Arung Jeram

Januari 2009

Tim Ekspedisi Kompas Taklukkan Jeram Ciliwung

Sumber: http://nasional.kompas.com/ 18 Januari 2009

KOMPAS.COM/ KRISTIANTO PURNOMO
Ekspedisi Kompas Ciliwung 2009 – Tim Ekspedisi Kompas Ciliwung 2009 menyusuri hulu sungai Ciliwung, Bogor, Minggu (18/1). Ekspedisi ini mencoba menggali bebagai aspek sejarah sosial dan kemanusiaan serta memotret realitas sosial-budaya, ekonomi dan kerusakan alam di sepanjang Sungai Ciliwung, mulai dari daerah di sekitar mata air sampai ke muara.

BOGOR, MINGGU – Tim Sungai Ekspedisi Kompas-Ciliwung 2009 akhirnya berhasil menaklukkan jeram sungai Ciliwung dari Batu Layang, Cisarua hingga bendungan Katulampa, Bogor, Minggu sekitar pukul 16.00.

Menurut Abu, pemandu dari Arus Liar, hujan yang turun semalaman di Puncak, Bogor, menyebabkan debit air di Sungai Ciliwung semakin tinggi. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi tim dalam penyusuran sungai tersebut.

Dari Batu Layang hingga Katulampa kondisi sungai Ciliwung didominasi oleh jeram dan bebatuan. Kuatnya arus dan besarnya jeram, membuat beberapa kali perahu karet tim ekspedisi terbalik dan anggota tim terjatuh. Setidaknya, dua kali anggota tim ekspedisi dari Kompas terjatuh dari perahu karet. Mereka ada Neli Triana, pimpinan proyek ekspedisi dan Rini, anggota tim ekspedisi.

Berdasarkan pantauan selama perjalanan, pencemaran sungai ini sudah terjadi sejak dari hulu sungai. Berbagai limbah sampah rumah tangga, seperti plastik dan bungkus makan an tidak sulit ditemui di kawasan ini. Namun, dibandingkan dengan pencemaran sungai Ciliwung di Jakarta, kondisi air di hulu sungai, jauh lebih bersih.

Meniti Jeram di Hulu Ciliwung

Sumber: http://nasional.kompas.com/ 19 Januari 2009 

Sumber: http://nasional.kompas.com/ 19 Januari 2009

Minggu (18/1) pukul 07.00, kabut tebal masih membungkus Cibulao, Puncak, Bogor, Jawa Barat. Cibulao adalah basecamp Tim Ekspedisi Kompas Ciliwung 2009 dan Arus Liar selama dua hari pertama perjalanan ekspedisi. Dari Cibulao ini, tim ekspedisi meneruskan perjalanan menuju Batu Layang, Cisarua. Batu Layang merupakan titik awal penelusuran di aliran Sungai Ciliwung dengan menggunakan perahu karet.

Lepas dari Jalan Raya Puncak menuju bibir sungai, diperlukan sekitar 20 menit berkendara melalui jalan sempit dan turunan curam. Di lokasi tersebut telah menunggu empat perahu dan sedikitnya 15 pemandu arung jeram yang telah terbiasa meniti jeram di Citarik, Sukabumi, Jawa Barat.

Dari tim Kompas, ada delapan orang yang turut turun menyusur sungai. Sementara enam anggota tim lainnya meneruskan liputan di sekitar Puncak hingga Bendung Katulampa.

Saat pertama kali turun menyusuri aliran Ciliwung, ada dua etape yang harus diselesaikan. Etape pertama sepanjang 3,6 kilometer, yaitu dari Batu Layang menuju Taman Wisata Matahari, dan etape kedua sepanjang 4,3 kilometer dari Taman Wisata Matahari menuju Bendung Katulampa, masih di wilayah Kabupaten Bogor.

”Etape kali ini memang tidak terlalu panjang, tetapi cukup memakan banyak waktu. Dari hasil survei awal kami, pada etape awal penyusuran Ciliwung ini tim ekspedisi akan melewati jeram yang cukup sulit, yaitu jeram level 2 dan 3. Jumlahnya pun cukup banyak,” kata Hendi Rohendi alias Abo, pemandu senior dari Arus Liar, Minggu.

Tak lupa, Abo memberi kursus singkat terkait cara berarung jeram, penyelamatan diri jika terlempar dari perahu dan terjatuh ke sungai, dan menekankan agar semua pengarung berhati-hati. Setelah doa bersama yang dipimpin oleh tokoh masyarakat, pengarungan Ciliwung dimulai.

Benar saja, tak berapa lama setelah iringan empat perahu pembawa tim ekspedisi turun ke sungai, jeram-jeram beruntun langsung menyambut. Setiap orang menahan napas, melepaskan ketegangan dengan berteriak, tetapi binar semangat dan senyuman selalu menghiasi wajah para pengarung.

Ketegangan memuncak ketika salah satu perahu tim terbalik dan melemparkan semua penumpangnya ke dalam air. Meski demikian, penyelamatan cepat dilakukan dan perjalanan dilanjutkan kembali.

Di beberapa titik yang dianggap cukup sulit dilewati, antara lain di sekitar Jembatan Gadog, pengarungan terpaksa dihentikan. Para pengarung harus membawa perahu keluar dari sungai dan baru kembali turun ke Ciliwung setelah lokasi yang berbahaya itu terlewati.

Di tengah pengarungan yang mengasyikkan sekaligus menegangkan itu, turut teramati pula bagaimana limbah dan sampah begitu deras masuk ke badan sungai. Pipa-pipa paralon tampak menjulur menembus tebing sungai mengucurkan air limbah rumah tangga.

Di sepanjang Daerah Aliran Sungai Ciliwung setelah Gadog, sebelah kanan sungai lebih didominasi persawahan, sedangkan sebelah kiri sungai lebih banyak dijumpai tebing curam.

Vila-vila peristirahatan tampak di kanan-kiri sungai di atas tebing Ciliwung. Selain limbah dari vila, rumah warga, dan beberapa usaha kecil, penduduk sekitar juga terlihat masih membuang hajat langsung ke sungai.

Pengarungan mencapai Bendung Katulampa pukul 15.30. Rasa gundah merebak. Apalagi, pada pengarungan Ciliwung selanjutnya, sudah terbayang kondisi sungai yang lebih parah. (NEL/ONG/YUL/WAS/MZW/ MUK/LKT/ELN/RTS)

Ciliwung Belum Dimanfaatkan Optimal

Sumber: http://nasional.kompas.com/ 20 Januari 2009

BOGOR, SELASA – Anggapan bahwa Ciliwung hanya sebagai selokan pembuangan raksasa menyebabkan potensi aliran sungai dan daerah sekitarnya yang bisa dikembangkan sebagai obyek wisata tertutupi. Sebuah fakta yang ironis, Ciliwung yang alirannya cukup besar dan memanjang dari Puncak hingga Jakarta itu tidak pernah dikenal sebagai ikon wisata.

Staf pemasaran Taman Wisata Matahari Dadang Julianto mengatakan, pihaknya sebenarnya berupaya menjadikan Ciliwung sebagai sarana wisata luar ruang dan penyumbang utama kebutuhan air bagi sejumlah wahana yang dimilikinya. ”Namun, selain masalah sampah, debit air sungai tak menentu. Saat musim hujan, air sungai meluap dan saat kemarau kering,” ujarnya.

Master tandem paralayang, David Agustinus Teak (52), yang sering membawa wisatawan terbang sambil melihat pemandangan Puncak mengatakan, setiap menerbangkan wisatawan, ia selalu menunjukkan Ciliwung yang bagian hulunya berada di sekitar Puncak. ”Warga Jakarta biasanya hanya tahu Ciliwung sebagai penyebab banjir. Namun, saat tahu dari udara, mereka pasti tertarik melihatnya,” katanya.

Lody Korua dari Arus Liar, yang bersama Tim Ekspedisi Kompas Ciliwung 2009 menyusuri aliran sungai ini sejak Jumat lalu hingga Kamis (22/1), menambahkan, beberapa bagian Ciliwung dari hulu hingga sebagian batang alirannya, seperti di Puncak hingga Depok, cocok untuk wisata arung jeram.

Tingkat jeramnya termasuk tinggi sehingga khusus di bagian hulu hanya boleh diarungi para pengarung jeram berpengalaman. Namun, potensi untuk dikembangkan sebagai industri wisata air sangat tinggi.

Namun, upaya-upaya sekelompok penggiat wisata alam tersebut untuk lebih mengembangkan potensi Ciliwung belum disambut hangat, baik oleh penggiat wisata lokal maupun pemerintah daerah di Kabupaten Bogor, Kota Bogor, dan Jakarta. Yang justru secara luas terpublikasikan, Ciliwung adalah halaman belakang yang harus disembunyikan.

Secara terpisah, Direktur Pusat Pengkajian Perencanaan dan Pengembangan Wilayah Institut Pertanian Bogor Ernan Rustiadi mengatakan, agar sama-sama memberikan manfaat, harus ada kesepakatan bersama dalam mengelola Ciliwung. Kesepakatan itu termasuk menjaga kelestarian alirannya serta menata dan menggali potensinya.

Hasilnya nanti akan dirasakan oleh masyarakat dan pemda. (WAS/MZW/NEL)

Memacu Adrenalin bersama Pemandu Profesional

Sumber:http://nasional.kompas.com/ 24 Januari 2009 

Wisatawan menikmati arung jeram di Sungai Citarik, Sukabumi, Jawa Barat, Jumat (2/1).

KOMPAS/AGUS SUSANTO
Wisatawan menikmati arung jeram di Sungai Citarik, Sukabumi, Jawa Barat, Jumat (2/1).

Jika ingin berarung jeram atau paralayang, masalah keamanan, termasuk kelengkapan peralatan, harus menjadi perhatian utama. Jangan sampai niat bersenang-senang di alam bebas berakhir tragis. Salah satu faktor yang pasti membuat hati tenang adalah mengetahui bahwa pendamping wisatawan adalah para pemandu profesional, berpengalaman, bahkan bersertifikat internasional.

Di lokasi wisata paralayang Bukit Gantole di Agrowisata Puncak, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, pastikan Anda terbang tandem bersama para tandem master. Tandem master adalah para ahli yang memiliki kualifikasi khusus untuk membawa orang terbang paralayang.

”Selain saya, di sini ada enam tandem master lain, yaitu Gendon Subandono, Anwar Permana, Nixon Ray Ratag, Liliek Darmono, Andika Munir, dan Nanang Sunarya. Untuk bisa menjadi seorang tandem master, setiap orang harus memiliki 250 jam terbang dan kemampuan membaca cuaca,” kata David Agustinus Teak alias Opa.

Meski berperawakan kecil, Opa yang telah berusia 52 tahun ini amat gesit mengendalikan parasut paralayang. Maklum, ia telah menekuni paralayang sejak hampir 20 tahun lalu.

”Dari saya muda, masih mahasiswa, memang sudah tertarik dengan kegiatan alam bebas. Kemudian saya mengenal paralayang dari almarhum Dudi Arief Wahyudi, juga teman lainnya, seperti Lody Korua. Akhirnya, karena senangnya, mendalami hobi ini pun telah menjadi profesi sekaligus mata pencarian yang amat mencukupi,” kata Opa.

Alat dan penyakit

Siapa saja boleh ikut terbang, laki-laki atau perempuan, tua atau muda, asal sehat jasmani dan rohani, tidak mengidap penyakit jantung dan epilepsi. Umur peminat yang disarankan adalah 14-60 tahun.

Perlengkapan utama dalam olahraga paralayang antara lain parasut utama dan cadangan, harness, dan helm. Berat keseluruhan 10-15 kilogram, tetapi beban tak terasa berat saat terbang. Perlengkapan pendukung terbang yang diperlukan antara lain variometer, radio/HT, GPS, windmeter, peta lokasi terbang, dan lain-lain. Sedangkan perlengkapan pakaian penerbang antara lain baju terbang (flight suit), sarung tangan, dan sepatu berleher tinggi atau boot.

Atlet internasional

Di Citarik, para pemandu profesional juga menjadi jaminan keamanan wisatawan. Arus Liar, misalnya, menyiagakan sekitar 35 pemandu terlatih untuk melayani peminat arung jeram yang biasanya membeludak di akhir pekan.

”Pemandu kami memiliki kualifikasi khusus, rata-rata mampu mengendalikan perahu, menganalisa jeram bisa dilalui dengan aman atau tidak, dan teknik penyelamatan. Kami juga punya trip leader, orang yang mampu mengendalikan satu rombongan perahu dalam satu perjalanan pengarungan, dan instruktur, orang yang mampu melatih sekaligus menentukan seseorang pantas disebut sebagai pemandu atau trip leader. Tentu saja kemampuan instruktur jauh di atas yang lain,” kata Lody Korua dari Arus Liar.

Saat mendampingi Tim Ekspedisi Kompas Ciliwung 2009, Arus Liar mengirimkan pemandu-pemandu berpengalaman, yaitu Hendi Rohendi alias Abo yang juga seorang instruktur, Nanang, Endang, Dendi, Hendi, Rahmat, Iyus, Deden, dan Awan. Mereka didukung Narwan dan Dudin yang siap memenuhi segala kebutuhan tim di dalam perahu, termasuk membantu penyelamatan, dari darat.

Sebagian pemandu di Citarik juga dikenal sebagai atlet arung jeram nasional dan internasional. Mereka telah menjelajahi sebagian sungai di Indonesia dan dunia.

Di samping jadi pemandu di Citarik, Abo dan 30-an pemandu lain turut diterjunkan ke Ibu Kota membantu evakuasi serta penyaluran bantuan bagi korban banjir. Yang turut berperan di sini adalah Global Rescue Network, salah satu ”komandannya” adalah Djoni.

Djoni dan beberapa anak buahnya, Eko alias Marcel, Cece, Atek, dan Jumadin, terkenal gesit bergerak dengan mobil berpenggerak empat roda mendatangi tempat-tempat sulit untuk membantu korban bencana, seperti di Aceh, Nias, Sumatera Barat, dan Yogyakarta.

Karena dibantu orang-orang berpengalaman, seperti Opa David, Arus Liar, dan Global Rescue-lah Ekspedisi Kompas Ciliwung 2009, 16-22 Januari 2009, dapat berjalan lancar serta bisa menyuguhkan laporan peliputan rutin bagi pembaca.

Arung Jeram Ciliwung 4 KM, Puncak

Sumber:http://duniaoutbound.com/arung-jeram/   

Tak terbayang bagaimana rasanya bermain arung jeram di Sungai Ciliwung. Buang jauh – jauh bayangan Anda tentang sungai Ciliwung yang kotor dan penuh sampah seperti di Jakarta. Di sini Anda akan menemukan aliran sungai yang indah dengan jeram – jeramnya yang menantang.

Nikmati Hysteria Ciliwung 4 KM Rafting hanya

Rp. 200 000 / pax. Minimal 15 Pax
Rp. 230 000 / pax. Minimal 10 Pax

Rafting 4 KM / 1 Jam Sungai Ciliwung

Rafting equipment Standard Internasional :
Life jacket, Helm, dayung
skipper ( instruktur )
Team Rescue
Medical kit (P3K)
1x Makan siang
Welcome drink + Snack
Refreshment kelapa muda pada saat rafting
Tim Rescue & Instruktur
Lokal transportasi pada saat start – finish rafting
Penggunaan Shower Facility dan Toilet

Harga diatas tidak termasuk :
Transportasi bus dari Jakarta Sukabumi Jakarta
Optional Tour diluar program acara
Tiket masuk objek wisata, Tol, Parkir
Tambahan makan dan minum diluar acara
Biaya lainnya yang tidak tercantum dalam harga paket di atas

Pembayaran:

Pembayaran DP 50% paling lambat 2 minggu sebelum acara dan pelunasan paling lambat 2 hari sebelum acara.

NOTE : HARGA DAPAT BERUBAH SEWAKTU – WAKTU TANPA PEMBERITAHUAN TERLEBIH DAHULU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: