Total Solution For Ciliwung

Maret 2011

BANJIR DI JAKARTA: Ada 8 solusi jitu untuk atasi banjir Kali Ciliwung

Sumber: http://nasional.kontan.co.id/  22 Maret 2011 

JAKARTA. Banjir dari kali Ciliwung yang selalu menghantui Jakarta bukannya bencana yang tidak bisa diatasi. Menurut Mohammad Amron Dirjen Sumber Daya Air SDA Kementerian Pekerjaan Umum, sebenarnya ada delapan solusi penanggulangan banjir kali Ciliwung.

Pertama, akan dibuat sudetan Kali Ciliwung di Kebon Baru dan Kalibata, kedua resettlement, ketiga normalisasi kali Ciliwung pintu air (PA) Manggarai sampai Jembatan Kalibata.

“Total Solution For Ciliwung yang keempat adalah penambahan satu buah pintu air untuk pintu air Manggarai dan pintu air Karet,” ujar Mohammad saat Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi V, di Gedung DPR RI Selasa (22/3).

Kelima, memfungsikan kembali kali Ciliwung lama sesuai dengan kapasitasnya. Keenam, Peningkatan jembatan di Banjir Kanal Barat (BKB) dan Ciliwung.

Sedangkan yang ketujuh revitalisasi situ-situ, pembangunan sumur resapan, parit dan penghijauan di bagian tengah serta hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung dan yang terakhir kedelapan, dibuat terowongan kali Ciliwung sampai kali Cipinang.

Ia pun menjelaskan program pengendalian banjir di DKI Jakarta secara struktural dan non struktural bisa dilakukan dengan mengalihkan aliran sungai ke barat dan timur melalui Banjir Kanal Barat dan Banjir Kanal Timur.

“Ini bisa dilakukan dengan memperbaiki saluran drainase, memfungsikan polder-polder dan pompa-pompa air. Normalisasi sungai dan pengembangan sumur-sumur resapan,” imbuhnya.

November 2011

Ciliwung Akan Ditata

Sumber: http://health.kompas.com/ 25 November 2011

Jakarta, Kompas – Pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyatakan siap segera menata Sungai Ciliwung dan daerah aliran sungainya. Sesuai dengan perencanaan oleh Kementerian Pekerjaan Umum, penataan Ciliwung dimulai tahun 2012.

Pemerintah juga berjanji, relokasi penghuni bantaran akan dilakukan sangat manusiawi dengan memperhitungkan antisipasi dampak sosialnya.

”Program ini untuk kebaikan masyarakat semua warga Kota Jakarta. Khususnya bagi penghuni bantaran akan dilakukan penataan, bukan penggusuran. Dasarnya adalah memanusiakan manusia. Kebutuhan dan keinginan mereka akan ditampung dan diwadahi,” kata Direktur Sungai dan Pantai Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum Pitoyo Subandrio, Kamis (24/11).

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah DKI Jakarta Sarwo Handayani menambahkan, Pemprov DKI akan menerapkan resettlement solution framework, yaitu program relokasi warga bantaran dengan dasar studi sosiologi, lingkungan, dan berbagai faktor lain.

”Resettlement solution framework digunakan dalam program JEDI (Jakarta Emergency Dredging Initiative) atau pengerukan 13 sungai di Jakarta dan nanti akan diterapkan juga saat melaksanakan penataan Ciliwung,” kata Sarwo.

Uang kerohiman dan sejumlah metode pendekatan kepada masyarakat akan dilakukan agar penghuni bantaran paham mengapa harus direlokasi.

Akan tetapi, Sarwo juga tidak menampik jika ada kemungkinan alotnya proses pendekatan kepada masyarakat yang bakal membuat proyek penataan sungai molor.

71.000 keluarga

Saat ini, menurut Pitoyo dan Sarwo, terdapat 71.000 keluarga atau sekitar 350.000 jiwa yang tinggal menyesaki bantaran Ciliwung di sekitar Manggarai, Bukit Duri, hingga Kampung Melayu. Tidak semua warga bantaran akan dipindahkan. Akan ada studi khusus mengkaji kawasan permukiman mana saja yang perlu direlokasi.

Anggaran Rp 2,1 triliun

Menurut Pitoyo, program penataan Ciliwung secara menyeluruh, disebut Solusi Total untuk Ciliwung, membutuhkan biaya sekitar Rp 2,1 triliun. Jika dapat berjalan sesuai dengan target pelaksanaan proyek, program ini akan terselesaikan tahun 2015.

”Kami tidak akan membangun bantaran sebelum semua warga pindah ke tempat yang lebih baik. Untuk itu, butuh kerja sama yang baik dengan Pemprov DKI Jakarta maupun instansi terkait lainnya,” kata Pitoyo.

Soal tempat, pihaknya juga berencana membuat sodetan Kali Ciliwung di Kalibaru dan Kalibata.

”Dengan menyodet kali 250 meter saja, kami dapat tanah cekungan bekas kali yang amat luas dan cukup untuk membangun rumah susun sederhana sewa,” ujar Pitoyo.

Pekerja informal

Hasil kajian sementara dari Kementerian Pekerjaan Umum, sebagian besar penghuni bantaran adalah pekerja informal dengan penghasilan rata-rata di bawah Rp 50.000 per hari.

Dengan membayar sewa satu rumah susun sekitar Rp 5.000- Rp 10.000 per hari, masih ada sisa uang untuk makan dan kebutuhan lain.

Rumah susun sederhana sewa juga lebih memudahkan calon penghuni karena tidak memungut uang muka, tetapi langsung sewa harian atau bulanan.

Rumah susun sederhana sewa juga akan disesuaikan dengan mata pencarian warga, misalnya pedagang kaki lima, pedagang dengan gerobak dorong, dan pekerjaan informal lainnya.

Desain rumah susun sederhana sewa akan dilengkapi dengan tempat khusus untuk alat kerja penghuninya. Pitoyo juga menegaskan perlunya pendidikan bertahap agar warga bisa selaras beradaptasi menghuni rumah susun sederhana sewa serta mencegah kembalinya mereka ke bantaran sungai.

Ketua Umum Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia Iman Soedradjat menambahkan, para ahli perencana kota akan turut andil menyumbangkan ide dan pikiran terkait dengan rencana pemerintah menata Ciliwung.   (NEL)

Februari 2012

Kemensos Ikut Tata DAS Ciliwung 

Sumber:  http://www.poskotanews.com/ 8 Februari 2012

JAKARTA (Pos Kota) – Kementerian Sosial (Kemensos) ikut ambil bagian dalam penanganan penertiban kawasan kumuh di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung dalam hal pendampingan sosial¸penanganan kelompok rentan dan fakir miskin.

Direktur Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan Kementerian Sosial, Wawan Mulyawan menjelaskan, upaya penertiban kawasan kumuh di sekitar DAS Ciliwung saat ini masih terus dibahas oleh Kemenko Kesejahteraan Rakyat (Kesra) dan Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera).

Program penataan tersebut, lanjutnya, dicanangkan selama 3 tahun dan melalui Kemenpera akan dibangun 29 rumah susun sewa sederhana (rusunawa) yang mampu menampung sejumlah
34.051 KK penduduk DAS Ciliwung.

Menurut Wawan, program penertiban akan dilaksanakan melalui 2 tahap. Tahap Pertama meliputi Kelurahan Manggarai sebanyak 2.390 KK, Kelurahan Bukit Duri sebanyak 3.526 KK, Kelurahan Kampung Melayu sebanyak 7.233 KK dan Kelurahan Kebon Baru sebanyak 264 KK.

Tahap Kedua meliputi Kelurahan Gedong 387 KK dan Kelurahan Tanjung Barat 275.“Tujuan penanganan diantaranya adalah meningkatnya kesiapan warga untuk relokasi atau penempatan rusunawa. Selain itu upaya penertiban ini juga agar terciptanya perumahan dan lingkungan sosial yang sehat dan memberikan pelayanan sosial bagi kelompok rentan untuk agar dapat meningkatkan taraf kesejahteraan sosialnya,” ujar Wawan, Rabu petang.

Diakuinya, masalah kemiskinan merupakan persoalan klasik yang hingga saat ini masih menjadi problem utama, terutama di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Penanganan kemiskinan kemudian menjadi suatu upaya yang mendapatkan perhatian banyak pihak.

Data Sensus Penduduk tahun 2011 mencatat penduduk miskin sebanyak 32,02 juta jiwa atau 13,33% dari total jumlah penduduk. Dari jumlah penduduk miskin tersebut sebanyak 11,05 juta jiwa berada di perkotaan dan 18,97 juta jiwa di perdesaan.(Tri/b)

April 2012 

BANJIR JAKARTA: Kementerian PU bangun 2 pintu air baru 

Oleh Dewi Andriani 

Sumber: http://www.bisnis.com/  18 April 2012 

JAKARTA: Kementerian Pekerjaan Umum menyiapkan anggaran sebesar Rp15 miliar pada tahun ini untuk membangun dua daun pintu air tambahan masing-masing di Karet dan Manggarai.

Direktur Sungai dan Pantai Ditjen Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum Pitoyo Subandria mengatakan proyek tersebut merupakan salah satu dari sembilan program Solution For Ciliwung yang dicanangkan oleh Kementerian PU guna mengatasi pengendalian banjir di Kali Ciliwung.

“Ada sembilan program Total Solution For Ciliwung, tapi untuk yang quick win akan dibangun masing-masing tambahan daun pintu air Manggarai dan Karet yang masih belum berubah sejak jaman Belanda,” ujarnya di sela acara Dialog Interaktif Aksi Penyelamatan Sungai Ciliwung hari ini.

Bastari, Kepala Bidang Pelaksanaan Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane, menjelaskan melalui tambahan daun pintu tersebut debit air yang mengalir dari Sungai Ciliwung akan semakin besar sehingga dapat menurunkan secara cepat banjir yang terjadi akibat luapan kali Ciliwung.

Misalnya saja untuk di Manggarai, daun pintu air bertambah dari dua menjadi tiga sehingga dapat menambah aliran debit air dari 350 meter kubik menjadi 500 meter kubik. Sementara dengan penambahan pintu air di Karet dari empat menjadi lima akan menambah aliran debit air dari 500 meter kubik menjadi 700 meter kubik.

Saat ini PU masih menunggu ijin kontrak proyek multiyears dari Kementerian Keuangan sebelum melaksanakan proses tender. Ditargetkan pertengahan tahun ini sudah penandatanganan kontrak dan dilanjutkan dengan pengerjaan.

“Mudahan-mudahan dalam waktu dekat sudah ada kontrak. Pelaksanaan sekitar 2 tahun sehingga diharapkan 2014 sudah terbangun,” tuturnya.

Bastari menjelaskan proyek penambahan pintu air ini merupakan proyek di hilir yang tentu saja harus diimbangi dengan proyek dihulu yakni optimalisasi Banjir Kanal Barat dan normalisasi kali Ciliwung sebagai satu kesatuan proyek dengan total anggaran keseluruhan mencapai Rp400 miliar hingga 2014.

Pasalnya, ketika debit air yang mengalir sudah besar, maka BKB harus dioptimalisasi dan kali Ciliwung harus dinormalisasi sehingga ketika debit air dibuka, tidak akan meluap.

“Tahun ini anggarakan Rp15 miliar untuk pembangunan dua daun pintu air, tapi secara keseluruhan anggaran yang dibutuhkan Rp400 miliar termasuk proyek di Ciliwung lama dan optimalisasi BKB,” tuturnya.

Untuk pelaksanaan proyek normalisasi di kali Ciliwung, pemerintah akan mendahului merelokasi masyarakat yang tinggal di sempadan Ciliwung ke rumah susun sewa (rusunawa) dengan pendanaan dari pemerintah.

“Masyarakat akan dipindahkan dulu ke rusunawa yang pada tahun pertama penempatan tidak dikenakan biaya sewa. Setelah dipindahkan, baru dilakukan normalisasi sungai sehingga tidak ada penggusuran.” (sut)

Biaya pintu air Karet & Manggarai Rp 15 Miliar 

Sumber:  http://www.tender-indonesia.com/  19 April 2012  

Kementerian Pekerjaan Umum menyiapkan anggaran sebesar Rp 15 miliar pada tahun ini untuk membangun dua daun pintu air tambahan masing-masing di Karet dan Manggarai.

Direktur Sungai dan Pantai Ditjen Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum Pitoyo Subandria mengatakan proyek tersebut merupakan salah satu dari sembilan program Solution For Ciliwung yang dicanangkan oleh Kementerian PU guna mengatasi pengendalian banjir di Kali Ciliwung.

“Ada sembilan program Total Solution For Ciliwung, tapi untuk yang quick win akan dibangun masing-masing tambahan daun pintu air Manggarai dan Karet yang masih belum berubah sejak zaman Belanda,” ujarnya.

Kepala Bidang Pelaksanaan Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane, Bastari menjelaskan melalui tambahan daun pintu tersebut debit air yang mengalir dari Sungai Ciliwung akan mengalir dari Sungai Ciliwung akan semakin besar sehingga dapat menurunkan banjir secara cepat.

Untuk mendapatkan info detail ratusan proyek setiap hari, anda dapat mendaftar menjadi member (PREMIUM dan GOLD).

Perlu Posisikan Diri Sebagai Solusi Mengatasi Ciliwung

Sumber: http://www.pu.go.id/ 24 Mei 2012 

Pemerintah dan seluruh masyarakat memiliki tanggung jawab dalam mengatasi masalah Sungai Ciliwung. Masalah akan lebih mudah diatas jika semua pihak yang ada di kawasan yang dilewati sungai tersebut memposisikan diri sebagai bagian dari solusi untuk Ciliwung, bukan beranggapan bagian dari masalah.

Hal tersebut disampaikan Direktur Sungai dan Pantai Derektorat Jenderal Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) Pitoyo Subandrio dalam Obrolan PU dengan topik “Total Solusi Untuk Ciliwung” yang disiarkan oleh RRI Pro 3 FM, kemarin (23/5). Turut menjadi narasumber Nastiti, Peneliti Bidang SDM dan Lingkungan UI.

“Kita semua harus fokus dan bersinergi. Masyarakat dan pemerintah harus saling memahami bahwa Ciliwung bukan dari fisik sungainya, tapi juga secara komprehensif integral, manusia, dan sampah untuk solusi total. Saya yakin Ciliwung lebih mudah diselesaikan daripada BKT karena Ciliwung sistemnya sudah ada, dari dulu sudah mengalir,” ujarnya.

Kementerian PU melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Ciliwung – Cisadane, menyusun dan mengusulkan rancangan program Total Solution For Ciliwung yang meliputi 9 (Sembilan) langkah penyelesaian. Antara lain dengan melakukan sodetan di kawasan Kalibata dekat komplek MPR/DPR sepanjang 220 meter dan di Tebet baru sepanjang 230 m di aliran sungai yang melengkung.

Selanjutnya, setelah dilakukan sodetan, di bagian sungai Ciliwung lama akan dibangun pemukiman Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa). Di rencanakan, setelah rusunawa jadi, masyarakat yang ada di sekitar Kampung Melayu yang memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) Jakarta akan dipindahkan ke sana.

“Mereka hanya perlu menyewa tidak perlu membeli, nanti akan kerja sama dengan Pemda dan Kementerian Sosial. Baru setelah mereka pindah rusunawa, dan di kawasan bantaran sudah kosong baru kami masuk, jadi tidak ada penggusuran,” jelas Pitoyo.

Pitoyo menegaskan bahwa untuk mengatasi permasalahan Sungai Ciliwung harus secara keseluruhan, tidak setengah-setengah, Nantinya, setelah kapasitas alir di Banjir Kanal Barat (BKB) ditingkatkan dengan penurapan/revitalisasi, maka untuk mengalirkan air Kali Ciliwung ke BKB akan dilakukan normalisasi dari Pintu Air Manggarai sampai TB Simatupang dengan menambah 1 daun pintu di Manggarai untuk meningkatkan kapasitas alir dari 350 m3/det menjadi 500 m3/det.dan Karet untuk meningkatkan kapasitas alir dari 500 m3/det menjadi 740 m

Kegiatan lain yang dilakukan adalah konservasi lingkungan melalui sumur resapan, dan biopori serta kegiatan yang melibatkan masyarakat. Misalnya, mengolah sampah menjadi kompos, mencari solusi dengan mengubah cara pandang bahwa sampah bukanlah masalah, tetapi bisa digunakan untuk hal lain seperti energi listrik.

Peneliti Bidang SDM dan Lingkungan UI yang juga terlibat dalam Gerakan Bersih Ciliwung Nastiti mengatakan bahwa sebenarnya selama ini sudah banyak kegiatan yang dilakukan masyarakat dalam mengatasi masalah Ciliwung.

“Sebetulnya masyarakat sudah berperan dalam manjaga sungai. Namun kegiatan tersebar maka tidak terlalu tampak hasilnya. Kita memberdayakan masyarakat sekitar dengan membersihkan sungai, menanam pohon bersama juga dengan LSM-LSM,”

Menurut Pitoyo, sejuh ini langkah-langkah yang dilakuan untuk solusi Ciliwung dengan melakukan normalisasi. Sejak 1997-1999 telah dilakukan revitalisasi Sungai Ciliwung 970 m di jembatan Casablanca arah hulu di bantaran. Hal lain yang juga dilakukan adalah memberikan pemahaman bahwa mereka tinggal di daerah berbahaya.

“Selain pekerjaan fisik juga perlu diberikan pemahaman kepada masyarakat yang tinggal di daerah bantaran sungai agar mereka sadar bahwa mereka tinggal di daerah berbahaya. Yang bisa penting harus dilakukan adalah hidup harmoni dengan sungai, selaraskan dengan ekosistem.” Ujar Pitoyo. (dnd)

Pusat Komunikasi Publik
240512

ANTISIPASI BANJIR: Total Solution for Ciliwung digelar 

Sumber: http://www.bisnis.com/  24 Mei 2012 

JAKARTA: Kementerian Pekerjaan Umum tengah menyusun rancangan program Total Solution For Ciliwung dalam rangka mengatasi banjir di bantaran kali Ciliwung.

Direktur Sungai dan Pantai Derektorat Jenderal Sumber Daya Air, Kementerian PU Pitoyo Subandrio mengatakan setidaknya akan ada sembilan langkah komprehensif yang dilakukan dalam program tersebut.

Antara lain melakukan sodetan di kawasan Kalibata sepanjang 220 meter dan di Tebet baru sepanjang 230 meter pada aliran sungai yang melengkung.

Setelah itu, pemerintah akan membangun pemukiman rumah susun sederhana sewa (rusunawa) untuk merelokasi masyarakat yang ada di sekitar Kampung Melayu dan kawasan sempadan Ciliwung.

“Setelah mereka pindah rusunawa, dan di kawasan bantaran sudah kosong baru kami masuk, jadi tidak ada penggusuran,” ucapnya, Kamis, 24 Mei 2012.

Di dalam pembangunan rusunawa tersebut, pemerintah daerah akan bekerjasama dengan Kementerian Sosial. Masyarakat yang akan dipindahkan pada tahun pertama penempatan tidak dikenakan biaya.

Menurutnya, untuk mengatasi permasalahan Sungai Ciliwung harus diselesaikan secara keseluruhan, termasuk diperlukan adanya tanggung jawab semua pihak untuk fokus dan bersinergi menyelesaikan persoalan tersebut.

“Masyarakat dan pemerintah harus saling memahami bahwa Ciliwung bukan hanya fisik sungainya, tapi juga secara komprehensif termasuk di dalamnya manusia, dan sampah untuk solusi total. Saya yakin Ciliwung lebih mudah diselesaikan daripada BKT karena Ciliwung sistemnya sudah ada, dari dulu sudah mengalir,” ujarnya.(msb)

9 Program Pemerintah Normalkan Sungai Ciliwung

Sumber: http://www.tempo.co/ 02 Oktober 2013 

TEMPO.CO, Jakarta – Pemerintah melakukan sembilan cara untuk normalisasi sungai Ciliwung guna menggulangi banjir di Jakarta. Sebagian sudah dilaksanakan. “Program ini kami namakan solusi rotal untuk normalisasi sungai Ciliwung,” ujar Direktur Sungai dan Pantai Direktorat Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum, Pitoyo Subandrio di kantornya, Rabu, 2 Oktober 2013.

Program pertama, kata dia, pemubuatan Sudetan sungai Cilieung di daerah Kalibata dan Kebon Baru. Namun, pembuatan sudetan tersebut urung dilakukan. Sebab, belum ada pembebasan lahan sampai sekrang. “Tujuan pembuatan sudetan yakni untuk membangun rumah susun di bekas kali. Tapi karena solusi kebutuhan rumah susun untuk masyarakat yang tinggal di bantaran sudah ada maka pembanguna kedua sudetan tidak jadi,” katanya.

Kedua, ia melanjutkan, pembangunan tower bagi warga yang tinggal di bantaran sungai Ciliwung. Rencananya tower akan dibangun di dua tempat yang berbeda yakni di Pasar Rumput serta di bekas kantor Walikota Jakrta Timur.

Program ketiga, ujar Pitoyo, yakni adanya penambahan daun pintu di Pintu Air Manggarai dan Karet. “pengerjaannya sedang dilakukan dan mudah-mudahan pertengahan tahun depan selesai,” ucapnya. Penambahan daun pintu ini digunakan untuk memperlancar debit air ketika debit air mulai meningkat.

Keempat, ia menambahkan, normalisasi sunagi Ciliwung dari pintu air Manggarai sampai Tanah Abang. Karena daerah ini yang paling penting dalam untuk segera dinormalisasi pasalnya bisa mengalirkan lebih dari 500 meter kubik yang sebelumnya tersumbat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: