Transportasi Sungai Ciliwung

Menghadirkan Venesia ke Jakarta 

Sumber: http://majalah.tempointeraktif.com/ 19 Januari 2004 

Brrr…, segaar,” kata Nur, 10 tahun, sambil membasuh mukanya dengan air sungai berwarna cokelat kehijauan. Banjir Kanal Barat di Jakarta Pusat itu memang bath tub favoritnya. Bersama ayahnya, setiap hari mereka berendam, menghilangkan pegal di sekujur tubuh sembari menikmati pagi, sebelum mulai berdinas mengumpulkan kardus dan botol plastik minuman.

Rutinitas pagi yang dilakoni orang-orang seperti Nur di Banjir Kanal Barat itu, 10 tahun mendatang, mungkin bakal tergusur oleh gondola atau kapal-kapal kecil yang melayari kanal yang telah berusia 84 tahun itu.

Sebuah skenario besar untuk menghidupkan kembali angkutan sungai di Jakarta sudah digelar bersamaan dengan dimulainya Megaproyek Banjir Kanal Timur, akhir tahun lalu. Banjir Kanal Timur dan Barat itu kelak juga bakal disatukan dengan sungai sodetan, sehingga bentuknya dari udara mirip tapal kuda.

Sungai Ciliwung, Cengkareng Drain, dan Cakung Drain juga akan menjadi satu sistem kanal air yang indah; bisa untuk lalu-lintas air, lengkap dengan kawasan olahraga air dan waterfront city. Mimpinya seperti di kota air Venesia, Italia.

“Kami sudah memerintahkan Dinas PU (Pekerjaan Umum) membuat studi kelayakannya,” kata Irzal Djamal, Asisten Sekretris Daerah DKI Bidang Pembangunan, kepada Koran Tempo beberapa waktu lalu.

Saat ini gagasan transportasi sungai itu sudah ada di meja Dinas Perhubungan DKI. Bahkan sudah masuk rencana besar sistem transportasi Jakarta masa depan bersama sistem monorel, busway, dan subway. Dalam hitungan kasar, Dinas Perhubungan DKI Jakarta setidaknya bisa memiliki jalur sepanjang 51,8 kilometer yang bisa dilewati kapal, terdiri atas Banjir Kanal Barat 9,2 kilometer, Banjir Kanal Timur 23,575 kilometer, Banjir Kanal Selatan (belum dibangun) 9,6 kilometer, Ciliwung 4 kilometer, dan Kali Malang 4,6 kilometer.

Impian Gubernur DKI, Sutiyoso, itu tentu tak seperti kisah Bandung Bondowoso, yang bisa membangun seribu candi dalam semalam. Penyelesaian Banjir Kanal Timur perlu waktu 10 tahun. Itu pun kalau pembebasan lahannya mulus. Kalaupun kanal air ini bisa berdiri megah, ada persoalan lain yang cukup gawat: apakah airnya cukup banyak untuk dilewati kapal?

“Saya menduga debit airnya cuma 5 meter kubik per detik karena isinya cuma air limbah rumah tangga. Bahkan lebih kecil daripada Banjir Kanal Barat,” kata R. Zainuddin, mantan Kepala Sub-Direktorat Drainase Departemen Pekerjaan Umum, kepada TEMPO.

Zainuddin punya sederet alasan. Menurut dia, lima sungai yang dilewati Banjir Kanal Timur-yakni Kali Cipinang, Sunter, Jati Kramat, Buaran, dan Cakung-sebenarnya lebih tepat dibilang saluran pembuangan limbah. Alasannya, kelima sungai itu tak punya mata air. Air di sungai-sungai itu hanya berasal dari limbah rumah tangga.

Lihat saja Kali Buaran yang berhulu di Jatiwaringin, Jakarta Timur. Di bulan-bulan seperti sekarang ini, kalau tak hujan, airnya cokelat kehitaman-warna khas air limbah rumah tangga. Kondisi Kali Sunter juga tak beda. “Jadi, jangan membayangkan Banjir Kanal Timur nanti airnya melimpah seperti Musi,” kata Zainuddin.

Bila prediksi Zainuddin itu tak meleset, mimpi tentang kapal atau gondola serta waterfront city juga akan sirna. “Siapa pula yang mau naik kapal di sungai yang kotor, hitam warnanya, dan bau,” kata Echa, wanita asal Kebayoran Lama, Jakarta, yang pernah menikmati romantisnya naik bus air di Belgia dan Belanda.

Sejauh ini, konsultan penggarap Banjir Kanal Timur tak yakin kanalnya cuma berisi air limbah. Dalam sebuah diskusi soal kanal ini akhir tahun lalu, sang konsultan mengaku akan memasukkan air laut. Caranya, menggali ujung hilir Banjir Kanal Timur sedalam 3-4 meter agar air laut bisa masuk.

Beberapa ahli teknik hidraulika (pengairan) hanya bisa menggelengkan kepala mendengar rencana itu, tak terkecuali Zainuddin. “Bila itu dilakukan, intrusi air laut akan memasuki kawasan sekitar kanal sejauh 23,5 kilometer,” Zainuddin menambahkan, “Bahkan banjir justru bisa merembet ke hulu. Jalan tol Cawang-Bekasi bisa terendam banjir.”

Di luar bahaya banjir itu, dari sisi konsep, sistem angkutan sungai DKI banyak mengundang tanda tanya. “Rencana itu kurang realistis, karena permintaan angkutan sungai kecil,” kata Danang Parikesit, doktor dari Universitas Gadjah Mada (UGM) yang banyak meneliti sistem transportasi sungai. “Lagi pula biayanya sangat besar karena harus merevitalisasi sungai dan membongkar,” ujar Direktur Pusat Studi Transportasi dan Logistik UGM itu.

Tapi, menurut mantan Kepala Dinas Pekerjaan Umum yang pekan lalu dilantik sebagai Asisten Pembangunan DKI Jakarta, I.G.K. Suena, lembaganya belum serius mengkaji soal angkutan sungai. “Sekarang baru wacana. Kalau sudah bagus perkembangannya, program dari pemerintah pusat turun, baru kita segera menyiapkan yang lebih detail lagi,” tuturnya kepada Tempo News Room.

Untuk sementara, Sutiyoso harus menunda impian tentang indahnya banjir kanal. Dia juga harus menyimpan rapat-rapat sebutan yang dulu melekat pada Batavia: Venesia van Oost atau Venesia dari Timur. L. Burhan Sholihin, Heru C.N. (Yogyakarta), Mawar Kusuma (TNR)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: