan sangat mudah kita temui para pengrajin bambu, mereka dengan trampil membuat berbagai perabotan rumah tangga dari bahan dasar bambu, mulai dari bangku panjang, meja, kursi dan aneka produk bambu lainnya.

Pemanfaatan potensi bambu sebagai pengerak ekonomi dan mata pencaharian oleh sebagian besar warga, ketergantungan akan bahan baku bambu telah membuat kearifan lokal tersendiri bagi mereka, Bantaran sungai sebagai tempat habitat pepohon bambu sangat mereka pelihara, dan sedikit sekali kita temui alih fungsi lahan dan pencaplokan privatisasi Daerah Sempadan Sungai yang banyak kita temukan di Ciliwung daerah Puncak. dan Ciliwung Kota Bogor.pada susur-susur sebelumnya.

Pemanfaatan Sempadan Sungai sebagai ruang publik dan hutan bambu dipelihara benar oleh mereka.

Saya berharap pemanfaatan bambu untuk kedepan bisa dikembangkan oleh banyak pihak terutama oleh pemerintah dalam hal LitBang karena bambu bisa mensubtitusi ketergantungan kita akan bahan baku kayu hutan yang pertumbuhan sangat lamban dibandingkan dengan pohon bambu.

Kegiatan susur Ciliwung kali ini, terdata melewati kampung Pasir Jambu, Kampung Jambu Dipa Kelurahan Cilebut, Kampung Kedung Umpal, Desa Keradenan, Keluraahan Cibinong, Desa Glongong, Kelurahan Bojong Gede. Walaupun tangan gatal-gatal oleh pohon bambu dan dengan susah payah menembus medan kerapatan hutan Bambu, teman-teman baru nyusur mengungkapkan sangat senang dan banyak belajar hal baru dengan mengikuti kegiatan ini, dan berjanji tidak kapok untuk ikut susur berikutnya.

Oktober 2011

Susur Ciliwung Citayam-Depok 081011

Foto dan Tulisan: Sudirman Asun

Sumber:  http://www.facebook.com/ 8 Oktober 2011

Menjadi satu hal yang dilematis dimana ketika sejumlah kementriaan akan mengadakan “Konfrensi Sanitasi Nasional 2011” yang diadakan selama tiga hari sejak tanggal 11-13 Oktober 2011 di Grand Sahid Jakarta membahas persoalan sanitasi dan air minum, dalam susur kali ini kami menemukan pembangunan fisik infrastruktur di Ciliwung oleh pemerintah mendukung penyebab terjadinya pencemaran bakteri E-Coli di sungai Ciliwung, yang menjadi pemasok bahan baku air PDAM Bogor dan Depok.

Sebelumnya, pada susur terdahulu ketika mendapati bahwa banyaknya WC umum komunal di pemukiman padat Baranangsiang Kota Bogor yang tidak melewati Septic Tank mengalir langsung ke Sungai Ciliwung, kali ini kami mendapati Instalasi Pembuangan Limbah Tinja Pemda Kota Depok yang dibangun tidak jauh dari bantaran Sungai Ciliwung, juga melakukan pembuangan ke Ciliwung.

Dari obloran dengan petugas IPLT Kota Depok, bahwa rata-rata 6 truck mobil tangki setiap harinya membuang muatan tinja di sini, dan pengelolaan tinjanya dibiarkan di kolam terbuka tanpa treatment khusus, dan kalau lumpur tinjanya sudah penuh dikeruk dan dibuang ke sungai.
Dari pengamatan kami ketika mendekat terlihat warna lumpur tinja hitam pekat dengan bau menusuk.

Dan yang paling hebat, 2 KM hilir kebawah dari IPLT terdapat intake PDAM Tirta Kahuripan Kota Depok, dapat dibayangkan bagaimana bahan baku air Ciliwung yang terkontaminasi bakteri E-Coli ini di proses menjadi air minum warga Kota Depok.

Susur lanjutan oleh Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) 8 Oktober 2011, yang dilakukan dimulai dari titik terakhir yaitu Sungai Ciliwung daerah Citayam , dengan mendapat dukungan penuh Komunitas Ciliwung Condet, Komunitas Ciliwung Bojonggede dan para sahabat komunitas.

Peserta susur sebanyak 11 orang yaitu Hari Kikuk (komandan susur KPC), Rita Mustikasari (Telapak), Abdul Kodir, Fauzi, Alex (Komunitas Ciliwung Condet), Udin Zibrut (Komunitas Ciliwung Bojonggede), Lola (Mahasisiwi Fakultas Kehutanan IPB), Rinnenggo (Kantor Berita kotahujan.com), Ira Guslina dan Ilham (Group Tempo).

Selain penemuaan yang mengejutkan tentang IPLT di bantaran Ciliwung, Tim susur juga mendapati gunung sampah limbah pabrik kancing di Kampung Duren Kelurahan Kalimulya, juga beberapa gunung sampah rumah tangga yang cukup besar di Kelurahan Kalimulya.
Juga pembuangan limbah busa dan kayu ke sungai Ciliwung oleh perusahaan bengkel pembuat perabotan rumah sakit yang memang terletak percis di bantaran Ciliwung Kecamatan Cilodong.

Hutan Bambu sebagai daerah resapan air, penahan longsor dan mata air baru pengencer endapan aliran Ciliwung yang cukup lebat dari mulai daerah Cilebut, Bojonggede dan Citayam, memasuki daerah Depok terasa mulai berkurang dengan adanya pencaplokan dan privatisasi sempadan sungai oleh banyaknya komplek perumahan yang menyerobot sampai ke pinggir sungai.
Terutama Komplek Perumahan Taman Anyelir 3 di Kalimulya yang menguruk habis hutan bambu dengan tanah merah setinggi puluhan meter dan digantikan dengan pohon HTI pohon pinus dan pohon jambon yang merupakan pohon kriteria tidak cocok ditanam di bantaran sungai.
Hal ini sangat bebahaya mengingat beban massa tanah merah yang begitu berat tanpa rumpun bambu sebagai penahan di waktu hujan besar menguyur.

Tanah merah yang akan terbawa hujan ke aliran sungai akan mengancam pendangkalan hebat dan sedimentasi Sungai Ciliwung.

Susur selesai di titik Sungai Ciliwung Stasiun Depok dan berhasil mendata daerah Citayam, Kampung Duren, Kelurahan Kalimulya, Kelurahan Pondok Jaya, Kelurahan Ratu Jaya, Kecamatan Cilodong, Kecamatan Sukmajaya, Kecamatan Cipayung Kota Depok.

Limbah Ciliwung Masih Jalan Terus

Sumber: http://kotahujan.com/ 9 Oktober 2011

Citayam|Kotahujan.com-Susur Ciliwung Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) kembali digelar Sabtu (8/11) kemarin. Kegiatan susur kali ini dimulai dari daerah Citayam dan berakhir dikawasan Depok. Banyak hal yang ditemukan tim susur dari susur kali ini. Tidak hanya diikuti oleh teman-teman dari KPC Bogor, susur kali ini juga diikuti oleh teman-teman dari KPC Condet dan KPC Bojong Gede, serta seorang mahasiswi Fakultas Kehutanan IPB. “Banyak hal yang ditemukan pada susur kali ini”, tutur Hari, komandan susur Ciliwung. Pemandangan tumpukan buangan sampah rumah tangga, pembuangan limbah pabrik dan perumahan, mendominasi Ciliwung di kawasan ini. Termasuk IPLT atau Instalasi Pembuangan Limbah Terpadu dinas kebersihan Kabupaten Depok dijumpai di daerah Kali Mulya Kecamatan Sukma Jaya.

Sejak dari hulu, Ciliwung sudah menjadi tempat pembuangan sampah. Gambaran pencemaran temuan tim susur ini menegaskan buruknya perlakuan manusia atas sungai ini. Pembuangan limbah pabrik di Kebon Duren misalnya, buangan cetakan kancing pabrik itu ditumpuk hingga setinggi hampir 5 meter. Menurut warga sekitar kondisi ini sudah berlangsung cukup lama. IPLT Kota Depok juga turut berkontribusi atas tercemarnya sungai Ciliwung.Tim Susur juga menemukan pembuangan limbah salah satu rumah sakit di daerah Citayam.

“Kita menemukan IPLT (Instalasi Pembuangan Limbah Terpadu) Kabupaten Depok dengan beberapa kolam treatment yang sepertinya tidak berfungsi optimal,” tulis Rita Mustikasari, salah satu peserta susur Ciliwung melalui emailnya ke redaksi Kotahujan.com

Menurut Syamsudin, petugas IPLT yang ditemui tim susur.Dari mobil tangki septi tank, hasil buangan tinja turun ke dalam kolam treatment. Kalau kolam penuh dilakukan pengerukan dan hasil kerukan lumpur IPLT dibuang ke sungai. Warna lumpur tinja itu hitam pekat dengan bau menusuk. Tim susur juga menemukan PDAM Tirta Kahuripan Kota Depok yang jaraknya hanya sekitar 2 km dari IPLT kota Depok

Banyaknya saluran pembuangan limbah yang langsung menuju sungai Cliwung, mareupakan salah satu hal yang juga ditemui oleh tim susur. Selain temuan pencemaran, pada susur Ciliwung yang juga bertujuan membangun komunitas peduli Ciliwung disetiap wilayah susur. Tim juga menemukan 20 titik mata air.

“Dalam susur kali ini sudah ditemukan sekitar 60 titik mata air,” kata Hari, koordinator susur Ciliwung KPC.

Dalam susur Ciliwung, KPC tidak hanya melakukan susur sungai, tetapi juga menciptakan komunitas peduli Ciliwung disetiap daerah yang tim susur lalui. Seperti di daerah Bojong dan Citayam.

Desember 2011

Susuri Ciliwung, Faisal Basri Prihatin

Fabian Januarius Kuwado | I Made Asdhiana

Sumber: http://megapolitan.kompas.com/ 24 Desember 2011 

 Calon Gubernur DKI Jakarta perwakilan independen, Faisal Basri, Sabtu (24/12/2011) menyusuri Sungai Ciliwung dari Pondok Cina, Depok menuju Balekambang, Condet.

JAKARTA, KOMPAS.com – Usai menyusuri Sungai Ciliwung, Faisal Basri salah satu calon gubernur DKI Jakarta perwakilan independen, mengaku prihatin dengan kondisi sungai. Ia tidak menyangka tumpukan sampah ada di sepanjang sungai tersebut. Ia juga berkelakar jangan-jangan sungai tersebut merupakan tempat sampah terbesar di dunia. Hal tersebut dikatakan Faisal Basri usai 5,5 jam menyusuri Sungai Ciliwung di Komunitas Ciliwung Condet, Jakarta Timur (24/12/2011).

“Saya nggak nyangka bisa sebanyak itu sampahnya, banyak kelok-kelokan yang ada sangkutan sampahnya, itu harus diperhatikan secara seksama. Barangkali sungai ini jadi tempat pembuangan sampah terbesar di dunia,” ujarnya.

Faisal beserta rombongan berangkat dari titik Sungai Ciliwung di daerah Pondok Cina, Depok dan berakhir di Balekambang, Condet, Jakarta Timur. Dengan menggunakan perahu karet, Faisal beserta rombongan kerap mengalami kesulitan dalam melintas di sungai tersebut akibat sampah yang bertumpuk-tumpuk.

Faisal juga teringat peristiwa banjir pada tahun sebelumnya yang semakin buruk hingga saat ini. “Berton-ton sampah berasal dari warga kita sendiri dan ditampung oleh sungai menyebabkan korban harta dan nyawa. Kita ingat kan banjir 2007, dimana 70 persen warga Jakarta terkena imbasnya,” katanya.

Faisal menganggap selain peran pemerintah, keterlibatan masyarakat menjadi faktor utama dalam memperbaiki kondisi Ciliwung. “Kuncinya itu di masyarakat sebenarnya, saya bangga dengan teman-teman komunitas Ciliwung, mereka bisa melibatkan warga sekitar,” tambahnya.

Selama perjalanan, Faisal turut mengungkapkan apresiasinya terhadap pihak swasta yang ikut memberikan perhatian pada lingkungan Sungai Ciliwung. Ia malah menyayangkan Pemprov DKI Jakarta yang dirasa masih kurang perhatian terhadap kondisi sungai tersebut. “Kita lihat inisiatif swasta sudah bagus seperti Gunadarma tadi dibuat tumpukan dinding rapih, tampaknya sentuhan pemerintah masih kurang, ke depan harusnya itu diperkuat,” ujarnya.

Faisal Basri menyusuri sungai Ciliwung

Sumber: http://www.sindonews.com/ 24 Desember 2011 

Sindonews.com- Persoalan banjir Jakarta, tak bisa dilepaskan dari aliran kali. Pasalnya, penyempitan kali menyebabkan luapan air ketika hujan besar atau kiriman air dari Bogor.

Kebiasaan masyarakat Jakarta yang membuang sampah sembarangan di sungai dan pemukiman liar dibantaran sungai faktor terbesar terjadinya penyempitan aliran air. Maka itu, peran serta semua pihak, sangat dibutuhkan dalam memperbaiki kondisi tersebut.

Kesatuan Ciliwung Institute sebagai salah satu komunitas yang peduli terhadap kondisi sungai Ciliwung. Mereka melakukan penyusuran sepanjang sungai Ciliwung, mulai daerah Pondok Cina hingga Condet Balekambang.

“Kita lihat di sepanjang sungai ini orang-orang ini membuang sampah di sungai. Mungkin sungai tempat pembungan sampah terbesar di dunia,” ujar Faisal Basri yang namanya belakangan sering disebut sebagai bakal Calon Gubernur DKI Jakarta 2012 ketika mendampingi kegiatan tersebut, Jakarta, Sabtu (24/12/2011).

Padahal, Ciliwung sebagai salah satu hulu untuk mengurangi banjir. Oleh karena itu, dia berharap masyarakat bisa ikut membantu untuk menjaga dan mencintai sungai ciliwung itu sendiri. Bukan mencemarkan dengan membuang sampah sembarangan dan membangun pemukiman disekitar bantaran kali.

“Kita kembalikan jalan air dan kita buat tak terganggu, tak rusak, tak dipersempit. Karena ini adalah kunci persoalan kota, lingkungan, tentu caranya dengan melibatkan masyarakat agar mencintai sungai,” imbuhnya.

Lanjut, bakal calon Gubernur DKI dari kalangan independen ini menilai perlu adanya manajemen terpadu antar pemerintah daerah. Mengingat, sungai Ciliwung meiputi lintas daerah sekitar Jakarta.

“Ke depan kita mengharapkan penduduk di sepanjang sungai Ciliwung bisa menikmati keindahan dari Ciliwung, oleh karena itu perlu kita rawat. Ini tanggungjawab kita, karena itu harus menjadi manajemen yang baik, nggak ada yang bisa membatasai, ini Depok dan ini Jakarta,” ucapnya.

Perhatian terhadap sungai Ciliwung ini sebelumnya pernah ditunjukkan oleh Partai Demokrat. Para kader Partai Demokrat menggelar apel siaga di sekitar sungai Ciliwung, Kampung Melayu Jakarta Timur.

Apel dilakukan sebagai bentuk antisipasi datangnya banjir yang kerap melanda daerah tersebut. Selain itu, sebagai balas budi kepada warga yang telah berhasil mengantarkan partai binaan SBY sebagai pemenang Pemilu 2009.

“Itu adalah pertukaran yang adil. Partai Demokrat dipilih dan dipercaya, karena itu Partai Demokrat bekerja keras menunaikan amanah rakyat, kalau ada bencana Partai Demokrat siap bantu. Ini bukan kampanya, justru ini tanggung jawab Partai Demokrat,” jelas Ketua Umum DPP Partai Demokrat, Anas Urbaningrum.

Cuma Sampah yang Ditemukan

Fabian Januarius Kuwado | Tri Wahono

Sumber: http://megapolitan.kompas.com/ 25 Desember 2011 

KOMPAS.com – Sungai Ciliwung adalah salah satu sungai yang melintasi Ibu Kota DKI Jakarta. Panjang aliran utama sungai ini adalah hampir 120 km melewati Kabupaten Bogor, Kota Depok, dan Jakarta. Kompas.com berkesempatan menyusuri sungai yang paling luas di Jakarta tersebut, Sabtu (24/12/2011).

Titik pemberangkatan adalah Pondok Cina, Depok dengan menggunakan perahu karet dengan titik pemberhentian di Balekambang, Condet, Jakarta Timur. Penyusuran ini ditemani oleh Ahmad Fadel, salah seorang komunitas pecinta Kali Ciliwung yang selama ini melakukan berbagai usaha perbaikan kondisi Kali Ciliwung.

Dengan arus sungai yang tidak terlalu deras, perahu karet kami mulai menyusuri kali Ciliwung yang penuh liku. Pepohonan rindang, tembok-tembok rumah serta gubug-gubug semi permanen menjadi pemandangan silih berganti di sepanjang perjalanan tersebut, tentunya selain sampah. Dari titik pemberangkatan, sampah memang menjadi pemandangan dominan. Berbagai jenis sampah mulai dari styrofoam, plastik, sampah rumah tangga bahkan kasur dan sofa bisa ditemukan di sana.

“Wah, dulu malah saya pernah dapat kulkas pas lagi nyelam,” ujar Fadel sambil tertawa. Mesin perahu karet yang kami tumpangi pun kerap mati mendadak saat perjalanan, “Wah, ada kain nih di mesinnya,” ujarnya sambil membersihkannya kembali.

Fadel menambahkan bahwa dari titik pemberangkatan hingga titik pemberhentian nantinya, ada 38 tempat pembuangan sampah ilegal di mana warga biasa membuang sampah sehari-harinya. Berton-ton sampah tersebut menumpuk hingga menyerupai gunungan sampah yang tak sedap dipandang mata. Bau busuk pun keluar dari gunungan tersebut.

Ironisnya, beberapa pihak mengambil keuntungan dari pengelolaan sampah ilegal tersebut. Hingga kini, masyarakat di sepanjang Sungai Ciliwung seperti belum sadar betul akan bahaya membuang sampah di bantaran kali. Hal ini ditunjukkan dari kebanyakan komunitas pecinta Ciliwung berasal dari orang yang bukan tinggal di sepanjang sungai tersebut, melainkan pemuda dari dari luar. Namun kondisi demikian tak membuat mereka patah arang.

Fadel bersama teman-temannya tetap aktif melakukan penyuluhan bagi masyarakat di sepanjang sungai tersebut. “Ya target kita minimal ke anak-anak deh, supaya enggak kaya orang tuanya,” ujar Fadel.

Perjalanan pun berlanjut, kami menemui sebuah rumah permanen yang memiliki tembok berada persis di tepi sungai Ciliwung. “Yang seperti ini sebenernya enggak boleh nih, minimal 15 meter dari bibir sungai, tapi ya mau gimana lagi,” lanjut Fadel.

Tembok tersebut pun tak lepas dari sampah plastik yang menyangkut di ranting pohon. Di beberapa bagian sungai juga terdapat bangunan semi permanen yang terbuat dari kayu. Bangunan tersebut menjorok ke dalam sungai sehingga menyebabkan penyempitan aliran sungai, padahal kondisi tersebut berbahaya jika permukaan air naik dan terjadi arus yang deras.

Terdapat beberapa pabrik tahu dan tempe di sepanjang sungai Ciliwung. Ironisnya, limbah produksi mereka langsung dibuang melalui pipa ke aliran sungai. Cairan berwarna putih memancur tanpa ada peralatan penyaring, turut menambah masalah di sungai terlebar di Jakarta tersebut.

Meski kondisi air sungai sedemikian buruk, anak-anak kecil tak peduli dangan hal tersebut, mereka tetap riang gembira bermain di sungai tersebut. “Coba agak bersihan, kan enak mau nyebur kaya gimana juga,” ujarnya.

Setelah lima setengah jam mengarungi sungai Ciliwung, akhirnya sampai di tempat Komunitas Ciliwung Condet yang berada di daerah Balekambang, Condet, Jakarta Timur. Dengan melihat langsung kondisi sungai Ciliwung yang sedemikian kritis, para pejuang komunitas pecinta Ciliwung di sepanjang aliran mulai dari Bogor hingga Jakarta tetap optimistis bahwa sungai tersebut ke depan akan tertata.

“Kalau Ciliwung bersih dari hulu sampai hilir kan enak, jadi sedap Jakarta kita lama-lama,” tutupnya.

Susuri Ciliwung, Foke Ajak Cintai Ciliwung

Fabian Januarius Kuwado

Sumber: http://megapolitan.kompas.com/ 31 Desember 2011 

Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo tengah bersiap-siap melakukan susur sungai dari Tanjungan, Cililitan menuju Cililitan Kecil 1, Sabtu (31/12/2011).

JAKARTA, KOMPAS.com – Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, Sabtu (31/12/2011), menyusuri Kali Ciliwung. Kegiatan tersebut merupakan rangkaian acara dengan tema “Satu Hari yang Indah Sepanjang Ciliwung” yang diselenggarakan oleh berbagai organisasi dengan berbagai latar belakang yang peduli terhadap kerusakan lingkungan sungai terlebar di Jakarta tersebut.

“Saya bersyukur di penghujung tahun ini kami memulai suatu kegiatan yang diharapkan memiliki dampak luar biasa ke depannya. Gerakan ini sebetulnya adalah gerakan kota Jakarta untuk mencintai kotanya, mencintai lingkungananya sendiri,” ujar Foke, sapaan akrabnya, saat ditemui sebelum menyusuri sungai tersebut.

Foke juga berharap agar gerakan tersebut jangan hanya berhenti pada tanggal 31 Desember saja, melainkan terus berlanjut di hari-harti mendatang. Dia mengatakan, kualitas lingkungan Kali Ciliwung yang buruk, menjadikan Ciliwung tidak pantas dijadikan kebanggaan kota Jakarta. Oleh sebab itu dia mengharapkan respon positif dari seluruh lapisan masyarakat untuk menjaga kelestarian sungai tersebut.

“Saya ingin agar gerakan ini mendapat respon positif dari warga Jakarta, khususnya di sepanjang Ciliwung sehingga Ciliwung bisa jadi kebanggaan kita semua warga Jakarta,” ujarnya.

Sekitar 15 menit Foke beserta tim menyusuri arus yang cukup deras di Kali Ciliwung, dengan titik keberangkatan di Tanjungan, Cililitan menuju Cililitan Kecil 1. Pemandangan di sepanjang sungai tersebut pun tak lepas dari sampah, baik yang menumpuk sehingga menyebabkan tumpukan atau yang menyangkut di pohon-pohon di sepanjang sungai tersebut. Foke hanya bisa menggelengkan kepala melihat tumpukan sampah tersebut.

Dalam kesempatan yang sama, Foke turut menegaskan bahwa pembangunan Sungai Ciliwung tersebut tidak boleh menggunakan beton seperti yang dilakukan di beberapa aliran air, misalnya Banjir Kanal Timur dan Banjir Kanal Barat yang disisi-sisinya dipasang beton.

“Kalau kita bisa lestarikan dengan format alami, mengapa tidak. Ciliwung ini ada bagian-bagian tertentu yang bisa dilestarikan apa adanya dan menjadikan itu sebagai urban haritage kota Jakarta,” ujarnya.

Maret 2012

Relawan Sinar Daun susuri Kali Ciliwung

Oleh Heru Sasongko 

Sumber: http://www.monitordepok.co.id/ 12 Maret 2012

DEPOK, MONDE: Sebagai langkah awal program penanaman 1.000 pohon, Relawan Sinar Daun menyusuri Kali Ciliwung untuk mencari lokasi sempadan yang bakal ditanami, Sabtu (10/03).

Dalam penyusuran lokasi, LSM yang konsen pada kegiatan kebersihan dan lingkungan hidup ini didampingi tim dari Dinas Pemadam Kebakaran Kota Depok dengan menggunakan dua perahu karet.

Perjalanan dengan jarak tempuh sekitar 8 Km ini dimulai di wilayah Kalimulya dan berakhir di bawah Jembatan Juanda.

Menurut Koordinator Relawan Sinar Daun Rudi Wahyudi, kegiatan ini merupakan survei awal sebelum dilaksanakannya penanaman 1.000 pohon, yang rencananya akan dilakukan pada April mendatang.

“Upaya ini dilakukan dalam rangka menata Ciliwung, mengembalikan fungsi kali seperti dulu menjadi wilayah yang hijau, asri, dan bersih,” ungkapnya didampingi Sekretaris Yusuf Trilis Hendra kepada Monde.

Melalui penamanan pohon, pihaknya juga ingin sempadan Ciliwung bisa menjadi semacam taman hutan yang berfungsi sebagai paru-paru kota.

“Kami melihat selama ini belum ada pihak yang sangat konsen terhadap kondisi Ciliwung di Depok. Padahal jika mau serius, Ciliwung bisa dipercantik sehingga menjadi daya tarik wisata,” terangnya.

Tahun lalu, dijelaskannya, Relawan Sinar Daun sudah melakukan penanaman 300 pohon trembesi di 16 titik. “Tahun lalu tersebar sehingga kurang terlihat. Tahun ini kami ingin terfokus di beberapa titik sehingga bisa lebih kelihatan manfaatnya dan memudahkan dalam hal pengawasan.”

Yusuf menambahkan, pihaknya ingin kegiatan nanti tidak hanya menanam, tapi juga memelihara. Pasalnya, banyak penanaman dilakukan, tapi hasilnya kurang maksimal.

“Dengan pemeliharaan, kami ingin apa yang sudah ditanam bisa tumbuh besar. Upaya dari menata alam ini sangat penting agar bisa warisan bagi generasi mendatang,” pungkasnya.(her)

April 2012

Tim DRM PKPU Susuri Sungai Ciliwung

Sumber: http://www.pkpu.or.id/  16 April 2012 

DEPOK – Sabtu pagi (14/4/2012) Perumahan Bukit Novo, Depok tampak ramai dipenuhi tim DRM Lembaga Kemanusiaan Nasional PKPU beserta para relawan. Bersiap untuk melakukan aksi “Bersih Sungaiku untuk Hidup yang Lebih Baik” dengan menyusuri sungai Ciliwung.

Aksi susur sungai Ciliwung ini mengambil rute sepanjang sungai Ciliwung. Mulai dari bukit Novo, Depok dan berakhir di kampus UI Depok. Sebanyak kurang lebih 47 relawan dengan 9 perahu mengikuti kegiatan ini.

Bukan sekedar melakukan susur sungai saja, namun kegiatan ini juga melibatkan Komunitas Hijau PKPU yang akan melakukan aksi menanam pohon di sepanjang bantaran sungai Ciliwung yang berpotensi longsor. Tim Komunitas juga melakukan edukasi kepada masyarakat sekitar bantaran sungai dengan menyebarkan brosur yang berkaitan dengan konservasi sungai Ciliwung ini.

Pada pertengahan perjalanan menyusuri sungai Ciliwung Tim DRM PKPU bersama para relawan berhenti di jembatan Juanda untuk memasang spanduk himbauan untuk menjaga kebersihan sungai di jembatan yang ramai dilalui kendaraan ini.

“Seru banget kegiatan ini, semoga dengan ini semua masyarakat terutama yang bertempat tinggal di bantaran sungai dapat tumbuh kesadarannya untuk menjaga kebersihan lingkungan sungai,” ujar Anah, mahasiswi UI yang juga merupakan relawan PKPU.

Sesampainya di lokasi terakhir yaitu di kampus UI, Depok kegiatan ini pun ditutup dengan gathering relawan. Mengumpulkan para relawan untuk memperkuat silaturahmi juga memotivasi kembali relawan PKPU untuk terus aktif dalam menjaga dan melestarikan lingkungan serta siap siaga turun lapangan ketika bencana datang. (PKPU/Rizki Adawiyah/Jakarta)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: