Jakarta

Mei 2006

Warga Bidaracina Keluhkan Pembuangan Sampah di Kali Ciliwung

Sumber: http://www.antaranews.com/  29 Mei 2006

Jakarta, (ANTARA News) – Sejumlah warga Bidaracina yang bermukim di sepanjang pinggiran Kali Ciliwung mengeluhkan pembuangan sampah yang diduga dilakukan oleh warga kelurahan Kebon Baru, Jakarta Selatan.

“Setiap Pukul 10.00 WIB dan 15.00 WIB sekitar sepuluh gerobak tiap harinya sampah rumah tangga atau industri, dibuang oleh seorang yang sudah diupah untuk membuang sampah ke Kali Ciliwung,” Kata Tatang (40) salah seorang warga Kelurahan Bidaracina, Senin (29/5).

Ia mengatakan, sebelumnya sejumlah masyarakat bersama Rukun Tetangga (RT) sudah memperingatkan petugas pengumpul sampah tersebut agar tidak membuang sampah ke kali, tetapi peringatan warga tidak dihiraukan oleh petugas itu.

Keluhan yang sama juga disampaikan oleh Ketua RT 03 Bidaracina, Tamsir (55).

Ia mengatakan, aturan sudah dibikin dan sudah disosialisasikan kepada seluruh warganya termasuk warga Kelurahan Kebon Baru, agar tidak membuang sampah di kali itu.

“Tapi, aturan agar tidak membuang sampah di Kali Ciliwung tidak dihiraukan oleh warga dari kelurahan tetangga. Malah kami warga Bidaracina juga sudah pernah menyampaikan protes ke Kelurahannya, tapi sampai sekarang tidak ada tindak lanjut dari pihak Kelurahan Kebon Baru,” katanya.

Ia berharap hendaknya Kali Ciliwung dalam waktu dekat ini dikeruk untuk diperdalam, karena saat ini kedalaman kali itu hanya sekitar dua meter saja akibat pembuangan sampah yang begitu banyak disepanjang kali.

“Sekarang kalau hujan selama dua sampai tiga jam saja, daerah pinggiran Kali Ciliwung inilah yang paling dulu terendam banjir,” keluhnya.

Ke depan, pintanya, pihak pemerintah harus memperdalam Kali Ciliwung dan membuka Daerah Aliran Sungai (DAS) di sepanjang Kali Ciliwung itu, karena seharusnya luas kali lebih besar dari DAS.

Toro (35), seorang warga yang membuang sampah di Kali Ciliwung, mengatakan, ia hanya disuruh oleh warga setempat untuk membuang sampah tersebut. Setelah sampah terkumpul, pada sorenya ia membakar sampah yang bisa dibakar.

Tapi Toro, yang juga tinggal di tempat pembuangan sampah di tepi Kali Ciliwung itu tidak memungkiri bahwa banyak juga sampah sisa pembakaran yang dibuang di kali itu. “Mana mungkin mas, sampah begitu banyak setiap harinya, dibersihkan dengan cara dibakar,” katanya.

Sementara itu di tempat terpisah Wakil Lurah Kebon Baru Jaksel, Syamsu Imam, mengatakan, pihaknya sudah beberapa kali mengingatkan pada warganya agar tidak membuang sampah di Kali Ciliwung. Malah Tempat Pembuangan sampah (TPS) yang terletak di pinggir Kali tersebut sudah lama tidak digunakan lagi.

“Tapi hingga saat ini masih banyak warga yang membuang sampah di pinggir kali, karena warga sekitar mau enaknya saja, karena tidak mau repot membuang sampah ditempat yang sudah ditentukan,” katanya.

Ia membantah, pihak Kelurahan Kebon Baru tidak respek terhadap keluhan masyarakat di kawasan pinggir kali Ciliwung, karena selama ini pihak kami sudah sering memperingatkan warga agar tidak membuang sampah di sekitar itu lagi.

Malahan di sepanjang kawasan bekas TPS tersebut sudah kami pagar dengan seng, tapi oleh warga sekitar pagar tersebut malah dibuka sebagian, untuk memudahkan membuang sampah di sekitar itu, kata Syamsu. (*)

Januari 2010

Gunung Sampah Terlindung di Ciliwung

Sumber: http://www.facebook.com/  24 January 2010 

TUMPUKAN sampah di bantaran Ciliwung, Condet, Jakarta Timur yang menggunung ternyata dilindungi pemilik lahan. Hal ini diungkapkan Bang Kodir, perintis komunitas, pada kunjungan Korps Sukarelawan IISIP Jakarta ke Komunitas Ciliwung, Condet (17/1).

Menurut Kodir, bantaran sungai Ciliwung yang dijadikan tempat pembuangan sampah adalah tempat pembuangan sementara, tetapi sampai sekarang sampah-sampah itu tidak diangkut ke tempat pembuangan sampah pusat. Hal ini menyebabkan penumpukan sampah yang menjadi gunung di bantaran Ciliwung.

Masih menurutnya, lahan ‘gunung sampah’ di bantaran itu seperti terlegitimasi atau terlindungi oleh pemilik lahan dan lurah setempat. Masyarakat di bantaran Ciliwung pun tidak dapat berupaya agar lahan tersebut tidak dijadikan tempat pembuangan sampah karena terhalang hak kepemilikan tanah.

“Yang punya lahan juga mendapat untung dari pembuangan sampah itu. Sehari si pemilik bisa untung satu juta rupiah dari satu truk sampah. Bayangkan saja kalo ada 15 truk yang buang sampah disitu,” ungkap Kodir.

Kodir mengungkapkan para pejabat yang menyurvai Ciliwung hanya berfoto-foto ria dan hasil dari survai mereka tidak menghasilkan apa-apa. Pernah ada acara ceremonial penutupan pembuangan sampah di bantaran Ciliwung yang menghabiskan dana jutaan rupiah untuk memasang panggung, mengundang pejabat dan artis, tetapi hasilnya pembuangan sampah di bantaran Ciliwung masih berlanjut dan malah sampah-sampah ceremonial itu yang merusak bantaran Ciliwung.

“Daripada dana jutaan rupiah itu untuk acara-acara begitu, lebih baik dana jutaan rupiah itu dijadikan ongkos kerja masyarakat selama beberapa tahun untuk membersihkan bantaran ciliwung dari sampah-sampah yang telah menggunung,” ujarnya.

Ceremonial tersebut pun menyebabkan kesenjangan sosial. “Para pejabat dan artis nya mah lagi enak-enakan di acara itu, orang-orang kampung sini cuma pada diem aja ngeliatin,” katanya.

‘Gunung sampah’ pernah menghantam jembatan gantung Condet hingga roboh pada 2007 lalu. Sampah yang tidak dikelola dengan baik ini telah mencemari air Sungai Ciliwung, serta menurunkan kualitas tanah di bantaran sungai. Di beberapa titik, sampah juga mengakibatkan pendangkalan Ciliwung yang mengakibatkan banjir.

Komunitas Ciliwung Condet mengadakan kerjabakti untuk membersihkan dan merawat kembali bantaran Sungai Ciliwung, khususnya di Jalan Pucung II, Condet, Balekambang. Warga berupaya untuk membenahi, menghijaukan dan merawat bantaran Sungai Ciliwung.

Kerjabakti ini juga berupaya untuk membuka jalan setapak di bantaran yang kian lama makin tersembunyi oleh semak rumpun bambu dan sampah agar warga Condet, Balekambang kembali gemar menghampiri bantaran Ciliwung sambil terus merawatnya supaya tetap hijau. (sdryn) Report By : Sadryna Evanalia (IISIP Jakarta)

Juni 2010

Ada 109 Titik TPS Liar di Ciliwung

Sumber: http://www1.kompas.com/ 11 Juni 2010 

Jakarta, Kompas – Badan Pengelola Lingkungan Hidup DKI Jakarta menemukan 109 titik di sekitar aliran Kali Ciliwung yang masih menjadi tempat pembuangan sampah sementara atau TPS. Sebanyak 109 titik ini seluruhnya berada di dekat permukiman padat mulai dari perbatasan Depok sampai muara laut di Jakarta Utara sepanjang 39 kilometer.

Hasil penelusuran BPLH DKI Jakarta, tumpukan sampah di TPS liar itu hampir seluruhnya berasal dari sampah rumah tangga. Warga membuangnya begitu saja karena permukiman ini tidak terjangkau oleh kendaraan pengangkut sampah.

”Warga tidak memiliki tempat pembuangan yang dapat dijangkau petugas kebersihan. Sementara ini kami baru masuk ke tujuh titik dari seluruh TPS liar itu dan memasang papan larangan membuang sampah,” tutur Kepala Bidang Pelestarian Tata Lingkungan, BPLH DKI Jakarta, Rusman Sagala, Kamis (10/6) di Jakarta.

Ia mengatakan masih ada titik pembuangan sampah yang belum sempat terdata petugas di lapangan. Jumlah itu (109 TPS) merupakan yang terparah dari yang ada.

Dalam foto yang ditampilkan petugas BPLH DKI Jakarta, di sejumlah titik aliran Kali Ciliwung terdapat gunungan sampah plastik bercampur dengan tanah. Gunungan sampah ini bahkan ada yang menimbun aliran sungai.

Selain tidak terjangkau truk pengangkut sampah, masyarakat setempat diduga belum banyak mengetahui ada aturan yang melarang membuang dan menumpuk sampah di sembarang tempat. Hal ini tertuang dalam Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum.

Dalam aturan ini disebutkan, siapa pun tidak boleh membuang dan menumpuk sampah di sungai. Mereka yang melanggar ketentuan dapat dipidana paling lama 60 hari dan denda paling banyak Rp 20 juta.

”Stop Nyampah”

Berangkat dari kenyataan ini, BPLH DKI Jakarta berencana melibatkan 74 lurah yang berada di sepanjang Kali Ciliwung untuk membersihkan tumpukan sampah tersebut. BPLH akan menggelar kegiatan bernama ”Stop Nyampah di Kali” pada 20 Juni ini.

Selain masyarakat dan aparat pemerintah, kegiatan ini juga melibatkan 40 perusahaan swasta di DKI Jakarta. ”Kami mengundang peran dunia usaha untuk berpartisipasi mewujudkan Kali Ciliwung menjadi bersih oleh sampah. Ini persoalan kita bersama, persoalan warga Ibu Kota,” katanya.

Selain membersihkan Kali Ciliwung, BPLH DKI Jakarta berencana menanam ribuan pohon di sekitar aliran sungai yang bibitnya berasal dari sumbangan pemerintah maupun masyarakat. Rusman berharap kegiatan ini dapat menjadi ajang sosialisasi Perda No 8/2007 tentang Ketertiban Umum.

Deputi Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Jakarta Erwin Usman mengatakan, kegiatan BPLH selalu dikerjakan tidak dengan desain besar. Kegiatan bersih-bersih sungai hanya berlangsung dengan memanfaatkan momentum, seperti saat ini yang digelar untuk memperingati hari ulang tahun Jakarta. (NDY)

Ratusan Titik Sampah di Sungai Ciliwung 

Sumber: http://www.greenradio.fm/ 30 June 2010 

Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) DKI Jakarta menemukan 109 titik pembuangan sampah di sepanjang Sungai Ciliwung, mulai dari perbatasan Kelapa Dua, Depok hingga Manggarai, Jakarta Selatan.

Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Sanitasi Lingkungan, BPLHD DKI Jakarta Joni Tagor Harahap mengatakan, titik-titik pembuangan sampah itu sebagian besar terletak di pinggiran sungai yang sulit dijangkau kendaraan. Sampah yang dibuang ke sungai ini menyebabkan turunnya kualitas air.

“Sampah-sampah itu ada yang ditumpuk di pinggir sungai, tapi ada juga yang langsung dibuang ke sungai,” kata Joni Tagor Harahap.

Menurut Joni, kebiasaan membuang sampah di pinggiran sungai ini dipicu oleh sulitnya kendaraan pengangkut sampah masuk ke permukiman penduduk. Akibatnya warga memilih sungai sebagai tempat sampah.

BPLHD, tambah Joni, terus mengkampanyekan masalah sampah di bantaran sungai dengan mendatangi RT dan RW untuk untuk menghimbau masyarakat agar tidak membuang sampah ke sungai, tapi langsung membawanya ke Tempat Pembuangan Sampah (TPS). Untuk mendukung kampanye “Stop Nyampah di Kali” BPLHD juga menggandeng komunitas-komunitas setempat guna mencari solusi penyelesaian sampah.

Tahun ini, kata Joni, BPLHD punya target untuk membersihkan 12 titik sampah yang cukup besar. Kegiatan ini dilakukan bersama-sama dengan Dinas Kebersihan dan Pekerjaan Umum Jakarta. Dua belas titik itu diantaranya di Lenteng Agung, Pejaten dan Srengseng Sawah.

Mei 2011 

100 Titik Sampah Ilegal di Ciliwung Belum Ditutup

Sumber:http://www.tempo.co/   13 Mei 2011 

TEMPO Interaktif, Jakarta – Sekitar 100 titik sampah ilegal di Sungai Ciliwung belum ditutup. Titik-titik sampah ilegal ini tersebar di 76 kelurahan dan 20 kecamatan di Jakarta, mulai dari perbatasan Jembatan Akses Universitas Indonesia, Kelapa Dua, Depok, hingga Teluk Jakarta.

“Beberapa titik sampah ilegal ini tidak bisa dijamah. Perlu alat dengan teknologi tinggi untuk menjangkaunya,” kata Kepala Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Provinsi DKI Jakarta, Peni Susanti, Jumat, 13 Mei 2011.

Peni mengatakan untuk menangani masalah titik sampah ilegal ini pihaknya sudah mendata 76 kelurahan tersebut. “Mudah-mudahan masing-masing lurah dapat mengajak masyarakatnya untuk memperbaiki titik-titik sampah itu,” ucapnya.

Penanganan titik-titik sampah ilegal itu cukup mendesak, mengingat pada tahun 2012 diharapkan dapat terwujud Ciliwung bersih tanpa sampah. Dia berharap menutup dengan sukarela titik-titik sampah ilegal itu.

Sejak Program Stop Nyampah di Kali dikampanyekan pada 2009, baru sekitar 10 titik sampah ilegal yang ditutup di sepanjang sungai Ciliwung yang melintasi wilayah Jakarta. Langkah tersebut merupakan hasil kerja sama antara pemerintah (lurah, camat, walikota), masyarakat, dan Corporate Social Responsibility (CSR) dunia usaha.

BPLHD Tutup 10 Titik Sampah Sungai Ciliwung

Sumber: http://jakarta.tribunnews.com/ 13 Mei 2011 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Program “Stop Nyampah di Kali” berhasil menutup 10 titik dari 108 titik sampah ilegal di sepanjang sungai Ciliwung sejak digulirkan pada tahun 2009 di Lenteng Agung.

Kepala Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) DKI Jakarta, Peni Susanti, menuturkan saat ini masih ada sekitar 98 titik sampah illegal yang belum ditutup di sepanjang sungai Ciliwung yang melewati 76 kelurahan dan 20 kecamatan di DKI Jakarta. Dikatakannya, BPLHD DKI masih melanjutkan edukasi para komunitas peduli sungai dan masyarakat di bantaran sungai.

“Pantauan BPLHD DKI terhadap status mutu air sungai di 45 titik pantau di 13 daerah aliran sungai (DAS) pada 2010 tercatat semua dalam kondisi tercemar sedang sampai berat. Hasilnya nol persen dalam kondisi baik, sembilan persen dalam kondisi tercemar ringan, sembilan persen dalam kondisi tercemar sedang, dan 83 persen dalam kondisi tercemar berat,” ujar Peni, Jumat (13/5/2011).

Ditambahkannya, hasil pemantauan BPLHD pada 66 titik di 13 sungai pada 2009 mencatat nol persen dalam kondisi baik, tujuh persen dalam kondisi tercemar ringan, 10 persen tercemar sedang dan 83 persen dalam kondisi tercemar sedang.

Juni 2011

TPS Liar Resahkan Warga Cililitan

Sumber: http://www.jpnn.com/  15 Juni 2011  

WARGA Cililitan, Kramatjati, Jakarta Timur belakangan ini terus diresahkan dengan banyaknya sampah yang kerap berserakan dan menebarkan aroma tak sedap. Terlebih lagi, di wilayah itu juga terdapat tiga tempat pembuangan sampah (TPS) liar yang hingga kini tak kunjung ditertibkan oleh petugas.

Beruntung, jajaran Sudin Kebersihan Jakarta Timur langsung mengangkut sampah-sampah tersebut, Senin (13/6). Bahkan, Sudin Kebersihan setempat juga tengah membangun lokasi komposting sampah untuk mengurangi volume sampah yang dikirim ke Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi.

Ketiga TPS itu berada di RT 16/7, RT 10/16 dan RT 14/07. Dari ketiga TPS itu, yang terluas terdapat di RT 10/16 yang berukuran sekitar 5×15 meter. Ketiga TPS ini berada tepat di bantaran Kali Ciliwung. Jika hujan, sampah-sampah itu pun banyak yang terseret ke aliran kali dan terbawa arus. Bahkan, akibat TPS liar ini, lebar Kali Ciliwung menjadi menyempit, dari sebelumnya 12 meter menjadi tujuh meter.

Nurito, 45, RT 10/16 mengatakan, sampah-sampah di LPS liar selalu menjadi masalah bagi dirinya dan warga sekitar. Terlebih, usai hujan, banyak sampah berserakan dan menebarkan aroma tak sedap. Para pengurus RT, menurutnya, sebenarnya sudah berkali-kali memberikan surat edaran ke warga agar tidak membuang sampah ke TPS liar itu.

Namun, oleh warga surat edaran itu tak pernah digubris. “Solusinya hanya satu, perlu ada peranan dari pemerintah untuk menyediakan TPS resmi sehingga warga tak lagi membuang sampah ke TPS liar ini,” katanya.

Selama ini, sampah warga diangkut petugas menggunakan gerobak. Warga setiap bulan membayar iuran sampah sebesar Rp 20 ribu. Namun, warga tidak ada yang tahu dibuang ke mana sampah-sampah tersebut.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Sudin Kebersihan Jakarta Timur M Iwan Sa`ali mengatakan, sampah di TPS liar memang kerap menjadi persoalan bagi warga. Untuk menghentikan TPS liar itu, peran aktiv warga sangat dibutuhkan. Selama warga tak mau disiplin, TPS liar itu akan tetap ada.

“Semua ini terjadi karena banyak masyarakat yang membuang sampah ke bantaran kali. Sesuai Perda no 5 tahun 1988 tentang Kebersihan, warga dilarang membuang sampah ke kali. Namun tanpa sepengetahuan petugas warga terus melakukannya. Padahal sanksinya cukup tegas, yakni bila kedapatan membuang sampah ke kali dituntut kurungan 3 bulan atau denda 5 juta,” ungkapnya.

Untuk itu, dirinya mengajak seluruh pengurus RT/RW hingga kelurahan untuk membantu menyosialisasikan pada warga agar menghentikan membuang sampah ke bantaran kali. Sehingga dalam kurun waktu 10-20 tahun ke depan, fungsi kali dapat berfungsi seperti semula. “Saya tengah membuat tempat komposting di samping TPS liar di RT 10/16, agar warga tak lagi membuang ke bantaran kali,” pungkasnya. (mos)

Fauzi Bowo Tutup TPS Ilegal di Ciliwung

Sumber: http://nasional.kompas.com/31 Desember 2011 

JAKARTA, KOMPAS.com – Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, Sabtu (31/12/2011), turut melakukan penutupan tempat pembuangan sampah (TPS) ilegal di bantaran Sungai Ciliwung, RT 16 RW 07, Kelurahan Cililitan, Kecamatan Kramatjati, Jakarta Timur.

Dalam acara dengan tema “Satu Hari yang Indah di Sepanjang Ciliwung” yang diselenggarakan berbagai organisasi dengan berbagai latar belakang Fauzi Bowo bersama warga setempat menancapkan tiang larangan membuang sampah di atas gunungan sampah yang terletak di bantaran Sungai Ciliwung. Larangan tersebut dengan maksud menjaga kondisi lingkungan Sungai Ciliwung yang semakin kritis.

“Ya, mudah-mudahan nggak ada lagi ya, yang buang sampah di sini,” ujar Foke, Sabtu (31/12/2011), sapaan akrabnya.

Noordiansyah, Ketua RT 16 RW 07 Kelurahan Cililitan, yakin bahwa langkah tersebut efektif menghentikan aktivitas pembuangan sampah warga ke bantaran kali.

“Alhamdulilah ya ini warga nggak akan buang sampah sembarangan lagi. Efektif lah, biar warga tahu Ciliwung supaya bersih seperti dulu. Dulu kan ciliwung bersih,” ujarnya sesusai melakukan simbolisiasi dengan Gubernur.

Sementara Jumari, salah seorang Komunitas Pecinta Sungai Ciliwung mengatakan, walau kondisi lingkungan sungai yang dianggapnya sudah kronis, dia beserta seluruh komunitas tetap akan memperbaiki kondisi tersebut secara perlahan untuk mengembalikan Ciliwung bersih seperti sedia kala.

“Kondisinya memang sudah sangat kronis, tapi kami berupaya memperbaiki lah sedikit-sedikit,” ujarnya.

Seperti penelusuran Kompas.com, Sabtu (24/12/2011), kondisi Sungai Ciliwung memang sangat memprihatinkan. Berton-ton sampah dengan berbagai jenis ada di sungai terlebar di Jakarta tersebut. Mulai dari sampah plastik, styrofoam, ranting kayu, sampah rumah tangga, bahkan tak aneh kita bisa melihat sofa bekas atau kulkas di atas tumpukan sampah tersebut.

Berdasarkan pengakuan salah seorang anggota Komunitas Pecinta Sungai Ciliwung, paling tidak terdapat 38 titik tempat pembuangan sampah ilegal di sepanjang Depok hingga Condet, sementara ada ratusan lainnya di sepanjang Bogor hingga Jakarta. Tak heran banyak pihak yang menyindir bahwa sungai yang memiliki panjang aliran sekitar 120 km tersebut adalah tempat pembuangan sampah terbesar di dunia.

Maret 2012

2017, Tak Ada Lagi TPS Liar di Ciliwung

Sumber:  http://beritajakarta.com/ 30 Maret 2012

Maraknya keberadaan tempat pembuangan sampah (TPS) liar di sepanjang bantaran Kali Ciliwung, membuat gerah Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo. Karena itu, Bang Fauzi, sapaan akrabnya, menargetkan tahun 2017 mendatang, seluruh TPS liar yang jumlahnya diperkirakan mencapai 68 titk tidak akan terlihat lagi di sepanjang bantaran Kali ciliwung. Sebagai gantinya, Pemprov DKI Jakarta bersama komponen masyarakat akan membangun tempat pembuangan sampah terpadu (TPST) di sejumlah titik.

“Kami targetkan pada tahun 2017 mendatang, tidak ditemukan lagi TPS liar di sepanjang bantaran Kali Ciliwung. Terutama mulai dari kawasan Depok hingga jembatan TB Simatupang, Pasarrebo. Semua pihak terkait harus melaksanakan tugas sebaiknya, perketat pengawasan di wilayahnya masing-masing,” ujar Fauzi Bowo saat menghadiri peletakan batu pertama pembangunan TPST dan penanaman pohon di Komplek Kopassus, Cijantung, Pasarrebo, Jakarta Timur, Jumat (30/3).

Fauzi juga berharap, agar Kementerian Pekerjaan Umum (Kemen PU) dapat menetapkan profil Kali Ciliwung sebagai ikon Kota Jakarta. Karenanya, ia mengajak seluruh stakeholder, komponen masyarakat untuk bersama-sama menjaga Kali Ciliwung secara konsisten. Pembenahan Kali Ciliwung ini juga sebagai tindak lanjut dari aspirasi para ahli dan keinginan warga, agar kali tersebut dapat dijadikan kawasan eko wisata.

Mengenai pembangunan TPST di Kompleks Kopassus ini, diungkapka Fauzi, merupakan tindak lanjut dari kesepakatan antara Pemprov DKI dengan Danjen Kopassus. Kegiatan ini sekaligus memperingati hari air sedunia.

Jika program pembuatan TPST di Komplek Kopasus ini rampung, tentu akan dilanjutkan dengan pembangunan di tempat lainnya. Seperti di kawasan TB Simatupang, yang akan melakukan kerjasama dengan Rindam Jaya untuk mengembalikan Kali Ciliwung sebagai ikon kota Jakarta. Selain itu juga akan melibatkan organisasi masyarakat, lembaga swadaya masyarakat dan komponen masyarakat lainnya, untuk mewujudkan Ciliwung bebas TPS Liar pada tahun 2017 mendatang. Dirinya optimis target itu akan tercapai.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebersihan DKI Jakarta, Eko Bharuna menambahkan, pihaknya juga optimis tahun 2017 mendatang, TPS liar di bantaran Kali Ciliwung ini tidak ada lagi. Sebagai gantinya, pihaknya akan mencari lahan untuk pembuatan TPST. Namun untuk pembangunannya, masih butuh kajian dengan melibatkan pihak terkait. Hal ini untuk menyesuaikan dengan kondisi tata ruang yang ada dan kesepakatan masyarakat sekitar.

“Di bantaran Kali Ciliwung saat ini ada sekitar 68 TPS liar, seluruhnya itu harus ditutup, untuk kemudian membangun TPST. Kami akan lakukan kajian terlebih dahulu. Sehingga belum bisa dijawab berapa banyak TPST yang akan dibangun dan titiknya dimana saja,” tandas Eko.

2017, Bantaran Kali Ciliwung Ditargetkan Nihil TPS Liar

Sumber: http://www.jurnas.com/ 30 Maret 2012 

Jurnas.com | GUBERNUR DKI Jakarta Fauzi Bowo menargetkan seluruh tempat pembuangan sampah (TPS) liar di bantaran Kali Ciliwung sudah ditertibkan pada tahun 2017. Saat ini terdapat sekitar 68 TPS liar di bantaran kali tersebut.

“Kami menargetkan pada tahun 2017 tidak ditemukan lagi TPS liar di sepanjang bantaran Kali Ciliwung. Terutama mulai dari kawasan Depok hingga jembatan TB Simatupang, Pasar Rebo,” ujar Fauzi Bowo di sela acara peletakan batu pertama pembangunan TPS Terpadu (TPST) dan penanaman pohon di Komplek Kopassus, Cijantung, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Jumat (30/3). Sebagai gantinya, akan dibangun TPST di sejumlah titik.

“Semua pihak terkait harus melaksanakan tugas sebaik-baiknya, memperketat pengawasan di wilayahnya masing-masing,” lanjutnya.

Foke, sapaan Fauzi Bowoo, juga berharap agar Kementerian Pekerjaan Umum (PU) dapat menetapkan profil Kali Ciliwung sebagai Ikon Kota Jakarta. Selain itu, ia juga meminta seluruh pihak terkait dan masyarakat bersama-sama menjaga Kali Ciliwung.

Menyangkut rencana pembangunan TPST sebagai pengganti TPS liar tersebut menurut Kepala Dinas Kebersihan DKI Jakarta Eko Bharuna akan dilakukan pengkajian dengan melibatkan pihak terkait. Sebab ini menyangkut kondisi tata ruang yang ada dan kesepakatan masyarakat sekitar tempat akan dibangun TPST.

“Kami akan lakukan kajian. Jadi belum bisa dijawab berapa banyak TPST yang akan dibangun dan dimana saja,” ujarnya yang optimisme target penertiban TPS liar di bantaran Kali Ciliwung itu bisa dicapai.

Terkait dengan TPST di Komplek Kopassus, merupakan tindak lanjut dari kerja sama Pemprov DKI dan Kopassus. Program pembuatan TPST di Komplek Kopasus ini akan dilanjutkan dengan pembanguanan beberapa TPST lainnya di beberapa tempat seperti di kawasan TB Simatupang.

Selain itu, untuk mewujudkan Ciliwung bebas TPS Liar pada tahun 2017, organisasi masyarakat dan lembaga swadaya masyarakat serta komponen masyarakat lainnya juga akan dilibatkan. Sehingga keinginan untuk menjadikan Kali Ciliwung sebagai kawasan ekowisata bisa diwujudkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: